SELASA PEKAN BIASA VIII
Peringatan wajib Santo Filipus Neri – Imam
Warna Liturgi: Putih
Bacaan I – 1 Petrus 1:10-16
Para nabi telah bernubuat tentang kasih karunia bagimu. Sebab itu waspadalah, dan taruhlah harapanmu sepenuhnya pada kasih karunia itu.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Petrus:
Saudara-saudara terkasih, para nabi telah menyelidiki dan meneliti keselamatan kalian. Mereka telah bernubuat tentang kasih karunia yang diperuntukkan bagimu. Mereka telah meneliti pula saat yang bagaimana yang dimaksudkan oleh Roh Kristus, yang ada di dalam mereka. Roh itu sebelumnya memberi kesaksian tentang segala penderitaan yang akan menimpa Kristus dan tentang segala kemuliaan yang menyusul sesudahnya. Kepada para nabi itu telah dinyatakan bahwa mereka bukan melayani diri mereka sendiri, melainkan melayani kalian dengan segala sesuatu yang sekarang diberitakan kepada kalian dengan perantaraan mereka yang oleh Roh Kudus Surgawi menyampaikan berita Injil kepada kalian. Dan Pokok pewartaan itu ialah apa yang bahkan para malaikat pun ingin mengetahuinya.
Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah, dan taruhlah harapanmu sepenuhnya pada kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat, dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kalian pada waktu kalian belum beriman. Hendaklah kalian menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang telah memanggil kalian itu kudus. Sebab ada tertulis: Hendaklah kalian kudus, seperti Aku kudus adanya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan – Mazmur 98:1.2-3ab.3c-4; Refren:2a
Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang dari pada-Nya.
- Nyanyikanlah lagu baru bagi Tuhan, sebab Ia telah melakukan karya-karya yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
- Tuhan telah memperkenalkan keselamatan yang datang dari pada-Nya, Ia telah menyatakan keadilan-Nya di hadapan para bangsa. Ia ingat akan kasih dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel.
- Segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang datang dari Allah kita. Bersorak-soraklah bagi Tuhan, hai seluruh bumi, bergembiralah, dan bermazmurlah!
Bait Pengantar Injil – Matius 11:25
Terpujilah Engkau Bapa, Tuhan langit dan bumi, sebab misteri kerajaan Kaunyatakan kepada kaum sederhana.
Bacaan Injil – Markus 10:28-31
Sekalipun disertai penganiayaan, pada masa ini juga kalian akan menerima kembali seratus kali lipat, dan dimasa datang menerima hidup yang kekal.
Inilah Injil Suci menurut Markus:
Setelah Yesus berkata betapa sukarnya orang kaya masuk Kerajaan Allah, berkatalah Petrus kepada Yesus, “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau.”
Maka Yesus menjawab, “Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, barangsiapa meninggalkan rumah, saudara-saudari, ibu atau bapa, anak-anak atau ladangnya, pada masa ini juga ia akan menerima kembali seratus kali lipat: rumah, saudara laki-laki, saudara perempuan, ibu, anak dan ladang, sekalipun disertai berbagai penganiayaan; dan di masa datang ia akan menerima hidup yang kekal.
Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Kekudusan sering terasa seperti milik para santo dan santa – terlalu tinggi, terlalu jauh. Namun, hari ini kita diingatkan bahwa menjadi kudus bukan soal kesempurnaan, melainkan soal kesetiaan. Allah memanggil kita untuk hidup kudus di tempat kita masing-masing, bahkan di tengah rutinitas harian yang sederhana: di rumah, di kantor, di jalan, dan dalam relasi kita sehari-hari.
Kekudusan bukanlah hasil dari kekuatan kita sendiri, melainkan buah dari relasi yang akrab dengan Allah. Dalam Bacaan Pertama, Petrus menasihati, “Hiduplah dengan penuh pengharapan akan kasih karunia.” Hidup kudus berarti membuka hati terhadap kasih karunia yang terus menerus dicurahkan; atau hidup yang dilandasi harapan dan kepercayaan bahwa Allah yang memanggil, juga menyertai dan memampukan.
Selanjutnya, dalam Injil, Petrus berkata, “Kami telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikuti Engkau.” Sebuah pertanyaan yang tulus – dan mungkin juga pernah muncul dalam
hati kita, “Tuhan, apakah semua ini berarti?” Ketika lelah, kecewa, atau merasa sendiri, kita
ragu. Namun, Yesus menegaskan bahwa tidak ada yang sia-sia. Setiap langkah setia, sekecil apa
pun, Tuhan lihat dan hargai.
Ya Tuhan, Engkau memanggil kami untuk menjadi kudus, bukan karena kami sempurna, melainkan karena kami mau setia. Mampukanlah kami untuk tetap tekun dan setia, amin.

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.