Damai Kasih Channel
DKC
Damai Kasih Channel
Home

Renungan 3 Juli 2026, Imam Asal India Membangun Jembatan Antariman Lewat Dedikasi Seumur Hidup Pada Dialog

Ketika Federasi Konferensi Waligereja Asia (Federation of Asian Bishops’ Conferences/FABC) bersiap menggelar Plenary Assembly di Jakarta dengan tema “

Mirifica (Komsos KWI) ·
Bagikan:
Renungan 3 Juli 2026, Imam Asal India Membangun Jembatan Antariman Lewat Dedikasi Seumur Hidup Pada Dialog
100%

Ketika Federasi Konferensi Waligereja Asia (Federation of Asian Bishops’ Conferences/FABC) bersiap menggelar Plenary Assembly di Jakarta dengan tema “Synodal Conversion and Bridge-Building Mission in Asia”, kehidupan dan karya imam asal India, Romo M. D. Thomas, menjadi contoh nyata bagaimana semangat tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selama lebih dari empat dekade, Romo Thomas mendedikasikan hidupnya untuk membangun jembatan persaudaraan di antara umat dari berbagai agama melalui dialog, pendidikan, dan perjumpaan pribadi. Di Asia yang dikenal sebagai kawasan dengan keragaman agama yang sangat tinggi, pelayanannya mencerminkan keyakinan bahwa perdamaian yang sejati tidak dibangun melalui perpecahan, melainkan melalui saling pengertian, penghormatan, dan persahabatan.

Imam berusia 73 tahun itu menorehkan berbagai pencapaian penting. Ia termasuk anggota angkatan pertama Kongregasi Missionaries of St. Thomas (MST), menjadi imam Katolik pertama yang meraih gelar doktor dalam bidang Bahasa Hindi dari Banaras Hindu University di Varanasi—salah satu universitas negeri tertua dan paling bergengsi di India—serta menjadi Sekretaris Nasional pertama Komisi Kerukunan Antaragama Konferensi Waligereja India (CBCI Commission for Religious Harmony), jabatan yang diembannya selama sembilan tahun.

“Romo M. D. Thomas menjabat sebagai pendiri sekaligus direktur Institut Kajian Harmoni dan Perdamaian (Institute of Harmony and Peace Studies/IHPS) di New Delhi.”

Sejak 2014, Romo Thomas juga menjabat sebagai pendiri sekaligus direktur Institute of Harmony and Peace Studies (IHPS) di New Delhi.

Sepanjang pelayanannya, ia aktif mempromosikan dialog di antara para penganut Hindu, Islam, Kristen, Sikh, Buddha, Jain, Baha’i, Yahudi, komunitas Ahmadiyah, serta berbagai tradisi keagamaan lainnya.

“Di dunia ketika kebencian dan pembunuhan terjadi atas nama agama, dialog antarumat beragama merupakan kebutuhan yang sangat mendesak,” ujar Romo Thomas.

Ia menambahkan bahwa misi membangun kerukunan dan perdamaian yang telah dijalaninya selama puluhan tahun menjadi sumber kebahagiaan sekaligus mempererat persatuannya dengan Allah.

“Misi kerukunan dan perdamaian yang saya jalani selama puluhan tahun membuat saya tetap bahagia dan semakin menyatu dengan sumber ilahi dari panggilan ini. Ensiklik Romoatelli Tutti dari Paus Romoansiskus sangat menegaskan visi tersebut,” katanya.

Pelayanan Romo Thomas sejalan dengan visi Paus Fransiskus mengenai dialog antaragama. Komitmen itu tampak jelas dalam penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama bersama Syekh Ahmed el-Tayeb, Imam Besar Al-Azhar, di Abu Dhabi pada 2019.

Mengenang awal panggilannya, Romo Thomas mengatakan bahwa semangat membangun dialog berakar dari pendidikan dalam keluarganya.

“Saya ingin bekerja demi kebaikan yang lebih besar bagi komunitas Kristen. Saya berutang pada pendidikan yang saya terima di rumah,” ungkapnya.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia masuk seminari pada 1969. Selama masa pembinaan itulah benih komitmennya terhadap kerukunan antaragama mulai tumbuh.

