Damai Kasih Channel
DKC
Damai Kasih Channel
Home

Renungan 18 September 2026, Ketika Cinta Memilih Untuk Menjadi “Kita”

Refleksi tentang Nota Doktrinal: Una Caro

Mirifica (Komsos KWI) ·
Bagikan:
Renungan 18 September 2026, Ketika Cinta Memilih Untuk Menjadi “Kita”
100%

Refleksi tentang Nota Doktrinal: Una Caro


Menyelami makna monogami sebagai kesatuan, kesetiaan, dan pemberian diri

Ada sebuah kata sederhana yang barangkali terlalu sering kita dengar sehingga kehilangan kedalamannya: “kita.”

Dalam percakapan sehari-hari, kata itu terdengar biasa. Tetapi dalam perkawinan, “kita” bukan sekadar perubahan dari “aku” dan “kamu”. Ia adalah sebuah perjalanan. Dua pribadi dengan latar belakang, karakter, sejarah, impian, luka, dan kebebasan masing-masing memilih untuk berjalan bersama—tanpa kehilangan siapa diri mereka.

Di situlah monogami memperoleh maknanya yang jauh lebih dalam.

Monogami tidak pertama-tama berbicara tentang jumlah pasangan. Ia berbicara tentang cara mencintai: memberikan diri secara utuh kepada satu pribadi, dalam kebebasan, kesetiaan, dan keterbukaan terhadap kehidupan.

Di tengah budaya digital yang memungkinkan manusia terhubung dengan siapa saja dan kapan saja, pertanyaan mengenai kesetiaan justru menjadi semakin relevan. Teknologi memperluas kemungkinan manusia, tetapi pada saat yang sama dapat menumbuhkan ilusi bahwa segala sesuatu dapat dimiliki tanpa batas—termasuk perhatian, relasi, dan bahkan cinta.

Karena itu, refleksi tentang monogami bukanlah nostalgia terhadap masa lalu. Ia merupakan pertanyaan yang sangat aktual: apa arti mencintai seseorang secara sungguh-sungguh?

Bukan sekadar “tidak memiliki yang lain”

Monogami kerap dipahami secara negatif: tidak boleh memiliki pasangan lain, tidak boleh berselingkuh, tidak boleh membagi cinta.

Pemahaman semacam itu belum sepenuhnya menyentuh jantung persoalannya.

Monogami bukan hanya sebuah daftar larangan. Ia adalah sebuah panggilan untuk membangun relasi yang eksklusif dan total.

Dalam perkawinan, seorang laki-laki dan seorang perempuan tidak hanya mengatakan, “Aku tidak akan memilih orang lain.” Mereka mengatakan sesuatu yang jauh lebih dalam: “Aku memilih engkau.”

Ada perbedaan besar antara kedua pernyataan tersebut.

Yang pertama berangkat dari larangan. Yang kedua berangkat dari pemberian diri.

Karena itu, kesetiaan bukan sekadar kemampuan menahan diri dari pengkhianatan. Kesetiaan adalah kemampuan untuk terus-menerus memilih pribadi yang telah menjadi pasangan hidup, bahkan ketika perasaan berubah, ketika kehidupan menjadi sulit, dan ketika cinta menuntut pengorbanan.

Monogami, dengan demikian, berbicara tentang sebuah cinta yang tidak mudah dibagi karena ia telah memberikan dirinya secara utuh.

“Mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging”

Gambaran paling kuat mengenai kesatuan perkawinan ditemukan dalam Kitab Suci.

Yesus berkata:

“Mereka bukan lagi dua, melainkan satu daging.”
(Mrk 10:8)

Ungkapan “satu daging” bukan sekadar menunjuk pada hubungan seksual. Ia mengungkapkan sebuah kesatuan yang menyentuh seluruh keberadaan manusia.

Tubuh, perasaan, kehendak, harapan, tanggung jawab, dan perjalanan hidup menjadi bagian dari sebuah relasi baru. Namun menariknya, menjadi “satu” tidak berarti menjadi pribadi yang sama.

Suami tetap suami. Istri tetap istri. Masing-masing membawa keunikan pribadi yang tidak boleh dihapus. Justru karena keduanya tetap berbeda, persatuan itu menjadi sebuah perjumpaan yang hidup.

