Lebih dari 100 komunikator digital, kreator konten, dan faith influencers Katolik dari berbagai negara Asia berkumpul di Radio Veritas Asia (RVA), Quezon City, Filipina, mengikuti Asian Catholic Digital Missionary Assembly 2026, 10–13 September.
MANILA, Mirifica.net – Pertemuan pertama para misionaris digital Katolik di tingkat Asia ini mengangkat tema “Influencers to Witnesses: Synodal Way for Digital Mission in Asia”, yang terinspirasi dari Kisah Para Rasul 4:20: “For we cannot but speak the things which we have seen and heard.”
Diselenggarakan oleh Federation of Asian Bishops’ Conferences Office of Social Communication (FABC-OSC) dan Radio Veritas Asia, bekerja sama dengan Dicastery for Communication melalui Fully Present Network, assembly ini hendak menjawab salah satu tantangan utama Gereja di era digital: bagaimana hadir di dunia digital bukan sekadar sebagai produsen konten, tetapi sebagai saksi Kristus yang autentik.
Pertemuan juga diarahkan untuk membangun jaringan kolaboratif para misionaris digital Asia, memperkuat kehadiran Gereja di ruang digital, serta mendampingi para influencer Katolik dalam perjalanan dari sekadar membangun pengaruh menuju kesaksian iman yang hidup.
Bukan sekadar mengejar pengaruh
Gagasan utama yang muncul dari berbagai refleksi menjelang dan selama assembly adalah perubahan cara pandang terhadap misi digital.
Sekretaris eksekutif FABC-OSC sekaligus program director RVA Romo John Mi Shen, mengatakan Gereja tidak cukup hanya memproduksi semakin banyak konten digital. Evangelisasi digital, menurutnya, harus dimulai dengan mendengarkan manusia yang berada di balik layar.
“Sebelum bertanya, ‘Apa yang harus kita komunikasikan?’, kita seharusnya terlebih dahulu bertanya, ‘Apa yang sedang dialami orang-orang? Apa yang sedang mereka cari?’” katanya. Ia merumuskan tiga gerakan penting dalam misi digital: mendengarkan, mendampingi, dan bersaksi.
Video, podcast, refleksi Kitab Suci, maupun unggahan media sosial dapat menjadi pintu menuju perjumpaan. Namun, tujuan akhirnya bukan sekadar menambah jumlah penonton, pengikut, atau engagement.
“Di balik setiap layar, ada seseorang yang sedang mencari makna, koneksi, dan terkadang sekadar seseorang yang mau mendengarkan mereka,” ujar Romo Mi Shen. Karena itu, seorang influencer Katolik perlu mengubah pertanyaan dasarnya. Bukan lagi, “Berapa banyak orang yang mengikuti saya?”, melainkan, “Siapa yang saya layani dan tentang apa saya memberikan kesaksian?”
Influencer Menuju Komunitas Digital
General Manager RVA Romo Felmar Castrodes Fiel, SVD memperluas gagasan tersebut dengan menekankan pentingnya membangun komunitas digital. Menurutnya, audiens bukan sekadar angka statistik, followers, atau penonton. Mereka adalah manusia dengan pengalaman, pertanyaan, dan cerita yang dapat memperkaya percakapan tentang iman.
Karena itu, komunikasi digital perlu menyediakan ruang bagi orang untuk merespons, bertanya, berbagi pengalaman, dan berdoa bersama.
Bahkan tindakan sederhana seperti membaca dan menjawab komentar, menyapa pengikut baru, serta merespons pesan dapat membantu membangun rasa memiliki dalam komunitas digital.
“Evangelisasi digital itu tentang membawa Kristus dalam setiap perjumpaan sehari-hari melalui percakapan, perjuangan, kegembiraan dan ragam pertanyaan,” katanya.
Dengan demikian, keberhasilan misi digital tidak semestinya hanya diukur berdasarkan jumlah followers, likes, atau video yang menjadi viral. Ukuran yang lebih penting adalah apakah komunikasi tersebut membantu seseorang mengalami perjumpaan dengan Kristus.