Ketika kemudian bertugas sebagai imam di India bagian tengah, Romo Thomas banyak berinteraksi dengan masyarakat dari berbagai agama dan latar belakang pemikiran. Ia menyadari bahwa keterbatasannya dalam berbahasa Hindi menjadi hambatan dalam pelayanan pastoral.

“Melihat tuntutan medan pelayanan, saya memutuskan untuk mendalami sastra Hindi dan mengesampingkan berbagai pilihan lainnya,” kenangnya.

Keputusan itu membuahkan hasil besar. Kemampuannya dalam bahasa Hindi membuatnya semakin dekat dengan masyarakat. Pada masa itu, ia menyelenggarakan berbagai pertunjukan musik rohani lintas agama serta menggagas program literasi di pedesaan, di mana para pelajar mengajarkan anak-anak desa membaca dan menulis.

Perjalanan akademiknya kemudian membawanya meraih gelar doktor dari Banaras Hindu University, menjadikannya imam Kristen pertama yang memperoleh gelar doktor bidang Bahasa Hindi dari universitas tersebut.

Disertasinya mengangkat tema “Kabir dan Filsafat Kristen”.

Penelitian itu membandingkan ajaran penyair sekaligus santo abad ke-15, Kabir, dengan filsafat Kristen, serta menyoroti berbagai nilai spiritual yang menjadi titik temu antartradisi keagamaan.

Usai menyelesaikan studi doktoralnya pada 1994, Romo Thomas kembali memimpin Institute of Religion and Culture sebagai direktur. Di sana ia mengembangkan dialog antaragama, pendidikan lintas budaya, pembelajaran multibahasa, dan pendekatan multidisipliner.

Ia kemudian melanjutkan studi Bahasa Urdu di Aligarh Muslim University, Negara Bagian Uttar Pradesh, sehingga dapat membangun komunikasi yang lebih baik dengan komunitas Muslim.

Pengangkatannya sebagai Sekretaris Nasional Komisi Kerukunan Antaragama CBCI semakin memperluas ruang geraknya untuk mempromosikan dialog dan perdamaian di tengah masyarakat India yang sangat majemuk.

Disertasi doktoralnya kemudian diterbitkan dalam bahasa Hindi dengan judul Kabeer aur Eesaayee Chintan (Kabir and Christian Thought). Karya tersebut memperoleh penghargaan Sahityik Kriti Samman dari Hindi Academy.

Selain aktif dalam pelayanan pastoral, Romo Thomas juga dikenal sebagai akademisi. Ia telah memberikan kuliah di berbagai universitas dan perguruan tinggi di India maupun luar negeri, menjadi pembicara dalam konferensi ilmiah, forum dialog antaragama, serta berbagai pertemuan masyarakat sipil. Ia juga membimbing penelitian doktoral dan pernah menjadi profesor tamu di sejumlah institusi pendidikan.

Hingga kini, Romo Thomas telah menulis 12 buku—tujuh dalam bahasa Inggris dan lima dalam bahasa Hindi—yang membahas dialog antaragama, kerukunan, dan pembangunan perdamaian. Berbagai artikelnya dipublikasikan di sejumlah media dan jurnal, serta ia juga telah merilis dua album musik.

Di saat para uskup Asia berkumpul dalam Sidang Raya FABC untuk merefleksikan bagaimana Gereja di Asia dapat semakin menjadi pembangun jembatan di tengah masyarakat, perjalanan hidup Romo M. D. Thomas menjadi kesaksian nyata bahwa misi tersebut bukan sekadar tema, melainkan panggilan yang dapat diwujudkan melalui karya konkret.

Melalui dunia akademik, dialog, dan perjumpaan yang tekun selama puluhan tahun dengan umat dari berbagai agama, Romo Thomas menunjukkan bahwa jembatan persaudaraan dibangun satu relasi demi satu relasi. Dari ruang-ruang perjumpaan itulah tumbuh saling pengertian, runtuh prasangka, dan perdamaian menemukan jalannya.

By Jose Kalathil – RVA Asia (dialihbahasakan oleh Abdi Susanto)

Sumber : Indian Priest Builds Bridges Across Faiths Through a Lifetime of Dialogue | RVA

Komsos KWI

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Artikel Terkait