Pendahuluan
Ada satu jenis argumen yang selalu terdengar meyakinkan pada menit-menit pertama, lalu perlahan berderit seperti kursi kayu tua begitu ditimpa beban lebih lanjut. Argumen Pdt. Dr. Esra Alfred Soru dalam video “Kalau Tuhan Tahu Mereka Akan Masuk Neraka, Kenapa Masih Diciptakan?” adalah salah satu contohnya yang paling rapi dikemas. Ia membangun sebuah bangunan teologis yang megah untuk menjawab persoalan klasik dalam teodisi—yakni upaya rasional membela keadilan dan kebaikan Allah di hadapan realitas penderitaan dan kebinasaan kekal. Bangunan itu ditopang oleh dua analogi pedagogis (pesawat terbang dan keputusan memiliki anak), satu prinsip yang disebut Sola Gratia (anugerah semata), dan satu istilah yang—dengan nada agak bangga—disebut sebagai “makanan keras”: predestinasi. Tulisan ini tidak berhenti pada kekaguman atas kerapian bangunan tersebut. Tulisan ini masuk ke ruang bawah tanahnya, memeriksa fondasinya, dan menunjukkan bahwa beberapa tiang penyangganya—khususnya ketika argumen itu didekatkan pada kerangka lengkap Calvinisme lima pokok yang biasa disingkat TULIP—sebetulnya saling menekan satu sama lain hingga retak. Bukan karena niatnya buruk. Argumen Pdt. Esra Soru justru dibangun dengan itikad yang bisa dipahami dan bahkan patut dihargai: hendak melindungi kedaulatan Allah sekaligus keadilan-Nya, sambil menjaga agar keselamatan tidak direduksi menjadi hasil usaha manusia semata. Persoalannya adalah, ada satu jalan yang sudah tersedia lebih dari empat abad sebelum kanal YouTube ditemukan, yang menyelesaikan dilema itu tanpa harus mengorbankan salah satu dari dua hal yang justru ingin dibela pembicara: kebaikan Allah, dan kebebasan manusia yang bertanggung jawab secara riil atas nasibnya sendiri. Naskah ini disusun bukan sekadar untuk menyanggah, melainkan untuk membedah argumen itu lapis demi lapis: menimbang analoginya, menguji konsistensi internalnya terhadap kerangka Calvinis yang menjadi induknya, memperlihatkan bagaimana rumpun Protestan sendiri—Arminian, Wesleyan, Lutheran—telah lama saling menuduh satu sama lain tidak konsisten dalam perkara yang sama, dan pada akhirnya menunjukkan bagaimana jawaban yang lebih tua, lebih runtut, dan justru lebih menghormati kebebasan manusia tersedia dalam khazanah pemikiran Katolik: mulai dari konsili-konsili kuno, Thomas Aquinas, Luis de Molina, hingga menemukan puncak perwujudannya yang paling indah dalam pribadi Maria. Setiap kutipan konsili, katekismus, dan dokumen doktrinal yang dipakai di sini ditelusuri kembali ke teks resminya, bukan dikutip dari ingatan sekunder, agar bangunan argumen ini tidak jatuh pada kelemahan yang sama yang sedang ia kritik.
I. Pesawat yang (Katanya) Tidak Dirancang untuk Jatuh
Mari mulai dari analogi yang paling dipuja dalam argumen ini: pesawat terbang. Pesawat, kata Pdt. Esra Soru, dirancang untuk terbang, bukan untuk jatuh. Risiko kecelakaan tidak membatalkan niat baik sang perancang maupun kegunaan pesawat itu sendiri. Analogi ini kedengarannya solid—sampai kita bertanya satu pertanyaan sederhana yang seharusnya diajukan sejak awal: apakah parasut, sistem pengaman, dan tim penyelamat tersedia untuk semua penumpang, atau hanya untuk penumpang kelas tertentu yang tiketnya sudah dipesan sejak sebelum pesawat lepas landas? Di sinilah analogi itu, alih-alih menjadi pembela argumen, justru berbalik menjadi pisau bedah yang menelanjanginya. Sebab kerangka teologis yang menaungi ceramah Pdt. Esra Soru bukan teologi generik. Ia adalah teologi Reformed/Calvinis, yang salah satu pilarnya—huruf L dalam akronim TULIP (Total Depravity/Kerusakan Total, Unconditional Election/Pemilihan Tanpa Syarat, Limited Atonement/Penebusan Terbatas, Irresistible Grace/Anugerah yang Tak Tertolakkan, Perseverance of the Saints/Ketekunan Orang Kudus)—menegaskan bahwa Kristus mati hanya untuk orang-orang pilihan (the elect), bukan untuk seluruh umat manusia. Jika demikian, maka bagi kelompok yang tidak dipilih, pesawat itu memang secara harfiah dirancang untuk jatuh: tidak ada parasut yang disediakan bagi mereka sejak awal, karena “remedy” atau solusi penebusan itu sendiri sudah dipatenkan hanya untuk penumpang tertentu sebelum pesawat itu dibuat. Pdt. Esra Soru menyebut Allah sebagai Active Provider—Allah yang telah menyediakan Sang Juruselamat sebagai solusi sebelum dunia dijadikan, sehingga tindakan mencipta menjadi “dibenarkan” secara moral. Ini sebuah gagasan yang indah, bahkan nyaris Katolik nadanya. Tetapi begitu digabungkan dengan doktrin Penebusan Terbatas, gagasan itu menjadi retorika kosong bagi mayoritas manusia yang binasa. Allah tidak menyediakan remedy bagi mereka; Allah hanya menyediakan remedy bagi kelompok yang sudah lebih dulu ditentukan akan menerimanya. Menyebut diri sebagai “penyedia aktif” sambil mengunci pintu gudang obat bagi sebagian besar pasien bukanlah