Damai Kasih Channel
DKC
Damai Kasih Channel
Home

Sola-Sola yang Saling Menelan: Sebuah Potret Kekacauan Internal Protestantisme

Analisis kritis bagaimana empat doktrin utama Protestantisme—sola fide, solus Christus, predestinasi ganda, dan final sanctification—saling bertabrakan dan menciptakan kontradiksi internal yang tak terselesaikan

Tim DKC ·
Bagikan:
Sola-Sola yang Saling Menelan: Sebuah Potret Kekacauan Internal Protestantisme
100%
Daftar Isi

Sola-Sola yang Saling Menelan: Sebuah Potret Kekacauan Internal Protestantisme

Pendahuluan: Reformasi, Proyek Ambisius yang Melahirkan Benang Kusut

Ketika Martin Luther memakukan 95 tesisnya—yang sebenarnya hanyalah daftar 95 tuntutan protes akademis—di pintu Gereja Wittenberg pada 31 Oktober 1517, ia tidak sedang merencanakan sebuah sistem teologi yang rapi. Ia hanya ingin menggugat praktik penjualan indulgensi, alias surat sakti pengampunan dosa yang diperjualbelikan seperti tiket surga, yang menurutnya sudah melampaui batas nalar. Namun dari protes kecil itu, lahirlah gerakan yang kemudian dikenal sebagai Reformasi Protestan—sebuah gelombang besar yang mengguncang Eropa dan membelah Kekristenan Barat menjadi dua.

Reformasi mengusung semboyan-semboyan bahasa Latin yang terdengar begitu gagah dan berwibawa: sola scriptura (hanya Alkitab), sola fide (hanya iman), sola gratia (hanya anugerah atau pemberian cuma-cuma dari Tuhan), solus Christus (hanya Kristus), dan soli Deo gloria (hanya bagi kemuliaan Allah). Semboyan-semboyan ini dimaksudkan sebagai fondasi baru yang kokoh, menggantikan apa yang dianggap sebagai bangunan rapuh tradisi Gereja Katolik yang telah ditambahi begitu banyak aturan buatan manusia. Namun, jika kita berhenti sejenak dari gemuruh pujian dan melihat ke dalam jantung sistem ini, kita akan menemukan sesuatu yang jauh dari kata kokoh. Kita akan menemukan papan-papan yang saling bertabrakan, balok yang menekan balok lain hingga retak, dan para pemikir yang bersikeras bahwa semua kekacauan itu justru merupakan keindahan desain ilahi.

Bayangkanlah sebuah rumah yang dibangun dengan empat pilar utama. Namun setelah diperiksa lebih saksama, ternyata pilar pertama menusuk pilar kedua, pilar ketiga menghantam fondasi, dan pilar keempat justru membuat seluruh bangunan miring dan limbung. Itulah gambaran yang akan kita temukan ketika memeriksa interaksi antara empat ajaran besar ini: doktrin sola fide (pembenaran status manusia di hadapan Tuhan hanya oleh iman), solus Christus (keselamatan hanya melalui Kristus), predestinasi ganda (ketetapan mutlak kekal dari Tuhan sejak awal dunia bahwa sebagian orang diatur untuk selamat dan sebagian lagi diatur untuk masuk neraka), dan final sanctification alias pengudusan akhir yang secara gaib menyempurnakan kesalehan hidup orang percaya sebelum masuk surga. Keempat ajaran ini, yang sama-sama dipegang erat oleh berbagai golongan Protestan—terutama dalam tradisi Reformed yang berakar pada pemikiran Yohanes Calvin dan tradisi Lutheran yang berakar pada Martin Luther—ternyata tidak hanya tidak saling mendukung. Mereka justru saling menggerogoti dari dalam, menciptakan pemandangan teologis yang penuh kontradiksi, jungkir-balik logika, dan keganjilan yang kadang-kadang terasa begitu ironis hingga nyaris menggelikan.

Esai ini akan mengajak Anda berjalan-jalan ke dalam labirin tersebut. Bukan untuk mengejek secara kosong, melainkan untuk memperlihatkan bagaimana upaya manusia merumuskan misteri Tuhan bisa berakhir dalam kekacauan yang anggun—sebuah tarian kata-kata yang terus-menerus memutar, melompat, dan akhirnya jatuh tersandung kakinya sendiri. Perjalanan ini akan kita lakukan dengan menyigi langsung pernyataan-pernyataan para tokoh kunci, dokumen pengakuan iman yang dianggap paling berwibawa, dan penalaran yang coba mereka bangun. Dan di sepanjang jalan, kita akan sesekali terpaksa tersenyum menyaksikan betapa anehnya labirin ini.

Namun, kekacauan ini tidak hanya tinggal di atas kertas. Ia merembes ke dalam jiwa-jiwa umat yang berusaha menghidupi doktrin-doktrin tersebut dan ke dalam tatanan sosial yang dibangun di atasnya. Gerakan Reformasi, yang awalnya berteriak lantang tentang kebebasan hati nurani dari kekuasaan Paus, justru dalam banyak kasus melahirkan bentuk-bentuk belenggu psikologis yang baru. Ketika doktrin-doktrin ini bersitegang, bukan hanya para ahli agama yang pusing, tetapi juga para petani, pedagang, dan ibu rumah tangga yang harus mencari kepastian nasib akhirat mereka di tengah kontradiksi yang membingungkan. Max Weber, sosiolog terkemuka asal Jerman yang mengamati jejak budaya Protestan, menyebut dalam karya monumentalnya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (diterjemahkan oleh Talcott Parsons, Routledge Classics, London, 2001, hlm. 69–70) bahwa Reformasi tidak sekadar mengganti satu sistem ajaran dengan ajaran lain. Gerakan ini justru menciptakan sebuah konsep re-enchantment atau “dunia yang tersihir ulang” dengan cara yang sama sekali baru—sebuah dunia di mana setiap detak jantung dan bahkan setiap keberhasilan bisnis bisa dibaca sebagai kode rahasia yang mengintip status gaib seseorang di hadapan kekekalan akhirat. Dan kode itu, seperti yang akan kita lihat, penuh dengan paradoks yang bikin geleng-geleng kepala.

1. Sketsa Keempat Pemeran Utama

Sebelum masuk ke dalam arena pertikaian, mari kita kenali dulu siapa saja karakter utama yang akan saling baku hantam di atas panggung teologi ini.

Sola fide (istilah bahasa Latin yang artinya “hanya iman”) adalah doktrin yang menegaskan bahwa manusia dibenarkan—alias status hukumnya dinyatakan “tidak bersalah” dan diterima di hadapan Tuhan—semata-mata melalui iman kepada Yesus Kristus. Ini berarti semua perbuatan baik, upacara keagamaan, atau usaha moral apa pun sama sekali tidak punya nilai tawar. Martin Luther merumuskan ini sebagai “pasal pokok yang menjadi sandaran semua ajaran kita.” Ia bahkan begitu berani menambahkan kata “saja” ke dalam ayat Roma 3:28 di Alkitab terjemahannya sendiri sehingga menimbulkan kontroversi sengit yang memicu amarah para teolog Katolik. Bagi Luther, iman bukan sekadar persetujuan otak, melainkan kepercayaan yang hidup dan nekat. Sebagaimana ia tulis dalam “Kata Pengantar untuk Surat Roma” pada tahun 1522, yang tercatat dalam Luther’s Works, Volume 35 (diedit oleh Jaroslav Pelikan, Concordia Publishing House, St. Louis, 1960, hlm. 370):

“Iman adalah kepercayaan yang hidup dan berani pada anugerah Allah, begitu yakin akan perkenanan Allah sehingga ia berani mempertaruhkan nyawa seribu kali dengan mengandalkannya.”

Dengan kata lain, iman adalah tangan kosong seorang pengemis yang hanya bertugas menerima hadiah cuma-cuma tanpa perlu bekerja.

Solus Christus (“hanya Kristus”) adalah saudara kembar dari sola fide. Doktrin ini menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya perantara dan jembatan tunggal antara Tuhan dan manusia. Tidak ada perbuatan manusia, tidak ada doa atau jasa orang-orang kudus yang sudah meninggal, dan tidak ada ritual sakramen gereja yang bisa menambahi apa yang telah Kristus kerjakan secara tuntas di kayu salib. Keselamatan sepenuhnya terletak di dalam pribadi dan karya Kristus.

Predestinasi ganda (double predestination) adalah anak kandung dari konsep sola gratia (hanya anugerah atau pemberian cuma-cuma) yang dibesarkan secara ekstrem oleh Yohanes Calvin dan para pengikut setianya. Doktrin ini mengajarkan bahwa sejak kekekalan, jauh sebelum dunia ini diciptakan, Tuhan telah menetapkan skenario mutlak: sebagian orang dipilih untuk diselamatkan (disebut sebagai kelompok election atau kaum pilihan) dan sebagian lainnya sengaja ditolak untuk dimasukkan ke neraka (disebut sebagai kelompok reprobation atau kaum buangan). Keputusan sepihak ini sama sekali tidak didasarkan pada iman, kebaikan, atau apa pun yang akan dilakukan manusia di masa depan, melainkan semata-mata pada kehendak bebas Tuhan yang misterius. Dalam buku panduannya yang terkenal, Institutio Pengajaran Agama Kristen (Institutes of the Christian Religion, Buku III, Bab 21, Bagian 5; diedit oleh John T. McNeill, diterjemahkan oleh Ford Lewis Battles, Westminster Press, Philadelphia, 1960, Volume 2, hlm. 926), Calvin menulis dengan sangat jujur tanpa teduh aling-aling:

“Kami menyebut predestinasi sebagai ketetapan kekal Allah, yang dengannya Ia menentukan sendiri apa yang Ia kehendaki terjadi atas setiap orang. Tidak semua diciptakan dalam keadaan yang sama; melainkan sebagian ditentukan untuk hidup kekal, sebagian lagi untuk hukuman kekal.”

Perhatikan bahwa Calvin tidak menggunakan kata yang halus. Ia tidak mengatakan Tuhan hanya “membiarkan” atau “mengizinkan” orang jatuh ke neraka secara pasif, melainkan secara aktif “menentukan sejak awal” (foreordained). Ini adalah keputusan ketok palu yang agresif sejak awal waktu, bukan sekadar melihat masa depan secara pasif.

Final sanctification (pengudusan akhir) mungkin terdengar seperti istilah teknis yang rumit, namun artinya cukup sederhana. Dalam ajaran kaum Reformed (pengikut Calvin), orang yang dipilih Tuhan bukan hanya diberi status benar secara instan (justification), tetapi juga harus melewati proses sanctification atau pengudusan—yaitu proses seumur hidup di mana Roh Kudus secara bertahap memaksa tabiat orang percaya menjadi semakin saleh, baik, dan suci seperti Kristus. Nah, “final sanctification” adalah titik puncak dari proses ini, di mana pada saat kematian menjemput atau saat kiamat tiba, sisa-sisa dosa dalam diri orang tersebut akan dihapus secara instan. Tanpa pengudusan ini, kata Kitab Suci, “tidak seorang pun akan melihat Tuhan” (Ibrani 12:14). Jadi, kesucian hidup di akhir hayat adalah syarat mati yang tak terelakkan untuk bisa melangkah masuk ke dalam surga.

