Damai Kasih Channel
DKC
Damai Kasih Channel
๐Ÿ“

Artikel

๐Ÿ“–

Kitab Suci

๐Ÿ•

Renungan

๐Ÿ“•

Katekismus

โ™š

Lainnya

Home

Patung dan Gambar Suci: Kesaksian Bapa Gereja dan Bukti Arkeologis dari Museum Vatikan

Apa kata para Bapa Gereja abad ke-2 hingga ke-6 tentang penggunaan patung dan gambar dalam ibadah Kristen? Dan apa yang diungkapkan sarkofagus-sarkofagus kuno dari katakombe Roma?

Tim DKC ยท
Bagikan:
Patung dan Gambar Suci: Kesaksian Bapa Gereja dan Bukti Arkeologis dari Museum Vatikan
100%
Daftar Isi

Salah satu keberatan klasik terhadap tradisi Katolik adalah penggunaan patung dan gambar dalam ibadah. Kaum Protestan, khususnya dari tradisi Reformed, sering mengutip Keluaran 20:4 โ€” โ€œJangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa punโ€ฆโ€ โ€” untuk menolak seluruh tradisi seni sakral Kristen.

Namun, bagaimana Gereja perdana sendiri memahami hal ini?

Artikel ini menyajikan dua lapis bukti: kesaksian para Bapa Gereja (abad ke-2 hingga ke-6) dan bukti arkeologis dari sarkofagus-sarkofagus Kristen kuno yang kini tersimpan di Museum Vatikan. Keduanya bersama-sama menunjukkan bahwa penggunaan gambar suci dalam Kekristenan bukanlah inovasi abad pertengahan, melainkan praktik yang mengakar sejak era katakombe.


Bagian I: Kesaksian Para Bapa Gereja

1. Eusebius dari Kaisarea (wafat 339)

Eusebius sering dijadikan rujukan oleh penentang gambar suci karena Surat kepada Konstantia-nya yang tampaknya menolak gambar Kristus. Namun analisis modern mengungkapkan bahwa data Eusebius justru membingungkan dan kontradiktif.

Satu-satunya teks โ€œikonofobiaโ€ dari Eusebius hanyalah surat tersebut. Di luar itu, bukti dari korpus Eusebius justru menunjukkan seorang uskup yang tidak keberatan dengan gambar-gambar Kristen. Jika surat itu tidak autentik, Eusebius justru menjadi saksi munculnya ikonodulia (penghormatan gambar suci) di Gereja besar.

Stephane Bigham, seorang sarjana patristik, menyimpulkan:

โ€œMenerima keaslian Surat itu tidak menyelesaikan apa pun; itu hanya menambah masalah. Eusebius tidak mungkin sekaligus seorang ikonofobiaโ€ฆ dan seorang ikonofil.โ€


2. Santo Agustinus (wafat 430)

Agustinus beberapa kali merujuk pada gambar Tuhan dan para santo di gereja-gereja (De cons. Evang., x; Contra Faust. Man., xxii, 73). Namun ia membedakan dengan tegas:

  • โœ… Gambar sebagai alat pengajaran โ€” menggambarkan pemandangan Alkitab
  • โŒ Pemujaan terhadap gambar โ€” ia mengutuk keras mereka yang menyembah makam dan patung

โ€œSaya tahu bahwa ada banyak penyembah makam dan patungโ€ฆ yang menyebut kerakusan dan kemabukan mereka sebagai agama.โ€ โ€” Of the Morals of the Catholic Church, Bab 34

Posisi Agustinus sangat jelas: gambar diperbolehkan, pemujaan dilarang โ€” persis seperti yang diajarkan Gereja Katolik tentang perbedaan antara latria (penyembahan, hanya untuk Allah) dan dulia (penghormatan).


3. Santo Hieronimus & Epifanius (abad ke-4)

Hieronimus (wafat 420) menulis tentang gambar para Rasul sebagai ornamen gereja yang sudah lazim (In Ionam, iv). Ia mencatat bahwa orang-orang melukis gambar para rasul pada labu hias (saucomariae).