providensi, melainkan pengumuman yang menyesatkan. Persoalan ini bukan sekadar tafsir sistematis Calvinis terhadap teks tertentu, melainkan berhadapan langsung dengan sejumlah nas yang secara historis menjadi medan pertempuran eksegetis di dalam rumpun Protestan sendiri: 1 Timotius 2:6, yang menyebut Kristus menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua orang; 1 Yohanes 2:2, yang menegaskan bahwa pendamaian yang dikerjakan Kristus bukan hanya untuk dosa “kita”, melainkan untuk dosa seluruh dunia; dan 2 Petrus 3:9, yang menyatakan bahwa Allah tidak menghendaki seorang pun binasa, melainkan semua orang berbalik. Ketiga nas ini bukan senjata yang diimpor dari luar tembok Reformasi; ketiganya justru menjadi argumen andalan kaum Arminian dan Wesleyan sendiri—sesama pewaris Sola Scriptura—untuk menolak tepat doktrin Penebusan Terbatas yang menjadi huruf L dalam TULIP. Dengan kata lain, sebelum sampai ke pertanyaan apakah kerangka Calvinis konsisten secara internal, ia sudah harus berhadapan dengan pertanyaan apakah kerangka itu bahkan disepakati secara eksegetis oleh saudara-saudara seiman yang sama-sama tunduk pada otoritas tunggal Alkitab.
II. Ketika “Pilihan Bebas” Adalah Mayat yang Dituduh Melakukan Kejahatan
Argumen kedua yang menopang ceramah ini adalah pemisahan kausalitas: keselamatan sepenuhnya anugerah (Sola Gratia), sedangkan kebinasaan sepenuhnya kesalahan moral manusia yang memberontak dengan kehendak bebasnya. Pemisahan ini terdengar adil—Allah dipuji atas yang baik, manusia dipersalahkan atas yang buruk. Tetapi pemisahan ini hanya bisa berdiri jika manusia yang binasa itu benar-benar memiliki kapasitas riil untuk memilih sebaliknya. Dan di sinilah dua huruf lain dalam TULIP datang untuk meruntuhkan bangunan yang baru saja didirikan. Huruf T (Total Depravity, kerusakan total) mengajarkan bahwa akibat dosa asal, kehendak manusia telah mati secara rohani—tidak sekadar terluka, melainkan tidak mampu sama sekali memilih Allah atau kebaikan sejati tanpa campur tangan anugerah yang tak tertolakkan. Huruf I (Irresistible Grace, anugerah yang tak tertolakkan) menambahkan bahwa hanya orang-orang pilihan yang menerima anugerah regenerasi tersebut, yang secara efektif membangkitkan kehendak yang mati itu. Konsekuensi logisnya sederhana dan tak terelakkan: kelompok yang tidak dipilih tidak pernah, dalam kondisi apa pun, memiliki kapasitas riil untuk memilih Allah—karena kehendak mereka memang mati, dan anugerah yang bisa membangkitkannya sengaja tidak diberikan kepada mereka. Menuduh kelompok ini “binasa karena pilihan bebas mereka sendiri” sama seperti menuduh mayat bersalah karena tidak bangun dan berjalan pergi dari lokasi kejahatan. Inilah persisnya keberatan klasik yang diajukan kaum Arminian terhadap Calvinisme: jika kapasitas untuk merespons anugerah telah sengaja ditahan dari seseorang oleh keputusan kekal Allah sendiri, maka menuntut pertanggungjawaban moral penuh atas kegagalan merespons itu adalah kontradiksi performatif—mengadili seseorang atas ketidakmampuan yang sejak awal telah ditetapkan atasnya. Jacobus Arminius sendiri, dalam pernyataan pembelaannya yang terkenal di hadapan Staten van Holland (Majelis Provinsi Holland—bukan Staten-Generaal, parlemen federal Belanda, sebagaimana kadang keliru disebutkan) di Den Haag pada 30 Oktober 1608 (dikenal sebagai Declaration of Sentiments), secara eksplisit menolak logika predestinasi model ini karena, menurutnya, itu menjadikan Allah sebagai penulis dosa secara tersamar—sebuah tuduhan yang tepat sekali mengenai jantung persoalan yang sedang kita bedah. Konsili Trente sendiri, lebih dari satu abad sebelum kontroversi Arminius-Calvinis meletus, telah mengantisipasi persis argumen “mayat yang dituduh” ini dari arah yang berlawanan. Dalam Dekrit tentang Pembenaran, Kanon 4 menetapkan anatema (kutukan resmi Gereja atas ajaran sesat) bagi siapa pun yang mengatakan bahwa kehendak bebas manusia, yang digerakkan dan dirangsang oleh Allah, sama sekali tidak bekerja sama dalam mempersiapkan dan menyediakan dirinya untuk memperoleh anugerah pembenaran—seolah-olah kehendak itu, seperti benda mati, sama sekali pasif dan tidak berbuat apa-apa selain menerima. Kanon ini menutup dua pintu sekaligus: pintu Pelagianisme yang mengira manusia bisa berbuat baik tanpa anugerah, dan pintu determinisme monergis yang mengira kehendak manusia hanyalah objek pasif yang digerakkan sepenuhnya oleh dekret ilahi tanpa kerja sama riil. Kerusakan Total, ketika digabungkan dengan Anugerah yang Tak Tertolakkan, justru mendarat tepat di pintu kedua ini: kehendak yang “mati total” dan hanya “dibangkitkan” secara efektif oleh anugerah yang tak dapat ditolak bukanlah kehendak yang bekerja sama, melainkan kehendak yang semata-mata digerakkan—persis definisi yang dianatemakan Trente tiga abad sebelum Sinode Dordrecht merumuskan TULIP.