Dengan keempat tokoh ini sudah berdiri di atas panggung, mari kita lihat apa yang terjadi ketika mereka mencoba berdansa bersama. Namun perlu dicatat bahwa keempat doktrin ini tidak hanya menjadi bahan perdebatan membosankan di ruang-ruang kuliah. Mereka merembes masuk ke dalam ruang tamu dan dapur kehidupan sehari-hari umat, menciptakan dinamika mental yang sangat pelik. Sejarawan Christopher Hill, dalam studinya yang sangat berpengaruh tentang masyarakat Puritan—yaitu kelompok Kristen Protestan Inggris yang sangat ketat dan disiplin pada abad ke-17—di dalam bukunya Society and Puritanism in Pre-Revolutionary England (Secker & Warburg, London, 1964, hlm. 218) mencatat bahwa doktrin-doktrin ini “jauh dari sekadar spekulasi atau tebak-tebakan teori; mereka adalah kekuatan nyata yang membentuk karakter, perilaku sehari-hari, dan bahkan arah politik.” Orang-orang biasa harus memeras otak mereka demi bergulat dengan logika dari ajaran-ajaran ini—sebuah pergulatan batin yang bagi sebagian orang berakhir dengan kepuasan spiritual, tetapi bagi banyak orang lainnya, berujung pada kebingungan yang menyiksa jiwa.

2. Sola Fide versus Final Sanctification: Iman atau Perbuatan, Mana yang Lebih Dulu?

Di satu sisi panggung, kita mendengar teriakan lantang: “Manusia diselamatkan hanya oleh iman, sama sekali terlepas dari perbuatan baik atau hukum agama!” Namun di sisi lain panggung, kita mendengar suara lain yang tak kalah menggelegar dari Surat Yakobus di Alkitab: “Iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati” (Yakobus 2:17, 26). Ketegangan ini sudah membuat pusing sejak awal Reformasi. Luther bahkan begitu frustrasi sampai-sampai menjuluki Surat Yakobus sebagai “surat jerami” yang tidak bermutu karena dianggap merusak kemurnian doktrin sola fide. Namun, para penerus Protestan tidak berani membuang Surat Yakobus dari Alkitab; mereka justru mencoba mendamaikannya dengan merumuskan kalimat puitis yang sangat terkenal: “Kita dibenarkan oleh iman saja, tetapi iman yang membenarkan tidak pernah sendirian” (faith alone justifies, but the faith that justifies is never alone).

Sekilas, rumusan itu terdengar sangat cerdas dan menenangkan. Tetapi jika kita kupas sedikit saja kulit luarnya, ia menyimpan kontradiksi yang bikin dahi mengkerut. Coba kita gunakan logika sederhana: jika iman yang menyelamatkan itu tidak pernah sendirian—artinya ia wajib memproduksi perbuatan baik sebagai buah yang tidak bisa ditawar—maka perbuatan baik mendadak berubah menjadi komponen yang sangat penting. Iman tanpa perbuatan baik dicap sebagai iman palsu atau iman mati yang tidak mempan untuk menyelamatkan seseorang dari neraka. Konsekuensinya, pada hari kiamat atau hari penghakiman terakhir nanti, apa alat ukur yang dipakai untuk membedakan mana iman yang asli dan mana iman yang palsu? Jawabannya mengejutkan: perbuatan baik itu sendiri! Yesus sendiri dalam Injil Matius 25:31-46 menggambarkan pengadilan akhir dengan ilustrasi pemisahan antara domba dan kambing, di mana mereka dipisahkan bukan berdasarkan apa isi pengakuan iman mereka, melainkan berdasarkan apakah mereka memberi makan orang miskin, memberi minum orang haus, atau mengunjungi orang di penjara.

Kalau begitu ceritanya, klaim bahwa keselamatan itu “hanya oleh iman” (sola fide) hanyalah pemanis di atas kertas sebagai fondasi awal. Pada kenyataannya, pembuktian keaslian iman itu sepenuhnya bergantung pada ada atau tidaknya perbuatan baik. Ini sama persis dengan skenario kocak berikut: “Anda boleh masuk ke bioskop ini secara gratis hanya dengan menunjukkan tiket hadiah ini, tetapi untuk membuktikan bahwa tiket hadiah Anda ini asli dan bukan hasil fotokopi ilegal, Anda wajib menunjukkan nota bukti pembelian barang senilai satu juta rupiah di kasir depan.” Lho, bukankah tadi katanya gratis? Jika bukti perbuatan (nota pembelian) wajib ada agar tiket gratis itu dianggap sah, maka sebenarnya keselamatan itu tidak pernah gratis. Ia tetap menuntut harga yang harus dibayar, hanya saja harganya dibungkus dengan istilah teologis yang lebih sopan: “buah dari anugerah.”

Distingsi Ground vs Instrument dan Lubang yang Tetap Ada

Para teolog dari aliran Reformed berusaha menyelamatkan muka dari tabrakan logika ini dengan menciptakan distingsi—alias pembedaan istilah yang sangat njlimet—antara ground (dasar hukum utama) dan instrument (alat perantara) dalam pembenaran manusia. Mereka berargumen bahwa dasarnya adalah kebenaran Yesus Kristus yang ditransfer ke rekening rohani manusia, sedangkan alat perantaranya adalah iman. Perbuatan baik diklaim sama sekali bukan dasar keselamatan, melainkan hanya bukti yang otomatis muncul dari iman yang sejati. John Owen, seorang teolog Puritan terkemuka abad ke-17, dalam bukunya The Doctrine of Justification by Faith yang pertama kali terbit tahun 1677 (tercetak dalam The Works of John Owen, Volume 5, Banner of Truth Trust, Edinburgh, 1965, hlm. 112–118) menekankan bahwa kita diselamatkan oleh iman sendirian, tetapi iman itu wajib aktif bekerja menghasilkan kasih dan ketaatan moral. Namun, di bab yang lain ia terpaksa mengakui bahwa perbuatan baik berfungsi sebagai “saksi yang membenarkan status kita” pada hari penghakiman. Tanpa adanya saksi perbuatan tersebut, iman seseorang dicap tidak sah.

Secara logika murni, jika komponen X (perbuatan baik) adalah bukti yang secara mutlak wajib ada untuk membuktikan keaslian komponen Y (iman), maka komponen X otomatis menjadi necessary condition—alias syarat wajib yang mutlak—bagi terwujudnya Y. Meskipun para teolog ini mati-matian menggelengkan kepala dan menyangkal bahwa kesucian hidup adalah syarat masuk surga, struktur penalaran yang mereka bangun sendiri mengunci mereka dalam jebakan: tanpa adanya pengudusan hidup yang kelihatan mata, tidak ada jaminan bahwa iman itu asli; dan tanpa iman yang asli, selamat tinggal surga. Di sinilah pembedaan istilah teknis akademis itu terlihat seperti usaha menggelikan menutupi keretakan dinding rumah dengan menempelkan kertas tisu tipis.

Definitive Sanctification: Solusi Semu

Melihat lubang logika tersebut, teolog bernama John Murray mencoba menawarkan solusi baru dengan memperkenalkan konsep definitive sanctification dalam karyanya Redemption: Accomplished and Applied (Eerdmans, Grand Rapids, 1955, hlm. 141–150)—yaitu doktrin yang menyatakan bahwa pada detik pertama seseorang menjadi Kristen, kuasa dosa dalam dirinya langsung dipotong dan diputuskan secara instan oleh Tuhan. Ini adalah pengudusan yang bersifat posisional (status legal di hadapan Tuhan), bukan progresif (perubahan watak bertahap). Sekilas, teori ini tampak jenius untuk meredakan ketegangan: karena orang percaya sudah dianggap suci secara status legal sejak awal, maka proses pengudusan akhir di ujung hidup hanyalah kelanjutan otomatis dari apa yang sudah mereka miliki.

Namun sayangnya, masalah besar tidak selesai begitu saja. Jika status suci itu sudah nyata dan terjamin pada setiap orang yang dipilih Tuhan sejak hari pertama, mengapa Alkitab dan dokumen pengakuan iman gereja justru terus-menerus mengeluarkan peringatan bernada ancaman bahwa tanpa adanya pengudusan yang nyata dalam hidup sehari-hari, tidak seorang pun akan melihat Tuhan? Mengapa Rasul Petrus di Alkitab sampai harus mendesak jemaat untuk “berusaha sungguh-sungguh agar panggilan dan pilihanmu makin teguh” (2 Petrus 1:10)? Kalimat itu membuat panggilan Tuhan seolah-olah rapuh dan membutuhkan kerja keras manusia sebagai bukti penentu. Lebih runcing dan ironis lagi: jika seorang Kristen yang dianggap sejati ternyata bisa jatuh ke dalam dosa yang sangat bejat selama bertahun-tahun tanpa ada tanda-tanda pertobatan yang jelas—seperti kisah Raja Daud di Alkitab yang berselingkuh dan merencanakan pembunuhan (2 Samuel 11–12)—maka di manakah letak status suci instan itu berada? Bukankah ini berarti orang Kristen biasa justru dipaksa untuk terus-menerus mengintip kelakuan buruk mereka sendiri demi meyakinkan diri bahwa mereka selamat? Dan pada akhirnya, mereka kembali terjebak ke dalam dilema awal yang membingungkan.

Marrow Controversy: Ketika Para Pendeta Skotlandia Bertengkar Soal Tawaran Injil

Sejarah gereja mencatat sebuah konflik yang sangat pas dalam menggambarkan tabrakan doktrin ini, yang dikenal dengan nama Marrow Controversy (Kontroversi Sumsum) di Skotlandia pada abad ke-18. Keributan ini bermula ketika sebuah buku tua berjudul The Marrow of Modern Divinity (Sari Pati Teologi Modern), yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1645 oleh penulis anonim, dicetak ulang. Buku ini mengajarkan sebuah konsep yang sangat melegakan: bahwa Injil atau kabar baik tentang keselamatan itu ditawarkan oleh Tuhan secara universal (kepada semua manusia) tanpa syarat apa pun. Artinya, Kristus ditawarkan langsung kepada para pendosa yang bejat, tanpa menuntut mereka harus bertobat atau memperbaiki kelakuan mereka terlebih dahulu sebelum berhak percaya.

Mendengar ajaran yang terlalu bebas ini, otoritas resmi gereja Skotlandia langsung kebakaran jenggot. Mereka mengecam buku tersebut karena dianggap meremehkan pentingnya kesucian hidup dan persiapan moral sebelum seseorang berani percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, sebagian pendeta pembangkang yang progresif, termasuk Thomas Boston dan Ebenezer Erskine, justru membela buku tersebut. Mereka menegaskan bahwa jika gereja menuntut seseorang harus menunjukkan buah perubahan hidup terlebih dahulu sebelum boleh percaya kepada Injil, maka gereja sedang menciptakan bentuk legalisme baru—yaitu paham sesat yang menjebak manusia untuk menyembah aturan hukum agama demi memenangkan hati Tuhan. Kontroversi ini menelanjangi kebingungan bawaan yang ada di jantung Protestan: jika kabar keselamatan itu adalah hadiah cuma-cuma yang murni, mengapa para pendengarnya wajib menunjukkan kelakuan baik terlebih dahulu untuk membuktikan bahwa mereka sungguh-sungguh menerimanya? Dan jika kelakuan baik itu katanya baru bisa muncul setelah adanya iman, bagaimana mungkin iman itu bisa lahir jika si pendosa terus-menerus dihantui ketakutan bahwa ia belum layak untuk percaya? Di sinilah doktrin sola fide yang katanya bebas merdeka dan doktrin final sanctification yang menuntut syarat moral saling piting dalam ketegangan yang tidak pernah selesai diurai. Para pendeta di Skotlandia pun menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berdebat kusir tanpa pernah mencapai titik temu yang memuaskan.

