Pematangsiantar, Mirifica.net — Jika pada sesi pertama hari ketiga peserta diajak melihat seberapa jauh teknologi dan kecerdasan buatan berkembang, sesi berikutnya membawa pertanyaan yang lebih dalam: untuk apa semua kecanggihan itu digunakan?
Pertanyaan tersebut menjadi jembatan yang kuat dalam rangkaian Pertemuan Komsos dan SIGNIS Regio Sumatra yang berlangsung sejak 22 September 2026 di Aula Catholic Center, Pusat Pembinaan Umat (PPU) Pematangsiantar.
Pada Kamis, 24 September 2026, hari ketiga pertemuan tidak hanya mempertemukan para peserta Komsos dan SIGNIS Regio Sumatra. Ruang seminar juga diisi siswa-siswi utusan SMK Bintang Timur Pematangsiantar, para imam, rohaniwan, biarawan, dan biarawati dari sekitar Pematangsiantar.
Setelah sebelumnya Prof. Dr. Ir. Darwin Suhartono, S.Kom., MTI mengajak peserta memahami perkembangan AI, karakter teknologi, bias algoritma, keamanan data, serta pentingnya manusia tetap menjadi pengarah teknologi, sesi kedua membawa peserta masuk ke wilayah yang lebih fundamental: moral dan etika manusia ketika hidup di tengah dunia digital.
Tema itu dibawakan oleh RP. Ivo Manullang, OFM.Cap, Dosen Fakultas Filsafat Unika St. Thomas Medan dengan judul “Moral dan Etika di Dunia Digital.”
Seminar ini menegaskan bahwa transformasi digital tidak cukup dijawab dengan kemampuan teknis. Gereja membutuhkan cara pandang yang menempatkan dunia digital sebagai ruang hidup sekaligus ruang pastoral—ruang tempat manusia hadir, berjumpa, dan mempertanggungjawabkan setiap kata serta tindakannya.
Dari “Bisa Membuat” Menjadi “Harus Mempertanggungjawabkan”
Sesi pertama sebelumnya berbicara tentang kemampuan.
AI dapat membuat tulisan. AI dapat menghasilkan gambar. AI dapat membantu membuat video. AI dapat membaca pola dan mengolah data.
Namun setelah mengetahui apa yang bisa dilakukan teknologi, Gereja perlu bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan manusia.
Di sinilah moral dan etika menjadi penting.
RP. Ivo mengajak peserta melihat media sosial bukan lagi sekadar alat komunikasi yang berada di luar kehidupan manusia. Media sosial telah menjadi bagian dari lingkungan hidup manusia. Setiap orang yang masuk ke dalamnya membawa identitas, nilai, kebiasaan, sekaligus tanggung jawabnya.
Dengan kata lain, dunia digital bukan tempat di mana seseorang boleh berkata, “Ini hanya dunia maya.”
Sebab di balik setiap akun ada manusia. Di balik setiap komentar ada manusia. Dan di balik setiap konten yang dibagikan ada dampak terhadap manusia lain.
Materi seminar menegaskan bahwa media sosial perlu dipahami sebagai lingkungan hidup baru yang dapat menjadi ruang pewartaan Kristiani, sekaligus tempat memperjuangkan martabat manusia, hak, keadilan, dan keluhuran pribadi.
Ketika Viral Menjadi Ukuran
Salah satu tantangan yang dibicarakan adalah kecenderungan menjadikan viralitas sebagai ukuran keberhasilan komunikasi.
Sesuatu yang mengundang kemarahan lebih cepat mendapat perhatian. Konten kontroversial lebih mudah mengundang komentar. Hal yang sensasional sering kali lebih cepat beredar dibandingkan pesan yang membutuhkan keheningan dan permenungan.
Dalam situasi seperti ini, seorang komunikator Gereja menghadapi godaan yang sangat manusiawi: ingin dilihat, ingin disukai, ingin mendapatkan banyak likes, followers, dan engagement.
Padahal, tidak semua yang viral adalah benar. Dan tidak semua yang banyak dilihat otomatis baik.
Materi seminar menyoroti bahaya ketika kepentingan viralitas membuat orang mengabaikan etika, termasuk penyebaran informasi palsu, konten tidak pantas, serta berbagai bentuk komunikasi yang sengaja memancing reaksi emosional.
Karena itu, peserta diajak menggeser pertanyaan.
Bukan lagi: “Bagaimana supaya konten saya viral?”
Melainkan: “Apakah konten saya benar? Apakah baik? Apakah indah? Apakah membangun manusia?”
