Kajian ini dibagi menjadi tiga bagian besar yang saling berkaitan. Masing-masing bagian membangun argumen yang kohesif dari akar Alkitabiah hingga implikasi apologetis kontemporer.
- Bagian I: Relikui — definisi, etimologi, dan akar Alkitabiah dari Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, serta bukti abad II
- Bagian II: Dikuduskan — makna sanctified dalam Perjanjian Baru, dimensi ganda pengudusan, dan perspektif para Bapa Gereja
- Bagian III: Orang Kudus — konsep santo/santa dalam Alkitab, kanonisasi, argumen apologetis, dan pertanyaan-pertanyaan strategis
📎 Unduh kajian lengkap (PDF, 41 halaman): Relikui, Kekudusan, dan Orang-Orang Kudus (PDF)
Apa Itu Relikui? Definisi dan Etimologi
Kata relikui berasal dari bahasa Latin reliquiae, artinya “sisa-sisa”, “yang tertinggal”, atau remains. Kata ini berakar dari kata kerja Latin relinquere = “meninggalkan”, “menyisakan”. Dalam bahasa Yunani, istilah yang digunakan adalah λείψανα (leipsana), dari λείπω (leipō) yang berarti meninggalkan atau tersisa. Secara sederhana: relikui adalah sesuatu yang tersisa dari seseorang yang telah meninggal — terutama tubuh, bagian tubuh, pakaian, atau benda yang berhubungan dengannya.
Tiga Tingkatan Relikui
Dalam tradisi Katolik, pengertian relikui diperluas menjadi tiga kategori yang terstruktur, sebagaimana dijelaskan dalam dokumen resmi Gereja Katolik.
- Tingkat Pertama — Tubuh atau bagian tubuh seorang kudus
- Tingkat Kedua — Benda yang digunakan atau dimiliki orang kudus semasa hidupnya
- Tingkat Ketiga — Benda yang pernah bersentuhan dengan relikui atau makam seorang kudus Dokumen resmi Gereja Katolik menegaskan bahwa relikui terutama menunjuk kepada tubuh atau bagian penting tubuh para kudus, tetapi juga mencakup benda pribadi, pakaian, tulisan, serta benda yang telah bersentuhan dengan tubuh atau makam mereka.
1. Sejak Kapan Praktik Relikui Muncul?
Penting untuk membedakan antara akar konsep relikui dan bukti historis Kristen mengenai penghormatan relikui. Jawabannya mengejutkan banyak orang: konsep ini jauh lebih tua dari Abad Pertengahan. 1 Perjanjian Lama Tulang dan benda orang kudus memiliki makna khusus dalam iman Israel 2 Perjanjian Baru Benda yang menyentuh tubuh Paulus menjadi sarana mukjizat (Kis 19:11–12) 3 Abad II M Martyrdom of Polycarp: tulang martir dikumpulkan dan dihormati secara eksplisit 4 Abad IV M Ambrosius, Hieronymus, dan Agustinus memperkuat teologi relikui Kesimpulan: Relikui bukan ciptaan Abad Pertengahan. Bukti tertulis yang sangat kuat sudah ada pada abad II dalam Martyrdom of Polycarp.
Perjanjian Lama: Tulang Yusuf
Keluaran 13:19 — “Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sebab tadinya Yusuf telah menyuruh anak-anak Israel bersumpah dengan sungguh-sungguh…” Yusuf sendiri meminta agar tulang-tulangnya tidak ditinggalkan di Mesir (Kejadian 50:25). Ini belum merupakan “relikui” dalam pengertian kultus Katolik penuh, namun menunjukkan bahwa tulang seorang tokoh kudus dan leluhur dapat diperlakukan dengan penghormatan dan dianggap memiliki hubungan penting dengan iman umat Allah.
Perjanjian Lama: Tulang Elisa — Contoh Terkuat
2 Raja-raja 13:20–21 — Elisa telah meninggal dan dikuburkan. Kemudian seseorang dilemparkan ke dalam kubur Elisa. Ketika mayat itu menyentuh tulang-tulang Elisa, orang tersebut hidup kembali. Pola teologis yang muncul di sini sangat signifikan:
- Orang Kudus — Elisa sebagai nabi Allah
- Kontak Fisik — Tubuh menyentuh tulang Elisa
- Mukjizat Allah — Orang itu bangkit kembali oleh karya Allah Prinsip Teologis Penting Alkitab tidak mengatakan bahwa tulang Elisa mempunyai kekuatan ilahi yang mandiri. Mukjizat tetap berasal dari Allah. Inilah prinsip inti teologi Katolik mengenai relikui: Relikui bukan Allah dan bukan sumber kuasa independen. Allah-lah yang bekerja melalui relikui. St. Jerome kemudian menggunakan kisah ini dalam pembelaannya terhadap penghormatan relikui.