III. “Preterition”: Kata Elegan untuk Mencuci Tangan Teologis
Untuk melunakkan doktrin ini, Pdt. Esra Soru memakai istilah preterition (pembiaran)—Allah tidak secara aktif menetapkan seseorang untuk binasa, Ia hanya “membiarkan” mereka berjalan dalam pilihan moral mereka sendiri. Ini adalah upaya yang sudah lama dikenal dalam sejarah teologi Reformed untuk menghindari tuduhan double predestination (predestinasi ganda)—yakni bahwa Allah bukan hanya memilih siapa yang selamat, tetapi juga secara aktif menetapkan siapa yang binasa. Sayangnya, pembedaan ini adalah pembedaan tanpa perbedaan riil begitu ditelusuri sampai ke ujungnya. Bayangkan seorang dokter yang memiliki obat penawar racun, mengetahui persis siapa yang telah meminum racun itu, memiliki kekuasaan mutlak untuk memberikan penawarnya kepada siapa pun yang ia kehendaki tanpa hambatan apa pun (karena anugerah-Nya irresistible), lalu dengan sengaja memilih untuk tidak memberikan penawar itu kepada sebagian pasien—yang ia sendiri ciptakan, ia sendiri tempatkan dalam situasi tersebut, dan ia sendiri tahu sejak kekekalan bahwa mereka akan mati. Menyebut keputusan itu sebagai “sekadar membiarkan” adalah permainan kata, bukan pembelaan moral. Bahkan di dalam rumpun Calvinisme sendiri terdapat kubu yang disebut Supralapsarian, yang berpendapat justru sebaliknya: bahwa keputusan Allah untuk memilih dan menolak (secara logis) mendahului keputusan-Nya untuk mengizinkan kejatuhan Adam, sehingga “pembiaran” itu bukan reaksi atas dosa, melainkan bagian dari rencana awal itu sendiri. Perdebatan Supralapsarian versus Infralapsarian di dalam tubuh Calvinisme sendiri adalah bukti bahwa “preterition” bukan solusi yang disepakati bulat bahkan oleh mereka yang mewarisi teologi yang sama. John Wesley, pengkhotbah Metodis abad ke-18 yang lahir dan wafat sebagai seorang Protestan taat, tidak repot-repot bersikap diplomatis soal ini. Dalam khotbahnya yang termasyhur, Free Grace (1739), ia menyatakan dengan getir bahwa disebut apa pun doktrin ini—election, preterition, predestination, atau reprobation—semuanya berujung pada hal yang sama, dan bahwa doktrin itu justru merepresentasikan Allah yang mahakudus sebagai pribadi yang lebih kejam, lebih dusta, dan lebih tidak adil dibanding iblis sendiri. Ini bukan kritik dari luar tembok Protestantisme. Ini kritik dari salah satu tokoh Protestan paling berpengaruh dalam sejarah, ditujukan kepada saudara seimannya sendiri yang berbeda mazhab. Jika Wesley, seorang yang tidak punya kepentingan apa pun untuk membela Roma, sampai menyebut doktrin ini sebagai penghinaan terhadap karakter Allah, maka argumen “preterition sebagai jalan tengah yang aman” tidak sesolid yang dikira pembicaranya.