Felmar berharap RVA dapat berkembang menjadi platform persekutuan bagi Gereja-Gereja di Asia, bukan hanya dengan berbagi konten, tetapi juga sumber daya, pelatihan, teknologi, cerita, dan kesempatan kerja sama.
“Asia memiliki banyak hal untuk diceritakan baik di Asia maupun seluruh dunia,” katanya. “RVA dapat membantu kita mendengarkan satu sama lain dan menyampaikan kisah tentang Jesus secara bersamaan.”
![]()
General Manager RVA- Romo Felmar Castrodes Fiel, SVD (Doc: RVA)
Media sosial harus membawa orang melampaui layar
Pie Mabanta-Fenomeno, pakar komunikasi dan pembuat film asal Filipina, mengingatkan bahwa media sosial seharusnya menjadi pintu masuk menuju perjumpaan yang lebih dalam, bukan tujuan akhir evangelisasi.
“Media sosial tetaplah harus menjadi pintu masuk, bukan sebagai tujuan,” katanya.
Menurutnya, format digital yang cepat dan pendek memiliki risiko membentuk budaya yang dangkal, tidak sabar, dan mudah menerima informasi tanpa cukup kritis.
Karena itu, komunikator Katolik perlu mengarahkan orang dari layar menuju percakapan yang lebih bermakna dan, bila memungkinkan, menuju perjumpaan nyata.
Ia juga mengajak para misionaris digital menjadi “amplifiers for the voiceless”—mereka yang memperkuat suara orang-orang yang tidak terdengar—serta menggunakan platform mereka untuk memperjuangkan keadilan, martabat manusia, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.
Misi komunikasi, katanya, bukan sekadar ekspresi diri.
Para komunikator Katolik dipanggil untuk keluar dari pusat perhatian dirinya sendiri dan menceritakan kisah-kisah yang memperlihatkan kehadiran Allah dalam pengalaman manusia, baik dalam peristiwa luar biasa maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Jangan biarkan dunia digital menentukan harga diri
Dr. Anna Jihyun You, jurnalis senior dan pakar komunikasi asal Korea Selatan, membawa perhatian pada persoalan lain yang dihadapi generasi muda: tekanan untuk selalu terlihat dan mendapatkan pengakuan di dunia digital.
Menurutnya, jumlah likes, followers, views, dan tingkat keterlibatan sering membuat orang mengukur harga dirinya berdasarkan popularitas digital.
Karena itu ia mengingatkan kaum muda: “Jangan biarkan dunia digital menentukan harga dirimu.”
Seorang saksi Kristus tidak membutuhkan ribuan pengikut atau produksi yang sempurna. Kesaksian dapat muncul melalui percakapan yang sederhana, tulus, dan penuh belas kasih.
Dr. You juga mengingatkan bahwa pengaruh tanpa pembinaan dapat membuat para kreator muda rentan terhadap burnout, kesepian, dan ekspektasi yang tidak sehat.
Di tengah berkembangnya kecerdasan buatan generatif, produksi gambar, video, dan pesan yang tampak sempurna menjadi semakin mudah. Namun teknologi tidak dapat menciptakan belas kasih, sentuhan manusia, atau kehidupan yang sungguh-sungguh dijalani.
“Teknologi dan menggaungkan pesan, namun tidak bisa merekayasa belas kasih, sentuhan manusia atau hidup yang benar-benar dihayati sepenuhnya,” katanya.
“Point people to Christ”
Pesan tersebut mendapatkan gambaran konkret dalam homili Romo Felmar Fiel SVD dalam ekaristi pembukaan, pada 10 September di Three Saints Chapel, kompleks RVA.
Dengan menggunakan kebiasaan khas Filipina ketika menunjukkan arah—menunjuk menggunakan bibir—Romo Felmar menjadikannya sebagai gambaran tentang tugas seorang misionaris digital.
“Sebagai misioanaris digital, kita juga dipanggil untuk menunjukkan arah melalui unggahan-unggahan kita di media sosial,” katanya.
Menurutnya, sebuah unggahan media sosial, livestream, atau cerita digital dapat menjadi jembatan menuju tempat-tempat di mana Gereja mungkin tidak hadir secara fisik. “Barangkali unggahan Anda akan menjadi jembatan menuju perjumpaan dengan Kristus,” ujarnya.