Pertanyaan sederhana ini dapat menjadi semacam kompas moral bagi setiap komunikator Katolik.

Foto: Panitia
“Jangan Reaktif, Jadilah Reflektif”
Di tengah derasnya arus informasi, manusia sering kali hanya membutuhkan beberapa detik untuk bereaksi.
Sebuah judul membuat marah.
Sebuah video membuat tersinggung.
Sebuah komentar memancing balasan.
Jari kemudian bergerak lebih cepat daripada pikiran.
RP. Ivo mengingatkan pentingnya sikap reflektif, bukan reaktif.
Tidak semua hal harus dijawab. Tidak semua provokasi membutuhkan tanggapan. Tidak semua informasi layak diteruskan.
Dalam materi seminar bahkan ditegaskan bahwa komentar, like, unggahan, gambar, film, maupun animasi yang dibagikan semestinya selaras dengan nilai yang dipelajari dari Kristus. Cara menyampaikan kebenaran pun perlu dilakukan secara konstruktif, indah, dan demi kebaikan bersama. 09-24_Panduan_Etika_dan_Moral_K…
Ini menjadi penting bagi Komsos. Sebab komunikator Gereja bukan hanya orang yang membawa pesan, tetapi juga orang yang menghadirkan cara berkomunikasi yang mencerminkan pesan itu sendiri.
Kebenaran yang disampaikan dengan kebencian dapat melukai.
Kritik yang disampaikan tanpa kasih dapat berubah menjadi penghukuman.
Sebaliknya, kebenaran yang disampaikan dengan kasih dapat membuka jalan menuju perjumpaan.
Dari Akun Pribadi Menuju Kesaksian Komunitas
Salah satu gagasan kuat dalam sesi ini adalah pentingnya mengembangkan komunikasi yang bersifat komunal.
Pewartaan Gereja tidak semestinya berhenti pada figur atau akun pribadi. Komunikasi Gereja perlu dibangun sebagai karya bersama, dikelola dengan tanggung jawab bersama, dan diarahkan kepada misi bersama.
Materi seminar merekomendasikan agar pengelolaan media sosial ordo atau kongregasi dilakukan secara kolektif melalui tim yang ditunjuk, sehingga terdapat keteraturan, moderasi, dan tanggung jawab pastoral.
Dalam diskusi, pengalaman nyata dari kalangan religius pun muncul.
Ada kongregasi yang telah memiliki akun resmi YouTube, Instagram, dan Facebook yang dikelola oleh tim. Namun tantangannya tetap besar: bagaimana menghasilkan konten yang konsisten, bagaimana menjangkau masyarakat, dan bagaimana menghadapi kenyataan bahwa konten yang tidak sesuai dengan nilai moral justru sering lebih menarik perhatian publik.
Di sinilah kerja bersama menjadi penting.
Komunikasi Gereja bukan perlombaan antarpribadi. Ia adalah karya komunitas.
Sebuah Screenshot Bisa Menjadi Pelajaran Moral
Diskusi kemudian menyentuh sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan keluarga.
Seorang peserta membagikan pengalaman tentang konflik sebuah keluarga yang kemudian dibawa ke media sosial. Perselisihan suami-istri yang seharusnya menjadi urusan pribadi berubah menjadi konsumsi publik hanya dalam hitungan menit.
Postingan mungkin bisa dihapus. Tetapi ketika seseorang telah mengambil screenshot, jejaknya dapat terus hidup.
Pengalaman tersebut menjadi ilustrasi nyata bahwa dunia digital memiliki ingatan yang panjang. Apa yang kita unggah hari ini mungkin masih ditemukan atau beredar jauh setelah emosi yang melatarbelakanginya telah berlalu.
Karena itu, pastoral digital tidak dapat dipisahkan dari pastoral keluarga.
Keluarga perlu belajar berkomunikasi bukan hanya di WhatsApp atau media sosial, tetapi terutama berhadapan muka.
Masalah keluarga perlu dibicarakan dalam keluarga.
Luka perlu dirawat dalam relasi.
Dan konflik pribadi tidak selalu membutuhkan penonton.
Materi seminar pun menegaskan pentingnya pastoral keluarga yang menyentuh komunikasi interpersonal dan privasi, serta mendorong penyelesaian konflik secara langsung daripada membawanya ke ruang publik.
Storytelling: Bukan Menggurui, tetapi Menyentuh
Menariknya, sesi ini tidak berhenti pada larangan. Peserta justru diajak menemukan cara baru untuk mewartakan. Salah satunya melalui storytelling.
Gereja memiliki kekayaan cerita: kisah para kudus, pengalaman umat, perjuangan keluarga, kesaksian orang kecil, pengalaman pelayanan, serta kisah-kisah sederhana tentang kasih dan pengampunan.
Cerita memiliki kekuatan karena tidak selalu membuat orang merasa sedang dinasihati.
Cerita mengajak orang berjumpa dengan pengalaman manusia.
Materi seminar merekomendasikan storytelling sebagai pendekatan pewartaan digital karena mampu menyentuh hati audiens tanpa terkesan menghakimi. Tujuan komunikasi bukan semata-mata viralitas, melainkan membangun relasi yang memanusiakan dan menjunjung martabat manusia.
Di titik ini, komunikasi Gereja menemukan kekuatannya.
Bukan sekadar mengatakan apa yang benar, tetapi menceritakan kebenaran dengan cara yang dapat menyentuh hati.
Bukankah Yesus sendiri sering mengajar melalui kisah?
Perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati, anak yang hilang, penabur, domba yang hilang—semuanya menunjukkan bahwa kebenaran dapat hadir melalui cerita yang dekat dengan kehidupan manusia.

Foto: Panitia
“Laskar Kristus” di Dunia Digital
Menjelang akhir sesi, istilah yang kemudian menjadi semacam seruan bersama muncul: “Laskar Kristus.”
Bukan laskar yang datang untuk berperang melawan pengguna media sosial lain.
Bukan laskar yang sibuk mencari musuh.
Melainkan laskar yang hadir membawa kebenaran, keindahan, kasih, dan martabat manusia.
Catatan penutup sesi menegaskan identitas peserta sebagai “Laskar Kristus” yang menggunakan media sosial sebagai ruang, bukan sekadar alat. Mereka diajak tampil autentik, menggunakan identitas yang nyata, berbagi nilai-nilai Kristiani, mempromosikan nilai kemanusiaan dan keindahan, serta menjadi suara bagi mereka yang tidak mampu bersuara.
Karena itu, seorang komunikator Katolik tidak perlu ikut memperpanjang kekerasan verbal, ujaran kebencian, provokasi, ataupun konten yang merendahkan manusia.
Ada cara lain.
Menghadirkan sesuatu yang baik.
Mengangkat kisah yang memberi harapan.
Membela mereka yang tidak terdengar.
Menyampaikan kebenaran dengan kasih.
Dan membuat orang yang berjumpa dengan konten Gereja bukan hanya mendapatkan informasi, tetapi menemukan alasan untuk kembali percaya kepada kebaikan.
Setelah AI, Komsos Membutuhkan Hati Nurani
Dua sesi seminar pada hari ketiga ini akhirnya terasa seperti dua sisi dari satu mata uang.
Prof. Darwin berbicara tentang kecanggihan AI.
RP. Ivo berbicara tentang kebijaksanaan dalam menggunakannya.
Yang pertama menjawab pertanyaan: “Apa yang dapat dilakukan teknologi?”
Yang kedua membawa peserta bertanya: “Apa yang seharusnya dilakukan manusia?”
Keduanya bertemu pada satu titik: manusia tetap menjadi pusat.
Teknologi tidak boleh menghilangkan martabat manusia. AI tidak boleh menggantikan hati nurani. Media sosial tidak boleh menggantikan relasi. Dan komunikasi Gereja tidak boleh kehilangan wajah manusianya.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, mungkin panggilan Komsos justru semakin jelas: menjadi ruang yang memperlambat manusia sejenak untuk melihat, mendengar, memahami, dan berjumpa.
Hari ketiga Pertemuan Komsos dan SIGNIS Regio Sumatra di Pematangsiantar pun menjadi lebih dari sekadar seminar tentang teknologi dan etika.
Ia menjadi sebuah refleksi tentang siapa kita ketika berada di balik layar.
Sebab pada akhirnya, pertanyaan terpenting bukan berapa banyak orang yang melihat unggahan kita.
Melainkan: Apakah setelah melihatnya, seseorang menjadi lebih manusiawi?
Dan sebagai pewarta Kristiani, lebih jauh lagi: Apakah melalui komunikasi kita, seseorang dapat menemukan jalan untuk berjumpa dengan Kristus?
Sesi kemudian ditutup dengan doa Angelus, apresiasi kepada narasumber dan para penanya, serta foto bersama.
Di Pematangsiantar, pada hari ketiga perjalanan bersama ini, pesan itu terasa sederhana tetapi kuat:
Teknologi boleh semakin pintar. Media boleh semakin cepat. Tetapi komunikasi Gereja harus tetap memiliki hati.
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.