IV. Sola Scriptura dan Menara Babel Hermeneutika
Ada satu ironi yang jarang disadari ketika sebuah doktrin disebut sebagai “makanan keras” Alkitabiah: predikat “keras” sering kali bukan menandakan kedalaman rohani, melainkan menyamarkan ketidaksepakatan tafsir yang mendasar. Prinsip Sola Scriptura—Alkitab sebagai satu-satunya otoritas tertinggi yang mengikat iman, tanpa magisterium atau otoritas pengajaran yang mengikat untuk menafsirkannya secara definitif—seharusnya menghasilkan satu kesimpulan yang seragam jika teksnya benar-benar sejelas yang diklaim. Ironi ini semakin tajam mengingat pengakuan iman Reformed sendiri menegaskan sebaliknya. Pengakuan Iman Westminster (1646), Bab I Pasal 7, menyatakan bahwa hal-hal yang perlu diketahui, dipercayai, dan ditaati demi keselamatan dinyatakan Alkitab dengan begitu jelas sehingga, melalui penggunaan sarana-sarana biasa yang wajar, bahkan orang yang tidak terpelajar sekalipun dapat memperoleh pemahaman yang memadai tentangnya. Jika perspicuitas Scripturae (kejelasan Alkitab) sungguh berlaku sejernih itu untuk perkara sepenting nasib kekal manusia, ketiadaan konsensus selama lebih dari empat abad di antara Calvinis, Arminian, dan Lutheran sendiri—ketiganya sama-sama saleh, sama-sama terpelajar, sama-sama tunduk pada prinsip yang sama—menjadi anomali yang menuntut penjelasan, bukan sesuatu yang bisa dilewati begitu saja. Kenyataannya, prinsip yang sama ini, diterapkan oleh orang-orang yang sama-sama saleh dan sama-sama serius mempelajari Kitab Suci, menghasilkan tiga sistem soteriologi (ajaran tentang keselamatan) yang saling bertentangan secara struktural:
| Isu Teologis | Calvinis / Reformed | Arminian / Wesleyan | Lutheran |
|---|---|---|---|
| Penebusan Kristus | Terbatas—hanya untuk orang pilihan | Universal—untuk seluruh manusia | Universal—untuk semua, diterima lewat iman/sakramen |
| Kehendak Bebas | Mati total, tak mampu merespons tanpa anugerah khusus | Dipulihkan oleh prevenient grace bagi semua orang | Terikat dalam perkara ilahi, bebas dalam perkara duniawi |
| Predestinasi | Pemilihan tanpa syarat (Unconditional Election) | Berdasarkan pengetahuan Allah atas iman (Conditional Election) | Tunggal—hanya untuk keselamatan, bukan untuk kebinasaan |
| Status Keselamatan | Tidak bisa hilang (Perseverance of the Saints) | Bisa hilang jika manusia murtad | Bisa jatuh dari rahmat jika kehilangan iman |
Ketiga mazhab ini membaca Alkitab yang sama persis, mengklaim dituntun Roh Kudus yang sama persis, dan menghasilkan peta soteriologi yang saling meniadakan satu sama lain di titik-titik paling krusial. Kalvinis menuduh Arminian meremehkan kedaulatan Allah; Arminian menuduh Kalvinis mencemari karakter Allah dengan predestinasi ganda terselubung; Lutheran mengambil jalan tengah yang, menurut kedua pihak lain, tidak konsisten secara logis karena menerima predestinasi tunggal tanpa penjelasan memadai mengapa sebagian orang tetap tidak percaya jika anugerah ditawarkan secara universal. Prinsip yang katanya menjadi “kejelasan Alkitab” (perspicuitas Scripturae) justru melahirkan kekacauan tafsir yang telah berlangsung lebih dari lima abad tanpa jalan keluar internal—karena tidak ada otoritas pengajaran yang diakui bersama untuk memutuskan siapa yang benar. Inilah persisnya konsekuensi struktural dari meniadakan Magisterium yang hidup: setiap generasi, setiap sinode, setiap pengkhotbah menjadi otoritas penafsir bagi dirinya sendiri.
V. Jawaban yang Sudah Tersedia Empat Abad Lalu
Di sinilah letak ironi terbesarnya. Persoalan yang coba dijawab Pdt. Esra Soru—bagaimana mendamaikan pengetahuan Allah yang mahatahu (omniscience, pengetahuan yang meliputi segala sesuatu termasuk masa depan) dengan kebebasan manusia yang bertanggung jawab secara riil—sudah dijawab dengan lebih tuntas oleh seorang teolog Yesuit Spanyol bernama Luis de Molina, jauh sebelum Calvinisme lima pokok dirumuskan secara formal di Sinode Dordrecht (1618–1619). Dalam karya monumentalnya, Concordia liberi arbitrii cum gratiae donis, divina praescientia, providentia, praedestinatione et reprobatione (Keselarasan Kehendak Bebas dengan Karunia Anugerah, Pengetahuan Ilahi, Providensi, Predestinasi, dan Reprobasi), terbit di Lisabon tahun 1588, Molina memperkenalkan konsep scientia media atau “pengetahuan tengah” (middle knowledge). Konsep ini menjelaskan bahwa Allah, selain mengetahui segala sesuatu yang niscaya (scientia naturalis) dan segala sesuatu yang benar-benar akan terjadi (scientia visionis), juga memiliki pengetahuan tengah: Ia tahu persis apa yang akan dipilih secara bebas oleh setiap makhluk rasional dalam setiap kemungkinan situasi yang bisa saja terjadi—tanpa pengetahuan itu sendiri yang menyebabkan pilihan tersebut. Allah mengetahui secara pasti bahwa seseorang akan menolak Injil dalam keadaan tertentu, bukan karena Allah menetapkannya untuk menolak, melainkan karena itulah yang