Perkawinan tidak menciptakan satu pribadi dengan dua tubuh. Perkawinan membentuk sebuah “kami” yang lahir dari dua pribadi yang saling memberikan diri. Inilah salah satu keindahan monogami: kesatuan tidak meniadakan perbedaan.

Dari taman Eden hingga Kristus dan Gereja

Gagasan mengenai kesatuan eksklusif dalam perkawinan bukanlah gagasan yang muncul belakangan dalam sejarah Gereja.

Dalam kisah penciptaan, laki-laki meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya. Keduanya menjadi satu daging.

Memang, Perjanjian Lama juga mengenal kisah-kisah tentang poligami. Kitab Suci tidak menyembunyikan kenyataan tersebut. Namun di dalam keseluruhan kesaksian biblis terdapat pula gambaran yang kuat tentang cinta yang eksklusif.

Para nabi bahkan menggunakan gambaran perkawinan untuk berbicara tentang relasi Allah dengan umat-Nya. Kesetiaan suami-istri menjadi bahasa untuk memahami kesetiaan Allah terhadap manusia.

Kidung Agung kemudian membawa pembaca masuk lebih jauh ke dalam misteri cinta antara dua pribadi. Cinta di sana bukan sesuatu yang impersonal. Yang dicintai adalah pribadi yang unik dan tidak tergantikan.

Dalam Perjanjian Baru, makna perkawinan semakin diperdalam melalui hubungan antara Kristus dan Gereja.

Dengan demikian, perkawinan tidak hanya dipandang sebagai kontrak antara dua orang. Ia menjadi tanda kasih yang setia, penuh pemberian diri, dan berakar pada kasih Allah.

Sejarah Gereja: dari kesatuan hidup menuju kesatuan kasih

Sepanjang sejarah, para Bapa Gereja dan para teolog terus merefleksikan makna perkawinan.

Tradisi Gereja menegaskan perkawinan sebagai persatuan seorang laki-laki dan seorang perempuan. Dalam perjalanan sejarah magisterium, Gereja juga menolak gagasan mengenai perkawinan simultan dengan lebih dari satu pasangan.

Paus Leo XIII, misalnya, menekankan kembali gambaran biblis bahwa dua orang—bukan banyak orang—menjadi “satu daging”.

Kemudian, Konsili Vatikan II memberikan penekanan yang sangat penting. Perkawinan dipahami sebagai “persekutuan hidup dan kasih suami-istri yang mesra.”

Ungkapan ini menarik perhatian kita kepada kata “hidup” dan “kasih.”

Perkawinan bukan hanya tentang status hukum. Ia adalah kehidupan yang dijalani bersama.

Ada pekerjaan yang harus dilakukan, anak-anak yang dibesarkan, keputusan yang harus diambil, sakit yang harus dihadapi, kegembiraan yang harus dirayakan, dan kesulitan yang harus dilewati.

Cinta perkawinan menjadi nyata justru dalam keseharian.

Kesetiaan tidak hanya diuji dalam peristiwa besar. Ia diuji dalam percakapan kecil, dalam kesediaan mendengarkan, dalam cara memperlakukan pasangan ketika sedang lelah, dan dalam keputusan untuk tetap hadir ketika kehidupan tidak berjalan sesuai harapan.

Ketika pasangan bukan lagi “objek”

Di sinilah filsafat membantu kita memahami sesuatu yang sering terlupakan: orang yang kita cintai bukanlah benda yang kita miliki.

Santo Tomas Aquinas melihat perkawinan monogam sebagai sesuatu yang sesuai dengan kodrat manusia dan mampu memberikan kepastian serta keadilan dalam relasi.

Pemikiran Emmanuel Lévinas kemudian membantu membuka perspektif lain. Dalam perjumpaan “berhadapan muka”, orang lain hadir sebagai pribadi yang unik. Ia tidak dapat direduksi menjadi objek bagi kepentingan saya.

Karena itu, pasangan bukanlah milik yang dapat diperlakukan sesuka hati. Ia adalah pribadi yang harus dihormati.

Santo Yohanes Paulus II juga menekankan bahwa pribadi manusia tidak boleh diperlakukan sebagai alat atau objek pemuasan. Pribadi adalah subjek yang layak dicintai.

Perspektif ini membuat monogami memperoleh dimensi etis yang kuat.

