📎 Unduh naskah lengkap (PDF): KEPHA — Naskah Presentasi (PDF)
Catatan pembawa acara: Naskah ini disusun per slide, mengikuti urutan
Selamat datang kembali di Damai Kasih Channel. Malam ini kita akan bicara tentang satu kata kecil, hanya lima huruf dalam bahasa Aram, tapi kata ini sudah menjadi rebutan selama hampir dua ribu tahun: Kepha. Batu karang. Kata inilah yang diucapkan Yesus kepada seorang nelayan bernama Simon di sebuah tebing di Kaisarea Filipi. Dan dari kata itu, lahirlah salah satu institusi paling lama bertahan dalam sejarah peradaban manusia — sekaligus salah satu institusi yang paling sering dituduh sebagai rekayasa politik belaka. Judul presentasi kita malam ini: KEPHA — Fondasi Ilahi dan Jejak Historis Primat Petrus serta Takhta Roma. Kita akan menelusuri, bukan dengan emosi, tapi dengan bukti: apakah kedudukan Uskup Roma itu memang warisan sah dari Rasul Petrus, atau sekadar mahkota yang dipasang sendiri oleh orang Roma di kepala mereka sendiri. Siapkan kopi Anda. Ini akan jadi perjalanan panjang, lintas sepuluh pokok bahasan.
Pendahuluan
Mari kita jujur sejak menit pertama, sebab kejujuran adalah modal utama diskusi yang sehat. Ada dua kubu besar yang berdiri di depan timbangan ini. Di sisi kiri, pandangan skeptis: bahwa klaim Paus sebagai pengganti sah Rasul Petrus itu tidak lebih dari konstruksi politik — bangunan ambisi kekuasaan yang dirakit di abad pertengahan, lalu ditempelkan paksa pada teks Kitab Suci, seperti orang menempelkan stiker “made in heaven” pada barang buatan sendiri. Di sisi kanan, pandangan Katolik: bahwa jabatan ini adalah penetapan langsung dari Kristus, diteguhkan oleh delapan belas abad kesaksian yang, meski penuh perdebatan, tidak pernah benar-benar terputus rantainya. Naskah ini tidak akan menyelesaikan perdebatan itu dengan berteriak lebih keras. Kita akan memakai metode konvergensi — sebuah istilah yang sederhana artinya: kalau lima orang saksi yang tidak saling kenal, dari lima kota berbeda, dari lima abad berbeda, semuanya menceritakan hal yang sama tanpa dikoordinasi, maka kebetulan itu mulai kehabisan alasan untuk disebut kebetulan. Kita akan menyusuri lima jalur bukti: Alkitab, Sejarah para Bapa Gereja, Arkeologi, Hukum Kanon, dan Teologi. Dan kita juga akan jujur bahwa tradisi Ortodoks Timur dan Protestan membaca data yang sama ini dengan kacamata yang berbeda — itu bukan aib yang kita sembunyikan, itu bahan diskusi yang akan kita hormati sepanjang jalan.
1. FONDASI ALKITABIAH
Setiap bangunan besar butuh pondasi. Dan pondasi klaim Katolik ini bukan berdiri di atas satu ayat saja, melainkan empat pilar dari Perjanjian Baru — seperti empat kaki meja, kalau satu dicabut yang lain masih menahan bebannya, tapi kalau ada empat sekaligus, mejanya jadi sangat sulit digulingkan. Pilar pertama: Nama Baru dan Batu Karang, dari Matius 16:18-19. Yesus, dalam bahasa Aram — bahasa sehari-hari orang Galilea — menyebut Simon dengan nama Kepha, yang berarti batu. Dan dalam tradisi Semitik, memberi nama baru bukan basa-basi seperti memberi nama panggilan sayang di kampus. Itu penetapan misi — sama seperti Abram menjadi Abraham, Yakub menjadi Israel. Lalu ada soal filologis yang sering dijadikan senjata keberatan: dalam teks Yunani, Yesus menyebut “Petros” (maskulin) tapi mendirikan jemaat di atas “petra” (feminin) — seolah dua kata beda makna. Tapi itu bukan soal teologi, itu soal tata bahasa. Petra adalah kata benda feminin, dan tidak lazim memberi nama feminin kepada laki-laki — jadi penulis Injil menyesuaikannya jadi Petros, akar kata yang sama. Ditambah lagi, ada