Perjanjian Lama: Jubah Elia
2 Raja-raja 2:13–14 — Setelah Elia diangkat ke surga, Elisa mengambil jubah Elia yang jatuh. Ia kemudian menggunakan jubah tersebut untuk membelah air sungai Yordan, seraya berseru: “Di manakah TUHAN, Allah Elia?”
Benda → Mukjizat — Jubah Elia menjadi sarana tindakan
mukjizat yang nyata dan — terdokumentasi dalam Kitab Suci
Elisa Mengarahkan kepada
Allah — Seruan Elisa menunjukkan bahwa kuasa berasal dari Allah, bukan dari
jubah itu sendiri — Paralel dengan Relikui Tingkat
Dua — Jubah adalah benda milik nabi — tepat seperti definisi relikui tingkat kedua
dalam tradisi Katolik — Analogi ini sangat penting ketika membandingkan dengan teologi relikui Katolik: jubah ≠ Allah, tetapi jubah dapat menjadi sarana karya ilahi.
Sisi Lain: Kenajisan Ritual dalam PL
Perjanjian Lama tidak mengatakan bahwa semua benda jasmani orang mati otomatis kudus. Ada aturan jelas tentang kenajisan ritual yang harus diperhatikan secara jujur.
| Teks | Peristiwa | Makna |
|---|---|---|
| Bilangan 19:11 | Menyentuh mayat | Najis tujuh hari |
| Bilangan 19:16 | Menyentuh tulang atau kuburan | Kenajisan ritual |
| 2 Raja-raja 13:21 | Menyentuh tulang Elisa | Orang mati bangkit |
| 2 Raja-raja 2:13–14 | Menggunakan jubah Elia | Yordan terbelah |
Ketegangan ini menunjukkan bahwa materi/tubuh tidak dianggap tidak penting dalam iman Israel, tetapi penggunaannya harus dipahami dalam konteks kekudusan dan karya Allah — bukan sebagai kuasa magis yang mandiri.
Perjanjian Baru: Jubah Yesus
Markus 5:27–30 — Perempuan yang sakit pendarahan dua belas tahun berpikir: “Asal kujamah saja jubah-Nya, aku akan sembuh.” Ia menyentuh pakaian Yesus dan seketika sembuh. Yesus tidak mengatakan bahwa kain-Nya adalah sumber kesembuhan. Sebaliknya, Ia berkata: “Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau.”
Benda Fisik — Jubah Yesus menjadi sarana kontak antara manusia dengan kuasa ilahi
Iman sebagai Kunci — Kesembuhan terjadi melalui iman, bukan karena kekuatan magis benda tersebut
Allah sebagai Sumber — Yesus merasakan kuasa keluar dari diri-Nya — bukan dari kain-Nya secara mandiri
Perjanjian Baru: Kain Paulus — Teks Terkuat Kisah Para Rasul 19:11–12
“Allah mengadakan mujizat-mujizat yang luar biasa oleh tangan Paulus. Bahkan orang membawa saputangan atau kain yang pernah dipakai oleh Paulus dan meletakkannya atas orang-orang sakit, maka penyakit mereka lenyap dan roh-roh jahat keluar.”
Struktur Teologis — Lukas secara eksplisit memulai bagian ini dengan “Allah mengadakan mujizat” — menegaskan sumber kuasa yang sejati. Paulus
Benda menyentuh tubuh — Benda dibawa ke orang sakit
Penyembuhan oleh Allah — Ini merupakan salah satu teks Alkitab terkuat untuk menjelaskan prinsip teologis relikui tingkat kedua dan ketiga.
Abad II: Martir Polikarpus
Polikarpus adalah uskup Smirna dan murid yang secara tradisional dikaitkan dengan generasi Rasul Yohanes. Ia wafat sebagai martir sekitar 155–167 M. Martyrdom of Polycarp adalah salah satu dokumen Kristen awal yang paling penting dan bernilai tinggi. Setelah tubuhnya dibakar oleh para penganiaya, umat Kristen mengumpulkan tulang-tulangnya, menganggapnya sangat berharga, menyimpannya di tempat yang layak, dan berkumpul secara rutin untuk memperingati hari kemartirannya. Dokumen ini secara eksplisit membedakan antara menyembah Allah dan menghormati martir sebagai murid Kristus — sebuah distingsi teologis yang akan menjadi fondasi seluruh tradisi relikui Katolik.
