Debat yang berlangsung pada rekaman langsung tersebut menampilkan sebuah drama teologis klasik yang kembali dihangatkan di panggung digital. Di satu sisi, terdapat upaya untuk mereduksi seluruh kekayaan iman Kristen ke dalam sebuah teks tertulis—sebuah konsep yang dikenal dengan istilah Sola Scriptura (Hanya Alkitab). Di sisi lain, berdiri pilar Gereja Katolik yang diwakili oleh Romo Ca-Fe, yang mencoba mempertahankan bahwa kebenaran ilahi tidak pernah bekerja dalam ruang hampa udara yang terisolasi dari sejarah, tradisi hidup, dan institusi yang didirikannya.
Sangat menarik melihat bagaimana Pdt. Mell Atock, dengan latar belakang masa kecilnya yang tumbuh dalam tradisi Katolik, mencoba melancarkan serangan konseptual dengan menggunakan narasi sejarah Perjanjian Lama. Ia melompat dari teks Nabi Yesaya langsung ke abad ke-16, seolah-olah sejarah Gereja selama 1500 tahun di antaranya hanyalah sebuah catatan kaki yang tidak penting atau, lebih ekstrem lagi, sebuah masa kegelapan yang penuh dengan kesesatan. Narasi semacam ini jamak ditemukan dalam retorika populer: sebuah romantisasi masa lalu biblis yang dipaksakan untuk membenarkan sebuah dogma modern yang sebenarnya baru lahir dari rahim Reformasi Protestan.
Naskah tanggapan ini disusun bukan sekadar untuk membela diri secara pasif, melainkan untuk menguji secara radikal—artinya sampai ke akar-akarnya—apakah klaim-klaim yang dilontarkan oleh Pdt. Mell Atock memiliki pijakan yang kokoh di hadapan sidang sejarah, kesaksian para Bapa Gereja, dokumen resmi Magisterium, ilmu arkeologi, bahkan logika filosofis yang paling mendasar. Sering kali, argumen yang tampak begitu meyakinkan di mimbar-mimbar khotbah yang riuh akan segera runtuh ketika diletakkan di bawah mikroskop analisis akademis yang dingin. Mari kita bedah satu per satu kekeliruan konseptual tersebut secara jernih, runtut, dan tanpa tedeng aling-aling.
1. Jebakan Anakronisme (Salah Waktu)
Kita akan menanggapi klaim Pdt. Mell Atock yang menyatakan bahwa “Sola Scriptura” (Hanya Alkitab) sudah ada sejak zaman Nabi Yesaya. Ini adalah kesalahan Anakronisme, yaitu memaksakan konsep modern ke masa lalu. Saat Yesaya menulis (abad ke-8 SM), Alkitab yang kita kenal sekarang belum ada jilidannya.
Yesaya 8:20 memang menyuruh kembali ke “pengajaran” (Torah), tetapi dalam budaya Israel, Torah bukan hanya teks mati, melainkan pengajaran hidup yang disampaikan lisan oleh para imam. Bahkan Allah memerintahkan umat untuk menaati keputusan lisan para imam (Ulangan 17:8-12). Jika otoritas hanya teks tertulis, maka khotbah lisan Nabi Yesaya saat itu harusnya ditolak karena belum dibukukan!. Umat Israel menaati Tuhan melalui suara nabi yang hidup, bukan lewat studi teks mandiri di kamar.
2. Paradoks Logika Sola Scriptura
Doktrin “Hanya Alkitab” sebenarnya menghancurkan dirinya sendiri karena tidak ada ayat di Alkitab yang mengatakan “Hanya Alkitab otoritas tunggal”. Jika ini tidak tertulis, maka doktrin ini hanyalah tradisi manusia yang justru ditolak oleh rekan-rekan Protestan.
