JUMAT PEKAN BIASA XXVIII
Santa Hedwig – Biarawati
Santa Margarita Maria Alacoque – Perawan
Warna Liturgi: Hijau
Bacaan I – Efesus 1:11-14
Kami sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, dan kalian pun telah dimeteraikan dengan Roh Kudus.
Bacaan dari Surat Rasul Paulus kepada Jemaat di Efesus:
Saudara-saudara, dalam Kristus kami mendapat bagian yang dijanjikan Allah, yakni kami yang dari semula ditentukan untuk menerima bagian itu sesuai dengan maksud Allah, yang dalam segala sesuatu bekerja menurut keputusan kehendak-kehendak-Nya; kami, yang sebelumnya telah menaruh harapan pada Kristus, ditentukan supaya menjadi pujian bagi kemuliaan-Nya. Tetapi di dalam Dia kalian pun telah mendengar sabda kebenaran, yaitu Injil keselamatan; dan setelah percaya akan Injil itu, kalian pun dimeteraikan dengan Roh Kudus yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus ini adalah jaminan bahwa kita akan memperoleh seluruh warisan, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya.
Demikianlah Sabda Tuhan.
Mazmur Tanggapan – Mazmur 33:1-2.4-5.12-13 R:12b
Berbahagialah bangsa yang dipilih Tuhan menjadi milik-Nya.
- Bersorak-sorailah dalam Tuhan, hai orang-orang benar! Sebab memuji-muji itu layak bagi orang jujur. Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapi, bermazmurlah bagi-Nya dengan gambus sepuluh tali!
- Sebab firman Tuhan itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan. Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia-Nya.
- Berbahagialah bangsa yang Allahnya Tuhan, suku bangsa yang dipilih Allah menjadi milik pusaka-Nya! Tuhan memandang dari surga, dan melihat semua anak manusia.
Bait Pengantar Injil – Mazmur 33:22
Tunjukkanlah kiranya kasih setia-Mu, ya Tuhan, sebab pada-Mulah kami berharap.
Bacaan Injil – Lukas 12:1-7
Rambut kepalamu terhitung semuanya.
Inilah Injil Suci menurut Lukas:
Sekali peristiwa, Berkerumunlah beribu-ribu orang, sehingga mereka berdesak-desakan. Yesus lalu mulai mengajar, pertama-tama kepada murid-murid-Nya, kata-Nya, “Waspadalah terhadap ragi, yaitu kemunafikan orang Farisi. Tiada sesuatu pun yang tertutup yang takkan dibuka, dan tiada sesuatu pun yang tersembunyi yang takkan diketahui. Karena itu apa yang kalian katakan dalam gelap akan kedengaran dalam terang, dan yang kalian bisikkan ke telinga di dalam kamar akan dimaklumkan dari atas atap rumah.
Aku berkata kepadamu, hai sahabat-sahabat-Ku, janganlah kalian takut terhadap mereka yang dapat membunuh tubuh tetapi kemudian tidak dapat berbuat apa-apa lagi. Aku akan menunjukkan kepadamu siapakah yang harus kalian takuti. Takutilah Dia yang setelah membunuh, mempunyai kuasa untuk melemparkan orang ke dalam neraka. Sungguh, Aku berkata kepadamu, takutilah Dia! Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekor pun dilupakan Allah. Bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit.”
Demikianlah Sabda Tuhan.
Renungan
Di Keuskupan Bandung, seminari tinggi untuk pendidikan calon imam diosesannya bernama “Ragi”, namun supaya terdengar keren, digunakan bahasa Latin: “Fermentum”. Diharapkan bahwa calon-calon imam ini kelak dapat menjadi seperti ragi yang baik, yang dapat mengembangkan “roti”, alias mengembangkan iman umat. Ragi dalam arti ini bermakna positif, umumnya pun demikian, karena biasanya selalu berhubungan soal makanan, yang enak-enak.
Akan tetapi, dalam bacaan Injil hari ini Yesus memperingatkan kita agar waspada terhadap ragi. Artinya, ragi dalam konteks ini bersifat negatif. Spontan kita teringat akan perayaan Roti Tak Beragi dalam Keluaran 12. Di sini, ragi sama dengan simbol penjajahan Mesir dan pengajaran sesat. Maka, Perayaan Roti Tak Beragi berarti bangsa Israel merayakan kebebasan mereka. “Ragi” yang dimaksud Yesus dalam Injil bisa juga berarti ajaran-ajaran sesat atau berbahaya, yang awalnya kecil, namun semakin lama dapat semakin mengembang atau menyebar luas dan merusak “adonan” atau ajaran yang baik dalam masyarakat Israel. Ibarat bakteri dan lemak, ada yang jahat dan baik, ternyata ragi pun demikian. Secara lebih spesifik, “ragi orang Farisi” dalam Injil hari ini adalah kemunafikan (hyprocrisy). Mereka secara berlebihan memerhatikan hal-hal lahiriah dalam agama, tetapi mengabaikan hal-hal rohani yang mendasar, yang lebih penting. Yesus menyampaikan ajaran soal ragi untuk memperingatkan para murid-Nya, termasuk kita sekalian agar menjaga hati dan pikiran yang murni supaya kita tidak terkontaminasi dengan ragi itu.
Dalam Injil hari ini Yesus juga menekankan besarnya perhatian Allah kepada manusia, “Tidak seekor burung pipit pun dilupakan Allah, apalagi manusia yang lebih berharga”; “bahkan rambut kepalamu pun terhitung semuanya”.
Tuhan, semoga kami selalu menyadari bahwa Engkau sangat mengasihi kami. Dengan demikian, kami selalu berusaha untuk tidak mengecewakan-Mu, terutama dengan menjaga hati dan pikiran kami agar tidak terkontaminasi oleh ragi Farisi, amin.
HUT Tahbisan Uskup Mgr. Christophorus Tri Harsono (Uskup Purwokerto)

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor
Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.