Garis Waktu: Dari Abad I hingga Abad Pertengahan
Abad I M — Paulus menulis surat menggunakan istilah “orang-orang kudus” untuk seluruh jemaat Kristen
Abad II M — Martyrdom of Polycarp: tulang martir dikumpulkan dan penghormatan relikui terdokumentasi secara eksplisit
Abad IV M — Ambrosius menempatkan relikui Gervasius dan Protasius di basilika Milan; praktik berkembang pesat
Abad IV–V M — Jerome dan Agustinus memberikan pembelaan teologis yang matang terhadap penghormatan relikui
Abad Pertengahan — Tradisi yang sudah ada sejak abad II berkembang secara lebih luas di seluruh Gereja Barat
Kesimpulan yang tidak dapat dihindari: Relikui bukan ciptaan Abad Pertengahan. Bukti historis yang kuat sudah ada sejak abad II, dan akar konseptualnya jauh lebih tua lagi dalam Kitab Suci.
Para Bapa Gereja tentang Relikui
St. Ambrosius (Abad IV) — Menemukan relikui martir Gervasius dan Protasius di Milan, menempatkannya di basilika. Ia menghubungkan altar → Kristus → martir → relikui sebagai satu kesatuan teologis yang kohesif.
St. Jerome (Abad IV–V) — Membantah tuduhan “menyembah tulang”. Ia membedakan adorare/latria (hanya untuk Allah) dengan honorare/veneratio (penghormatan kepada para martir). Menggunakan tulang Elisa sebagai argumen Alkitabiah.
St. Agustinus (Abad IV–V) — Dalam City of God, menegaskan bahwa orang Kristen tidak membangun kuil atau mempersembahkan korban kepada para martir sebagai dewa. Mengakui penghormatan relikui dan menceritakan mukjizat berkaitan dengan relikui St. Stefanus.
Apakah Para Bapa Gereja Menyembah Relikui?
Ini adalah pertanyaan apologetis yang sangat penting. Jawabannya tegas: tidak. Para Bapa Gereja justru sangat hati-hati dalam membedakan penghormatan dari penyembahan. St. Jerome secara eksplisit menyatakan: kita tidak memberikan penyembahan kepada relikui, melainkan menghormatinya agar penghormatan itu diarahkan kepada Allah yang memiliki para martir tersebut. Prinsip ini konsisten dari abad II hingga dokumen Gereja Katolik kontemporer.
Ringkasan: Relikui dari PL hingga Bapa Gereja
| Periode | Contoh | Apa yang Terjadi |
|---|---|---|
| PL | Tulang Yusuf — Kel 13:19 | Tulang leluhur dibawa dengan hormat keluar dari Mesir |
| PL | Jubah Elia — 2Raj 2:13–14 | Jubah nabi digunakan dalam mukjizat, Yordan terbelah |
| PL | Tulang Elisa — 2Raj 13:21 | Mayat hidup kembali setelah menyentuh tulang Elisa |
| PB | Jubah Yesus — Mrk 5:27–30 | Sentuhan pakaian berhubungan dengan kesembuhan |
| PB | Kain Paulus — Kis 19:11–12 | Saputangan/kain Paulus menjadi sarana mukjizat |
| Abad II | Polikarpus | Tulang martir dikumpulkan dan disimpan |
| Abad IV | Ambrosius | Relikui martir ditempatkan di basilika Milan |
| Abad IV–V | Jerome & Agustinus | Pembelaan teologis matang terhadap penghormatan relikui |
2. Dikuduskan: Apa Makna Alkitabiahnya?
Konsep “dikuduskan” dalam Perjanjian Baru memiliki kedalaman teologis yang sering kali disederhanakan secara berlebihan. Pemahaman yang tepat sangat penting baik untuk kajian Alkitabiah maupun untuk dialog ekumenis dan apologetika Katolik-Protestan.