Ayat yang sering dipakai, 2 Timotius 3:16, mengatakan Alkitab itu “bermanfaat” (ophelimos), bukan “cukup” atau “satu-satunya”. Air itu bermanfaat, tapi kita tidak bisa hidup hanya dengan air tanpa makanan dan udara. Selain itu, saat Paulus menulis surat itu, “Tulisan” yang dimaksud hanyalah Perjanjian Lama karena Perjanjian Baru belum lengkap (2 Timotius 3:15). Sebaliknya, Paulus justru memerintahkan kita berpegang pada Tradisi Lisan dan tertulis secara setara (2 Tesalonika 2:15, 2 Tesalonika 3:6).
3. Fakta Sejarah dan Sosiologi Jemaat Perdana
Yesus tidak pernah membagikan buku atau memerintahkan para Rasul menulis buku; Ia memerintahkan mereka untuk mengajar dan membaptis (Mat.28:19-20). Yesus mendirikan institusi hidup, yaitu Gereja, dengan otoritas yang jelas: “Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku” (Lukas 10:16).
Selama puluhan tahun, Gereja perdana berkembang pesat tanpa Alkitab Perjanjian Baru yang utuh. Secara sosiologis, 85-90% orang di zaman Romawi adalah buta huruf, dan harga satu gulungan kitab setara upah buruh berbulan-bulan karena harus ditulis tangan sebelum adanya mesin cetak di abad ke-15. Jika Sola Scriptura adalah syarat selamat, maka Tuhan telah gagal selama 1500 tahun karena metode itu mustahil dilakukan oleh mayoritas manusia sebelum adanya mesin cetak.
4. Kanon Alkitab – Hutang Budi kepada Gereja Katolik
Pertanyaan besarnya: Dari mana kita tahu isi Alkitab itu 66 atau 73 kitab? Daftar isi Alkitab (Kanon) tidak ada di dalam Alkitab. Tidak ada ayat dari Kejadian sampai Wahyu yang memuat daftar kitab-kitab suci.
Otoritas Gereja Katoliklah yang, di bawah bimbingan Roh Kudus, memilah ribuan naskah dan menetapkan kanon tersebut dalam Konsili Roma (382), Konsili Hippo (393), dan Konsili Kartago (397). Sungguh ironis jika seseorang menggunakan Alkitab untuk menyerang Gereja Katolik, padahal mereka menerima Alkitab dari otoritas Gereja yang sama. Seperti kata St. Agustinus: “Aku tidak akan percaya Injil jika otoritas Gereja Katolik tidak menggerakkanku” (St. Agustinus, Contra Epistolam Manichaei Fundamenti 5, 6).
5. Misteri Hilangnya Tujuh Kitab (Deuterokanonika)
Alkitab yang digunakan Pdt. Mell Atock telah “dimutilasi” atau dikurangi 7 kitab pada abad ke-16. Padahal, para Rasul dan Gereja perdana menggunakan Septuaginta (LXX), versi Yunani yang memuat kitab-kitab seperti 2 Makabe. Sekitar 80% kutipan Perjanjian Lama di Perjanjian Baru diambil dari Septuaginta ini.
Martin Luther membuang kitab-kitab ini karena memuat dasar doa bagi orang mati (2 Makabe 12:44-45), yang tidak cocok dengan teologinya. Luther lebih memilih tunduk pada keputusan rabi Yahudi di Konsili Jamnia (tahun 90 M) yang menolak Kristus, daripada mengikuti tradisi jemaat perdana. Padahal Alkitab memperingatkan konsekuensi ngeri bagi siapa saja yang berani mengurangkan isi Kitab Suci (Wahyu 22:19).
6. Suara Bapa Gereja dan Suksesi Apostolik
Sejarah membuktikan bahwa Bapa Gereja perdana tidak hanya mengandalkan teks tertulis. St. Irenaeus (murid dari St. Polikarpus, yang merupakan murid Rasul Yohanes) menegaskan bahwa Tradisi Rasul dijaga melalui garis keturunan uskup² yang tidak terputus (St. Irenaeus, Adversus Haereses III, 3, 1).