Antinomian Controversy: Anne Hutchinson dan Bahayanya Terlalu Yakin

Sementara itu, di seberang Samudra Atlantik, wilayah koloni Massachusetts Bay di Amerika pada tahun 1630-an diguncang oleh skandal besar yang dinamakan Antinomian Controversy—sebuah istilah akademis mewah dari bahasa Yunani yang artinya “gerakan anti-hukum agama.” Tokoh utamanya adalah Anne Hutchinson, seorang wanita paruh baya yang cerdas, karismatik, dan sangat saleh. Hutchinson mulai mengadakan perkumpulan di rumahnya dan mengajarkan hal yang sangat radikal: bahwa kepastian keselamatan seseorang itu datangnya langsung dari bisikan gaib Roh Kudus di dalam hati nurani, bukan dari hasil memeriksa apakah kelakuan kita sudah baik atau belum. Ia memegang prinsip sola fide secara begitu ekstrem sampai-sampai berani menyatakan bahwa perbuatan baik manusia sama sekali tidak bisa dijadikan bukti hukum untuk mengintip apakah seseorang diselamatkan atau tidak.

Para pemimpin elit Puritan yang menguasai pemerintahan langsung panik dan menganggap ajaran Hutchinson sebagai ancaman besar yang bisa meruntuhkan moral masyarakat dan memicu kriminalitas. Hutchinson segera diseret ke pengadilan, dicap sesat, dikucilkan dari gereja, dan diusir dari wilayah koloni ke tengah hutan liar. Ironisnya, Hutchinson sebenarnya hanya menarik kesimpulan logis yang sangat lurus dari premis awal yang diajarkan oleh para Reformator sendiri: jika status benar di hadapan Tuhan itu seratus persen karena iman tanpa perbuatan, mengapa kelakuan baik kita justru dijadikan alat uji penentu keselamatan? Namun reaksi super keras dari para pemimpin Puritan terhadap Hutchinson membuktikan sebuah rahasia gelap: sistem teologi Protestan ternyata tidak bisa hidup berdampingan hanya dengan mengandalkan slogan sola fide. Mereka membutuhkan aturan pengudusan hidup sebagai katup pengaman demi menjaga ketertiban sosial warga dan stabilitas psikologis jemaat. Sialnya, katup pengaman moral inilah yang justru membuka kembali pintu kecemasan dan ketakutan akan neraka yang katanya sudah ditutup rapat oleh gerakan Reformasi.

Mesin Introspeksi Tanpa Henti: Skrupulositas dan Trauma Religius

Ketegangan antara iman dan perbuatan ini bukan sekadar permainan kata-kata di atas kertas. Secara psikologis, doktrin ini menjelma menjadi sebuah mesin introspeksi—alias proses mengadili isi pikiran sendiri—yang berjalan tanpa henti dan tanpa ampun. Jika kelakuan baik adalah tanda wajib dari iman yang asli, maka setiap orang Kristen dipaksa untuk terus-menerus melakukan sidak dadakan ke dalam lubuk hatinya yang paling dalam untuk memastikan imannya tidak palsu. John Bunyan, seorang penulis Puritan terkenal abad ke-17 yang menulis buku legendaris The Pilgrim’s Progress (Perjalanan Seorang Musafir), meninggalkan catatan harian yang sangat menyedihkan tentang siksaan batin ini dalam otobiografinya yang berjudul Grace Abounding to the Chief of Sinners (1666), paragraf 47, yang tercetak dalam The Works of John Bunyan, Volume 1 (Banner of Truth Trust, Edinburgh, 1991, hlm. 11). Ia menulis dengan penuh rasa hina:

“Saya lebih menjijikkan di mata saya sendiri daripada seekor katak; dan saya berpikir bahwa saya juga seperti itu di mata Allah.”

Bunyan, yang kelak dielu-elukan sebagai salah satu pahlawan iman Kristen terbesar, harus menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam siksaan mental yang luar biasa. Ia terus-menerus merasa ketakutan bahwa ia telah melakukan “dosa yang tak terampuni” dan yakin bahwa namanya masuk ke dalam daftar orang yang sengaja ditolak Tuhan untuk masuk surga. Sungguh sebuah ironi yang tragis: justru karena ia sangat serius berusaha memiliki kelakuan baik sebagai tanda keselamatan, ia malah terjebak dalam teror psikologis yang menyiksa, yang secara perlahan mengubur habis konsep anugerah yang selalu ia khotbahkan. William James, seorang psikolog pionir yang mempelajari pengalaman spiritual manusia secara fenomenologis—yaitu ilmu yang meneliti gejala kesadaran yang dialami langsung oleh manusia—mengamati kasus-kasus depresi agama seperti yang dialami Bunyan. Dalam karya klasiknya The Varieties of Religious Experience (1902), Lecture VI, “The Sick Soul” (diedit oleh Martin E. Marty, Penguin Classics, New York, 1985, hlm. 136–138), James menyimpulkan bahwa ada tipe manusia yang ia sebut sebagai the sick soul atau “jiwa yang sakit”—yaitu orang-orang yang memiliki radar kesadaran dosa yang terlalu sensitif dan berlebihan sehingga menggerogoti kesehatan mental mereka sendiri. James menulis:

“Jiwa yang sakit adalah mereka yang paling terpengaruh oleh rasa jahat dalam eksistensi, dan yang paling cenderung merasa bahwa ada sesuatu yang salah dengan diri mereka… Kesadaran akan dosa adalah gejala paling mencolok dari jiwa yang sakit.”

Dalam lingkaran setan doktrin sola fide yang ditempelkan dengan final sanctification, ayat Alkitab yang berbunyi “memeriksa diri sendiri apakah kalian berada dalam iman” (2 Korintus 13:5) dengan sangat mudah berubah menjadi spiral obsesif—alias pusaran pikiran negatif yang berputar tanpa henti. Alih-alih mendapatkan kemerdekaan jiwa dari ketakutan, umat justru dipenjara dalam sel ketakutan yang mencekik: “Bagaimana kalau kelakuan baikku selama ini hanyalah topeng palsu yang lahir dari ego tersembunyiku untuk pamer, bukan karena kasih murni kepada Tuhan? Bagaimana kalau tangisan pertobatanku kemarin kurang tulus dan kurang dalam? Berapa kilogram buah perbuatan baik yang harus kuhasilkan agar aku bisa tidur nyenyak dan yakin aku masuk surga?” Pertanyaan-pertanyaan maut ini tidak pernah memiliki alat ukur yang pasti, dan di situlah letak petaka psikologisnya.

Gejala gangguan mental ini dalam dunia psikologi agama modern telah diberi nama resmi: skrupulositas (scrupulosity), yang sebenarnya merupakan salah satu bentuk dari Obsessive-Compulsive Disorder (OCD) alias gangguan kecemasan parah yang bertema agama atau moralitas. Penelitian ilmiah modern yang diterbitkan oleh Jonathan S. Abramowitz dan rekan-rekannya dalam artikel “Religious Scrupulosity: A Cognitive-Behavioral Analysis” di Clinical Psychology Review, Volume 22, Nomor 4, tahun 2002 (hlm. 429–448) mengonfirmasi bahwa lingkungan agama yang terus-menerus menekankan standar moral yang harus tanpa cacat sedikit pun, dikombinasikan dengan ancaman siksa neraka jahanam, menjadi faktor utama yang menaikkan jumlah penderita gangguan skrupulositas ini.

Meskipun penelitian psikologi tersebut tidak secara khusus menyerang satu denominasi gereja tertentu, kita bisa membayangkan dengan sangat jelas bagaimana kombinasi antara doktrin sola fide dan final sanctification—yang menuntut iman asli tetapi wajib dibuktikan dengan kelakuan suci tanpa memberikan indikator ukuran yang jelas—menjadi inkubator yang sempurna bagi lahirnya penyakit kecemasan kronis. Iman yang dalam khotbah katanya memerdekakan manusia, pada praktiknya justru memenjarakan jiwa dalam sel pengawasan diri yang paranoid. Jonathan Grayson, seorang psikolog spesialis gangguan kecemasan OCD, dalam buku panduan klinisnya Freedom from Obsessive Compulsive Disorder (Berkley Books, New York, 2003, hlm. 221–223) mencatat bahwa pikiran-pikiran yang menghujat Tuhan secara tidak sengaja (blasphemous thoughts) dan ketakutan ekstrem akan dosa yang tidak bisa diampuni adalah tema utama dari penderita skrupulositas. Lingkungan yang rajin menuntut umat melakukan introspeksi diri sambil mengayunkan cambuk ancaman api neraka terbukti memperparah kerusakan mental ini secara masif.

Lebih parah lagi, pengalaman trauma psikologis yang berakar dari doktrin-doktrin agama yang menyeramkan ini telah melahirkan istilah medis baru bernama Religious Trauma Syndrome (RTS) atau Sindrom Trauma Religius, yang dirumuskan oleh psikolog bernama Marlene Winell dalam artikelnya “Religious Trauma Syndrome” yang terbit di Cognitive Behaviour Therapy Today, Volume 3, tahun 2011 (hlm. 1–7). Winell menjelaskan bahwa ajaran-ajaran teologi yang menakutkan seperti predestinasi ganda (penentuan nasib surga neraka secara sepihak) dan neraka kekal bisa memicu gejala gangguan jiwa yang mirip dengan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) alias gangguan stres pasca-trauma akibat perang atau bencana besar. Gejalanya meliputi kecemasan akut, depresi berat, krisis identitas, hingga ketidakmampuan mengambil keputusan sepele karena takut salah melangkah dan dikutuk Tuhan selamanya. Winell menulis dalam jurnalnya (hlm. 2–3):

“Trauma religius muncul dari pesan-pesan yang menakutkan dan mengancam… seperti doktrin neraka, kerasukan setan, penghakiman terakhir, dan penolakan kekal oleh Allah. Pesan-pesan ini menciptakan teror psikologis, terutama bila ditanamkan sejak kecil.”

Dalam tradisi gereja yang menuntut kesucian hidup (final sanctification) sebagai satu-satunya bukti sah bahwa Anda adalah orang yang dipilih Tuhan, setiap kegagalan moral kecil—seperti berbohong kecil atau berpikiran kotor selama lima detik—bisa dirasakan sebagai petunjuk gaib yang mengerikan bahwa Anda mungkin termasuk ke dalam golongan reprobate (kaum buangan yang ditakdirkan masuk neraka). Akibatnya, alih-alih menikmati kedamaian sebagai anak-anak Tuhan, banyak umat Kristen Protestan justru hidup dalam siksaan batin yang tiada akhir, bagaikan burung yang dikurung dalam sangkar emas teologi yang tampak indah dan megah dari luar, tetapi penuh duri tajam yang menusuk di dalam.

Fenomena gangguan jiwa massal ini bahkan bisa dijelaskan secara sangat tajam melalui teori disonansi kognitif yang dirumuskan oleh psikolog Leon Festinger dalam karya klasiknya A Theory of Cognitive Dissonance (Stanford University Press, Stanford, 1957, hlm. 25–28)—yaitu teori tentang ketidaknyamanan mental yang luar biasa ketika seseorang memegang dua keyakinan yang saling bertabrakan di dalam otaknya secara bersamaan. Ketika seorang penganut Calvinis fanatik memegang dua pikiran yang saling baku hantam, seperti: “Tuhan itu maha kasih dan mengasihiku” berhadapan dengan pikiran “tetapi mungkin saja Tuhan secara rahasia memasukkan namaku ke daftar orang yang ditakdirkan masuk neraka,” otaknya mengalami stres berat. Untuk meredakan ketegangan mental tersebut, ia akan melakukan tindakan kompensasi yang ekstrem: ia akan menjadi super aktif di gereja, bekerja gila-gilaan tanpa istirahat, dan memperketat pengawasan terhadap moralitas dirinya sendiri. Tindakan kesalehan yang meledak-ledak ini sebenarnya sama sekali bukan lahir dari ketenangan iman yang damai, melainkan dari kepanikan histeris yang menyamar menjadi kesalehan rohani. Jadi, semangat kaum Puritan yang selama ini dipuji-puji dalam buku sejarah sebagai dedikasi spiritual yang tinggi, besar kemungkinan hanyalah topeng kosmetik untuk menutupi rasa teror kosmis yang tak tertahankan di dalam dada mereka.