Ayat Utama: 1 Korintus 1:2
“…jemaat Allah yang di Korintus, yaitu mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi orang-orang kudus, bersama-sama dengan semua orang di segala tempat yang berseru kepada nama Tuhan kita Yesus Kristus…”
Analisis Bahasa Yunani — Kata yang digunakan: ἡγιασμένοις (hēgiasmenois) dari ἁγιάζω
(hagiazō) yang berarti:
Menguduskan / menyucikan — Mengkhususkan / memisahkan untuk Allah
Menjadikan kudus — Bentuknya adalah perfect passive participle: telah dikuduskan dan berada dalam keadaan sebagai orang yang telah dikuduskan.
Yang Sangat Penting — Paulus tidak menulis ini kepada sekelompok Kristen yang sudah mencapai kesempurnaan rohani. Ia menulis kepada jemaat Korintus secara keseluruhan — jemaat yang kemudian ia tegur keras karena berbagai dosa dalam pasal-pasal berikutnya. Jadi: “dikuduskan” ≠ “sudah sempurna dan tidak pernah berdosa.”
Struktur Ayat 1 Korintus 1:2
Dikuduskan dalam Kristus — Dipanggil oleh anugerah-Nya, dipanggil menjadi orang-orang kudus — identitas komunitas Kristen
Semua yang berseru kepada nama Yesus — Panggilan inklusif bagi semua
Paulus menggunakan istilah ἅγιοι (hagioi) — “orang-orang kudus” / saints — untuk komunitas Kristen secara umum. Ini bukan hanya gelar bagi orang Kristen yang sudah meninggal dan kemudian dinyatakan santo. Dalam konteks Paulus, “saints” adalah sebutan bagi seluruh umat Kristen yang telah dipanggil dalam Kristus.
1 Korintus 6:11 — Pertobatan dan Pembenaran
“Tetapi kamu telah memberi dirimu disucikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita.” — 1 Korintus 6:11
Paulus baru saja menyebut berbagai macam dosa berat, kemudian menyatakan: “Dan beberapa orang di antara kamu demikian dahulu.” Tiga kata kerja kunci menggambarkan perubahan total:
ἐλούσασθε — Kamu telah dibasuh — pemurnian dari dosa melalui baptisan
ἡγιάσθητε — Kamu telah dikuduskan — dikhususkan dan dipisahkan bagi Allah
ἐδικαιώθητε — Kamu telah dibenarkan — dinyatakan
benar di hadapan Allah — Ketiganya menggambarkan perubahan keadaan manusia karena karya Kristus dan Roh Kudus: dahulu → hidup dalam dosa; sekarang → telah dikuduskan dalam Kristus.
Dua Dimensi Pengudusan
Ini adalah salah satu konsep yang paling sering disalahpahami. Alkitab mengajarkan dua dimensi yang tidak bertentangan, melainkan saling melengkapi.
A. Pengudusan yang Sudah Terjadi — 1 Korintus 1:2 — “telah dikuduskan”
1 Korintus 6:11 — “kamu telah dikuduskan” — Ibrani 10:10 — “kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-
lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus” — Ada sanctification yang sudah diberikan melalui Kristus — sebuah status yang objektif dan permanen.
B. Pengudusan yang Masih Harus Dijalani — 1 Tesalonika 4:3 — “Karena inilah kehendak Allah:
pengudusanmu” — Ibrani 12:14 — “Kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan
tidak seorangpun akan melihat Tuhan” — 1 Petrus 1:15–16 — “Hendaklah kamu menjadi kudus… sebab ada
tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” — Orang Kristen dipanggil untuk terus bertumbuh dalam kekudusan yang sudah diterima dalam Kristus.
Jemaat Korintus: Bukti Nyata
Paulus menyebut mereka “dikuduskan dalam Kristus” (1Kor 1:2), namun dalam surat yang sama ia menegur mereka dengan keras karena:
Perpecahan Jemaat — 1 Korintus 1:10–13 — jemaat terpecah karena kesetiaan kepada
tokoh-tokoh berbeda — Percabulan dan Dosa Seksual
1 Korintus 5:1 dan 6:15–18 — dosa yang bahkan tidak terjadi di antara orang non-Kristen
Perkara Hukum — 1 Korintus 6:1–8 — membawa saudara seiman ke pengadilan non-
Kristen
Penyalahgunaan Ekaristi — 1 Korintus 11:20–22 — Perjamuan Tuhan dilaksanakan secara tidak
layak — Kesimpulan: “Dikuduskan” ≠ “sudah tidak pernah berdosa.” Status sebagai orang yang dikuduskan tidak berarti proses perjuangan melawan dosa sudah selesai.