secara bebas akan dipilih orang tersebut, dan Allah—dari kekekalan-Nya yang melampaui waktu—melihatnya sebagaimana adanya. Kejujuran akademis menuntut satu catatan penting di sini: kerangka scientia media Molina bukanlah satu-satunya jawaban Katolik yang sah atas persoalan ini, dan Gereja tidak pernah mendogmakannya sebagai satu-satunya pandangan yang diizinkan. Selama sepuluh tahun (1598–1607), Kongregasi de Auxiliis yang dibentuk Paus Klemens VIII mempertemukan para teolog Dominikan—yang membela premosi fisik ala Thomistik dalam versi Domingo Báñez—melawan para teolog Yesuit yang membela scientia media ala Molina, dalam salah satu perdebatan teologis paling intensif dalam sejarah Gereja. Setelah bertahun-tahun sidang tanpa henti, Paus Paulus V membubarkan kongregasi itu pada 1607 tanpa mengutuk salah satu pihak, mengizinkan kedua mazhab tetap diajarkan sambil melarang tuduhan bidah di antara keduanya—sebuah keputusan yang dikukuhkan kembali oleh Konstitusi Apostolicae Providentiae Officio Paus Klemens XII pada 1733. Artinya, dalam menjawab dilema yang sama persis dengan yang diajukan Pdt. Esra Soru, Gereja Katolik memiliki lebih dari satu peta jalan doktrinal yang sah—Thomisme Bañezian maupun Molinisme—namun keduanya bersepakat penuh pada satu titik yang justru menjadi jantung sengketa ini: tidak ada dekret ilahi yang menetapkan kebinasaan seseorang secara sepihak, sebelum dan terlepas dari dosa riil orang itu sendiri. Perbedaan Thomis-Molinis adalah perbedaan tentang mekanisme metafisika rahmat; keduanya sama sekali tidak berbeda soal penolakan predestinasi ganda. Inilah preseden lugas bahwa Gereja mampu menoleransi misteri yang belum tuntas dijelaskan secara teknis, tanpa harus—seperti yang terjadi pada preterition—menyamarkan sebuah kontradiksi moral di baliknya. Thomas Aquinas, jauh sebelum Molina, telah meletakkan dasar bagi pembedaan ini dalam Summa Theologiae (I, q.19, a.6 dan I, q.23), yang menegaskan bahwa Allah menghendaki kebaikan secara langsung namun hanya mengizinkan (permittit) kejahatan terjadi demi menghormati kebebasan ciptaan rasional—sebuah pengizinan yang sama sekali berbeda secara kategoris dari penetapan aktif. Konsili Trente, yang berlangsung 1545–1563 sebagai jawaban Gereja Katolik terhadap gelombang Reformasi, telah menegaskan hal ini dengan bahasa yang tegas dan tanpa ambiguitas. Dalam Dekrit tentang Pembenaran, Kanon 6 menyatakan bahwa siapa pun yang mengatakan bukan kuasa manusia sendiri untuk membuat jalannya menjadi jahat, melainkan Allah sendiri yang menghasilkan karya jahat sama seperti karya baik—sehingga pengkhianatan Yudas tidak kurang merupakan karya Allah dibanding panggilan Rasul Paulus—orang itu terkena anatema. Kanon 17 lebih tajam lagi menyasar persis argumen yang sedang kita bedah: siapa pun yang mengatakan bahwa anugerah pembenaran hanya dibagikan kepada mereka yang dipredestinasikan untuk hidup, sedangkan semua yang lain yang dipanggil memang dipanggil tetapi tidak menerima anugerah karena telah dipredestinasikan untuk kebinasaan oleh kuasa ilahi, orang itu terkena anatema. Ini adalah penolakan eksplisit terhadap kerangka Limited Atonement dan Unconditional Reprobation sekaligus, ditetapkan lebih dari tujuh puluh tahun sebelum Sinode Dordrecht merumuskan TULIP. Bahkan lebih jauh ke belakang, Konsili Orange II tahun 529—yang disahkan oleh Paus Bonifasius II dan diakui memiliki kekuatan definisi doktrinal—telah menyatakan dalam kesimpulannya bahwa Gereja tidak hanya tidak percaya ada seorang pun yang dipredestinasikan untuk kejahatan oleh kuasa ilahi, tetapi menyatakan dengan kengerian penuh bahwa siapa pun yang ingin mempercayai kejahatan sebesar itu, ia terkena anatema. Konsili ini disahkan untuk melawan ajaran Semi-Pelagian yang meremehkan keutamaan anugerah, sehingga sepenuhnya menegaskan Sola Gratia dalam pengertian yang tepat—inisiatif keselamatan sepenuhnya dari Allah—tanpa sedikit pun jatuh ke dalam predestinasi ganda. Dengan kata lain: Gereja Katolik telah menegaskan Sola Gratia yang sejati sekaligus menolak predestinasi ganda, seribu seratus tahun sebelum Calvinisme mencoba melakukan hal serupa dan bergumul menjaga konsistensinya sendiri. Katekismus Gereja Katolik meringkas keseluruhan kerangka ini dalam dua nomor yang saling melengkapi. KGK 600 menegaskan bahwa bagi Allah, semua momen waktu hadir dalam keabadian-Nya sekaligus, sehingga rencana-Nya tentang keselamatan mencakup tanggapan bebas setiap manusia terhadap anugerah-Nya sebagai bagian dari misteri predestinasi yang mahakuasa—pengetahuan Allah atas masa depan bukanlah paksaan atas kehendak, melainkan penglihatan penuh atas apa yang bebas dipilih. KGK 1037 menyatakan secara langsung: Allah tidak mempredestinasikan seorang pun untuk pergi ke neraka; yang diperlukan untuk itu adalah penolakan yang disengaja terhadap Allah, sebuah dosa berat, dan bertahan di dalamnya sampai akhir hayat.