pemberian “kunci Kerajaan Sorga” — yang menggemakan Yesaya 22, di mana kunci diberikan kepada kepala rumah tangga istana sebagai lambang otoritas administratif tertinggi. Jadi bukan hadiah simbolis kosong, ini serah-terima jabatan. Pilar kedua: Peneguhan Iman, Lukas 22:31-32. Iblis meminta untuk “menampi” semua murid — kata gantinya jamak. Tapi doa Yesus, “Aku telah berdoa untukmu,” memakai kata ganti tunggal, khusus untuk Simon seorang diri. Lalu Petrus diberi tugas: “kuatkanlah saudara-saudaramu” — kata Yunaninya steirixon, menegakkan kembali yang goyah. Ini bukan pujian pribadi, ini pembagian tugas struktural. Pilar ketiga: Mandat Menggembalakan, Yohanes 21:15-17. Tiga kali Petrus menyangkal, tiga kali pula ia dipulihkan dengan perintah “Gembalakanlah domba-domba-Ku” — memakai kata poimaino, yang dalam Perjanjian Lama versi Yunani dipakai untuk otoritas seorang raja memimpin umatnya. Dan cakupannya universal — “domba-domba-Ku” tanpa embel-embel, tanpa dibagi rata ke rasul lain. Pilar keempat: Kepemimpinan Perdana. Di Kisah Para Rasul, Petrus konsisten tampil di depan — memimpin pemilihan pengganti Yudas, berkhotbah tunggal di Pentakosta, berbicara pertama di Konsili Yerusalem. Dan dalam Surat Roma, Paulus memberi tiga isyarat istimewa untuk jemaat Roma yang tidak ia berikan ke jemaat lain manapun. Empat pilar. Bukan satu ayat yang ditarik-tarik.
2. KESAKSIAN PARA BAPA GEREJA (ABAD 1–5 M)
Sekarang, bayangkan lima orang saksi yang tidak pernah bertemu, hidup di lima kota berbeda, berbicara dalam bahasa berbeda, tapi kesaksian mereka seperti dicetak dari cetakan yang sama. Klemens dari Roma, tahun 96 Masehi — hanya sekitar tiga puluh tahun setelah Petrus wafat. Ia menegur jemaat Korintus yang memberontak terhadap para penatuanya, dengan nada otoritatif: “ia akan menanggung dosa besar.” Yang mencolok: Rasul Yohanes saat itu masih hidup di Efesus, kota yang jauh lebih dekat ke Korintus daripada Roma. Tapi yang menegur dan diikuti adalah Uskup Roma. Itu seperti kepala cabang di kota sebelah didengarkan lebih dari kantor pusat yang jaraknya lebih jauh — aneh, kecuali memang ada otoritas struktural yang mendasarinya. Ignatius dari Antiokhia, sekitar 107-110 M, digiring ke Roma untuk dieksekusi, menyapa jemaat Roma dengan sebutan yang tidak ia berikan ke gereja manapun: prokathēmenē tēs agapēs — “yang mengetuai dalam kasih”. Dalam kosakata Kristen purba, “kasih” (agapē) sering berarti persekutuan Gereja secara luas, bukan sekadar perasaan. Ini pengakuan kepemimpinan, bukan basa-basi tamu kepada tuan rumah. Polikarpus dari Smirna, murid langsung Rasul Yohanes, malah repot-repot melakukan perjalanan jauh ke Roma hanya untuk membahas beda tanggal Paskah dengan Uskup Roma. Kalau Roma bukan rujukan utama, buat apa jalan sejauh itu? Ireneus dari Lyon, sekitar 180 M, murid dari murid Rasul Yohanes, merumuskan istilah potentior principalitas — “otoritas asal-usul yang lebih unggul”. Argumennya cerdik: daripada repot menelusuri garis suksesi setiap gereja lokal di seluruh dunia, cukup tunjukkan garis suksesi Gereja Roma — didirikan Petrus dan Paulus, uskupnya tersambung tanpa putus — sebagai representasi tradisi apostolik otentik. Dan terakhir, Siprianus menyebut Roma sebagai “Gereja utama”, sementara Agustinus menutup perdebatan Pelagianisme dengan kalimat legendaris — meski perlu jujur, versi panjang “Roma locuta, causa finita est” itu sebenarnya rumusan belakangan; yang otentik dari Agustinus hanya “Causa finita est” — perkara ini telah selesai. Lima saksi, lima kota, tanpa koordinasi, satu kesimpulan yang sama.