Ayat-Ayat Kunci tentang Pengudusan Ayat Arti “Dikuduskan” 1 Kor 1:2
Orang Kristen telah dikuduskan dalam Kristus dan disebut orang kudus
1 Kor 6:11 — Setelah meninggalkan dosa, mereka telah dikuduskan dan dibenarkan
Rm 6:19 — Pengudusan harus menghasilkan hidup benar dan kebenaran
Rm 6:22 — Pengudusan menghasilkan buah yang menuju hidup kekal
Ef 4:22–24 — Menanggalkan manusia lama dan mengenakan manusia baru
1Tes 4:3, 7 — Pengudusan adalah kehendak Allah; Allah memanggil kepada kekudusan
Ibr 10:10 — Dikuduskan melalui persembahan Kristus, satu kali untuk selamanya
Ibr 12:14 — Orang Kristen harus aktif mengejar kekudusan
1Ptr 1:15–16 — Orang Kristen harus hidup kudus karena Allah sendiri adalah kudus
St. Yohanes Krisostomus: Pengudusan sebagai Kasih Karunia
“What is Sanctification? The Laver, the Purification.” — Yohanes Krisostomus, Komentar atas 1 Korintus 1:2 Krisostomus menghubungkan “sanctification” dengan pembersihan/pembasuhan dan menekankan bahwa orang Korintus tidak memperoleh kekudusan karena prestasi mereka sendiri, melainkan karena kasih karunia Allah. Mengenai frasa “dipanggil menjadi orang kudus”, Krisostomus menekankan bahwa mereka dipanggil oleh Allah — keselamatan bukan sesuatu yang dapat dibanggakan manusia sebagai hasil kekuatannya sendiri.
Prinsip Krisostomus — Dikuduskan = karya kasih karunia Allah yang membersihkan manusia dan memanggilnya menjadi kudus. Status sebagai orang yang dikuduskan tidak berarti proses perjuangan melawan dosa sudah selesai — ini terlihat jelas dari konteks jemaat Korintus yang masih harus ditegur.
Perbedaan Katolik dan Protestan tentang Pengudusan
Penting untuk dicatat: meskipun terdapat perbedaan terminologi dan penekanan, 1 Korintus 6:11 menempatkan pembenaran dan pengudusan dalam satu karya keselamatan yang dikerjakan “dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita” — sebuah landasan yang dapat dihargai oleh kedua tradisi.
3. Orang-Orang Kudus dalam Alkitab dan Tradisi
Apakah istilah “orang kudus” atau saint hanya merujuk kepada dua belas rasul? Apakah konsep ini muncul belakangan dalam sejarah Gereja? Kajian Alkitab yang cermat memberikan jawaban yang mengejutkan sekaligus memperkuat argumen historis Gereja awal.
”Saint” dalam Perjanjian Baru — Jauh Lebih Luas dari 12 Rasul
Bahasa Yunani yang digunakan Perjanjian Baru: ἅγιος (hagios) = kudus/suci; jamak: ἅγιοι (hagioi) = orang-orang kudus. Paulus menggunakan istilah ini untuk umat Kristen biasa, bukan hanya para rasul.
Roma 1:7 — “…kepada semua yang tinggal di Roma, yang dikasihi Allah, yang dipanggil menjadi orang-orang kudus.”
1 Korintus 1:2 — “…mereka yang dikuduskan dalam Kristus Yesus, yang dipanggil menjadi orang-orang kudus.”
Efesus 1:1 — “…kepada orang-orang kudus di Efesus dan kepada orang- orang percaya dalam Kristus Yesus.”
Filipi 1:1 — “…kepada semua orang kudus dalam Kristus Yesus yang di
Filipi.” — Jadi secara Alkitabiah: Saint/orang kudus ≠ hanya rasul. Identitas ini sudah digunakan sejak zaman Paulus pada abad pertama.
1 Korintus 6:1–3 — Orang Kudus Akan Menghakimi Dunia
“Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang kudus akan menghakimi dunia?… Tidak tahukah kamu, bahwa kita akan menghakimi malaikat-malaikat?” — 1 Korintus 6:2–3 Siapa yang Dimaksud? Paulus menggunakan οἱ ἅγιοι (hoi hagioi) — “the saints” — dan konteksnya adalah orang Kristen Korintus biasa, bukan hanya 12 rasul. Ini menunjukkan bahwa konsep “orang kudus” dalam Gereja Perdana jauh lebih inklusif.