Ia menghubungkan gagasan tersebut dengan pengalaman Gereja Asia yang sangat beragam dalam bahasa, budaya, sejarah, situasi politik, tradisi agama, dan pengalaman menggereja.
Keragaman tersebut tidak seharusnya menjadi penghalang bagi persekutuan. Sebaliknya, para misionaris digital dipanggil untuk membangun jembatan.
“Kita milik Kristus. Kita milik satu sama lain. Kita milik satu umat manusia,”kata Felmar. Pada akhirnya, pertanyaan bagi seorang misionaris digital adalah: ke mana konten mereka mengarahkan orang?
“Jika kita hanya menunjuk kepada diri sendiri, kita tetap menjadi influencer. Tetapi jika hidup, cerita, kreativitas, dan platform digital kita menunjuk orang kepada Yesus, maka kita menjadi saksi,” kata Romo Felmar.
Asia membutuhkan suara digitalnya sendiri
Kongres ini juga lahir dari kesadaran bahwa Gereja Asia memiliki keragaman pengalaman yang tidak dapat direduksi menjadi satu model komunikasi. Para delegasi dari berbagai negara diundang untuk membawa realitas, kegembiraan, tantangan, dan pengalaman Gereja masing-masing. Tujuannya bukan menyeragamkan komunikasi digital Gereja, melainkan memperkuat suara digital Gereja Asia yang beragam.
Hal ini sejalan dengan identitas RVA sebagai “Voice of Asian Christianity.” Sejak didirikan pada 1969 sebagai radio Katolik kontinental, RVA berkembang mengikuti perubahan teknologi dan kini menjangkau masyarakat Asia melalui berbagai platform digital dan 21 layanan bahasa. Kongres ini diharapkan menjadi ruang untuk saling mendengarkan dan belajar sehingga pengalaman Gereja lokal dapat memperkaya Gereja di seluruh Asia.
![]()
Doc: RVA
Menuju Gereja digital yang lebih sinodal
Pada akhirnya, berbagai suara yang muncul dalam rangkaian artikel RVA tersebut bertemu pada satu arah yang sama: misi digital Gereja harus bergerak dari pengaruh menuju kesaksian, dari konten menuju perjumpaan, dan dari audiens menuju komunitas.
Tema Influencers to Witnesses bukan sekadar slogan komunikasi. Tema tersebut mengandung perubahan cara memahami evangelisasi.
Misionaris digital tidak dipanggil untuk menjadi selebritas Katolik. Mereka dipanggil untuk menjadi manusia yang telah mengalami sesuatu dalam iman dan karena itu tidak dapat tidak bersaksi.
“Tidak sekadar menciptakan konten,” demikian visi assembly, tetapi berbicara tentang apa yang sungguh-sungguh telah dilihat, didengar, dan dialami dalam iman. Dengan cara itu, ruang digital dapat menjadi salah satu “periferi” tempat orang mengalami kehadiran Kristus.
Assembly juga membuka ruang untuk melihat perjalanan menuju World Youth Day Seoul 2027. Dr. You mengajak para misionaris digital melihat WYD bukan hanya sebagai sebuah peristiwa besar, tetapi sebagai kesempatan membangun persekutuan kaum muda melintasi bahasa, budaya, dan batas negara di Asia.
Di tengah perkembangan algoritma, kecerdasan buatan, media sosial, dan perubahan cepat teknologi komunikasi, Gereja akhirnya dihadapkan pada pertanyaan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar “platform apa yang harus digunakan?”
Pertanyaannya adalah: kehadiran seperti apa yang ingin dibangun Gereja di dunia digital?
Jawaban yang muncul dari Asian Catholic Digital Missionary Assembly 2026 cukup jelas: kehadiran yang mendengarkan, mendampingi, membangun komunitas, memperjuangkan martabat manusia, dan terutama menunjuk orang kepada Kristus.
Sebab platform akan terus berubah. Algoritma akan berganti. Teknologi akan semakin canggih. Namun misi Gereja tetap sama: membawa manusia semakin dekat kepada Kristus dan membangun persekutuan.*
*Oleh Gabriel Abdi Susanto
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.