VI. Mereka yang Tak Pernah Mendengar Injil: Bukan Korban “Preterition”
Pertanyaan asli yang memicu seluruh ceramah ini adalah tentang nasib mereka yang tidak pernah mendengar Injil. Di sinilah kontradiksi TULIP menjadi paling menyakitkan secara pastoral. Jika penebusan Kristus memang terbatas hanya untuk orang pilihan, maka bagi kelompok yang tidak pernah mendengar Injil dan kebetulan bukan termasuk orang pilihan, mereka memang sejak kekekalan tidak pernah punya kemungkinan sama sekali untuk diselamatkan—bukan karena kesalahan riil mereka, melainkan karena keputusan Allah untuk tidak menyediakan penebusan bagi mereka sejak semula. Ajaran Katolik berangkat dari premis yang sama sekali berbeda: kehendak keselamatan universal Allah (voluntas salvifica universalis), yang ditegaskan gamblang dalam 1 Timotius 2:4, bahwa Allah menghendaki semua orang diselamatkan dan sampai kepada pengetahuan akan kebenaran. Konsili Vatikan II, dalam Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium nomor 16, menyatakan bahwa mereka yang tanpa kesalahan mereka sendiri tidak mengenal Injil Kristus atau Gereja-Nya, namun mencari Allah dengan hati yang tulus, dan berusaha—digerakkan oleh anugerah—melakukan kehendak-Nya sebagaimana diketahui melalui suara hati, mereka pun dapat mencapai keselamatan kekal. Dokumen ini bahkan menegaskan bahwa penyelenggaraan ilahi tidak akan menolak bantuan yang diperlukan bagi keselamatan orang-orang yang, tanpa kesalahan mereka sendiri, belum sampai pada pengetahuan eksplisit tentang Allah. Titik pijak biblika bagi ajaran ini bukan spekulasi belaka, melainkan Roma 2:14–16, di mana Rasul Paulus sendiri menyatakan bahwa bangsa-bangsa bukan Yahudi yang tidak memiliki hukum Taurat namun secara naluri melakukan apa yang dituntut hukum itu menunjukkan bahwa hukum itu tertulis dalam hati mereka, dengan suara hati turut bersaksi—sebuah kesaksian tentang tanggung jawab moral riil yang tidak bergantung pada akses formal terhadap wahyu tertulis. Katekismus Gereja Katolik nomor 847–848 menegaskan ulang ajaran ini sembari tetap menjaga keutuhan ajaran tentang perlunya Gereja untuk keselamatan (Extra Ecclesiam Nulla Salus)—dua ajaran yang, alih-alih saling meniadakan, justru saling melengkapi: keperluan Gereja bersifat obyektif dalam tata keselamatan, sementara Allah, dengan cara yang hanya Ia ketahui, dapat menuntun mereka yang tanpa kesalahan mereka sendiri tidak mengenal Injil kepada iman yang tanpanya mustahil berkenan kepada-Nya, sebagaimana juga ditegaskan Dekrit Ad Gentes nomor 7. Perhatikan betapa berbedanya kerangka ini dari “preterition”: dalam ajaran Katolik, ketidaktahuan akan Injil bukan tanda seseorang telah “dilewatkan” oleh dekret kekal, melainkan situasi historis yang tidak menghalangi rahmat Kristus untuk bekerja secara tak kelihatan sejauh orang tersebut menanggapi cahaya yang tersedia baginya dengan tulus.
VII. Puncak Penyediaan Sejak Kekekalan: Maria
Jika ada satu gagasan dalam ceramah Pdt. Esra Soru yang layak dipuji karena kedalamannya, itu adalah gagasan bahwa Allah telah menyediakan solusi penebusan sebelum dunia dijadikan—Allah sebagai Active Provider yang tidak menunggu penyakit dosa muncul lebih dulu baru mencari obatnya. Ironinya, gagasan ini menemukan pemenuhannya yang paling konkret, paling historis, dan paling indah bukan dalam Calvinisme, melainkan dalam sebuah dogma Katolik yang sudah berusia hampir dua abad: Maria Dikandung Tanpa Noda (Immaculata Conceptio). Paus Pius IX, dalam Konstitusi Apostolik Ineffabilis Deus (8 Desember 1854), mendefinisikan bahwa Perawan Maria Yang Terberkati, pada saat pertama pengandungannya, oleh anugerah dan hak istimewa yang khas dari Allah Yang Mahakuasa dan mengingat jasa-jasa Yesus Kristus, Penyelamat umat manusia, telah dijaga bebas dari segala noda dosa asal. Perhatikan frasa kuncinya: “mengingat jasa-jasa Yesus Kristus”—in view of the merits of Jesus Christ. Ini berarti pahala penebusan Kristus yang akan terjadi berabad-abad kemudian secara kekal diperhitungkan lebih dahulu (praeredemptio, penebusan yang diperhitungkan di muka) untuk menjaga Maria bebas dari noda sejak detik pertama keberadaannya. Inilah bukti historis dan dogmatis paling nyata bahwa Allah memang menyediakan remedy sebelum “penyakit” itu menyentuh subjeknya—jauh lebih konkret daripada sekadar prinsip abstrak “Allah tahu solusi-Nya sebelum