Ketika saya mengatakan kepada pasangan, “Aku memilih engkau,” pilihan itu sekaligus berarti: aku menghormati engkau sebagai pribadi; aku tidak akan memperalat engkau untuk memenuhi kebutuhanku sendiri.

Cinta menjadi pemberian diri, bukan konsumsi terhadap orang lain.

Nota Doktrinal Una Caro, Una Caro, Perkawinan Katolik, Pernikahan Katolik, Monogami, Keluarga Katolik, Cinta Katolik, Suami-Istri Katolik, Kesetiaan

Buku Seri Dokumen Gerejawi No. 155 – Nota Doktrinal: Una Caro yang diterbitkan oleh Dokpen KWI

Cinta yang tidak hanya tinggal di tubuh

Ada kecenderungan untuk memisahkan tubuh dari pribadi. Padahal dalam perkawinan, tubuh tidak pernah sekadar tubuh.

Ketika suami dan istri menyerahkan tubuh satu sama lain, yang sebenarnya diberikan adalah seluruh pribadi. Karena itu, persatuan seksual memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar prokreasi. Ia juga memperdalam dan memperkuat kesatuan eksklusif suami-istri.

Tubuh menjadi bahasa cinta. Melalui tubuh, seseorang mengatakan: “Aku memberikan diriku kepadamu.”

Karena itu, persatuan tubuh dan jiwa menjadi penting. Hubungan seksual tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari keseluruhan pemberian diri. Di sini, monogami bukan pembatasan terhadap cinta, melainkan cara menjaga agar pemberian diri tersebut tetap utuh, timbal balik, dan tidak terbagi.

Kesuburan yang lebih luas daripada kelahiran anak

Cinta yang sejati juga tidak berhenti pada pasangan. Cinta mempunyai daya untuk menghasilkan kehidupan.

Kehidupan itu dapat hadir melalui anak-anak, tetapi juga melalui pelayanan, kepedulian, keramahtamahan, karya sosial, perhatian kepada mereka yang membutuhkan, dan berbagai buah kasih lainnya.

Karena itu, kesuburan perkawinan tidak boleh dipersempit hanya pada pertanyaan tentang memiliki anak.

Sebuah perkawinan yang sungguh hidup akan menghasilkan sesuatu di luar dirinya.

Ada orang lain yang disentuh oleh kasih pasangan tersebut.

Ada anak yang belajar tentang kesetiaan.

Ada keluarga yang mengalami kehangatan.

Ada komunitas yang menerima pelayanan.

Ada dunia yang menjadi sedikit lebih manusiawi karena dua orang memilih untuk saling mencintai dengan setia.

Di tengah budaya “semua bisa dimiliki”

Tantangan zaman sekarang menjadi semakin kompleks.

Teknologi memungkinkan seseorang bertemu dengan begitu banyak orang tanpa harus meninggalkan rumah. Media sosial menciptakan jaringan relasi yang hampir tanpa batas. Algoritma terus menawarkan hal-hal baru, orang-orang baru, pengalaman baru.

Dalam situasi seperti itu, manusia dapat tergoda untuk memandang relasi dengan logika konsumsi: jika sesuatu tidak lagi memuaskan, cari yang lain.

Jika hubungan terasa sulit, tinggalkan.

Jika perhatian berkurang, cari perhatian baru.

Jika pasangan tidak memenuhi harapan, mungkin ada pilihan lain.

Di sinilah monogami menawarkan sebuah logika yang berbeda.

Ia berkata bahwa manusia bukan barang konsumsi.

Cinta bukan tentang mencari pilihan sebanyak-banyaknya.

Cinta justru dapat menjadi indah karena seseorang berani mengatakan: “Di antara begitu banyak kemungkinan, aku memilih engkau dan akan belajar mencintaimu dengan setia.”

Pilihan itu tidak membuat hidup menjadi lebih sempit. Sebaliknya, pilihan itu memberi kedalaman.

Belajar menjadi “kita”

Namun, menjadi “kita” tidak terjadi secara otomatis setelah sebuah perkawinan dirayakan.

Ia harus dipelajari.

Karena itu, pendidikan menuju perkawinan menjadi sangat penting.

Mereka yang mempersiapkan diri untuk menikah perlu belajar mengenai komunikasi, pengelolaan konflik, tanggung jawab, kesetiaan, kehidupan seksual, pengelolaan ekonomi, pengasuhan anak, dan terutama kemampuan untuk memberikan diri.