3. Solus Christus Berhadapan dengan Predestinasi Ganda: Juruselamat Eksklusif yang

Hanya Menyelamatkan Segelintir

Mari kita pindah ke arena pertarungan berikutnya, di mana doktrin solus Christus akan beradu jotos dengan predestinasi ganda. Semboyan solus Christus dengan lantang mewartakan ke seluruh dunia bahwa Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan keselamatan yang sah. Tidak ada nama lain di bawah kolong langit ini yang diberikan kepada manusia untuk bisa selamat dari murka Tuhan selain nama Yesus (Kisah Para Rasul 4:12). Semboyan ini terdengar sangat megah dan universal. Tetapi, di panggung yang sama, doktrin predestinasi ganda tiba-kira datang menyenggol dan menyodorkan pernyataan yang membuat bulu kuduk berdiri: kematian Yesus di kayu salib, meskipun secara teori memiliki nilai menebus dosa yang tidak terbatas, pada kenyataannya sengaja dirancang oleh Tuhan hanya efektif untuk menghapus dosa orang-orang pilihan saja—bukan untuk seluruh umat manusia. Inilah doktrin yang dalam istilah teologi Reformed disebut sebagai limited atonement atau penebusan terbatas, yang menjadi huruf “L” dalam akronim teologi terkenal bernama TULIP.

Dokumen resmi Sinode Dort pada tahun 1619, sebuah konsili akbar yang dikumpulkan untuk merumuskan pasal-pasal iman demi menghancurkan ajaran kaum Remonstrans (kelompok Arminian yang percaya manusia punya kehendak bebas untuk menerima atau menolak Tuhan), menyatakan dengan sangat dingin dan eksplisit dalam Canons of Dort, Kepala Kedua, Pasal 8 (tercetak dalam Philip Schaff, The Creeds of Christendom, Volume 3, Baker Books, Grand Rapids, 1998, hlm. 588):

“Adalah maksud dan kehendak Allah Bapa yang paling bebas dan murah hati, bahwa khasiat yang menghidupkan dan menyelamatkan dari kematian Putra-Nya yang paling berharga itu dinyatakan di dalam semua orang pilihan…”

Dengan kata lain, peristiwa salib Kristus itu diibaratkan seperti sebuah obat ajaib yang sangat ampuh menyembuhkan penyakit kanker maut, tetapi formula obat tersebut sengaja dibatasi oleh sang dokter hanya berkhasiat untuk kelompok VIP tertentu yang sudah dicatat namanya sejak zaman purba. Bagi miliaran manusia yang masuk ke dalam kategori bukan pilihan alias kaum buangan (reprobate), Kristus sama sekali tidak mati untuk mereka secara efektif. Mereka tidak mendapatkan alokasi darah penebusan. Hal ini memicu sebuah pertanyaan nakal yang sangat mengusik: jika semboyan solus Christus diartikan sebagai “hanya melalui Kristus,” padahal Kristus sendiri hanya disediakan untuk segelintir orang pilihan, maka bagi mayoritas umat manusia yang lahir di bumi ini—yang menurut pengakuan para teolog Calvinis jumlahnya jauh lebih banyak yang masuk neraka—sebenarnya tidak pernah ada Juruselamat yang tersedia sejak awal mereka lahir. Pintu surga telah digembok dari dalam menggunakan rantai baja, dan kuncinya hanya dibagikan secara rahasia kepada mereka yang namanya beruntung masuk ke dalam daftar undangan eksklusif.

Bayangkanlah sebuah restoran mewah bintang lima yang mengumumkan lewat pengeras suara keliling ke seluruh sudut kota: “Makan malam gratis malam ini untuk semua warga tanpa terkecuali! Ayo, datanglah!” Tetapi ketika ribuan warga yang kelaparan berbondong-bondong datang memenuhi halaman restoran, mereka mendapati kenyataan pahit bahwa pintu masuk restoran hanya bisa terbuka secara otomatis jika didekatkan dengan kartu VIP bermagnet khusus. Kartu VIP itu tidak bisa diminta, tidak bisa dibeli dengan uang, dan tidak bisa diusahakan dengan memohon-mohon; kartu itu sudah dibagikan secara sembunyi-sembunyi oleh pemilik restoran ke rumah beberapa orang pilihannya semalam sebelum restoran itu resmi dibuka. Anehnya, warga miskin yang tidak memegang kartu VIP tetap diteriaki dari dalam jendela restoran agar segera masuk, tetapi begitu mereka mendekat, wajah mereka menabrak pintu kaca yang terkunci rapat. Dan yang paling gila dari skenario ini: pemilik restoran kemudian menyalahkan, memaki, dan menghukum warga miskin tersebut karena dianggap keras kepala tidak mau masuk ke dalam restoran. Pertanyaannya: apakah pengumuman “semua orang diundang” itu adalah undangan yang jujur dan tulus? Ataukah itu hanyalah basa-basi keagamaan yang kejam untuk menutupi praktik diskriminasi kosmis tingkat dewa?

Yohanes Calvin sendiri, ketika didesak dengan pertanyaan kritis mengapa Tuhan memilih sebagian orang dan mencampakkan sebagian yang lain ke neraka tanpa alasan yang adil, memberikan jawaban yang terkenal sangat jujur, dingin, dan telak. Dalam Institutes of the Christian Religion, Buku III, Bab 22, Bagian 11 (edisi McNeill-Battles, Volume 2, hlm. 947), Calvin menulis:

“Jika ditanya mengapa Allah mengadopsi sebagian orang kepada keselamatan dan menolak yang lain kepada kebinasaan, tidak ada jawaban lain kecuali bahwa itulah yang berkenan kepada-Nya.”

Kalimat ini begitu ringkas, begitu elegan, dan sekaligus begitu mengerikan untuk didengar. Semboyan solus Christus (hanya Kristus) di titik ini mengalami pergeseran makna menjadi solus beneplacitum Dei—sebuah istilah bahasa Latin yang artinya “semata-mata karena mood atau kerelaan sepihak dari Tuhan.” Kristus dalam sistem ini tidak lagi menjadi tokoh utama yang penuh kasih, melainkan diturunkan kasta menjadi sekadar alat mekanis dan operator teknis untuk menjalankan sebuah rencana bisnis kosmis yang, pada dasarnya, bisa saja terwujud tanpa kehadiran-Nya. Sebab, keputusan ketok palu mengenai siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka sudah bulat dan final sejak kekekalan, jauh sebelum Yesus lahir ke dunia. Yesus memang pernah berkata di Alkitab, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yohanes 14:6), tetapi dalam skema teologi ini, jalan tol tersebut dibangun khusus hanya untuk rombongan kecil wisatawan VIP, sementara miliaran manusia lainnya sengaja dibiarkan tersesat di tengah kegelapan tanpa peta, tanpa kompas, dan tanpa diberi kesempatan satu persen pun untuk bisa selamat.

Ketika Misi Terhambat: Kasus William Carey dan Hiper-Calvinisme

Tabrakan keras antara doktrin solus Christus dan predestinasi ganda ini pernah berwujud nyata dalam sejarah misi penyebaran agama Kristen secara sangat konkret dan memalukan. Pada akhir abad ke-18, William Carey, seorang tukang sepatu miskin dari Inggris yang kelak dijuluki sebagai bapak gerakan misi modern, mengajukan gagasan berani di sebuah rapat sinode agar gereja segera mengirimkan misionaris (penginjil) ke negara India yang belum mengenal Kristen. Mendengar ide ambisius anak muda itu, ia langsung dibentak dan dihadang oleh teologi hiper-Calvinis—yaitu aliran Calvinisme ekstrem yang menganggap manusia tidak perlu melakukan usaha apa pun untuk membantu rencana Tuhan—yang dianut oleh mayoritas pendeta senior saat itu. Brian Stanley, dalam bukunya The Bible and the Flag: Protestant Missions and British Imperialism in the Nineteenth and Twentieth Centuries (Apollos, Leicester, 1990, hlm. 54), mendokumentasikan peristiwa terkenal ini. John Ryland Sr., seorang pendeta paling berwibawa di ruangan itu, berdiri dan berteriak kepada Carey: “Duduklah, anak muda! Jika Allah berkenan menyelamatkan orang-orang kafir di India, Ia akan melakukannya sendiri tanpa bantuanmu atau bantuanku!”

Logika di balik bentakan pendeta senior itu sebenarnya sangat lurus dan konsisten dengan doktrin predestinasi: jika hanya orang-orang pilihan yang dijamin pasti selamat, dan daftar nama orang pilihan itu sudah dikunci mati oleh Tuhan sejak awal dunia, untuk apa kita harus susah-susah mengumpulkan uang, naik kapal berbulan-bulan, dan mempertaruhkan nyawa mengirim misionaris ke India? Tuhan pasti punya cara gaib-Nya sendiri untuk menculik hati orang-orang pilihan-Nya di sana tanpa perlu bantuan manusia. Di sinilah letak ironinya: semboyan solus Christus yang dalam khotbah diklaim sebagai satu-satunya jalan keselamatan bagi dunia, mendadak mandul dan lumpuh dalam praktik nyata karena pintu gerbang bagi bangsa-bangsa non-Kristen dianggap sudah digembok oleh ketetapan rahasia Tuhan sendiri. Beruntung bagi sejarah Kristen, Carey memilih untuk bersikap cuek, melawan arus doktrin gerejanya sendiri, dan tetap nekat berangkat ke India. Ia selamat dari kelumpuhan teologis itu bukan dengan cara menyelesaikan kontradiksi logika tersebut, melainkan dengan cara melupakan doktrin predestinasi itu sejenak dan fokus pada perintah praktis Alkitab.

Elitisme Metafisik dan Stratifikasi Sosial

Dari perspektif ilmu sosiologi—yaitu ilmu yang mempelajari perilaku dan struktur kelompok masyarakat—gagasan bahwa Yesus hanya turun ke bumi khusus untuk menyelamatkan segelintir orang pilihan memiliki dampak sosial yang sangat beracun di dunia nyata. Doktrin pemilihan sepihak ini melahirkan apa yang disebut sebagai elitisme metafisik—sebuah mentalitas merasa diri sebagai kaum elit rohani di tingkat kosmis—yang dalam catatan sejarah dengan sangat mudah berubah menjadi elitisme sosial di dunia nyata. Logikanya begini: jika Tuhan sendiri sudah memisahkan umat manusia menjadi kelompok domba (kaum suci) dan kelompok kambing (kaum terkutuk) sejak awal dunia, bukankah sangat manusiawi jika mereka yang merasa dirinya sebagai kaum domba mulai membusungkan dada dan merasa sedikit lebih istimewa dibandingkan tetangga mereka yang tampaknya seperti kaum kambing? Sejarawan Christopher Hill, dalam Society and Puritanism in Pre-Revolutionary England (Secker & Warburg, London, 1964, hlm. 219) mencatat bahwa doktrin predestinasi ini anehnya tidak membuat orang menjadi malas atau pasrah (fatalisme). Doktrin ini justru menjadi bahan bakar pendorong untuk melakukan aktivitas kerja tanpa henti karena kaum pilihan merasa wajib memamerkan tanda-tanda kesucian mereka kepada diri sendiri dan kepada lingkungan sekitar demi pengakuan sosial.