kekekalan” yang diucapkan dalam ceramah tersebut. Doktrin Maria sebagai Hawa Baru (Nova Eva) melengkapi gambaran ini. Sejak abad kedua, para Bapa Gereja seperti Yustinus Martir, Ireneus dari Lyon, dan Tertulianus telah membangun paralel antipodal antara Hawa dan Maria: jika Hawa menggunakan kehendak bebasnya untuk memberontak dan membawa kebinasaan, Maria—dengan kehendak bebas yang telah dipulihkan sepenuhnya oleh rahmat, tanpa noda sedikit pun yang mengaburkan kapasitasnya untuk merespons—menggunakan kehendak bebas itu untuk berkata “Fiat” (Lukas 1:38), menjadi titik pertemuan sempurna antara inisiatif ilahi dan tanggapan manusiawi yang bebas dan tidak dipaksa. Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium nomor 56 bahkan menyebut bahwa Maria telah dipredestinasikan sejak kekekalan bersamaan dengan penjelmaan Sabda Allah untuk menjadi Bunda Allah. Di sinilah predestinasi mendapatkan wajahnya yang sesungguhnya dalam ajaran Katolik: bukan dekret sepihak yang mengabaikan kehendak bebas, melainkan rencana kekal Allah yang justru direalisasikan melalui, bukan meskipun, kebebasan riil ciptaan-Nya yang paling sempurna. Di titik ini perlu kejujuran dan kehati-hatian ekstra, sebab Gereja sendiri baru saja memperbarui ketegasannya soal gelar-gelar Maria. Dokumen doktrinal Mater Populi Fidelis yang diterbitkan Dikasteri untuk Ajaran Iman pada 4 November 2025—disetujui Paus Leo XIV pada 7 Oktober tahun yang sama—menegaskan dalam paragraf 22 bahwa gelar “Co-redemptrix” (Rekan Penebus) selalu tidak pantas dipakai untuk mendefinisikan kerja sama Maria, karena berisiko mengaburkan keunikan mediasi Kristus. Paragraf 67 menambahkan bahwa gelar “Mediatrix Segala Rahmat” memiliki keterbatasan yang tidak mendukung pemahaman yang benar tentang tempat khas Maria—sebab Maria sendiri, sebagai yang pertama ditebus, tidak mungkin menjadi perantara rahmat yang ia sendiri terima sebagai anugerah cuma-cuma, sebelum tindakan apa pun dari dirinya sendiri. Dokumen ini secara eksplisit mengutip pandangan pribadi (votum) Kardinal Joseph Ratzinger dalam rapat Feria IV tanggal 21 Februari 1996, ketika ia menjawab “negatif” atas permintaan gerakan Vox Populi Mariae Mediatrici untuk mendogmakan gelar-gelar itu, dengan alasan makna presisnya belum jernih dan doktrin di baliknya belum matang untuk dimasukkan ke dalam Depositum Fidei—pandangan yang ia ulangi secara terbuka pada 2002 dalam sebuah wawancara. Maka ketika Maria disebut sebagai puncak “penyediaan solusi sejak kekekalan”, hal itu harus dipahami tepatnya sebagai kerja sama yang partisipatif dan sepenuhnya bergantung pada Kristus (LG 62)—bukan sebagai mediasi paralel yang menyaingi-Nya. Gelar yang jauh lebih aman dan justru sudah lama diterima tanpa kontroversi adalah “Bunda Kerahiman” (Mater Misericordiae) dan “Bunda Umat Beriman” (Mater Populi Fidelis itu sendiri)—gelar-gelar yang menempatkan Maria persis di mana dogma memang menempatkannya: sebagai bunda yang menemani, bukan sebagai penyalur alternatif rahmat.
Kesimpulan
Ceramah Pdt. Esra Soru berhasil membangun sesuatu yang terasa megah pada pandangan pertama: teodisi yang rapi, analogi yang mudah dicerna, dan sebuah frasa yang kedengarannya dalam—“makanan keras”. Namun begitu bangunan itu ditimbang dengan neraca konsistensi internalnya sendiri, ia runtuh di titik yang justru paling ia banggakan. Analogi pesawat, jika jujur diterapkan pada doktrin Penebusan Terbatas, membuktikan bahwa bagi sebagian penumpang pesawat itu memang dirancang untuk jatuh sejak dari hanggar—sebuah kesimpulan yang bahkan tidak disepakati oleh sesama pewaris Sola Scriptura yang membaca 1 Timotius 2:6 dan 1 Yohanes 2:2 secara berbeda. Pemisahan antara “keselamatan sebagai anugerah” dan “kebinasaan sebagai pilihan bebas” runtuh begitu berhadapan dengan Kerusakan Total dan Anugerah yang Tak Tertolakkan, yang bersama-sama menghapus kapasitas riil manusia non-pilihan untuk memilih sebaliknya—sebuah penghapusan yang justru dianatemakan lebih dulu oleh Konsili Trente dalam Kanon 4-nya. “Preterition” terbukti sekadar mantel bahasa yang membungkus predestinasi ganda tanpa mengubah substansinya—sebagaimana disaksikan oleh kritik tajam John Wesley sendiri, seorang Protestan sejati, terhadap saudara-saudara Calvinisnya. Dan Sola Scriptura, alih-alih menghasilkan kejelasan tunggal yang dijanjikan Pengakuan Iman Westminster