3. KONSILI-KONSILI EKUMENIS
Sekarang kita naik ke level yang lebih formal: keputusan-keputusan konsili, forum resmi seluruh Gereja purba. Dan poin pentingnya begini — konsili-konsili ini tidak menciptakan otoritas Roma, mereka hanya mengakui dan mengkodifikasi sesuatu yang sudah lama berdiri, seperti notaris yang mengesahkan tanah yang sudah puluhan tahun ditinggali, bukan menciptakan tanahnya dari kosong. Konsili Nikea I, 325 M — Kanon 6-nya membenarkan yurisdiksi luas Uskup Aleksandria dengan merujuk kebiasaan serupa yang “bagi Uskup Roma” sudah berlaku. Perhatikan: kanon ini tidak sedang membahas Roma sebagai topik utama, ia hanya menyebutnya sebagai preseden yang sudah dianggap mapan — artinya sudah dianggap kuno bahkan di tahun 325. Konsili Konstantinopel I, 381 M — menetapkan Konstantinopel dapat kehormatan kedua setelah Roma. Yang menarik: Konstantinopel saat itu adalah ibu kota kekaisaran yang sedang berkuasa. Tapi Roma tetap didahulukan. Sulit dijelaskan murni sebagai alasan politik-administratif kalau ibu kota yang aktif berkuasa saja kalah urutan dari kota yang secara politik sudah meredup. Konsili Efesus, 431 M — utusan Paus menyatakan di depan sidang bahwa Santo Petrus “hingga kini dan selamanya hidup dalam penerus-penerusnya” — dan pernyataan ini diterima tanpa bantahan. Konsili Kalsedon, 451 M — surat doktrinal Paus Leo Agung, Tome of Leo, dibacakan, dan para uskup berseru: “Petrus telah berbicara melalui Leo.” Tapi mari jujur juga: konsili yang sama mengesahkan Kanon 28 yang menyetarakan Konstantinopel dengan Roma — dan Paus Leo menolak meratifikasinya, dengan alasan kedudukan Roma berdasar pada Petrus, bukan status ibu kota politik. Dan puncaknya, Konsili Vatikan I, 1870 M — merumuskan secara dogmatis dalam Pastor Aeternus apa yang sudah dipraktikkan berabad-abad: primat yurisdiksi Paus, dan infalibilitas dalam kondisi sangat terbatas — nanti kita bahas detail di bagian delapan.
4. HUKUM KANON PURBA
Kalau teologi bicara tentang keyakinan, hukum bicara tentang praktik nyata sehari-hari. Dan hukum kanon purba memperlakukan Roma sebagai struktur arbitrase tertinggi — semacam mahkamah agung dalam sistem peradilan Gereja kuno. Kanon-Kanon Apostolik, disusun sekitar abad keempat — meski dikaitkan tradisional dengan para rasul, sejarawan modern menilainya kompilasi belakangan yang merangkum praktik lama, bukan tulisan langsung tangan rasul — menetapkan prinsip dasar: para uskup harus mengakui salah satu di antara mereka sebagai yang utama. Kanon Sinode Sardika, 343 M — lahir dari kemelut pengusiran Atanasius oleh faksi Arian, secara eksplisit memberi hak banding bagi uskup manapun yang merasa diperlakukan tidak adil oleh sinode provinsinya, untuk mengajukan perkaranya langsung ke Uskup Roma. Bayangkan ini seperti pengadilan tingkat provinsi yang bisa dibanding ke Mahkamah Agung di ibu kota — dan “ibu kota” hukum gerejawi itu adalah Roma. Collectio Dionysiana, sekitar tahun 500 M, disusun biarawan Dionysius Exiguus, menyandingkan keputusan konsili dengan surat-surat keputusan (dekretal) para paus dalam satu koleksi otoritatif yang jadi rujukan hukum standar Gereja Barat berabad-abad. Penyandingan ini sendiri sudah bicara banyak: kalau dekret paus disandingkan setara bobotnya dengan keputusan konsili seluruh Gereja, itu bukan kebetulan administratif.