Di wilayah koloni Baru Inggris (New England, Amerika Serikat) pada abad kuno, konsep tentang visible saints alias “orang-orang kudus yang kesalehannya kelihatan mata” dijadikan sebagai syarat hukum mutlak untuk mendapatkan hak pilih dalam pemilu gereja maupun pemilu pemerintahan sipil. Hanya warga negara yang mampu maju ke depan mimbar dan menceritakan “narasi pertobatan” yang luar biasa dramatis—sebuah kesaksian spiritual yang membuktikan bahwa Roh Kudus sedang bekerja mengubah watak mereka—yang boleh diakui sebagai anggota penuh gereja dan diberi kartu hak suara untuk menentukan kebijakan kota. Sejarawan Edmund S. Morgan dalam studi klasiknya yang berjudul Visible Saints: The History of a Puritan Idea (Cornell University Press, Ithaca, 1963, hlm. 64) menjelaskan bahwa persyaratan teologis ini menciptakan stratifikasi—alias pembagian kasta sosial—yang sangat tajam di tengah masyarakat Puritan. Masyarakat terbelah menjadi dua kasta: kasta “orang dalam” yang dianggap sebagai kaum pilihan Tuhan yang sah, dan kasta “orang luar” yang sekalipun hidupnya jujur dan saleh, tetap dicurigai sebagai kaum buangan karena belum bisa menunjukkan pengalaman spiritual yang dramatis. Morgan menulis dalam analisisnya:

“Untuk menjadi warga negara penuh di koloni Teluk Massachusetts, seseorang harus terlebih dahulu menjadi orang kudus yang kelihatan. Gereja dan negara sama-sama dibangun di atas fondasi pemilihan ilahi yang dipersepsikan oleh manusia.”

Dengan demikian, doktrin teologi yang awalnya digembar-gemborkan sebagai doktrin tentang anugerah gratis, dalam praktiknya bertransformasi menjadi alat kontrol sosial yang kejam untuk menindas warga. Mereka yang miskin, yang gagal dalam bisnis, atau mereka yang memiliki kepribadian tertutup sehingga tidak pandai menyusun cerita pertobatan yang indah di depan mimbar langsung dicurigai secara massal sebagai kelompok reprobate (orang yang ditolak Tuhan). Kemalangan ekonomi, kemiskinan, atau gangguan kesehatan mental dengan sangat mudah ditafsirkan oleh masyarakat sebagai tanda-tanda kutukan dan penolakan dari Tuhan. Sungguh sebuah ironi yang luar biasa tajam: sosok Kristus yang dalam Alkitab digambarkan datang untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, dalam sistem teologi ini justru dipagari oleh tembok-tembok birokrasi doktrin yang menawan manusia dalam ketakutan horor akan status gaib mereka sendiri.

4. Predestinasi Ganda Memporak-porandakan Sola Fide: Iman yang Diberikan atau

Iman yang Diperintahkan?

Sekarang, mari kita benturkan doktrin predestinasi ganda dengan semboyan sola fide (hanya iman). Semboyan sola fide bertugas meneriakkan undangan terbuka kepada setiap orang di jalanan: “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus sekarang juga, maka kamu dan seisi rumahmu akan diselamatkan!” (Kisah Para Rasul 16:31). Undangan ini terdengar sangat ramah, adil, dan berlaku untuk siapa saja. Namun, di saat yang bersamaan, doktrin predestinasi ganda berdiri di belakangnya sambil berbisik dengan nada sinis: “Ingat ya, hanya orang-orang pilihan yang akan diberi kemampuan oleh Tuhan untuk bisa percaya. Sisanya tidak akan pernah bisa percaya karena Tuhan sengaja menahan dan tidak memberikan karunia iman itu kepada mereka.”

Martin Luther, dalam bukunya yang terkenal sangat galak dan tanpa kompromi berjudul De Servo Arbitrio (bahasa Latin untuk “Keterikatan Kehendak”), yang ditulis pada tahun 1525 khusus untuk menyerang pemikiran humanis Erasmus dari Rotterdam, menggambarkan kondisi kehendak bebas manusia dengan ilustrasi yang sangat brutal dan merendahkan martabat manusia. Tercatat dalam Luther’s Works, Volume 33 (diterjemahkan oleh Philip S. Watson, Fortress Press, Philadelphia, 1972, hlm. 65–66):

“Demikianlah kehendak manusia ditempatkan di antara keduanya seperti seekor binatang beban. Jika Allah yang menungganginya, ia mau dan pergi ke mana Allah kehendaki… Jika Setan yang menungganginya, ia mau dan pergi ke mana Setan kehendaki; dan ia tidak dapat memilih untuk berlari kepada salah satu penunggang atau mencari penunggang itu, melainkan para penunggang itu sendirilah yang berjuang untuk memiliki dan mengendalikannya.”

Ilustrasi tentang manusia sebagai “binatang beban” atau kuda tunggangan ini menegaskan bahwa dalam sistem Protestan radikal, manusia sama sekali tidak memiliki kehendak bebas yang berdaulat dalam urusan keselamatan akhirat. Manusia hanyalah keledai pasif yang jalannya disetir sepenuhnya oleh siapa penunggang di atas pelananya: Tuhan atau Iblis. Manusia tidak punya hak suara untuk memilih siapa yang boleh menungganginya. Jika kita konsisten menggunakan logika Luther ini, maka orang-orang yang tidak mau percaya kepada Yesus di dunia ini sebenarnya bukan karena mereka jahat atau keras kepala atas pilihan bebas mereka sendiri, melainkan semata-mata karena Tuhan sengaja tidak mau duduk di atas pelana kehendak mereka. Mereka masuk neraka karena mereka sengaja dirancang cacat tanpa diberi kemampuan untuk memiliki iman.

Tetapi bukankah lembaran-lembaran Alkitab penuh dengan kalimat perintah dari Tuhan yang menyuruh semua manusia tanpa terkecuali untuk bertobat dan percaya? Bagaimana mungkin sebuah perintah yang tulus bisa dikeluarkan oleh seorang penguasa kepada makhluk ciptaannya yang sejak awal sudah dirancang lumpuh agar tidak bisa mematuhi perintah tersebut? Di sinilah doktrin predestinasi ganda benar-benar menghancurkan kredibilitas logika dari semboyan sola fide. Iman diminta sebagai bentuk pertanggungjawaban manusia, tetapi kemampuan untuk menghasilkan iman itu seratus persen mustahil terwujud tanpa adanya intervensi dari sistem monergistik Tuhan—sebuah istilah teologi mewah yang artinya “sistem kerja satu arah di mana hanya Tuhan yang aktif bekerja, sementara manusia pasif total seperti mayat hidup.” Dan celakanya, intervensi satu arah itu hanya disalurkan secara tebang pilih kepada segelintir orang beruntung. Sisanya didesak dan diancam masuk neraka jika tidak melakukan sesuatu yang secara struktur biologis-rohani memang mustahil bisa mereka lakukan.

Para teolog Reformed biasanya membela diri dari kritik ini dengan mengeluarkan argumen standar: Tuhan tetap dianggap adil karena seluruh umat manusia pada dasarnya sudah berdosa akibat warisan Adam, sehingga semuanya sudah layak dibuang ke neraka. Memberikan tiket surga kepada sebagian orang adalah hak prerogatif kemurahan Tuhan, sedangkan mencampakkan sisanya ke neraka adalah penegakan hukum keadilan yang sah. Secara susunan kalimat akademis, argumen ini tampak rapi dan kedap udara. Namun dalam praktiknya di dunia nyata, argumen ini persis dengan skenario gila berikut ini: Seorang raja yang berkuasa mutlak mendatangi sel penjara yang berisi seratus narapidana yang semuanya divonis mati secara sah karena kasus makar. Sang raja kemudian mengumumkan amnesti (pengampunan gratis) kepada sepuluh orang narapidana yang ia pilih secara acak berdasarkan kesenangannya sendiri. Kesepuluh orang itu dibebaskan dan diajak makan malam mewah di istana tanpa syarat apa pun. Sementara sembilan puluh narapidana sisanya tetap digiring ke tiang gantungan untuk dieksekusi mati. Secara hukum formal, tidak ada yang bisa memprotes keputusan raja karena sembilan puluh orang itu memang bersalah dan layak mati. Namun, andai kita masuk ke dalam sel narapidana yang tidak mendapatkan amnesti itu, dan ia bertanya dengan tetesan air mata kepada sipir penjara, “Pak, mengapa saya tetap dieksekusi mati, padahal raja kami yang maha kaya itu sebenarnya punya kuasa dan uang yang cukup untuk mengampuni saya juga?” Sang sipir hanya bisa menjawab dengan dingin, “Karena raja tidak memilih namamu.” Si narapidana bertanya lagi dengan panik, “Lalu apa yang bisa saya lakukan, atau dokumen apa yang harus saya lengkapi agar raja mau memilih saya?” Sipir menggelengkan kepala, “Tidak ada. Daftar nama orang yang selamat sudah dikunci mati di dalam laci meja raja semenjak kamu belum lahir ke dunia.”

Di titik kritis inilah, konsep keadilan ilahi yang diagungkan itu bertransformasi menjadi semacam permainan lotere kosmis yang sangat mengerikan dan bikin trauma. Dan semboyan sola fide (hanya iman), yang dalam brosur khotbah dipromosikan sebagai undangan penuh harapan bagi semua orang yang letih lesu, berubah fungsi menjadi seperti poster lowongan kerja megah yang sengaja ditempel di dinding pengumuman kota, padahal kenyataannya seluruh posisi jabatan di dalam kantor tersebut sudah diisi penuh lewat jalur orang dalam semenjak perusahaan itu pertama kali dibangun.

Dokumen resmi Canons of Dort sendiri mengakui praktik tebang pilih ini dengan sangat santai tanpa merasa bersalah. Dalam Canons of Dort, Kepala Pertama, Pasal 6 (tercatat dalam Philip Schaff, The Creeds of Christendom, Volume 3, Baker Books, Grand Rapids, 1998, hlm. 582), dinyatakan:

“Bahwa sebagian orang menerima karunia iman dari Allah, dan sebagian lain tidak menerimanya, berasal dari ketetapan kekal Allah… menurut ketetapan itu Ia dengan murah hati melunakkan hati orang-orang pilihan, dan mencondongkan mereka untuk percaya; sementara Ia meninggalkan orang-orang bukan pilihan dalam penghakiman-Nya yang adil kepada kejahatan dan ketegaran mereka sendiri.”

Di sini, iman secara terang-terangan diakui sebagai sejenis “hadiah eksklusif” yang dibagikan secara diskriminatif. Dengan demikian, esensi dari semboyan sola fide tidak lagi bisa dibaca sebagai sebuah kalimat undangan yang ramah: “Ayo percaya, maka kamu akan selamat.” Semboyan itu telah bergeser fungsi menjadi sebuah alat diagnosis medis yang dingin: “Jika kamu kebetulan bisa percaya, itu adalah tanda medis bahwa kamu beruntung terpilih sejak purbakala; jika kamu tidak bisa percaya atau ragu-ragu, itu adalah bukti otentik bahwa kamu memang ditakdirkan menjadi kayu bakar neraka, dan kehancuran abdimu sudah di depan mata.” Injil di sini berubah drastis dari yang katanya “kabar baik” menjadi sejenis tes DNA spiritual rahasia yang hasilnya baru bisa diintip setelah semuanya terlambat—atau malah tidak pernah bisa dipastikan sama sekali sepanjang Anda hidup.

Nuansa Infra- dan Supralapsarian: Apakah Masalahnya Terselesaikan?