Perkawinan membutuhkan kematangan. Sebab cinta bukan hanya perasaan.

Perasaan dapat berubah. Cinta yang matang membutuhkan keputusan.

Ada saat ketika pasangan terasa sangat dekat. Ada pula masa ketika keduanya harus belajar kembali mengenal satu sama lain.

Dalam semua keadaan itu, pertanyaan yang penting bukan hanya, “Apa yang bisa aku dapatkan dari hubungan ini?” Tetapi: “Apa yang dapat kuberikan agar kita tetap bertumbuh?”

Pertanyaan semacam itu mengubah cara seseorang memandang perkawinan. Dari “aku dan kebutuhanku” menuju “kita dan kebaikan bersama”.

Barangkali cinta memang membutuhkan bahasa puitis

Ada hal-hal tertentu dalam kehidupan yang sulit dijelaskan hanya dengan definisi.

Cinta adalah salah satunya.

Karena itu, bahasa puitis memiliki tempat penting dalam berbicara tentang perkawinan.

Puisi, simbol, dan kisah membantu manusia menyentuh sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar konsep.

Kita bisa menjelaskan kesetiaan secara teologis dan filosofis. Tetapi terkadang satu kisah tentang pasangan yang tetap menggenggam tangan satu sama lain setelah puluhan tahun justru berbicara lebih kuat.

Kita bisa mendefinisikan pemberian diri. Tetapi melihat seorang suami merawat istrinya yang sakit, atau seorang istri tetap mendampingi suaminya dalam masa sulit, membuat makna pemberian diri menjadi konkret.

Cinta menjadi terlihat ketika diwujudkan. Dan mungkin, di situlah monogami paling indah dipahami: bukan sebagai teori, tetapi sebagai kisah dua manusia yang setiap hari belajar mengatakan “ya” kepada satu sama lain.

Sebuah pertanyaan untuk kita

Pada akhirnya, refleksi tentang monogami membawa kita kembali kepada pertanyaan yang sederhana tetapi mendalam.

Apakah aku sungguh melihat orang yang kucintai sebagai pribadi yang unik—atau hanya sebagai seseorang yang harus memenuhi kebutuhanku?

Apakah aku memahami kesetiaan sebagai hukuman, atau sebagai kebebasan untuk terus memilih?

Apakah aku sedang membangun “kita”, atau hanya mempertahankan “aku” yang kebetulan hidup bersama orang lain?

Dan bagi mereka yang sedang mempersiapkan perkawinan: apakah yang sedang dipersiapkan hanya pesta dan masa depan secara material, atau juga hati yang mampu memberikan diri?

Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena perkawinan bukan sekadar tentang menemukan orang yang tepat. Ia juga tentang belajar menjadi orang yang mampu mencintai dengan tepat.

Cinta yang memilih untuk tinggal

Monogami, pada akhirnya, bukan hanya soal memiliki satu pasangan. Ia adalah keberanian untuk memberikan diri secara utuh kepada seseorang, menghormati keunikannya, menerima perbedaan, menjaga kesetiaan, dan bersama-sama membangun sebuah “kita”.

Ia bukan sekadar “tidak memilih yang lain”. Ia adalah memilih seseorang—dan terus belajar mencintainya.

Dalam dunia yang menawarkan semakin banyak pilihan, kesetiaan mungkin justru menjadi salah satu kesaksian paling kuat tentang kebebasan manusia. Sebab manusia bebas bukan hanya ketika ia dapat memilih sebanyak mungkin.

Manusia juga bebas ketika ia mampu membuat sebuah pilihan, memberikan dirinya, lalu bertahan dengan penuh tanggung jawab pada pilihan tersebut.

Perkawinan menemukan keindahannya ketika dua pribadi tidak lagi bertanya semata-mata, “Apa yang bisa kudapatkan?”, melainkan mulai bertanya: “Bagaimana kita dapat menjadi satu, tanpa kehilangan keunikan masing-masing, dan bersama-sama membuka hidup kepada kasih Allah?”

Di sanalah “satu daging” menemukan kedalamannya. Di sanalah “aku” dan “kamu” tidak hilang.

Keduanya justru menemukan sebuah kata baru: kita.

Komsos KWI

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Artikel Terkait