Tanggal: 27 April 2026
Perayaan: Hari biasa Pekan IV Paskah
Warna Liturgi: Putih
📖 Bacaan Pertama
1Ptr. 5:5b-14
Rasul-rasul dan saudara-saudara di Yudea mendengar, bahwa bangsa-bangsa lain juga menerima firman Allah.
Ketika Petrus tiba di Yerusalem, orang-orang dari golongan yang bersunat berselisih pendapat dengan dia.
Kata mereka: “Engkau telah masuk ke rumah orang-orang yang tidak bersunat dan makan bersama-sama dengan mereka.”
Tetapi Petrus menjelaskan segala sesuatu berturut-turut, katanya:
“Aku sedang berdoa di kota Yope, tiba-tiba rohku diliputi kuasa ilahi dan aku melihat suatu penglihatan: suatu benda berbentuk kain lebar yang bergantung pada keempat sudutnya diturunkan dari langit sampai di depanku.
Aku menatapnya dan di dalamnya aku lihat segala jenis binatang berkaki empat dan binatang liar dan binatang menjalar dan burung-burung.
Lalu aku mendengar suara berkata kepadaku: Bangunlah, hai Petrus, sembelihlah dan makanlah!
Tetapi aku berkata: Tidak, Tuhan, tidak, sebab belum pernah sesuatu yang haram dan yang tidak tahir masuk ke dalam mulutku.
Akan tetapi untuk kedua kalinya suara dari sorga berkata kepadaku: Apa yang dinyatakan halal oleh Allah, tidak boleh engkau nyatakan haram!
Hal itu terjadi sampai tiga kali, lalu semuanya ditarik kembali ke langit.
Dan seketika itu juga tiga orang berdiri di depan rumah, di mana kami menumpang; mereka diutus kepadaku dari Kaisarea.
Lalu kata Roh kepadaku: Pergi bersama mereka dengan tidak bimbang! Dan keenam saudara ini menyertai aku. Kami masuk ke dalam rumah orang itu,
dan ia menceriterakan kepada kami, bagaimana ia melihat seorang malaikat berdiri di dalam rumahnya dan berkata kepadanya: Suruhlah orang ke Yope untuk menjemput Simon yang disebut Petrus.
Ia akan menyampaikan suatu berita kepada kamu, yang akan mendatangkan keselamatan bagimu dan bagi seluruh isi rumahmu.
Dan ketika aku mulai berbicara, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita.
Maka teringatlah aku akan perkataan Tuhan: Yohanes membaptis dengan air, tetapi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus.
Jadi jika Allah memberikan karunia-Nya kepada mereka sama seperti kepada kita pada waktu kita mulai percaya kepada Yesus Kristus, bagaimanakah mungkin aku mencegah Dia?”
Ketika mereka mendengar hal itu, mereka menjadi tenang, lalu memuliakan Allah, katanya: “Jadi kepada bangsa-bangsa lain juga Allah mengaruniakan pertobatan yang memimpin kepada hidup.”
🎵 Mazmur Tanggapan
Mazmur 42:2-3
Jiwaku haus kepada Allah, kepada Allah yang hidup. Bilakah aku boleh datang melihat Allah?
Air mataku menjadi makananku siang dan malam, karena sepanjang hari orang berkata kepadaku: “Di mana Allahmu?”
Suruhlah terang-Mu dan kesetiaan-Mu datang, supaya aku dituntun dan dibawa ke gunung-Mu yang kudus dan ke tempat kediaman-Mu!
Maka aku dapat pergi ke mezbah Allah, menghadap Allah, yang adalah sukacitaku dan kegembiraanku, dan bersyukur kepada-Mu dengan kecapi, ya Allah, ya Allahku!
✝️ Bacaan Injil
Yohanes 10:11-18
Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya;
sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.
Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu.
Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku
sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.
Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.
Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali.
Tidak seorang pun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku.”
💭 Renungan
Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia
Ada sebuah cerita. Tiga orang anak mendapat kayu berbentuk salib yang sama panjang untuk dibawa menyusuri jalan. Karena terlalu berat, dua anak memotong salib mereka menjadi lebih pendek.
Karena masih terasa berat, mereka potong lagi salib itu. Tiba di suatu tempat, mereka harus menyeberang sungai, dan satu-satunya sarana yang bisa mereka pakai adalah kayu salib yang mereka bawa.
Maka, satu dari tiga anak itu saja yang bisa menyeberang karena salibnya masih utuh. Dua anak yang lain tadi putus asa. Namun, anak yang bisa menyeberangi sungai itu berkata, “Ayolah, kamu bisa menyeberang dengan memakai salibku.”
Tugas sebagai gembala baik yang diemban Yesus bukan tugas yang ringan. Yesus memikulnya dan melaksanakannya dengan baik. Buahnya adalah keselamatan banyak orang. Semoga kita pun, bersama Kristus, mau melaksanakan tugas hidup kita dengan baik dan setia.
Tugas yang kita terima dari perutusan atau pekerjaan yang kita pilih memang terkadang berat dan terasa membebani. Namun, apabila kita lakukan dengan baik maka berbuah berkat pula bagi sesama.
🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)
Dalam bacaan pertama dari 1 Petrus, kita melihat bagaimana Allah mengaruniakan pertobatan dan keselamatan kepada semua orang, tanpa memandang latar belakang mereka. Kisah Petrus yang menghadapi tantangan dari golongan bersunat menggambarkan pentingnya keterbukaan dan penerimaan dalam komunitas iman. Dengan berani, Petrus mengikuti perintah Allah meskipun menghadapi kritik, menunjukkan bahwa panggilan untuk menyebarkan kabar baik tidak terbatas pada satu kelompok. Hal ini mengingatkan kita bahwa kasih dan keselamatan Allah menjangkau semua orang, termasuk mereka yang dianggap ‘lain’.
Dalam Injil Yohanes, Yesus menyatakan diri sebagai gembala yang baik, yang mengenal domba-dombanya dan rela memberikan nyawanya untuk mereka. Gembala yang baik bukan hanya melindungi domba-dombanya dari bahaya, tetapi juga berusaha untuk menyatukan semua domba dalam satu kawanan. Ini adalah panggilan bagi kita untuk menjadi gembala-gembala dalam kehidupan kita sendiri, berupaya membawa perdamaian, kasih, dan keselamatan kepada semua orang di sekitar kita. Tugas ini mungkin berat dan penuh tantangan, tetapi sama seperti Yesus, kita diundang untuk melaksanakannya dengan penuh kasih.
Renungan tentang salib yang dibawa oleh tiga anak menggambarkan bahwa setiap tugas dan tantangan dalam hidup kita memiliki beratnya masing-masing. Ketika kita merasa terbebani, kita diingatkan untuk tidak memotong salib kita, tetapi untuk memikulnya dengan setia. Hanya dengan salib yang utuh, kita bisa mencapai tujuan akhir dan membantu orang lain menyeberangi tantangan hidup mereka. Dengan memikul salib kita, kita berkontribusi pada keselamatan dan kebangkitan hidup orang lain, menciptakan komunitas yang saling mendukung, dan menghadirkan kasih Allah kepada dunia yang membutuhkan.