Melihat betapa menyeramkannya wajah Tuhan dalam doktrin predestinasi ini, para teolog Reformed di masa lalu sempat terpecah menjadi dua kubu besar dan bertengkar sengit mengenai urusan urutan kronologi pikiran Tuhan sebelum menciptakan dunia. Dua kubu ini menggunakan istilah asing yang sangat njlimet: Supralapsarian (paham yang percaya bahwa sebelum Tuhan merencanakan kejatuhan manusia dalam dosa, Ia sudah menentukan duluan siapa yang masuk surga dan neraka) berhadapan dengan kubu Infralapsarian (paham yang mencoba lebih halus dengan berargumen bahwa Tuhan melihat manusia jatuh ke dalam dosa terlebih dahulu, baru setelah itu Ia menetapkan dekrit pemilihan dan penolakan). Kubu Infralapsarian mencoba melunakkan wajah doktrin ini dengan mengklaim bahwa tindakan Tuhan terhadap orang yang masuk neraka hanyalah tindakan pasif bernama preterition—sebuah istilah bahasa Latin mewah yang artinya “melewatkan begitu saja” atau mencoret nama mereka dari daftar penerima anugerah tanpa niat jahat secara aktif.

Namun, jika kita gunakan akal sehat, pembedaan istilah urutan kronologi pikiran Tuhan ini hanyalah kosmetik luar yang sama sekali tidak mengubah esensi masalah. Sebab, dalam skema Supralapsarian maupun Infralapsarian, ujung nasib manusia tetap sama: Tuhan sengaja menahan pasokan oksigen anugerah-Nya dari orang-orang yang dilewatkan itu, sehingga mereka secara otomatis seratus persen mustahil memiliki kemampuan untuk percaya kepada Injil. Apakah seorang narapidana yang akan dihukum mati di kursi listrik akan merasa lebih terhibur dan bahagia jika sang sipir membisikkan kata-kata manis ini di telinganya: “Kamu tenang saja ya, raja kami mengeksekusimu bukan karena ia benci dan secara aktif menginginkan kematianmu kok, melainkan semata-mata karena raja sengaja ‘melewatkan’ dan lupa menulis namamu ke dalam daftar tahanan yang berhak menerima pengampunan”? Hasil akhirnya tetap sama: tubuh si narapidana gosong hangus tewas di atas kursi listrik. Doktrin sola fide tetap saja berakhir menjadi sejenis undangan palsu yang mustahil dipenuhi bagi miliaran manusia yang sengaja dibuat lumpuh oleh ketetapan rahasia.

Compatibilism Jonathan Edwards: Kehendak yang Tunduk pada Motif Terkuat

Di ranah filsafat agama, seorang teolog dan pemikir jenius asal Amerika Serikat bernama Jonathan Edwards pernah mencoba mati-matian mendamaikan tabrakan antara konsep penentuan mutlak Tuhan (determinisme) dengan konsep tanggung jawab moral manusia. Dalam karya ilmiahnya yang sangat tebal berjudul Freedom of the Will yang pertama kali terbit tahun 1754 (diedit oleh Paul Ramsey, Yale University Press, New Haven, 1957, hlm. 163–165), Edwards memperkenalkan sebuah teori filosofis bernama kompatibilisme (compatibilism)—yaitu sebuah paham filosofis yang memaksakan agar konsep takdir mutlak dan konsep kebebasan manusia bisa dianggap akur dan berjalan beriringan tanpa kontradiksi. Edwards membangun argumen cerdas bahwa kehendak manusia itu sebenarnya selalu tunduk dan berjalan mengikuti apa yang ia sebut sebagai strongest motive atau “motif terkuat” yang sedang mendominasi isi pikirannya pada detik tersebut. Manusia, menurut Edwards, tetap dianggap memiliki kebebasan sejati dan bertanggung jawab atas dosanya karena mereka bertindak murni sesuai dengan keinginan terdalam mereka sendiri—meskipun keinginan terdalam itu sebenarnya sudah disetel dan diatur remote kontrol-nya sejak awal oleh takdir Tuhan. Edwards menulis dengan sangat yakin:

“Kehendak manusia selalu ditentukan oleh apa yang, dalam pandangannya, merupakan kebaikan terbesar yang tampak. …Dan jika Allah menentukan keadaan dan dispozisi yang membentuk pandangan itu, Dia tetap tidak melanggar kebebasan manusia, sebab manusia tetap bertindak sesuai kehendaknya sendiri.”

Sekilas, susunan argumen filosofis Edwards ini tampak sangat canggih dan mampu membius otak para mahasiswa. Namun, jika kita preteli menggunakan logika yang lebih tajam, teori kompatibilisme ini sama sekali tidak menyelesaikan ketegangan fundamental antara perintah wajib percaya dengan ketidakmampuan alami manusia yang cacat. Jika Tuhan sejak awal sengaja menolak memberikan pasokan “motif terkuat” berupa kasih karunia yang menjamah hati seorang reprobate (kaum buangan), maka si kaum buangan itu sampai kiamat pun tetap tidak akan pernah bisa memiliki keinginan untuk percaya kepada Yesus. Perintah Tuhan agar semua manusia percaya kepada sola fide di titik ini berubah fungsi menjadi seperti seorang guru yang berdiri di depan kelas lalu membentak seorang murid yang buta sejak lahir agar ia segera membaca tulisan kecil yang ada di papan tulis. Edwards boleh saja menggunakan istilah keren “kebebasan kompatibilis” untuk menyelamatkan muka teologinya, tetapi dalam praktik nyata di lapangan pastoral, itu tetaplah sebuah beban penderitaan yang sangat kejam yang dijatuhkan ke pundak makhluk-makhluk malang yang sejak awal tidak pernah diberi kaki untuk bisa memikulnya.

Kritik Antony Flew: Kasih yang Tidak Bisa Difalsifikasi

Seorang filsuf ateis terkenal abad ke-20 bernama Antony Flew, dalam esai pendeknya yang legendaris berjudul “Theology and Falsification” yang terbit dalam buku New Essays in Philosophical Theology (diedit oleh Antony Flew dan Alasdair MacIntyre, SCM Press, London, 1955, hlm. 96–97), pernah menyajikan sebuah ilustrasi cerita sindiran yang sangat mematikan bagi teologi model begini. Flew mengisahkan tentang dua orang penjelajah hutan yang mendadak menemukan sebuah pekarangan indah di tengah belantara yang tampak terawat rapi di beberapa sudut, namun dipenuhi semak liar di sudut lainnya. Penjelajah pertama yang sangat optimis langsung berkata, “Wah, pasti ada seorang tukang kebun rahasia yang rajin merawat pekarangan ini!” Namun penjelajah kedua bersikap skeptis dan meragukannya. Untuk membuktikan kebenaran ucapan mereka, kedua penjelajah ini mendirikan tenda dan memasang berbagai alat pengaman super ketat: mulai dari memasang pagar kawat berduri dialiri listrik, melepas anjing pelacak yang galak, hingga memasang kamera pengawas siang dan malam. Setelah berminggu-minggu memantau, sosok tukang kebun misterius itu tidak pernah muncul sama sekali. Pagar listrik tidak pernah menyengat siapa pun, dan anjing pelacak tidak pernah menggonggong. Namun, si penjelajah pertama yang keras kepala tetap menolak menyerah dan terus membela keyakinannya dengan berkata: “Oh, kamu harus paham, tukang kebun ini adalah makhluk gaib yang tidak bisa dilihat mata, tidak memiliki bau badan sehingga tidak tercium anjing, berjalan tanpa suara sehingga tidak terdengar, dan tubuhnya menembus benda padat!” Akhirnya, penjelajah kedua yang sudah kehabisan kesabaran bertanya dengan nada sarkas yang menohok: “Lalu, apa bedanya karakter ‘tukang kebun gaib yang tidak bisa dilihat, tidak bisa didengar, tidak bisa dicium, dan tidak bisa disentuh’ ini dengan karakter dari tukang kebun yang sebenarnya memang tidak pernah ada sama sekali?”

Jika kita ambil ilustrasi sindiran Antony Flew ini dan kita tembakkan langsung ke jantung doktrin predestinasi ganda yang digabung dengan semboyan solus Christus, kita bisa mengajukan pertanyaan kritis yang serupa: “Lalu, apa bedanya karakter Tuhan yang diklaim ‘maha kasih dan tulus menghendaki semua manusia selamat melalui Yesus’, dengan karakter dari Tuhan yang sejak awal memang pilih kasih, kejam, dan egois karena sengaja merancang mayoritas ciptaan-Nya untuk dibakar di neraka, jika pada kenyataannya hasil akhirnya sama persis: yaitu hanya segelintir orang dalam saja yang diberi akses gaib untuk bisa selamat?” Klaim sepihak dari mimbar gereja yang berbunyi “Tuhan adalah kasih” di titik ini telah kehilangan makna aslinya dan tidak bisa dibedakan lagi dengan tindakan kesewenang-wenangan penguasa diktator kosmis yang sangat kejam. Semboyan solus Christus pun akhirnya turun pangkat menjadi sekadar slogan kosmetik murah untuk menutupi kebusukan skenario tersebut.

5. Final Sanctification dan Ironi Kepastian Semu

Mari kita melangkah ke babak terakhir yang penuh dengan ironi paling menggigit. Salah satu peluru kendali utama yang dipakai oleh para Reformator Protestan di masa lalu untuk menghancurkan wewenang Gereja Katolik Roma adalah dengan mengkritik ajaran Katolik yang menyatakan bahwa manusia selama hidup di dunia tidak akan pernah bisa memiliki kepastian seratus persen apakah dirinya pasti masuk surga atau tidak. Martin Luther dan kawan-kawan menganggap bahwa ketidakpastian nasib akhirat itu adalah doktrin kejam yang sengaja dipakai Paus untuk memeras uang umat melalui jualan surat pengampunan dosa. Luther menggembar-gemborkan bahwa salah satu buah paling manis dan memerdekakan dari doktrin sola fide adalah: karena keselamatan kita hanya bergantung pada iman kita kepada janji Tuhan yang tidak mungkin ingkar janji, maka setiap orang Kristen seharusnya bisa tidur dengan nyenyak karena memiliki kepastian keselamatan yang mutlak di dalam genggaman tangan mereka. Janji kampanye teologi ini terdengar sangat indah, seksi, dan membebaskan jiwa.

Namun, kejutan horor terjadi ketika doktrin ketekunan orang kudus (perseverance of the saints) dan doktrin final sanctification (pengudusan akhir) dimasukkan ke dalam mesin sistem mereka. Kepastian keselamatan yang katanya sudah digenggam erat itu mendadak berubah wujud menjadi hantu gaib yang sangat sulit ditangkap dan sering hilang timbul. Mengapa bisa begitu tragis? Karena meskipun secara teori di atas kertas (secara objektif) Tuhan menjamin bahwa semua orang pilihan tidak akan pernah kehilangan keselamatan mereka sampai kiamat, masalahnya secara mental (secara subjektif) tidak ada satu pun orang Kristen yang pernah mendapatkan surat cetak resmi dari surga yang mencantumkan namanya di dalam daftar kaum pilihan tersebut. Untuk mengetahui apakah dirinya termasuk ke dalam kelompok orang pilihan atau termasuk kelompok orang yang dibuang, si umat Kristen ini dipaksa oleh sistem teologinya untuk melakukan sidak mandiri ke dalam hidupnya: ia harus memeriksa apakah watak perilakunya dari hari ke hari semakin suci, semakin saleh, dan semakin menghasilkan perbuatan baik. Jika dalam proses audit mandiri itu ia mendapati kelakuannya ternyata masih sering amburadul, penuh dosa, atau imannya sedang suam-suam kuku, hatinya langsung digerogoti oleh rasa cemas yang luar biasa mengerikan: “Waduh gawat! Jangan-jangan iman yang kupakai selama ini hanyalah iman palsu? Jangan-jangan aku termasuk ke dalam golongan orang murtad palsu yang diceritakan Yesus dalam perumpamaan tentang benih yang tumbuh di tanah berbatu—yaitu orang yang awalnya kelihatan sangat bersemangat ke gereja, tetapi sebenarnya sejak awal sengaja ditolak Tuhan dan ditakdirkan masuk neraka?” (Lukas 8:13).