5. ROMA SEBAGAI PENJAGA ORTODOKSI
Sekarang mari kita lihat pola yang berulang selama satu milenium penuh krisis doktrinal — dan pola ini penting, karena satu kejadian bisa disebut kebetulan, tapi pola yang berulang lintas empat abad dan empat ajaran sesat berbeda mulai sulit disebut kebetulan. Melawan Gnostisisme, abad kedua — Ireneus menjadikan kesesuaian dengan Roma sebagai tolok ukur ortodoksi. Melawan Arianisme, abad keempat — Paus Yulius I membela Atanasius yang diasingkan faksi Arian, dan bahkan bertanya retoris: bukankah sudah kebiasaan perkara-perkara penting dirujuk ke Takhta Apostolik? Melawan Nestorianisme dan Monofisitisme, abad kelima — Konsili Efesus bertindak dengan dukungan eksplisit Paus Celestinus I, dan Konsili Kalsedon bersandar pada Tome of Leo. Melawan Pelagianisme — dekret Tractoria dari Paus Zosimus mengakhiri perdebatan secara resmi, melahirkan pengakuan tunduk dari Agustinus sendiri di Afrika Utara. Empat krisis besar, empat abad berbeda, dua benua berbeda — dan di setiap titik krisis itu, semua jalan tetap menuju Roma. Ini seperti setiap kali ada kebakaran besar di kota manapun, yang selalu dipanggil adalah pemadam kebakaran yang sama. Pada satu titik, kita berhenti menyebutnya kebetulan dan mulai menyebutnya fungsi yang memang melekat pada jabatannya.
6. JEJAK ARKEOLOGIS DAN LITURGIS
Sampai di sini kita sudah bicara teks dan hukum. Sekarang mari turun ke bawah tanah, secara harfiah. Antara 1939 hingga 1968, atas perintah Paus Pius XII, dilakukan penggalian di bawah altar utama Basilika Santo Petrus. Arkeolog Margherita Guarducci mengidentifikasi grafiti berbahasa Yunani: “Petros eni” — “Petrus ada di sini”. Ini bukan temuan kecil, ini ditemukan tepat di lokasi yang selama berabad-abad dihormati sebagai makam Petrus. Tapi mari kita jujur juga, sebab kejujuran ilmiah tidak boleh dikorbankan demi semangat apologetik: identifikasi definitif bahwa relik yang ditemukan benar-benar jasad Petrus sendiri tetap jadi bahan diskusi, bahkan di kalangan sarjana Katolik sendiri. Yang lebih pasti secara historis adalah bahwa lokasi ini dihormati secara berkelanjutan sebagai tempat pemakaman Petrus sejak masa yang sangat dini — jauh sebelum Konstantinus membangun basilika pertama di abad keempat. Lalu ada Depositio Martyrum, tercatat dalam Kronografi tahun 354 M — kalender liturgi Romawi kuno — mencatat Pesta Takhta Santo Petrus setiap 22 Februari, menghormati cathedra atau “kursi” Petrus sebagai simbol otoritas mengajarnya. Dan di Katakombe San Sebastiano, prasasti abad ketiga menunjukkan doa rakyat jelata yang menyandingkan Petrus dan Paulus bersama — bukti bahwa devosi ini sudah mengakar sebelum Kekristenan mendapat status legal dari kekaisaran, bukan sesudahnya seperti tuduhan sebagian orang bahwa ini rekayasa kekaisaran Konstantinus.
7. DIMENSI FILOSOFIS DAN SOSIOLOGIS
Sekarang mari kita keluar sejenak dari teologi dan sejarah, masuk ke pertanyaan yang lebih mendasar: kenapa institusi yang harus bertahan lintas budaya dan zaman butuh satu titik rujukan akhir? Aristoteles, jauh sebelum ada Kekristenan, sudah mencatat bahwa setiap keseluruhan yang kompleks dan majemuk butuh prinsip pengatur, atau ia akan terurai jadi kekacauan. Ini bukan argumen teologis, ini pengamatan tentang bagaimana institusi manusia bertahan. Ada adagium Latin kuno: prima sedes a nemine iudicatur — “takhta pertama tidak diadili oleh siapa pun”. Artinya sederhana: perlu ada satu instansi rujukan akhir, atau sengketa doktrinal akan berputar tanpa penyelesaian, seperti rapat yang tidak pernah punya pemimpin sidang — semua orang bicara, tidak ada yang mengetuk palu penutup. Tapi di sini kejujuran kita diuji lagi. Pengamatan bahwa tradisi tanpa rujukan akhir cenderung mengalami perpecahan berulang — itu memang catatan sosiologis yang nyata. Tapi banyak sarjana Protestan akan membingkai fenomena yang sama bukan sebagai “perpecahan” yang problematis, melainkan sebagai kekayaan dan vitalitas kesaksian iman yang beragam. Jadi poin ini tetap wilayah interpretasi yang diperdebatkan — relevan untuk direnungkan, tapi bukan bukti final yang berdiri sendiri.
