JAKARTA, 20 Agustus 2026 — Komisi Liturgi Konferensi Waligereja Indonesia (Komlit KWI) menggelar Rapat Pleno Nasional Komisi Liturgi KWI 2026 dengan tema “Formasio Liturgi Imam” di Kantor KWI, Jakarta, 20–23 Agustus 2026. Pertemuan ini menjadi ruang bersama bagi para imam, pengurus Komlit KWI, perwakilan Komisi Liturgi Keuskupan dari berbagai regio, serta para pendukung dan relawan untuk memperdalam pemahaman sekaligus mengembangkan pembinaan liturgi bagi para imam.
Rapat pleno ini dirancang bukan sekadar sebagai forum untuk menambah pengetahuan tentang liturgi, melainkan sebagai kesempatan untuk mengalami pembaruan dari dalam diri para pelayan liturgi. Dalam sambutannya, Romo Fransiskus Yance Sengga menegaskan bahwa formasi liturgi bukan hanya pengetahuan tentang liturgi, tetapi juga proses untuk mengetahui bagaimana menjadi, melakukan, dan hidup sesuai dengan liturgi. Karena itu, formasi liturgi diarahkan bukan hanya pada formation for liturgy, tetapi terutama formation through liturgy.
Menurut Romo Yance, liturgi tidak dapat dipahami hanya sebagai seperangkat pengetahuan atau tata cara perayaan. Liturgi merupakan realitas yang mencakup tindakan, tatanan, dan eksistensi manusia. Karena itu, liturgi memiliki daya untuk membentuk dan mentransformasi kehidupan. Proses tersebut mencakup pengetahuan (informatio), tindakan (performatio), dan pembaruan (transformatio), sehingga Kristus semakin hidup dalam diri umat beriman.
Ia juga menekankan pentingnya ars celebrandi, yakni seni merayakan liturgi yang lahir dari sikap batin dan penghayatan rohani. Persiapan lahiriah dalam perayaan liturgi, menurut refleksi tersebut, perlu berjalan bersama dengan persiapan batin agar imam dan umat mampu menangkap serta mengungkapkan makna yang terkandung di balik simbol dan rubrik liturgi.
Undangan untuk mengalami pembaruan
Pesan serupa disampaikan oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko dalam pembukaan rapat pleno. Ia mengajak para peserta melihat pertemuan tersebut sebagai kesempatan untuk belajar bersama dan membentuk diri, khususnya dalam panggilan para imam sebagai pelayan umat dan pelayan sakramen.
Mgr. Rubiyatmoko mengingatkan bahwa pembelajaran liturgi tidak boleh berhenti pada kemampuan merayakan liturgi secara benar dan sesuai rubrik. Lebih jauh, formasi liturgi harus membawa perubahan serta pembaruan dari dalam diri. Para peserta diajak untuk semakin menghayati Ekaristi sehingga perayaan yang dilakukan setiap hari tidak berubah menjadi rutinitas semata.

Suasana registrasi sebelum misa pembukaan (Foto: Panitia Pubdok)
Bagi Mgr. Rubiyatmoko, perubahan batin para imam pada akhirnya akan berdampak kepada umat yang mereka layani. Penghayatan yang sungguh-sungguh dalam diri imam diharapkan dapat membantu umat mengalami suasana iman yang sama dalam setiap perayaan liturgi. Sebaliknya, kurangnya persiapan dan kesungguhan dari pelayan liturgi juga dapat memengaruhi pengalaman umat.
Karena itu, rapat pleno ini diharapkan menjadi kesempatan untuk memperdalam pemahaman, berbagi pengalaman, serta mempertajam kemampuan para peserta dalam memaknai liturgi yang dirayakan bersama umat.
Dibuka dengan Ekaristi dan mendengarkan suara umat
Rangkaian kegiatan dimulai pada Kamis, 20 Agustus 2026, dengan kedatangan dan registrasi peserta. Pada sore hari, peserta mengikuti Misa Konselebrasi Pembukaan Rapat Pleno Nasional Komlit KWI yang dipimpin oleh Mgr. Robertus Rubiyatmoko dan diikuti sejumlah konselebran.
Setelah Misa dan makan malam, peserta memasuki sesi pembukaan pleno. Salah satu agenda awal yang menonjol adalah talk show “Kata Orang Muda tentang Imam & Liturgi” dengan semangat “Mendengarkan Umat”. Sesi ini menjadi ruang bagi peserta untuk mendengarkan pandangan orang muda mengenai imam dan liturgi, sebelum peserta diajak masuk dalam suasana hening dan doa malam.
Agenda tersebut menunjukkan bahwa pembahasan mengenai liturgi tidak hanya ditempatkan dalam perspektif para ahli dan pelayan Gereja, tetapi juga membuka ruang bagi pengalaman serta suara umat, khususnya generasi muda.
Mempertemukan dimensi kanonis, spiritual dan pastoral
Pada Jumat, 21 Agustus, kegiatan pleno berlanjut dengan sejumlah sesi pendalaman. Hari diawali dengan Misa Harian yang digabung dengan Ibadat Harian dan diikuti konselebrasi Regio Sumatera–Kalimantan. Setelah itu peserta memasuki sesi pleno dengan pembahasan “Dimensi Kanonis Imam dan Liturgi” yang menghadirkan Mgr. Robertus Rubiyatmoko sebagai narasumber.
Sesi berikutnya membahas “Spiritualitas Imam dan Liturgi”, dengan Mgr. Hans Monteiro, Uskup Keuskupan Larantuka, sebagai narasumber. Pembahasan ini kemudian dilanjutkan pada sore hari melalui sesi “Sharing Imam dan Liturgi”, yang memberi ruang bagi peserta untuk berbagi pengalaman.
Pada akhir hari, peserta dijadwalkan mengikuti sesi “Merancang Program Formasio Liturgi Imam”, yang diarahkan pada upaya menerjemahkan hasil refleksi dan pembelajaran ke dalam program pembinaan yang lebih konkret.