Sungguh sebuah ironi tingkat dewa yang sangat menggelikan: meskipun semboyan sola fide berteriak dengan urat leher tegang bahwa dasar keselamatan kita itu berada seratus persen di luar diri manusia—yaitu hanya menempel pada paku karya Yesus di kayu salib—praktik nyata dari ajaran pengudusan ini justru memaksa mata umat untuk terus-menerus melotot ke dalam diri mereka sendiri, mengadili kualitas iman dan menimbang beratnya perbuatan baik mereka sendiri. Ini adalah sebuah formula psikologis paling mutakhir untuk menciptakan gangguan kecemasan dan kegelisahan spiritual tingkat akut di dalam jiwa manusia. Max Weber, dalam The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (diterjemahkan oleh Talcott Parsons, Routledge Classics, London, 2001, hlm. 69), dengan sangat cerdas menelanjangi bagaimana rasa ketakutan massal akan status keselamatan ini akhirnya memaksa orang-orang Calvinis zaman dulu untuk mencari pelarian sekuler: mereka melarikan kecemasan batin itu ke dalam bentuk kerja keras gila-gilaan tanpa libur, menerapkan kedisiplinan hidup yang super ketat, dan menumpuk kekayaan materi setinggi langit di dunia nyata. Semua kesuksesan duniawi itu mereka lakukan sebagai bentuk hiburan instan dan alat bukti eksternal untuk meyakinkan tetangga dan diri mereka sendiri bahwa: “Lihat nih, bisnisku sukses besar, ini adalah tanda konkrit dari atas langit bahwa aku adalah anak kesayangan yang dipilih Tuhan!” Jadi, alih-alih mendapatkan kemerdekaan jiwa dari rasa cemas seperti janji awal Luther, sistem teologi ini justru sukses melahirkan sejenis etos kerja robotik yang kompulsif (tidak bisa berhenti karena kecemasan) yang dibungkus dengan kosmetik bahasa rohani.

Max Weber melukiskan kondisi siksaan mental massal kaum Protestan ini dengan kalimat yang sangat dingin dan tajam (Weber, hlm. 69):

“Betapapun tidak bergunanya perbuatan baik sebagai sarana untuk memperoleh keselamatan, perbuatan baik itu tetaplah sangat diperlukan sebagai tanda pemilihan. Perbuatan baik adalah sarana teknis, bukan untuk membeli keselamatan, melainkan untuk menyingkirkan ketakutan akan penghukuman.”

Lebih lanjut, Weber (hlm. 70) mencatat bahwa setiap individu penganut Calvinis terpaksa harus mengalami kondisi psikologis bernama inner loneliness atau “kesepian batin terdalam yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah peradaban manusia.” Mengapa? Karena si umat Kristen ini dipaksa berdiri sendirian di tengah kegelapan semesta menghadapi Tuhan yang maha keras, tanpa ditemani oleh kehangatan ritual sakramen gereja, tanpa bantuan doa absolution (pengampunan dosa) dari pastor, tanpa perlindungan dari para orang kudus, dan tanpa adanya jaminan institusi organisasi gereja yang bisa memeluknya. Satu-satunya pegangan rapuh yang tersisa di tangan mereka untuk membuktikan status rohani mereka adalah dengan cara terus-menerus bekerja mencari uang dan menjaga ketertiban moral di dunia nyata. Ini bukan lagi gambaran iman yang sedang beristirahat dengan tenang di dalam pelukan kasih Tuhan, melainkan potret iman yang sedang mandi keringat sambil mencangkul di bawah terik matahari ketakutan. Sebuah iman yang keabsahannya wajib terus diverifikasi lewat angka-angka di neraca keuangan, daftar absensi kehadiran di gereja, dan kerapian disiplin rumah tangga.

Dari Kecemasan Menuju Kapitalisme: R.H. Tawney dan Ernst Troeltsch

Teori analisis Max Weber ini tidak berdiri sendirian di ruang hampa. Seorang sejarawan ekonomi terkemuka bernama R.H. Tawney, dalam bukunya yang sangat terkenal berjudul Religion and the Rise of Capitalism (Harcourt, Brace and Company, New York, 1926, hlm. 199–200), mengembangkan analisis Weber dengan memperlihatkan bagaimana etika kesalehan kaum Puritan Inggris—yang awalnya mengusung jargon kerja keras demi kemuliaan Tuhan—pada ujung sejarahnya justru bermutasi menjadi monster ekonomi bernama sistem kapitalisme modern yang sangat serakah. Tawney melukiskan sebuah ironi sejarah yang sangat tajam: para pengkhotbah Puritan di mimbar selalu mendesak jemaatnya untuk bekerja seperti budak dan hidup super hemat sebagai satu-satunya metode pembuktian bahwa mereka adalah orang pilihan Tuhan. Namun, tumpukan modal dan kekayaan raksasa yang otomatis terkumpul akibat gaya hidup super hemat tanpa belanja itu justru melahirkan monster baru berupa godaan kemewahan duniawi dan sistem pasar modal yang sangat bertolak belakang dengan nilai-nilai kesederhanaan Kristen awal. Tawney menulis dalam sindiran sejarahnya:

“Ajaran Calvinis tentang pemilihan, yang menciptakan kebutuhan psikologis untuk pembuktian, secara bertahap bergeser dari pencarian tanda-tanda anugerah di dalam jiwa menjadi pencarian tanda-tanda anugerah di dalam neraca perdagangan. Kesuksesan ekonomi, dari efek samping yang tidak disengaja, menjadi bukti utama status spiritual.”

Dalam lingkaran ironi ini, konsep final sanctification (pengudusan akhir hidup) mengalami penurunan kasta secara drastis: dari yang awalnya merupakan konsep tentang penyempurnaan karakter moral yang suci, bergeser fungsi menjadi konsep tentang penyempurnaan saldo di dalam rekening bank perdagangan. Dan ketika sistem ekonomi kapitalisme ini sudah tumbuh raksasa dan dewasa di dunia modern, ia langsung memutuskan tali pusar teologisnya, membuang agama Kristen ke tempat sampah, dan bertransformasi menjadi sebuah sistem ekonomi sekuler yang berdiri sendiri. Sistem ini menyisakan manusia modern hari ini yang menderita stres akibat dipaksa bekerja mati-matian mengejar karier dan kesuksesan materi tanpa henti—tanpa mereka sendiri sadari bahwa akar kecemasan gila kerja mereka itu sebenarnya berasal dari hantu teologi kuno abad ke-17 tentang ketakutan masuk neraka.

Sementara itu, seorang sosiolog agama terkemuka bernama Ernst Troeltsch dalam studinya yang tebal berjudul The Social Teaching of the Christian Churches yang pertama kali terbit tahun 1911 (diterjemahkan oleh Olive Wyon, Westminster John Knox Press, Louisville, 1992, Volume 2, hlm. 691–693) membedakan kelompok agama menjadi dua tipe struktur sosial: tipe Church (Gereja resmi yang sifatnya inklusif, merangkul semua orang, dan toleran terhadap kelemahan moral) berhadapan dengan tipe Sect (Sekte eksklusif yang anggotanya sangat sedikit, fanatik, dan menerapkan standar moral yang super ketat). Kelompok Protestan Reformed, menurut analisis Troeltsch, memiliki kecenderungan genetik yang sangat kuat untuk bertransformasi menjadi tipe sekte: sebuah komunitas kecil berisi orang-orang yang merasa dirinya sebagai kaum pilihan yang bertugas mengawasi kemurnian ajaran dan mematai-matai moralitas sesama anggota. Keanggotaan dalam organisasi sekte ini menuntut bukti konkrit dari fenomena lahir baru rohani, dan siapa saja anggota yang kelakuannya tidak bisa memenuhi standar kesucian yang ditetapkan langsung diberi label sebagai orang luar atau orang munafik. Troeltsch menulis:

“Sekte adalah komunitas keagamaan sukarela dari individu-individu yang secara pribadi diyakinkan tentang keselamatan mereka. …Ia tidak mengakui keselamatan melalui sakramen atau institusi, melainkan hanya melalui iman pribadi yang diverifikasi oleh kehidupan yang diubahkan.”

Dalam struktur sosial model sekte yang sangat sempit dan mencekik ini, semboyan solus Christus yang katanya bersifat universal mendadak hancur berkeping-keping ketika menabrak realitas sosial komunitas mereka yang sangat tertutup dan hobi menghakimi. Gereja-gereja Protestan model begini sering kali bertransformasi menjadi sebuah tempat panggung sandiwara yang sangat aneh: di satu sisi mereka rajin menyanyikan lagu pujian yang mengundang semua orang berdosa dengan kalimat romantis “Datanglah kepada Yesus, hai kamu yang berbeban berat,” tetapi di sisi lain mereka memasang sistem pemeriksaan birokrasi moral yang sangat ketat di pintu gerbangnya, memastikan bahwa hanya orang-orang berbeban berat yang mampu menunjukkan air mata pertobatan yang sesuai standar versi mereka saja yang diizinkan melangkah masuk lebih jauh ke dalam persekutuan.

Struktur Plausibilitas yang Runtuh dan Kecemasan Modern

Seorang sosiolog makro terkenal bernama Peter L. Berger dalam teori sosiologi agamanya yang sangat populer berjudul The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion (Anchor Books, New York, 1967, hlm. 45) menjelaskan bahwa setiap sistem kepercayaan agama di dunia ini mutlak membutuhkan apa yang ia sebut sebagai struktur plausibilitas (plausibility structure)—yaitu sebuah ekosistem sosial berupa dukungan komunitas, keseragaman budaya, dan perlindungan hukum pemerintah yang berfungsi membuat doktrin agama yang tidak masuk akal sekalipun bisa tetap terlihat nyata, masuk akal, dan dipercaya oleh penganutnya. Dalam tatanan masyarakat Puritan di Amerika atau Eropa pada abad ke-17, struktur pendukung ini sangat kokoh terpasang: institusi gereja, struktur keluarga, sekolah, hingga aparat hukum pemerintah sipil semuanya bekerja sama kompak untuk memaksakan dan menopang kebenaran doktrin predestinasi ini agar tidak digugat warga.

Namun, bencana kebudayaan melanda ketika gelombang modernisasi dan paham pluralisme (keberagaman pemikiran) melanda dunia. Struktur pendukung gaib itu langsung runtuh berantakan. Manusia modern yang dibesarkan di lingkungan gereja Reformed hari ini dipaksa hidup di tengah-tengah lingkungan masyarakat sekuler yang sama sekali tidak peduli dan tidak percaya lagi pada dongeng takdir predestinasi. Akibat runtuhnya tembok pelindung tersebut, rasa ketakutan kosmis dan kecemasan akut akan nasib akhirat yang dulu sempat disalurkan secara positif lewat kerja keras ekonomi, kini mengambang liar di dalam otak manusia modern tanpa memiliki jangkar pelarian yang jelas. Kecemasan rohani purba itu kini bermutasi menjadi gangguan mental modern: berupa depresi klinis yang berat, sikap skeptis yang sinis terhadap semua hal, atau sebaliknya, meledak menjadi gerakan fundamentalisme agama yang reaktif dan radikal—sejenis gerakan nekat kembali ke masa lalu demi mencari rasa aman yang semu. Gangguan mental skrupulositas kini tidak lagi hanya berbicara tentang ketakutan api neraka; ia telah menjelma menjadi ketakutan sekuler modern: berupa ketakutan menjadi orang yang tidak cukup sukses di media sosial, ketakutan tidak cukup produktif dalam bekerja, atau ketakutan hidupnya tidak bermakna—sebuah sisa-sisa warisan kutukan dari sistem teologi kuno yang dulu pernah berkuasa penuh atas otak manusia, dan kini masih menyisakan hantu psikologis yang terus meneror ketenangan jiwa manusia modern.