8. REFLEKSI TEOLOGIS — INFALIBILITAS
Ini bagian yang paling sering disalahpahami — bahkan oleh sebagian umat Katolik sendiri. Jadi mari kita luruskan dengan presisi bedah. Infalibilitas bukan berarti Paus tidak bisa berdosa. Itu istilah lain namanya “impekabilitas”, dan itu tidak pernah diklaim Gereja Katolik. Sejarah mencatat ada paus-paus yang hidupnya jauh dari teladan kesucian — itu fakta yang tidak perlu ditutupi. Infalibilitas itu seperti lingkaran konsentris — bayangkan target panahan. Lingkaran terluar: opini pribadi, homili, kebijakan politik, karakter moral pribadi Paus — semua ini bisa keliru, sama seperti manusia lainnya. Lingkaran tengah: ajaran biasa Magisterium — otoritatif, tapi bukan definisi mutlak yang tak bisa berubah rumusannya. Dan hanya di titik pusat — ketika Paus dengan sengaja memakai otoritas penuhnya sebagai gembala universal untuk mendefinisikan secara definitif, ex cathedra (harfiah: “dari takhta”), sebuah ajaran iman atau moral — barulah perlindungan Ilahi dari kekeliruan itu berlaku. Dan dalam sejarah modern, penggunaan otoritas ini hanya terjadi dua kali: dogma Maria Dikandung Tanpa Noda tahun 1854, dan dogma Maria Diangkat ke Surga tahun 1950. Dua kali dalam hampir dua ribu tahun. Bukan alat yang dipakai sembarangan setiap kali Paus punya pendapat pribadi tentang cuaca atau sepak bola.
9. MENJAWAB KEBERATAN-KEBERATAN UTAMA
Sekarang, mari kita hadapi lima keberatan yang paling sering dilempar ke wajah Gereja Katolik — dan kita jawab satu per satu, tanpa emosi, hanya data. Satu: “Primat Roma ciptaan abad pertengahan.” Tapi Klemens sudah menulis tahun 96, Ignatius 110, Ireneus 180 — itu seribu tahun sebelum abad pertengahan bahkan punya nama. Dua: “Petrus tidak pernah ke Roma.” Sandi “Babilon” di 1 Petrus 5:13 — konvensi apokaliptik Yahudi yang menyamakan kekuatan penindas dengan Babel purba — ditambah kesaksian Klemens, Ignatius, tradisi liturgis, dan temuan arkeologis “Petros eni”, membentuk konsensus akademis luas, bahkan di kalangan sejarawan non-Katolik. Tiga: “Semua uskup selalu setara secara otoritas.” Kanon Sardika soal hak banding, dan pola intervensi Roma di setiap kontroversi doktrinal besar, membuktikan hierarki yurisdiksi deferensial sudah beroperasi sejak zaman purba. Empat: “Paus dalam sejarah pernah korup secara moral, jadi klaimnya tidak sahih.” Ini mencampuradukkan dua hal berbeda — kesucian pribadi dan keabsahan jabatan. Siprianus sendiri, martir yang tidak dikenal lunak, tetap mengakui Takhta Petrus sekalipun berselisih keras dengan Paus Stefanus. Lima: “Ini bertentangan dengan Sola Scriptura.” Sola scriptura sendiri adalah rumusan abad ke-enam belas — Gereja purba beroperasi dengan kesatuan organis antara Kitab Suci dan Tradisi Apostolik, sebuah kerangka yang mendahului sola scriptura secara historis, bukan bertentangan dengannya seolah keduanya lahir di zaman yang sama lalu berkelahi.