St. Ignatius dari Antiokhia (tahun 110 M) juga menulis: “Di mana saja uskup berada, di situlah Gereja Katolik berada” (St. Ignatius, Epistula ad Smyrnaeos 8, 1). Penjamin kebenaran bagi umat perdana bukan hanya teks yang bisa salah tafsir, melainkan Suksesi Apostolik atau penumpangan tangan resmi dari para Rasul kepada para uskup, seperti yang terlihat saat pemilihan Matias (Kisah Para Rasul 1:21-26) dan penahbisan Timotius (1 Timotius 4:14).
7. Kekacauan Penafsiran Pribadi & Kursi Berkaki Tiga
Dampak buruk Sola Scriptura adalah munculnya hak penafsiran pribadi tanpa kendali. Hasilnya? Dunia Protestan terpecah menjadi ribuan denominasi yang saling bertentangan meski membaca Alkitab yang sama. Alkitab memperingatkan bahwa Nubuat tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2 Petrus 1:20) dan orang yang kurang memahami iman bisa memutarbalikkannya menjadi kebinasaan (2 Petrus 3:16).
Iman Katolik berdiri kokoh seperti kursi berkaki tiga: Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium (Wewenang Mengajar Gereja). Jika salah satu kaki dipotong, iman akan roboh. Magisterium melayani Sabda Allah dengan menjaganya dari penafsiran yang melenceng (Dei Verbum No. 9-10).
8. Gereja Sebagai Penopang Kebenaran & Penutup
Ketika terjadi perpecahan, obatnya bukan penafsiran masing-masing, melainkan struktur otoritas yang didirikan Kristus (Ibrani 13:17). Alkitab dengan tegas menyebut bahwa yang menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran adalah Jemaat (Gereja), bukan sekadar teks (1 Timotius 3:15).
Kristus menjamin institusi-Nya melalui Petrus dan para penggantinya agar alam maut tidak menguasainya (Matius 16:18-19). Sebagai umat Katolik, kita tidak perlu minder. Iman kita memiliki fondasi sejarah 2000 tahun yang teruji, bukan sekadar mengikuti tren media sosial. Mari kita kembali ke rumah asal di mana Alkitab itu sendiri dilahirkan dan dijaga kesuciannya.
Daftar Referensi
-
Alkitab Terjemahan Baru (TB). Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia, 1974.
-
Agustinus dari Hippo. Contra Epistolam Manichaei Fundamenti (Melawan Surat Dasar Manikean), Bab 5, Paragraf 6. Dalam: Migne, J.P. (Ed.). Patrologia Latina, Jilid 42, Kolom 176. Paris: Garnier, 1865. (Karya asli ditulis tahun 397 M).
-
Irenius dari Lyon. Adversus Haereses (Melawan Kesesatan), Buku III, Bab 3 dan 4. Dalam: Roberts, Alexander & Donaldson, James (Ed.). Ante-Nicene Fathers, Jilid 1, Halaman 415-417. Buffalo: Christian Literature Publishing Co., 1885. (Karya asli ditulis sekitar tahun 189 M).
-
Ignatius dari Antiokhia. Epistula ad Smyrnaeos (Surat kepada Jemaat di Smyrna), Bab 8. Dalam: Lightfoot, J.B. (Ed.). The Apostolic Fathers, Jilid 2, Halaman 311. London: Macmillan, 1889. (Karya asli ditulis sekitar tahun 110 M).
-
Konsili Vatikan II. Dei Verbum (Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi), Nomor 9 dan 10. Roma: Tipografia Poliglotta Vaticana, 22 November 1965.
-
Kelly, J.N.D. Early Christian Doctrines (Doktrin-Doktrin Kristen Mula-mula). Edisi Revisi, Halaman 52-75. London: Prince & Martin, 1958.
-
Harris, William V. Ancient Literacy (Literasi Kuno). Halaman 115-130. Cambridge: Harvard University Press, 1989.
-
Beckwith, Roger T. The Old Testament Canon of the New Testament Church (Kanon Perjanjian Lama dari Gereja Perjanjian Baru). Halaman 338-360. Grand Rapids: Eerdmans Publishing Company, 1985.
Salvate
Berkah Dalem