Epifanius dari Salamis, sahabat Hieronimus, memiliki sikap yang lebih keras. Dalam Surat 51, ia menceritakan bagaimana ia merobek tirai bergambar Kristus di sebuah gereja:

โ€œMelihat hal ini, dan karena merasa jijik jika gambar manusia digantung di gereja Kristus, yang bertentangan dengan ajaran Kitab Suci, saya merobeknya.โ€

Epifanius kemudian mengganti tirai itu dengan yang baru โ€” menunjukkan bahwa bahkan tindakannya bukanlah penghancuran permanen, melainkan keberatan pastoral terhadap penyalahgunaan.


4. Santo Paulinus dari Nola (wafat 431)

Paulinus membayar mosaik yang menggambarkan adegan-adegan Alkitab dan orang-orang kudus di gereja-gereja kotanya. Deskripsi dari Henry Wace mencatat:

โ€œSemua bangunan, baik gereja maupun biara, dihiasi dengan gambar-gambar yang mewakili subjek-subjek Kitab Suciโ€ฆ Paulinus meminta maaf atas ketidakgunaannya dalam menarik perhatian orang-orang buta huruf.โ€

Paulinus memahami mosaik sebagai alat katekese visual โ€” โ€œAlkitab bagi yang buta hurufโ€ โ€” sekaligus sarana mencegah dosa dengan mengalihkan perhatian umat dari makan dan minum berlebihan.


5. Santo Basil dari Kaisarea (wafat 379)

Basil mendorong para seniman untuk membuat representasi bergambar tentang Santo Barlaam, seorang martir:

โ€œBangkitlah sekarang, wahai para pelukis brilian! Muliakanlah dengan seni kalian gambaran sang jenderal yang termutilasi!โ€ฆ Biarkan aku pergi dikalahkan oleh kalian dalam menggambarkan kemenangan sang martir!โ€ โ€” Homili 17

Basil mendukung penggambaran artistik para martir sebagai kenangan akan penderitaan mereka bagi Kristus โ€” bukan sebagai objek penyembahan, melainkan sebagai inspirasi iman.


6. Santo Sirilus dari Aleksandria (wafat 444)

Sirilus adalah pembela gambar yang begitu gigih sehingga para penentangnya menuduhnya sebagai penyembah berhala. Namun ia sendiri menjelaskan:

โ€œBahkan jika kita membuat patung orang-orang saleh, itu bukan supaya kita menyembah mereka sebagai dewa, melainkan supaya ketika kita melihat mereka, kita terdorong untuk meniru mereka.โ€ โ€” Komentar tentang Mazmur

Sirilus secara eksplisit membedakan antara membuat patung (untuk inspirasi) dan menyembahnya (yang dilarang).


7. Santo Gregorius Agung (wafat 604)

Gregorius adalah pembela paling berpengaruh terhadap penggunaan gambar suci. Ketika Serenus, Uskup Massilia, menghancurkan gambar-gambar di gerejanya setelah melihat orang-orang menyembahnya, Gregorius menulis dua surat yang kini menjadi klasik:

โ€œKami sungguh memuji Anda atas semangat Anda yang menentang segala sesuatu yang dibuat dengan tangan sebagai objek pemujaan; tetapi kami tegaskan kepada Anda bahwa Anda seharusnya tidak merusak patung-patung iniโ€ฆ Representasi bergambar digunakan di Gereja agar mereka yang tidak mengerti huruf setidaknya dapat membaca dengan melihat dinding apa yang tidak dapat mereka baca di buku.โ€ โ€” Surat 105 kepada Serenus

Prinsip Gregorius yang abadi:

  • โŒ Memuja gambar = salah โ€” hanya Allah yang layak disembah
  • โœ… Menghancurkan gambar = juga salah
  • โœ… Gambar sebagai โ€œAlkitab bagi yang buta hurufโ€ โ€” fungsi didaktik

โ€œKarena memuja sebuah gambar adalah satu hal, tetapi mempelajari melalui kisah sebuah gambar apa yang harus disembah adalah hal lain.โ€ โ€” Surat 13 kepada Serenus


8. Tertulianus (wafat ~240)

Tertulianus sering dikutip untuk menunjukkan bahwa orang Kristen dituduh sebagai โ€œpenyembah salib.โ€ Namun dalam Apology Bab 16, ia justru menyangkal tuduhan itu:

โ€œJika ada di antara kalian yang berpikir kami memberikan penghormatan takhayul kepada salib, dalam penghormatan itu ia berbagi dengan kami.โ€

Ia kemudian menegaskan objek penyembahan Kristen yang sesungguhnya:

โ€œObjek pemujaan kita adalah Tuhan Yang Esaโ€ฆโ€


Rangkuman Posisi Bapa Gereja

Bapa GerejaSikap terhadap Gambar/Patung
EusebiusData kontradiktif; di luar Surat Konstantia, bersikap ikonofil
AgustinusGambar = alat pengajaran; kutuk pemujaan terhadapnya
HieronimusMencatat gambar Rasul sebagai ornamen lazim
EpifaniusMenolak gambar di gereja (posisi minoritas)
PaulinusMembiayai mosaik untuk katekese visual
BasilMendorong penggambaran martir sebagai kenangan
SirilusMembela patung orang kudus untuk inspirasi, bukan penyembahan
Gregorius AgungPembela klasik: gambar = Alkitab bagi yang buta huruf
TertulianusMenyangkal tuduhan penyembahan salib

Benang merah: Tidak ada Bapa Gereja yang mengajarkan penyembahan patung. Yang ada adalah penerimaan luas terhadap gambar sebagai alat didaktik dan inspirasi, dengan peringatan tegas terhadap penyalahgunaan.


Bagian II: Bukti Arkeologis โ€” Sarkofagus Museum Vatikan

Jika kata-kata para Bapa Gereja adalah kesaksian tertulis, maka sarkofagus-sarkofagus Kristen kuno adalah kesaksian yang terpahat dalam batu. Museum Pio-Kristen (Pio-Christian Museum) di Vatikan menyimpan koleksi terpenting seni pemakaman Kristen awal.

1. Patung Gembala yang Baik (~300โ€“350 M)

![Gembala yang Baik, abad ke-3]

Patung Kristus sebagai Gembala yang Baik dari abad ke-3 adalah representasi Kristus paling awal yang masih ada โ€” menjadi patung Kristus tertua di dunia. Setelah Dekret Milan (313 M) memberikan status hukum bagi Kekristenan, seni Kristen beralih dari simbol-simbol tersembunyi ke representasi terbuka.


2. Sarkofagus Junius Bassus (~359 M)

Sarkofagus ini menampilkan adegan-adegan Perjanjian Lama di satu sisi dan Perjanjian Baru di sisi lainnya: Pengorbanan Ishak, Daniel di Kandang Singa, Pengadilan Kristus, serta sosok Santo Petrus dan Paulus.

Dalam banyak hal, sarkofagus ini sangat Romawi sekaligus sangat Kristen โ€” menjadi saksi pentingnya Petrus dan Paulus bagi umat Kristen Roma abad ke-4.


3. Sarkofagus Dua Bersaudara (~350 M)

Berasal dari Basilika San Paolo fuori le Mura, sarkofagus ini dihiasi adegan: kebangkitan Lazarus, penyangkalan Petrus, penggandaan roti dan ikan, serta sejumlah adegan yang melibatkan Santo Petrus โ€” sekali lagi menegaskan sentralitas figur Petrus di Roma.


4. Sarkofagus Dogmatis (320โ€“350 M)

Ditemukan pada abad ke-19 selama restorasi Basilika Santo Paulus, sarkofagus ini dianggap sebagai salah satu contoh terpenting patung Romawi-Kristen dari era Konstantinus.

Disebut โ€œdogmatisโ€ karena penggambarannya merujuk pada dekrit Konsili Nicea. Di bagian atas: representasi Tritunggal Mahakudus menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. Adegan lain: Mukjizat di Kana, kebangkitan Lazarus, penggandaan roti, Pemujaan Orang Majus, Daniel di gua singa, dan tiga adegan tentang Santo Petrus โ€” penyangkalan, penangkapan, dan satu lagi.