Implikasi Teologis — Jika orang kudus akan menghakimi dunia dan bahkan malaikat, maka status mereka dalam rencana Allah sungguh-sungguh luar biasa. Ini memperkuat argumen bahwa istilah saints dalam PB bukan sekadar label kesopanan.
Ibrani 12:22–24 — Kumpulan Besar di Surga
“Tetapi kamu sudah datang ke Bukit Sion… kepada beribu-ribu malaikat, suatu kumpulan yang meriah, dan kepada jemaat anak-anak sulung… dan kepada roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna.” — Ibrani 12:22–23
Roh & Pengantara — Yesus, roh orang benar, dan malaikat
Yerusalem Surgawi — Kota kudus di hadapan Allah
Bukit Sion
Pusat pertemuan surgawi — Penulis Ibrani menggambarkan realitas surgawi yang melibatkan “roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna”. Alkitab tidak mengajarkan bahwa hanya 12 rasul yang dapat berada dalam kemuliaan surgawi.
Orang Kudus di Hadapan Takhta Allah: Kitab Wahyu Wahyu 5:8 — Doa Orang Kudus
Empat makhluk dan dua puluh empat tua-tua memegang “cawan emas penuh dengan kemenyan: itulah doa orang- orang kudus.” Doa mereka dibawa ke hadapan takhta Allah dan Anak Domba.
Wahyu 8:3–4 — Doa Naik kepada Allah — “Maka naiklah asap kemenyan itu bersama-sama dengan doa orang-orang kudus itu dari tangan malaikat itu ke hadapan Allah.” Ini sangat penting untuk teologi Katolik mengenai communion of saints.
Wahyu 6:9–11 — Jiwa Para Martir — Jiwa-jiwa para martir berada di bawah mezbah di hadapan
Allah. Mereka berseru kepada Allah, sadar, dan menantikan penggenapan akhir. Mereka tidak digambarkan sebagai tidak sadar atau tidak ada.
Wahyu 7:9–10 — Kumpulan Besar — “Suatu kumpulan besar orang banyak yang tidak dapat terhitung banyaknya, dari segala bangsa dan suku dan kaum dan bahasa” berdiri di hadapan takhta Allah. Umat tebusan jauh lebih besar dari 12 rasul.
Tiga Konsep yang Harus Dibedakan
| Konsep | Arti | Dasar |
|---|---|---|
| Saint secara Alkitabiah | Semua orang yang dikuduskan dalam Kristus | 1Kor 1:2; Ef 1:1; Flp 1:1; Rm 1:7 |
| Saint yang sudah wafat | Orang kudus yang telah mencapai kesempurnaan bersama Allah di surga | Ibr 12:22–23; Why 6:9–11; Why 7:9 |
| Santo/Santa yang dikanonisasi | Orang yang secara resmi dikenali Gereja sebagai teladan kekudusan | Tradisi Gereja sejak abad II; proses formal berkembang bertahap |
Penting: Kanonisasi bukan berarti “Gereja memasukkan seseorang ke surga.” Kanonisasi adalah pernyataan resmi bahwa seseorang telah hidup dalam kekudusan dan kini berada dalam kemuliaan bersama Allah.
Kapan Penghormatan Kepada Martir Muncul?
Abad I — Paulus — Sudah menggunakan ἅγιοι (hagioi) untuk seluruh umat Kristen di
Roma, Korintus, Efesus, dan Filipi
Abad II — Polikarpus — Martyrdom of Polycarp menunjukkan penghormatan kepada martir secara eksplisit: tulang dikumpulkan, hari kemartiran diperingati, dengan membedakan jelas antara menyembah Allah dan menghormati martir
Abad IV — Ambrosius — Penghormatan relikui martir berkembang dalam liturgi; relikui
ditempatkan di altar basilika Milan — Abad IV–V — Jerome & Agustinus
Pembelaan teologis yang matang; distingsi eksplisit antara latria (penyembahan) dan veneratio (penghormatan)
Bapa Gereja tentang Orang Kudus
Ignatius dari Antiokhia (± 107 M) — Menunjukkan bahwa Gereja awal sudah mempunyai pemahaman kuat mengenai Gereja sebagai komunitas umat Allah yang kudus. Ia memandang kemartiran sebagai sarana menjadi murid Kristus yang sejati.