10. RELEVANSI DALAM DIALOG EKUMENIS KONTEMPORER
Topik ini bukan barang antik yang hanya didiskusikan di ruang kelas sejarah. Ini realitas hidup, yang terus dipikirkan ulang hari ini. Pada Juni 2024, Dikasteri untuk Mendorong Kesatuan Umat Kristiani di Vatikan menerbitkan dokumen studi setebal 147 halaman, hasil kerja hampir tiga tahun, merangkum lebih dari tiga puluh tanggapan resmi dari berbagai tradisi Kristen atas ajakan dialog Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Ut Unum Sint tahun 1995. Yang menarik: fokus perdebatan sudah bergeser. Dulu pertanyaannya “apakah primat Petrus itu benar-benar ada secara historis” — sekarang pertanyaannya bergeser ke “bagaimana cara atau modus pelaksanaannya” yang selaras dengan tantangan Gereja abad ke-21. Bahkan Gereja Katolik sendiri secara aktif mencari bentuk pelaksanaan primat yang lebih bernuansa sinodal — mendengarkan lebih banyak suara episkopal global — tanpa mengorbankan misi esensial Takhta Petrus sebagai penjamin kesatuan universal. Fakta bahwa Takhta Apostolik sendiri, hampir dua ribu tahun setelah Klemens menulis suratnya ke Korintus, masih merasa perlu merumuskan ulang caranya bekerja — itu justru menegaskan bahwa primat ini bukan monumen beku, tapi realitas hidup yang terus bernapas.
Kesimpulan
Mari kita tutup dengan merangkai kembali seluruh benang yang sudah kita tarik malam ini. Penetapan biblis di Kaisarea Filipi. Doa khusus bagi iman Petrus. Mandat menggembalakan yang universal. Delapan Bapa Gereja lintas tiga abad pertama. Lima konsili ekumenis. Hukum kanon purba. Jejak arkeologis di bawah Basilika Santo Petrus. Liturgi kuno kota Roma. Masing-masing jalur bukti ini, kalau berdiri sendiri, memang bisa diperdebatkan — dan memang sudah diperdebatkan selama berabad-abad. Tapi kekuatan argumen ini tidak pernah bertumpu pada satu bukti tunggal. Kekuatannya ada pada konvergensi — sumber-sumber beda genre, beda bahasa, beda kawasan geografis, beda kepentingan penulis, secara independen sampai pada kesimpulan yang sama. Dan sekali lagi, kejujuran intelektual mengharuskan kita mengakui: tradisi Ortodoks Timur dan Protestan membaca sebagian data yang sama ini dengan kerangka berbeda. Itu perbedaan interpretasi yang sah, terus didiskusikan hingga hari ini — bukan sesuatu yang kita tutup-tutupi. Tapi perbedaan tafsir bukan berarti ketiadaan data. Kerajaan-kerajaan besar sudah runtuh. Ideologi datang dan pergi seiring pergantian abad. Namun takhta nelayan dari Galilea itu — Kepha, batu karang yang di atasnya sebuah bangunan didirikan hampir dua ribu tahun silam — tetap berdiri. Dipertanyakan, direnungkan, diperdebatkan. Tapi tidak pernah benar-benar runtuh.
Daftar Referensi
Sebagaimana biasa di Damai Kasih Channel, kami tidak ingin Anda percaya begitu saja pada kata-kata kami. Semua yang dipaparkan malam ini bersumber dari kesaksian primer dan kajian akademik yang bisa Anda telusuri sendiri — mulai dari tulisan Klemens, Ignatius, dan Ireneus dalam koleksi Apostolic Fathers dan Ante-Nicene Fathers; laporan arkeologi Margherita Guarducci tentang makam Santo Petrus; akta resmi konsili-konsili ekumenis; hingga dokumen Vatikan terbaru tahun 2024 tentang dialog ekumenis. Daftar lengkapnya ada di layar. Silakan Anda telusuri sendiri, uji sendiri, dan sampaikan pertanyaan atau keberatan Anda di kolom komentar. Diskusi yang sehat selalu dimulai dari kejujuran untuk memeriksa sumbernya sendiri. Terima kasih sudah menonton, Tuhan memberkati, dan sampai jumpa di episode berikutnya bersama Damai Kasih Channel.