sendiri, menghasilkan tiga peta soteriologi yang saling berbenturan di antara Calvinis, Arminian, dan Lutheran sendiri—bukti hidup bahwa Alkitab tanpa otoritas pengajaran yang mengikat tidak bisa menyelesaikan sengketa yang ia timbulkan sendiri. Yang mengejutkan bukanlah bahwa argumen ini gagal, melainkan betapa dekatnya argumen ini sebenarnya dengan jawaban yang benar—dan betapa jawaban yang benar itu sudah tersedia jauh lebih dulu di luar tembok yang dibangunnya sendiri. Molina menunjukkan bahwa pengetahuan ilahi dan kebebasan manusia bisa didamaikan tanpa determinisme lewat scientia media—dan bahkan ketika Gereja sendiri, lewat Kongregasi de Auxiliis, memilih untuk tidak memutuskan secara final antara jalan Molina dan jalan Thomistik, itu bukan kegagalan melainkan kerendahan hati epistemik yang justru langka: mengakui batas kemampuan nalar manusia menembus mekanisme persis kehendak Allah, tanpa sekali pun mengorbankan kepastian dogmatis bahwa Allah tidak pernah menetapkan seorang pun untuk binasa. Aquinas dan Konsili Trente menunjukkan bahwa Allah mengizinkan kejahatan tanpa menghasilkannya, dan bahwa kehendak bebas tetap utuh sesudah dosa asal—bukan mati total. Konsili Orange menunjukkan bahwa Sola Gratia sejati bisa ditegaskan tanpa jatuh ke predestinasi ganda, seribu seratus tahun sebelum Dordrecht mencoba dan bergumul menjaga konsistensinya. Dan Lumen Gentium, ditopang Roma 2:14–16, menunjukkan bahwa mereka yang tak pernah mendengar Injil tidak perlu menjadi korban dekret pelewatan, karena kehendak keselamatan Allah sungguh universal, bukan terbatas pada kalkulasi kekal yang mengunci pintu sejak semula. Pada akhirnya, gagasan bahwa Allah “menyediakan solusi sebelum penciptaan” memang benar—hanya saja bukti paling nyata dan paling konkretnya bukan sebuah dekret abstrak yang justru terbelah menjadi keadilan bagi sebagian dan anugerah bagi sebagian lainnya, melainkan seorang perempuan muda dari Nazaret yang, dengan kehendak bebasnya yang telah dipulihkan penuh oleh rahmat yang sama sekali tidak dipaksakan, berkata “Fiat”—dan melaluinya, pintu keselamatan yang sungguh-sungguh terbuka bagi semua orang, bukan hanya bagi mereka yang kebetulan sudah memegang tiket sejak sebelum pesawat lepas landas.
Daftar Referensi
- Pdt. Dr. Esra Alfred Soru, “Kalau Tuhan Tahu Mereka Akan Masuk Neraka, Kenapa Masih Diciptakan?”, kanal YouTube pribadi.
- Alkitab: 1 Timotius 2:4, 6; 1 Yohanes 2:2; 2 Petrus 3:9; Roma 2:14–16; Lukas 1:38.
- Katekismus Gereja Katolik, no. 600, 847, 848, 1037.
- Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatis Lumen Gentium (21 November 1964), art. 16, 56, 62: AAS 57 (1965).
- Konsili Vatikan II, Dekrit Ad Gentes (7 Desember 1965), art. 7.
- Paus Pius IX, Konstitusi Apostolik Ineffabilis Deus (8 Desember 1854): Pontificis Maximi Acta, Roma 1854, 597–619 (DH 2803).
- Konsili Trente, Sesi VI, Decretum de Iustificatione, Kanon 4, 5, 6, 17 (13 Januari 1547).
- Konsili Orange II (529), Kesimpulan (Conclusio), disahkan Paus Bonifasius II.
- Thomas Aquinas, Summa Theologiae I, q.19 a.6; I, q.23.
- Luis de Molina, Concordia liberi arbitrii cum gratiae donis, divina praescientia, providentia, praedestinatione et reprobatione, Lisabon, 1588.
- Kongregasi de Auxiliis (1598–1607), dibentuk Paus Klemens VIII; keputusan pembubaran oleh Paus Paulus V (1607); dikukuhkan kembali oleh Paus Klemens XII, Konstitusi Apostolicae Providentiae Officio (1733).
- Sinode Dordrecht, Canons of Dort, Pokok Ajaran I, Pasal 6 dan 15 (1618–1619).
- Jacobus Arminius, Declaration of Sentiments, disampaikan di hadapan Staten van Holland, Den Haag, 30 Oktober 1608.
- John Wesley, “Free Grace” (Khotbah no. 128), Bristol, 1739.
- Pengakuan Iman Westminster (Westminster Confession of Faith), Bab I Pasal 7 (1646).
- Dikasteri untuk Ajaran Iman, Mater Populi Fidelis: Catatan Doktrinal tentang Beberapa Gelar Maria Berkaitan dengan Kerja Sama Maria dalam Karya Keselamatan (4 November 2025), art. 22, 67, disetujui Paus Leo XIV.
- J. Ratzinger, Minutes of the Feria IV of 21 February 1996, Arsip Dikasteri untuk Ajaran Iman.
- J. Ratzinger – P. Seewald, God and the World: Believing and Living in Our Time: A Conversation with Peter Seewald, San Francisco, 2002, hlm. 306.
- Justin Martir, Dialogus cum Tryphone, 100; Ireneus dari Lyon, Adversus Haereses III, 22, 4; Tertulianus, De Carne Christi, 17, 5.