Foto: Panitia Pubdok
Dari musik liturgi hingga pengalaman enam regio
Sabtu, 22 Agustus, peserta akan melanjutkan proses dengan sesi Presentasi dari Seksi Musik Liturgi, menghadirkan Rm. Berry Rahawarin dan Rm. Harry Singkoh, MSC, sebagai narasumber, dengan Rm. Fransiskus Yance Sengga sebagai moderator.
Pembahasan kemudian dilanjutkan dengan Pertemuan Regio, yang melibatkan enam kelompok wilayah. Pertemuan ini menjadi ruang untuk mendalami hasil pembahasan sesuai konteks masing-masing regio.
Pada sore hari, peserta mengikuti Presentasi Hasil Pembahasan Regio, sebelum diajak menyusun Commitment Card. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya membawa hasil pertemuan tidak berhenti di ruang pleno, tetapi diteruskan dalam langkah-langkah nyata setelah pertemuan berakhir.
Malam harinya, suasana pleno berubah menjadi ruang persaudaraan melalui Acara Kebersamaan. Enam regio—Papua, Jawa, Sumatera, Kalimantan, MAM, dan Nusra—dijadwalkan menampilkan persembahan masing-masing, diselingi permainan, tarian bersama, dan nyanyian bersama. Acara tersebut mengusung tema “Bersatu dalam Misi, Erat dalam Persahabatan, Melangkah bersama dalam Persaudaraan.”
Rangkaian ini memperlihatkan bahwa formasi tidak hanya berlangsung melalui sesi akademis dan diskusi, tetapi juga melalui pengalaman persaudaraan yang mempertemukan para peserta dari berbagai latar belakang dan wilayah.
Menghasilkan keputusan dan rekomendasi bersama
Puncak proses pleno dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 23 Agustus. Setelah Ibadat Pagi, peserta akan mengikuti sesi “Keputusan & Rekomendasi”. Agenda ini mencakup rangkuman pembahasan hari kedua dan ketiga serta penyusunan keputusan bersama yang berkaitan dengan visi, misi, rencana, dan rekomendasi.
Dengan demikian, perjalanan empat hari ini bergerak dari perjumpaan dan doa, pendalaman teologis serta spiritual, mendengarkan pengalaman umat dan orang muda, pembahasan dalam regio, hingga penyusunan komitmen dan rekomendasi bersama.
Rangkaian pleno kemudian ditutup dengan Misa di Katedral Jakarta. Peserta dijadwalkan berangkat dari Kantor KWI menuju Katedral dengan mengenakan kaos pleno, sebelum merayakan Misa Penutupan pada pukul 11.00–12.00.

Foto: Panitia Pubdok
Liturgi yang mengubah kehidupan
Seluruh rangkaian Rapat Pleno Nasional Komlit KWI 2026 pada akhirnya bermuara pada satu pertanyaan mendasar: bagaimana liturgi sungguh-sungguh membentuk kehidupan imam dan umat?
Dalam pesannya, Mgr. Rubiyatmoko mengajak para peserta agar tidak berhenti pada pemahaman intelektual mengenai liturgi. Ia berharap proses selama beberapa hari tersebut membawa peserta kepada pengalaman perubahan batin, sehingga para imam semakin mampu menjadi pelayan sakramen dan liturgi yang baik serta mengantar semakin banyak orang kepada Kristus, sumber keselamatan.
Harapan itu sejalan dengan gagasan utama yang disampaikan Romo Yance: formasi liturgi bukan sekadar mengetahui bagaimana liturgi dirayakan, tetapi membiarkan liturgi membentuk dan mentransformasi kehidupan. Dengan demikian, pembaruan liturgi tidak berhenti pada tata perayaan, melainkan menyentuh hati para pelayan dan pada akhirnya membawa dampak nyata bagi umat yang mereka layani.
Rapat Pleno Nasional Komisi Liturgi KWI 2026 pun menjadi kesempatan bagi para peserta untuk kembali melihat liturgi sebagai sumber pembentukan iman, persaudaraan, dan perutusan Gereja—agar perayaan Ekaristi dan seluruh kehidupan liturgis Gereja sungguh menjadi jalan perjumpaan dengan Kristus dan membawa umat semakin dekat kepada-Nya.*
*Oleh Gabriel Abdi Susanto
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.