JAKARTA – Keuskupan Agung Köln, Jerman, menegaskan komitmennya untuk terus mendukung Gereja di Asia melalui kemitraan yang kini semakin berorientasi pada keberlanjutan lingkungan, kemandirian finansial, dan perlindungan ciptaan. Pendekatan baru ini melengkapi dukungan yang selama ini diberikan dalam pembangunan infrastruktur pastoral di berbagai keuskupan di Asia.
Komitmen tersebut disampaikan Alessandro Chieregato, Koordinator Proyek Departemen Gereja Universal Keuskupan Agung Köln, saat berbicara di hadapan para delegasi Sidang Pleno ke-12 Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) di Jakarta, pada 23 Juli.
Mengawali sambutannya, Chieregato menyampaikan salam dari Kardinal Rainer Maria Woelki, Uskup Agung Köln, serta Nadim Amel, Direktur Departemen Gereja Universal. Ia mengatakan bahwa merupakan sebuah kehormatan dapat hadir dalam Sidang Pleno FABC dan menyaksikan Gereja di Asia bersama-sama merumuskan arah pelayanannya di masa depan.
Kehadiran Keuskupan Agung Köln dalam sidang ini juga bertepatan dengan peringatan 50 tahun berdirinya Departemen Gereja Universal. Dalam kesempatan tersebut, Chieregato mengundang para mitra FABC untuk menghadiri perayaan Yubileum Emas departemen tersebut yang akan berlangsung pada 2–4 Oktober 2026 di Köln, Jerman.
Merefleksikan lima dekade kerja sama dengan berbagai keuskupan di Asia, Chieregato menjelaskan bahwa Keuskupan Agung Köln selama ini telah mendukung pembangunan gereja, seminari, biara, pusat pastoral, hingga rumah kediaman uskup. Namun, menurutnya, perubahan situasi pastoral menuntut pendekatan yang lebih luas dalam mendukung kehidupan Gereja.
“Selama 50 tahun terakhir, kami telah mendukung banyak keuskupan di Asia dalam mengembangkan infrastruktur pastoral. Kini kami memperluas pedoman pendanaan untuk mencakup proyek-proyek ramah lingkungan yang mampu menghasilkan pendapatan sekaligus membantu mengurangi biaya operasional,” katanya.
Menurut Chieregato, pembaruan kebijakan tersebut bertujuan membantu Gereja-Gereja lokal menjadi lebih mandiri secara finansial sekaligus semakin bertanggung jawab dalam merawat ciptaan.
Ia menegaskan bahwa proyek-proyek pastoral di masa depan tidak cukup hanya menjawab kebutuhan pelayanan saat ini, tetapi juga perlu dirancang untuk memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang serta mendukung keberlanjutan lingkungan.
Karena itu, Keuskupan Agung Köln mendorong pengembangan berbagai proyek yang mampu meningkatkan efisiensi operasional, menciptakan sumber pendapatan yang berkelanjutan, serta mengurangi dampak terhadap lingkungan tanpa mengabaikan tujuan utama pelayanan pastoral Gereja.
Melalui pendekatan tersebut, Keuskupan Agung Köln berharap kemitraan dengan FABC tidak hanya memperkuat pembangunan sarana Gereja, tetapi juga membantu Gereja-Gereja di Asia membangun model pelayanan yang semakin berkelanjutan, mandiri, dan responsif terhadap tantangan ekologis serta kebutuhan pastoral pada masa mendatang.
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.