Damai Kasih Channel
DKC
Damai Kasih Channel
Home

Renungan 4 September 2026, Ketika Firman Mengajak Kita Mendengar Jeritan Bumi: Bksn 2026 Dibuka Dalam Semangat Merawat Keutuhan Ciptaan

JAKARTA, Mirifica.net – Langit tidak pernah berhenti bercerita. Cakrawala terus menjadi saksi atas karya tangan Sang Pencipta. “Langit menceritakan ke

Mirifica (Komsos KWI) ·
Bagikan:
Renungan 4 September 2026, Ketika Firman Mengajak Kita Mendengar Jeritan Bumi: Bksn 2026 Dibuka Dalam Semangat Merawat Keutuhan Ciptaan
100%

JAKARTA, Mirifica.net – Langit tidak pernah berhenti bercerita. Cakrawala terus menjadi saksi atas karya tangan Sang Pencipta. “Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya.” Demikian bunyi antifon pembuka yang mengantar umat memasuki perayaan Misa untuk Memelihara Keutuhan Ciptaan sekaligus Pembukaan Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN) 2026, Minggu, 6 September 2026.

Perayaan ini mempertemukan dua ajakan penting dalam kehidupan iman Gereja: semakin akrab dengan Sabda Allah melalui BKSN dan semakin peduli terhadap rumah bersama melalui Hari Penciptaan atau Hari Doa Sedunia untuk Pemeliharaan Ciptaan.

BKSN 2026 mengusung tema “Yesus, Guru yang Penuh Kuasa – Wajah Yesus dalam Injil Matius.” Setelah beberapa tahun perjalanan permenungan BKSN berfokus pada para nabi, umat kini diajak kembali kepada pusat iman: pribadi Yesus Kristus.

Dalam Injil Matius, Yesus diperkenalkan sebagai Guru yang penuh kuasa—Guru yang bukan hanya mengajar dengan kata-kata, tetapi juga menghadirkan kehidupan melalui pengajaran dan teladan-Nya. Karena itu, sepanjang Bulan Kitab Suci Nasional, umat diajak untuk membaca, merenungkan, dan semakin mengenal Injil Matius agar semakin memahami hati Allah yang dinyatakan dalam diri Kristus.

Namun, pembukaan BKSN tahun ini tidak berdiri sendiri. Ia ditempatkan dalam bingkai Hari Penciptaan, sebuah momentum untuk kembali menyadari bahwa iman kepada Kristus juga membawa tanggung jawab terhadap seluruh ciptaan.

Dalam pengantar perayaan, umat diajak untuk membuka hati terhadap “jeritan ibu bumi yang terluka” dan menumbuhkan harapan untuk mewujudkan bumi sebagai rumah bersama.

Di sinilah Firman Allah menemukan konteks yang sangat nyata.

Mendengar suara Tuhan, mendengar jeritan bumi

Sabda Tuhan pada Minggu Biasa XXIII Tahun A/II membawa umat pada tema tentang tanggung jawab, kasih, dan keberanian untuk saling menegur demi kebaikan.

Dalam bacaan pertama dari Kitab Yehezkiel, nabi dipanggil menjadi penjaga bagi umat Israel. Ia tidak boleh diam ketika mendengar firman Tuhan. Ia memiliki tanggung jawab untuk memperingatkan orang yang melakukan kesalahan agar bertobat.

Pesan itu kemudian diperdalam melalui Mazmur Tanggapan: “Pada hari ini, kalau kamu mendengar suara Tuhan, janganlah bertegar hati.”

Mendengar menjadi kata kunci.

Mendengar bukan sekadar menangkap suara. Mendengar berarti membuka hati dan membiarkan suara itu mengubah cara hidup.

Dalam konteks pemeliharaan ciptaan, panggilan untuk mendengar memperoleh makna yang semakin luas. Gereja diajak bukan hanya mendengarkan Sabda Tuhan, tetapi juga peka terhadap jeritan bumi yang terluka, terhadap kerusakan lingkungan, serta dampaknya bagi kehidupan manusia dan seluruh makhluk ciptaan.

Bumi yang rusak pada akhirnya bukan hanya persoalan lingkungan. Kerusakan alam membawa dampak terhadap kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian.

Kasih yang menjadi jalan

Surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma membawa umat kepada inti yang sederhana sekaligus mendalam: kasih.

“Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.”

Bagi Paulus, kasih merupakan kegenapan hukum Taurat. Kasih tidak berbuat jahat terhadap sesama.

Pesan tersebut memberi jembatan penting antara iman, relasi antarmanusia, dan kepedulian terhadap ciptaan. Merawat bumi bukan sekadar tindakan teknis untuk menjaga lingkungan. Ia juga merupakan ungkapan kasih dan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Sebab ketika lingkungan rusak, manusia—terutama mereka yang paling rentan—ikut menanggung akibatnya.

Yesus: Guru yang mengajarkan rekonsiliasi

Pusat permenungan kemudian membawa umat kepada Injil Matius 18:15-20.

Yesus mengajarkan kepada para murid bagaimana menghadapi sesama yang melakukan kesalahan. Teguran dilakukan terlebih dahulu secara pribadi. Bila tidak didengarkan, proses dilanjutkan dengan melibatkan orang lain. Tujuannya bukan mempermalukan, melainkan “mendapatkannya kembali.”

Ada semangat pemulihan di dalam ajaran Yesus.

Relasi yang rusak tidak dibiarkan begitu saja. Konflik tidak diselesaikan dengan kekerasan. Sebaliknya, manusia diajak menempuh jalan dialog, nasihat, pertobatan, dan rekonsiliasi.

Pada bagian akhir Injil, Yesus memberikan sebuah janji yang menguatkan kehidupan komunitas beriman: “Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, Aku ada di tengah-tengah mereka.”

Kehadiran Kristus menjadi dasar bagi Gereja untuk berjalan bersama.

Dari pertobatan hati menuju pertobatan ekologis

Semangat tersebut juga tampak dalam Doa Umat yang disusun bersama oleh Komisi Keadilan-Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau KWI serta Lembaga Biblika Indonesia.

Doa-doa umat tidak hanya memohon bagi Gereja dan para pemimpin negara, tetapi juga secara khusus mengangkat kebutuhan akan pertobatan ekologis.

Umat berdoa agar Gereja semakin berkembang sebagai keluarga besar yang menghayati cinta kasih, saling menghormati, serta memiliki kepedulian terhadap pemeliharaan keutuhan ciptaan melalui pastoral ekologis yang berkelanjutan.

Para pemimpin negara juga didoakan agar mampu mengambil kebijakan yang mendukung pemeliharaan ciptaan secara berkelanjutan.

Sementara seluruh umat Allah diajak mengalami perubahan sikap dan cara pandang terhadap alam, demi keberlangsungan kehidupan seluruh makhluk di bumi.

Doa tersebut sekaligus mengingatkan bahwa merawat ciptaan bukan tugas segelintir orang. Ia merupakan panggilan bersama.

Membangun rumah bersama

Pada akhirnya, perayaan ini mempertemukan dua bentuk “mendengarkan”: mendengarkan Firman dan mendengarkan jeritan ciptaan.

Melalui BKSN 2026, umat diajak mendekat kepada Yesus, Guru yang penuh kuasa, dengan membaca dan merenungkan Injil Matius. Sementara melalui Hari Penciptaan, umat diajak melihat bahwa iman kepada Kristus juga harus berbuah dalam cara manusia memperlakukan alam dan sesama.

Doa sesudah Komuni merangkum harapan itu dengan indah: umat memohon agar semakin mampu hidup selaras dengan seluruh ciptaan, sambil menantikan langit dan bumi yang baru.

Dengan demikian, pembukaan BKSN 2026 bukan hanya menjadi awal sebuah rangkaian pendalaman Kitab Suci. Ia menjadi undangan untuk menjalani perjalanan iman yang lebih utuh: mengenal Kristus, mendengarkan Firman-Nya, membiarkan diri dibentuk oleh pengajaran-Nya, lalu menerjemahkannya dalam kehidupan nyata.

Sebab mungkin, di tengah bumi yang semakin terluka, pertanyaan iman kita bukan lagi sekadar apakah kita sudah mendengar Sabda Tuhan.

Pertanyaannya adalah: setelah mendengarnya, apakah kita bersedia berubah?

Dan dari perubahan hati itulah, harapan untuk menjadikan bumi sebagai rumah bersama dapat terus dirawat.

Komsos KWI

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Artikel Terkait