Tanggal: 14 April 2026

Perayaan: Hari Biasa Pekan II Paskah

Warna Liturgi: Putih

📖 Bacaan Pertama

Kis. 4:32-37

Adapun kumpulan orang yang telah percaya itu, mereka sehati dan sejiwa, dan tidak seorang pun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri, tetapi segala sesuatu adalah kepunyaan mereka bersama.

Dan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesus dan mereka semua hidup dalam kasih karunia yang melimpah-limpah.

Sebab tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa

dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya.

Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus.

Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul.


🎵 Mazmur Tanggapan

TUHAN adalah Raja, Ia berpakaian kemegahan, TUHAN berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, telah tegak dunia, tidak bergoyang;

takhta-Mu tegak sejak dahulu kala, dari kekal Engkau ada.

Peraturan-Mu sangat teguh; bait-Mu layak kudus, ya TUHAN, untuk sepanjang masa.


✝️ Bacaan Injil

Yohanes 3:7-15

Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.

Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.”

Nikodemus menjawab, katanya: “Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?”

Jawab Yesus: “Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?

Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.

Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?

Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.

Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan,

supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Dalam suatu perjumpaan dengan para pendamping Orang Muda Katolik dari seluruh dunia di Vatikan pada 2024 yang lalu. Paus Fransiskus mengingatkan pentingnya “mendengarkan”, atau dalam tradisi Kristiani disebut “diskresi”.

Bagi Paus Fransiskus, di tengah situasi dunia yang serba cepat, “ramai”, dan dihadapkan pada banyak krisis, mendengarkan seseorang sebagai pribadi dan mendengarkan Roh Kudus adalah jalan menuju kebaikan, kepedulian, kedamaian, dan kebahagiaan.

Kelahiran kembali dalam perbincangan antara Yesus dan Nikodemus adalah semata-mata anugerah dari Allah melalui Roh Kudus, bukan usaha manusia. Lahir kembali dalam kebaikan berarti memberikan ruang bagi Roh Kudus dalam hidup kita, mendengarkan-Nya supaya kita dituntun dalam kebaikan agar beroleh hidup yang kekal.

Semoga di tengah kebisingan dunia ini, kita semua masih sempat memberikan waktu untuk hening dan mendengarkan Tuhan yang berdialog dengan kita.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul menggambarkan komunitas awal Kristiani yang hidup sehati dan sejiwa, di mana kasih dan kepedulian menjadi landasan bagi interaksi mereka. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam kesibukan dan keserakahan, menganggap kepemilikan sebagai hal yang utama. Namun, ajaran ini mengingatkan kita bahwa segala sesuatu adalah milik bersama, dan saling berbagi adalah panggilan kita sebagai pengikut Kristus. Di sinilah pentingnya untuk mendengarkan, bukan hanya suara orang lain, tetapi juga suara Tuhan yang mengarahkan kita untuk hidup dalam kasih dan solidaritas.

Bacaan Injil dari Yohanes menyoroti pentingnya kelahiran kembali melalui Roh Kudus. Yesus menekankan bahwa pengalaman ini adalah anugerah dari Allah, yang mengubah cara kita melihat dunia dan diri kita sendiri. Dalam setiap tantangan dan kesulitan yang kita hadapi, kita dipanggil untuk membuka hati terhadap bimbingan Roh Kudus. Hal ini sejalan dengan ajakan Paus Fransiskus untuk mendengarkan, baik suara hati kita maupun suara Tuhan, agar kita dapat bertumbuh dalam iman dan kasih. Proses ini akan membawa kita pada transformasi yang mendalam dan kehidupan yang kekal.

Ketika kita menghadapi kebisingan dunia modern, penting untuk menyisihkan waktu untuk hening dan refleksi. Dalam keheningan, kita dapat mendengarkan bisikan lembut Tuhan yang mengajak kita untuk mengubah hidup kita menjadi lebih baik. Dengan demikian, kita bukan hanya menjadi pendengar yang baik bagi sesama, tetapi juga bagi Roh Kudus yang selalu siap membimbing kita menuju kebaikan. Mari kita berkomitmen untuk mendengarkan dan merespons panggilan itu, agar hidup kita menjadi saksi nyata dari kasih dan kuasa Tuhan di dunia ini.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram