Bukan sekadar membuat konten, tetapi hadir, mendengarkan, dan membawa orang kepada perjumpaan dengan Kristus.
MANILA, FILIPINA-Mirifca.net β Jalan raya digital tidak pernah benar-benar sepi. Setiap detik, jutaan orang melintas di dalamnya. Mereka mencari informasi, berbagi cerita, membangun relasi, tetapi juga membawa kesepian, luka, kemarahan, dan harapan.
Di jalan raya inilah Gereja dipanggil untuk hadir.
Uskup Marcelino Antonio βJunieβ Maralit Jr menegaskan bahwa perdebatan mengenai apakah Gereja perlu hadir di dunia digital sesungguhnya sudah selesai. Gereja sudah berada di sana. Yang lebih penting adalah pertanyaan: Gereja seperti apa yang akan ditemukan orang ketika mereka berjumpa dengan kita di ruang digital?
Pertanyaan tersebut menjadi pintu masuk refleksi Uskup Maralit dalam keynote speech bertajuk βFrom Algorithm to Altar: Weaving a Synodal Network of Witnesses in the Digital Peripheries of Asiaβ pada First Asian Catholic Digital Missionary Assembly, Kamis, 11 September, di Pope John Paul II Auditorium, kompleks Radio Veritas Asia (RVA), Quezon City.
Bukan soal platform, tetapi manusia
Menurut Uskup Maralit, dunia digital tidak boleh dipandang hanya sebagai teknologi atau platform baru. Di balik layar ada manusiaβorang muda, mereka yang sedang mencari, mereka yang kesepian, terpinggirkan, bahkan mereka yang merasa tidak lagi dekat dengan Gereja.
Karena itu, Gereja tidak hadir semata-mata untuk menyampaikan pesan, tetapi untuk menjumpai manusia.
Gagasan itu menjadi semakin penting dalam konteks Asia yang sangat beragam. Berbagai budaya, bahasa, agama, kondisi sosial, serta perkembangan teknologi hidup berdampingan. Uskup Maralit menggambarkan Asia sebagai sebuah βsimfoni ceritaβ, sehingga misi digital Gereja harus berakar pada dialog dengan budaya, agama-agama dan kaum miskin.
Dengan demikian, pertanyaan bagi komunikator Katolik bukan hanya, βApa yang ingin kita katakan?β Tetapi juga: βSiapa yang sedang kita dengarkan?β
Dari broadcasting menuju immersion
Uskup Maralit kemudian mengajak Gereja meninggalkan pola komunikasi yang hanya berorientasi pada broadcasting.
Membuat konten, mengunggahnya, menghitung views, likes, dan followers memang penting. Tetapi semua itu belum otomatis berarti misi telah selesai.
Dunia digital adalah sebuah budaya, bukan sekadar megafon. Karena itu, misi digital membutuhkan immersionβkesediaan untuk masuk ke dalam budaya digital, memahami bahasa orang muda, mengenali kebiasaan mereka, serta mendengarkan luka yang mereka bawa.
Di balik setiap avatar ada manusia.
Di balik setiap komentar ada cerita.
Dan di balik setiap akun mungkin ada seseorang yang sedang berharap untuk didengarkan.
![]()
Doc: RVA
Ketika algoritma bertemu dengan Injil
Di sinilah tantangan besar muncul.
Algoritma bekerja dengan logika perhatian: kecepatan, kebaruan, kontroversi, dan viralitas. Sementara Injil bergerak dengan logika yang berbeda: kesabaran, kedekatan, belas kasih, kelembutan, relasi autentik, dan perjumpaan yang mengubah kehidupan.
Uskup Maralit mengajak para komunikator Katolik untuk berani bertanya:
Apakah kita membuat konten supaya orang melihat kita, atau supaya mereka melihat karya Allah?
Apakah kita sedang membangun personal branding, atau membangun komunitas?
Apakah kita mengejar viralitas, atau kesetiaan?
Dari influencer menjadi saksi
Jawabannya terletak pada sebuah perubahan paradigma yang ditawarkan Uskup Maralit: dari influencer menjadi witnessβdari pengaruh menjadi kesaksian.
Seorang influencer berkata, βLihat saya.β
Seorang saksi berkata, βLihatlah apa yang telah Allah kerjakan.β
Dalam paradigma ini, ukuran keberhasilan tidak lagi semata-mata jumlah pengikut, tetapi kesetiaan kepada Kristus. Bukan membangun merek pribadi, melainkan membangun komunitas.
Teknologi boleh semakin pintar, manusia jangan kehilangan hati
Pesan itu semakin relevan di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
AI mampu menghasilkan tulisan, menerjemahkan bahasa, membuat gambar, bahkan menganalisis data dalam jumlah besar. Namun, seperti ditegaskan dalam materi Uskup Maralit, ada batas yang tidak dapat digantikan teknologi: AI tidak dapat berdoa, tidak dapat duduk dalam keheningan bersama orang yang sedang berduka, dan tidak dapat mencintai.
Karena itu, tantangan Gereja bukan hanya memiliki teknologi yang semakin canggih. Gereja membutuhkan misionaris yang semakin manusiawi, hadir, dan kudus.
Bukan viralitas, tetapi perjumpaan
Pada akhirnya, Uskup Maralit menawarkan lima arah perubahan bagi Gereja di Asia digital: dari konten menuju perjumpaan, dari audiens menuju komunitas, dari viralitas menuju kesetiaan, dari kompetisi menuju kolaborasi, dan dari pengaruh menuju kesaksian.
Jalan raya digital Asia sudah terbuka.
Di sana ada orang-orang yang sedang mencari. Ada yang terluka. Ada yang kesepian. Ada yang bertanya. Dan mungkin, tanpa banyak orang tahu, ada yang sedang mencari Tuhan.
Mereka mungkin tidak membutuhkan seorang influencer lagi.
Mereka membutuhkan seorang saksi.
Seseorang yang bersedia berhenti, mendengarkan, menemani, dan menunjukkan bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia digital, masih ada komunitas yang menghadirkan kasih.
Sebab tujuan akhir misi digital bukanlah membuat Gereja semakin terkenal. Tujuannya adalah agar seseorang yang berjumpa dengan Gereja di dunia digital akhirnya dapat berjumpa dengan Kristus.
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.