JUMAT PEKAN BIASA XXIII
Santo Yohanes Gabriel Perboyre
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I – 1 Korintus 9:16-19.22b-27
Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya, untuk menyelamatkan mereka semua.
Bacaan dari Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus:
Saudara-saudara, memberitakan Injil bukanlah suatu alasan bagiku untuk memegahkan diri. Sebab bagiku itu suatu keharusan. Celakalah aku bila aku tidak memberitakan Injil. Andaikata aku melakukannya menurut kehendakku sendiri, memang aku berhak menerima upah. Tetapi karena aku melakukannya bukan menurut kehendakku sendiri, maka pemberitaan itu adalah tugas penyelenggaraan yang ditanggungkan kepadaku. Kalau demikian apakah upahku? Upahku ialah bahwa aku boleh memberitakan Injil tanpa upah, dan bahwa aku tidak mempergunakan hakku sebagai pemberita Injil. Sebab sekalipun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba semua orang, supaya aku dapat memenangkan orang sebanyak mungkin.
Bagi semua orang aku menjadi segala-galanya supaya sedapat mungkin memenangkan beberapa orang di antaramu. Segala-galanya itu kulakukan demi Injil, agar aku mendapat bagian di dalamnya. Tidak tahukah kalian, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kalian memperolehnya. Tiap-tiap orang yang mengikuti pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.
Sebab itu aku berlari bukan tanpa tujuan, dan aku bertinju bukan dengan memukul sembarangan. Sebaliknya aku melatih dan menguasai tubuhku sepenuhnya, jangan sampai aku sendiri ditolak sesudah memberitakan Injil kepada orang lain.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan – Mazmur 84:3.4.5-6.12 – Refren:2
Betapa menyenangkan tempat kediaman-Mu, ya Tuhan semesta alam!
- Jiwaku merana karena merindukan pelataran Tuhan; jiwa dan ragaku bersorak-sorai kepada Allah yang hidup.
- Bahkan burung pipit mendapat tempat dan burung layang-layang mendapat sebuah sarang, tempat mereka menaruh anak-anaknya, pada mezbah-mezbah-Mu, ya Tuhan semesta alam, ya Rajaku dan Allahku!
- Berbahagialah orang yang diam di rumah-Mu, yang memuji-muji Engkau tanpa henti. Berbahagialah para peziarah yang mendapat kekuatan dari pada-Mu, yang bertolak dengan penuh gairah.
- Sebab Tuhan Allah adalah benteng dan perisai; kasih dan kemuliaan Ia berikan; Ia tidak menahan kebaikan-Nya dari orang yang hidup tidak bercela.
Bait Pengantar Injil – Yohanes 17:17b.a
Sabda-Mu, ya Tuhan, adalah kebenaran. Kuduskanlah kami dalam kebenaran.
**Bacaan Injil – Lukas 6:39-42
**
Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta?
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Pada suatu ketika Yesus menyampaikan perumpamaan ini kepada murid-murid-Nya, “Mungkinkah seorang buta membimbing orang buta? Bukankah keduanya akan jatuh ke dalam lubang? Seorang murid tidak melebihi gurunya, tetapi orang yang sudah tamat pelajarannya akan menjadi sama dengan gurunya.
Mengapakah engkau melihat selumbar dalam mata saudaramu, sedangkan balok dalam matamu sendiri tidak kauketahui? Bagaimana mungkin engkau berkata kepada saudaramu, ‘Saudara, biarlah aku mengeluarkan selumbar dalam matamu,’ padahal balok dalam matamu tidak kaulihat?
Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Sebagai mahkluk sosial, setiap orang membutuhkan sikap saling menerima dan menghargai, tanpa memandang status apa pun. Maka, kecenderungan untuk menjadi hakim yang hanya menilai sisi buruk orang lain, tanpa mengintrospeksi diri, sebenarnya berlawanan dengan identitas kita sebagai mahkluk sosial, dan itu merupakan suatu sikap yang kurang elok sebagai anak-anak Allah. Perlu ada kesadaran bahwa sesama adalah citra Allah. Karena itu, sudah sepatutnya kita merangkul dan mencintai mereka sama seperti yang dilakukan oleh Allah melalui Yesus Putra-Nya.
Dalam Injil, Yesus memberikan beberapa pesan bagi kita, yakni kita tidak boleh menghakimi orang lain karena kita semua berdosa dan membutuhkan pengampunan. Selain itu, sebelum kita mengkritik orang lain, kita perlu terlebih dahulu memeriksa diri sendiri dan selalu menunjukkan sikap belas kasihan kepada orang lain, seperti halnya Tuhan menunjukkan belas kasihan kepada kita. Rasul Paulus menegaskan lagi ajaran Yesus ini dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Ia mengajak jemaat agar selalu memerhatikan orang-orang lemah dan menyelamatkan mereka. Karena itu, marilah kita menanamkan sikap rendah hati dan menunjukkan kasih kepada semua orang sebab kualitas hidup beriman kita tidak diukur dari seberapa sering kita menyebut nama Tuhan Allah dan menjadi hakim untuk yang lain, tetapi seberapa besar kesetiaan kita untuk merangkul sesama yang dicintai-Nya.
Allah Yang Maha Baik, mampukanlah kami membalas kebaikan-Mu dengan melayani sesama, terutama mereka yang menderita dan tidak berdaya, amin.

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.