5. Sarkofagus Sengsara Kristus (~350 M)

Dari katakombe Domitilla, seluruh dekorasi relief didasarkan pada tema Sengsara dan Kebangkitan Kristus. Di tengah panel depan: Salib dimahkotai monogram Kristus (Chi-Rho) โ€” simbol Anรกstasis (Kebangkitan) โ€” dengan dua prajurit yang tertegun di bawahnya (lih. Mat 28:4).

Sengsara digambarkan sebagai kemenangan, bukan kekalahan โ€” sebuah teologi yang terpahat dalam marmer.


6. Sarkofagus Konstantina (~350 M)

Sarkofagus putri Kaisar Konstantinus ini menampilkan dewa asmara memanen anggur โ€” sebuah gambaran Romawi klasik yang diinkulturasi dengan konotasi Ekaristi. Pendekatan โ€œinkulturasiโ€ semacam ini adalah ciri khas seni Kristen Romawi awal.


7. Sarkofagus Yunus (~300 M)

Ditemukan di situs Basilika Santo Petrus pada akhir abad ke-16, sarkofagus ini dipenuhi pahatan yang berpusat pada kisah Yunus dan ikan paus โ€” sebuah tipologi untuk kematian dan kebangkitan Kristus (lih. Mat 12:40). Terdapat pula adegan-adegan yang berkaitan dengan Santo Petrus.


Kesimpulan: Iman yang Terpahat dalam Batu

Dari kesaksian para Bapa Gereja dan bukti arkeologis Museum Vatikan, beberapa kesimpulan menjadi jelas:

  1. Penggunaan gambar dan patung dalam Kekristenan bukanlah inovasi abad pertengahan โ€” ia sudah ada sejak era katakombe, bahkan sebelum Kekristenan dilegalkan (313 M).

  2. Tidak ada Bapa Gereja yang mengajarkan penyembahan patung โ€” para Bapa justru mengutuk penyalahgunaan, namun membela penggunaan yang benar: sebagai alat pengajaran, inspirasi iman, dan kenangan akan para martir.

  3. Prinsip Gregorius Agung menjadi pedoman abadi: gambar adalah โ€œAlkitab bagi yang buta hurufโ€ โ€” bukan untuk disembah, melainkan untuk dipelajari.

  4. Sarkofagus-sarkofagus Vatikan menunjukkan bahwa umat Kristen perdana tidak ragu menggambarkan Kristus, para rasul, dan adegan-adegan Alkitab dalam seni visual โ€” termasuk representasi Tritunggal, Salib, dan Santo Petrus.

  5. Pembedaan katolik antara latria dan dulia โ€” penyembahan hanya untuk Allah vs penghormatan untuk orang kudus dan gambar suci โ€” memiliki akar yang dalam pada pemikiran patristik, bukan rekayasa abad pertengahan.

Ketika kita berjalan melewati galeri Museum Pio-Kristen Vatikan, kita tidak hanya melihat batu berukir. Kita melihat iman Gereja perdana yang terpahat dalam marmer โ€” iman yang sama yang kita imani hari ini.


Referensi

  1. Bigham, Stephane. Eusebius of Caesarea and Christian Images.
  2. Agustinus. De consensu Evangelistarum; Contra Faustum Manichaeum; De moribus ecclesiae catholicae.
  3. Hieronimus. In Ionam; Surat 51 (Epifanius kepada Yohanes dari Yerusalem).
  4. Paulinus dari Nola. PL, LXI, 884.
  5. Basil dari Kaisarea. Homili 17 tentang Santo Barlaam.
  6. Sirilus dari Aleksandria. Komentar tentang Mazmur.
  7. Gregorius Agung. Surat 105 dan Registrum Epistolarum, Buku 11, Surat 13 kepada Serenus.
  8. Tertulianus. Apology, Bab 16โ€“17.
  9. Photius. Ringkasan Sejarah Gerejawi Philostorgius.
  10. Musei Vaticani โ€” Pio-Christian Museum, koleksi sarkofagus Kristen awal.

Artikel ini disusun berdasarkan analisis terhadap tulisan para Bapa Gereja dan katalog sarkofagus Museum Vatikan. Seluruh kutipan patristik telah diverifikasi dengan sumber-sumber primer.

Artikel Terkait