Polikarpus (± 155–167 M) — Para martir dipandang sebagai imitators of the Lord — mereka yang mengikuti teladan Kristus. Gereja Smirna mengumpulkan tulangnya dan memperingati kemartirannya secara rutin.
Siprianus (Abad III) — Sangat banyak berbicara tentang martir → kesaksian iman → persatuan Gereja → kehidupan kekal. Memperkuat gagasan bahwa kematian dalam Kristus adalah pintu masuk ke kemuliaan.
Argumentasi Apologetis Terkuat tentang Relikui
Ketika berdiskusi mengenai “relikui tidak Alkitabiah”, argumen yang lebih tepat bukan mengklaim “Alkitab memerintahkan orang Kristen untuk memiliki relikui.” Pendekatan yang lebih kuat dan lebih jujur adalah:
- Alkitab Menunjukkan Allah — Dapat Menggunakan Benda Material Tulang Elisa (2Raj 13:21), jubah Elia (2Raj 2:13–14), kain Paulus (Kis 19:11– 12), dan pakaian Yesus (Mrk 5:27–30) semuanya menjadi sarana karya Allah. Alkitab tidak mengajarkan bahwa benda material tidak dapat menjadi sarana karya ilahi.
- Benda Tersebut Bukan — Sumber Kuasa — Allah-lah Sumbernya Lukas secara eksplisit menyatakan “Allah mengadakan mujizat” (Kis 19:11). Teologi Katolik tidak perlu dan tidak pernah mengklaim bahwa relikui memiliki kuasa ilahi secara mandiri.
- Tradisi Ini Muncul Sangat — Awal Martyrdom of Polycarp (abad II) membuktikan bahwa umat Kristen mengumpulkan tulang martir jauh sebelum Abad Pertengahan. Ini bukan tradisi yang ditemukan kemudian.
Pertanyaan Bertahap kepada Protestan
Strategi dialog yang lebih efektif menggunakan pertanyaan bertahap yang membangun kesepakatan satu demi satu:
Pertanyaan 1 — Apakah Anda percaya orang Kristen yang meninggal dalam Kristus sekarang berada bersama Tuhan? (Jika ya, lanjut…)
Pertanyaan 2 — Apakah mereka sekarang sudah kudus dan sempurna di hadapan Allah? (Jika ya, lanjut…)
Pertanyaan 3 — Bukankah Ibrani 12:23 menyebut “roh-roh orang-orang benar yang telah menjadi sempurna”? (Jika ya, lanjut…)
Pertanyaan 4 — Bukankah Wahyu 5:8 dan 8:3–4 menunjukkan doa orang kudus hadir di hadapan Allah? (Jika ya, maka…)
Kesimpulan — Orang-orang kudus di surga bukan persoalannya — Alkitab jelas mengenal mereka. Persoalannya adalah bagaimana Gereja di bumi mengenali dan menghormati mereka.
Reformasi dan Pertanyaan tentang Santo/Santa Yang Perlu Diperjelas
Tidak semua Protestan menolak istilah “saint”. Tradisi Lutheran dan Anglikan masih menggunakan Saint Peter, Saint Paul, Saint Augustine, dan sebagainya. Jadi tidak tepat mengatakan:
“Protestan tidak percaya ada orang kudus.” — Yang lebih tepat: sebagian besar tradisi Protestan menolak atau membatasi praktik penghormatan dan permohonan doa kepada para santo/santa, serta menolak perlunya kanonisasi Katolik sebagai syarat menyebut seseorang saint.
Argumen yang Lebih Kuat — Daripada mengatakan “Protestan tidak mempunyai Santo”, lebih tepat bertanya: “Apakah Anda menolak keberadaan orang-orang kudus, atau Anda hanya menolak praktik kanonisasi dan devosi kepada orang-orang
kudus?” — Karena jika Protestan menjawab “Kami percaya semua orang
Kristen adalah saints”, maka jawabannya: “Bagus. Itu justru sesuai dengan 1 Korintus 1:2.”
Tentang Kematian, Penghakiman, dan Kematian Kedua
Alkitab menjelaskan dengan sangat spesifik konsep kematian pertama (fisik), penghakiman, dan kematian kedua (kematian kekal). Kematian Pertama dan
Penghakiman — Ibrani 9:27 — “manusia ditetapkan
untuk mati hanya satu kali saja, dan — sesudah itu dihakimi.” 2 Korintus 5:10
— semua harus menghadap takhta pengadilan Kristus.
Kematian Kedua — Lautan Api — Wahyu 20:14 — “Lalu maut dan kerajaan
maut itu dilemparkanlah ke dalam — lautan api. Itulah kematian yang kedua.”
Wahyu 21:8 menyebutkan mereka yang — akan mendapat bagian di sana.
Dibebaskan dari Kematian
Kedua — Wahyu 20:6 — “Berbahagialah… yang
mendapat bagian dalam kebangkitan — pertama. Atas mereka kematian yang kedua tidak berkuasa lagi.” Wahyu 2:11 — janji bagi yang menang.
Teladan Para Kudus: Martir dan Kesaksian Iman
Alkitab memberikan banyak contoh konkret tentang mereka yang telah memberikan kesaksian iman hingga akhir hayat:
2 Timotius 4:7–8 — “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik… Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran.” Gambaran jiwa yang menyelesaikan perjuangan hidup saleh di dunia dan menerima mahkota surgawi.
Kisah Para Rasul 7:59–60 — Stefanus, martir pertama Perjanjian Baru, menyerahkan nyawa sambil mendoakan para pembunuhnya — sebuah teladan kesempurnaan kasih yang mengikuti jejak Kristus di kayu salib.
2 Makabe 6:27–28 — Eleazar memilih mati martir daripada mengkhianati hukum
Allah, “meninggalkan bagi kaum muda suatu teladan yang mulia.” Kitab Deuterokanonika menunjukkan akar tradisi penghargaan terhadap para martir.
Matius 5:8 — “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Kemurnian hati sebagai jalur menuju visi beatifik — inti dari panggilan kekudusan seluruh umat Kristen.
Sintesis: Dari Alkitab ke Tradisi yang Berkesinambungan
Kajian ini menunjukkan kesinambungan yang tidak dapat disangkal dari Kitab Suci hingga tradisi Gereja awal:
- Akar Alkitabiah yang Kuat — Dari tulang Elisa (2Raj 13:21) hingga kain Paulus (Kis 19:11–12), Alkitab menunjukkan bahwa Allah dapat menggunakan benda material sebagai sarana karya-Nya. Sumber kuasa selalu Allah, bukan benda itu sendiri.
- Pengudusan: Status dan Proses — Orang Kristen sudah “dikuduskan dalam Kristus” (1Kor 1:2) sekaligus dipanggil untuk terus hidup dalam kekudusan (Ibr 12:14). Kedua dimensi ini bukan kontradiksi, melainkan satu realitas keselamatan yang kaya.
- Orang Kudus: Komunitas yang Luas — “Saints” dalam Paulus mencakup seluruh umat Kristen (Rm 1:7; Ef 1:1), dan Alkitab menggambarkan realitas surgawi yang luas (Ibr 12:22–23; Why 7:9). Kanonisasi adalah pengakuan resmi, bukan penciptaan kekudusan.
- Kesinambungan Historis Sejak Abad II — Martyrdom of Polycarp membuktikan bahwa penghormatan martir bukan ciptaan Abad Pertengahan, melainkan sudah ada pada abad II dan berkembang secara organik dalam kehidupan Gereja.
Kesimpulan
Kajian ini menunjukkan bahwa tradisi Katolik mengenai relikui, pengudusan, dan orang-orang kudus memiliki akar yang dalam dalam Kitab Suci dan kesinambungan historis yang dapat diverifikasi sejak abad II. Perbedaan antara Katolik dan sebagian Protestan bukan terutama pada apakah orang kudus ada, melainkan pada bagaimana Gereja mengenali, menghormati, dan berhubungan dengan kesaksian mereka. Tentang Relikui Allah dapat menggunakan benda material; praktik penghormatan relikui sudah ada sejak abad II, bukan ciptaan Abad Pertengahan Tentang Dikuduskan Pengudusan adalah status yang diberikan dalam Kristus dan panggilan untuk terus bertumbuh — dua dimensi yang tak terpisahkan Tentang Orang Kudus Dalam Paulus, “saints” mencakup seluruh umat Kristen; kanonisasi adalah pengakuan resmi terhadap kekudusan yang sudah ada Argumen terbaik bukan menyerang, melainkan mengundang dialog yang jujur berdasarkan Kitab Suci yang sama-sama dipegang oleh Katolik dan Protestan.
Stand firm in faith upon the Rock, the Catholic Church
Berdirilah Teguh dalam IMAN di atas Batu Karang Gereja Katolik