Dokumen resmi Pengakuan Iman Westminster tahun 1646, sekali lagi dengan tingkat kejujuran yang sangat dingin, terpaksa mengakui bahwa kepastian keselamatan itu sama sekali bukan barang otomatis yang bisa dinikmati setiap hari, melainkan barang mewah yang sering hilang timbul dan penuh perjuangan berdarah-darah. Dalam Westminster Confession of Faith, Bab XVIII, ayat 3 (tercatat dalam The Westminster Standards, Free Presbyterian Publications, Glasgow, 2003, hlm. 72), dinyatakan:

“Kepastian yang tak dapat salah ini tidak termasuk dalam esensi iman, sehingga seorang percaya sejati bisa menanti cukup lama dan bergumul dengan banyak kesulitan sebelum ia memperolehnya…”

Coba baca dan resapi baik-baik kalimat resmi di atas: “seorang percaya sejati bisa menanti cukup lama… sebelum ia memperoleh kepastian.” Jika semboyan sola fide adalah murni percaya pada janji Tuhan yang katanya seratus persen pasti dan gratis, mengapa seorang Kristen yang diakui sudah berstatus “percaya sejati” masih harus dipaksa mengantri dan menanti dalam ketakutan dalam waktu yang sangat lama hanya untuk bisa merasa yakin bahwa dirinya tidak masuk neraka? Masalah kesulitan dan pergumulan berdarah-darah apa lagi yang sedang mereka bicarakan? Bukankah pengakuan jujur dari dokumen iman ini secara tidak langsung menampar muka mereka sendiri dan membuktikan bahwa konsep iman telanjang yang mereka agungkan itu pada kenyataannya sama sekali tidak becus memberikan ketenangan jiwa kepada umatnya? Yang terjadi di lapangan adalah pergeseran fokus yang sangat drastis: mata umat yang awalnya disuruh melihat ke atas langit memandang janji Kristus, pelan-pelan ditarik paksa ke bawah untuk melototi grafik progress kesucian hidup mereka sendiri. Dan karena grafik kelakuan manusia di dunia ini tidak akan pernah bisa mencapai angka sempurna seratus persen bebas dari dosa, maka perasaan kepastian keselamatan itu pun otomatis berubah fungsi menjadi seperti fatamorgana di tengah padang pasir teologi: tampak sangat nyata dan berkilau dari kejauhan, tetapi posisinya selalu mundur menjauh setiap kali si umat mencoba melangkah mendekatinya.

Di sinilah doktrin final sanctification (pengudusan akhir) memainkan perannya sebagai sebilah pedang bermata dua yang sangat mematikan. Di satu sisi, doktrin ini mengumbar janji manis tentang proyek penyempurnaan gaib yang akan membuat jiwa manusia menjadi suci tanpa cacat agar layak melangkah masuk ke ruang takhta surga. Namun di sisi sebaliknya, karena proyek penyempurnaan itu faktanya belum terjadi selama manusia masih bernafas di bumi, setiap orang Kristen yang memiliki hati nurani yang jujur dan sadar akan kebusukan isi pikirannya akan terus-menerus dihantui pertanyaan horor yang menguji nyali: “Aduh, apakah kelakuan dan tabiatku hari ini sudah menunjukkan grafik pertumbuhan suci yang memadai? Apakah progress kesalehanku yang sekecil ini sudah bisa dianggap sebagai bukti otentik yang sah bahwa aku dijamin akan mencapai status final sanctification di hari kematianku nanti?” Sialnya, di dunia ini tidak pernah ada alat ukur atau meteran resmi yang bisa dipakai untuk mengukur kadar kesucian hidup seseorang. Akibat ketiadaan indikator konkrit tersebut, mayoritas umat Kristen Protestan yang taat justru berakhir mengenaskan: mereka terjebak di dalam pusaran introspeksi batin yang tiada akhir tanpa pintu keluar, sebuah kondisi penyiksaan mental yang oleh para teolog Puritan sendiri diberi istilah medis rohani yang sangat pas: the disease of doubt alias “penyakit kronis keraguan jiwa.”

Skenario tragis ini persis seperti kita sedang menonton sebuah pertunjukan drama teater komedi hitam yang diputar berulang-ulang di atas panggung sejarah: seorang musafir yang hendak melakukan perjalanan jauh diberi tahu oleh agen travel bahwa tiket kereta api keselamatan menuju kota impian sudah dipesan khusus atas namanya secara seratus persen gratis tanpa bayar semenjak zaman purba. Namun, ada satu aturan aneh dari agen travel tersebut: si musafir baru bisa mengetahui apakah tiket gratis yang ia pegang itu berstatus sebagai tiket VIP asli atau tiket palsu ketika gerbong kereta api tersebut sudah benar-benar mengerem dan tiba di stasiun akhir tujuan. Sepanjang durasi perjalanan di dalam gerbong yang panjang itu, si musafir diwajibkan untuk terus-menerus memantau kelakuannya sendiri agar ia tidak nekat lompat keluar dari jendela kereta—padahal di saat yang sama, kondektur kereta berulang kali meyakinkan lewat pengeras suara bahwa jika ia adalah pemegang tiket asli, ia dijamin secara gaib tidak akan pernah memiliki keinginan untuk lompat keluar jendela. Namun, jaminan gaib dari kondektur itu sama sekali tidak mampu membuat jantung si musafir berhenti berdebar kencang. Mengapa? Karena si kondektur hobi berjalan mondar-mandir di koridor gerbong sambil terus-menerus mengeluarkan kalimat ancaman bahwa dalam sejarah kereta ini, sudah ada ribuan penumpang yang penampilannya dari luar tampak sangat meyakinkan sebagai pemegang tiket asli, ternyata setelah diperiksa secara mendalam di tengah jalan, mereka hanyalah penumpang gelap yang menyusup ilegal, dan akhirnya mereka diseret paksa oleh petugas untuk dilempar keluar gerbong ke tengah jurang kegelapan. Akibat teror verbal yang konstan dari kondektur tersebut, sang musafir malang terpaksa harus menghabiskan seluruh sisa waktu perjalanannya dalam kondisi gemetar ketakutan di atas kursi penumpang. Ia tidak bisa menikmati pemandangan indah di luar jendela; ia sibuk mengawasi setiap gerak-gerik jarinya sendiri, memeras otak menebak-nebak arti dari setiap tatapan mata kondektur yang lewat, sambil terus berdoa dengan penuh keputusasaan berharap bahwa namanya yang kecil itu sungguh-sungguh termasuk ke dalam daftar nama penumpang sah yang diizinkan turun di stasiun akhir surga.

Kesimpulan: Lalu, Di Manakah Fondasi Itu?

Setelah kita selesai berjalan-jalan menelusuri setiap sudut labirin yang rumit dan melihat langsung bagaimana keempat doktrin raksasa ini saling baku hantam di atas panggung, pemandangan konkrit apa yang akhirnya kita temukan?

Semboyan sola fide (hanya iman) berikrar dengan gagah berani bahwa iman sendirian sudah cukup untuk menyelamatkan manusia tanpa perlu embel-embel perbuatan baik. Namun doktrin final sanctification mendadak datang menyenggol dan menuntut agar iman tersebut wajib memproduksi bukti kelakuan suci yang nyata di dunia sebagai syarat pembuktian yang tidak bisa ditawar. Semboyan solus Christus dengan bangga mewartakan sosok Yesus sebagai satu-satunya pintu gerbang keselamatan bagi dunia, tetapi doktrin predestinasi ganda langsung memotong paksa jalur tersebut dan membatasi bahwa darah Yesus di kayu salib hanya dialokasikan khusus untuk rombongan kecil orang dalam yang dipilih secara rahasia sejak awal mula. Doktrin predestinasi ganda, pada giliran berikutnya, menegaskan bahwa kemampuan manusia untuk bisa percaya (iman) adalah sejenis hadiah eksklusif yang dibagikan secara tebang pilih oleh Tuhan, sehingga semboyan sola fide yang awalnya tampak sebagai undangan ramah bagi semua orang, berubah wujud menjadi sejenis permainan takdir tertutup yang sangat kejam. Dan di atas seluruh tumpukan kontradiksi tersebut, doktrin final sanctification bersama doktrin ketekunan orang kudus datang menawarkan jaminan kepastian keselamatan yang diklaim aman secara teori di atas langit, namun pada praktiknya seratus persen sangat mustahil untuk digenggam dengan tenang secara psikologis di bumi. Jaminan itu justru sukses mengubah apa yang katanya “kabar baik” (Injil) menjadi sebuah pabrik penghasil kecemasan dan ketakutan kronis yang berkepanjangan bagi umat manusia.

Kita sedang dipaksa menyaksikan sebuah arsitektur teologi yang sangat aneh, yang mencoba memaksakan dua kutub magnet yang saling tolak-menolak agar terlihat akur di dalam satu ruangan: yaitu kutub anugerah monergistik (paham bahwa hanya Tuhan yang aktif bekerja menggerakkan segala hal dalam keselamatan, sedangkan manusia pasif total seperti benda mati) berhadapan langsung dengan kutub tanggung jawab moral manusia (di mana manusia dituntut wajib aktif percaya, aktif bertobat, dan aktif menghasilkan buah perbuatan baik). Hasil akhir dari pemaksaan paksa ini sama sekali bukan sebuah simfoni lagu yang harmonis dan indah, melainkan rentetan trik permainan bahasa, utak-atik definisi kata, dan pembuatan istilah-istilah distingsi (pembedaan istilah akademik) yang super halus yang fungsinya mirip seperti tukang tambal ban yang sibuk menambal lubang kebocoran baru yang mendadak muncul setiap kali lubang lama selesai diperbaiki. Persis seperti permainan anak-anak di pasar malam bernama whack-a-mole—di mana setiap kali ada satu kepala tikus kontradiksi logika yang berhasil kita pukul mundur menggunakan istilah teologi baru, kontradiksi logika baru yang tak kalah membingungkan mendadak muncul melompat di sudut panggung yang lain. Seluruh bangunan megah Protestantisme ini ternyata berdiri tegak di atas fondasi ketegangan logika yang retak dan tidak akan pernah bisa dipecahkan sampai kapan pun.

Tetapi petaka terbesar yang dihasilkan oleh kekusutan sistem doktrin ini sama sekali tidak berhenti di ranah debat kusir para akademisi di ruang kuliah. Dalam catatan sejarah riil, doktrin-doktrin yang saling cakar ini terbukti sukses menciptakan stratifikasi sosial—alias pembagian kasta manusia—yang sangat beracun di dunia nyata, yang hanya didasarkan pada tingkat kepastian subjektif yang ada di dalam kepala masing-masing orang. Dampak sosialnya sangat ngeri: sebagian orang yang memiliki kepribadian percaya diri berlebihan bisa berjalan di tengah masyarakat dengan dada membusung dan bersikap arogan karena merasa dirinya sebagai “kaum pilihan Tuhan yang sudah pasti selamat,” sementara tetangga mereka yang kebetulan memiliki kepribadian sensitif atau sedang mengalami depresi harus meringkuk di sudut kamar dalam kondisi ketakutan kronis karena dicap oleh masyarakat sebagai “kaum buangan yang dikutuk Tuhan.” Dalam catatan sejarah peradaban, mentalitas merasa diri sebagai anak emas kosmis inilah yang menjadi bahan bakar utama yang memicu tindakan pengucilan sosial, penghakiman massal, hingga aksi kekerasan fisik yang kejam terhadap kelompok warga yang dinilai tidak mampu menunjukkan tanda-tanda kesucian hidup versi standar elit gereja.

Secara kesehatan mental, ketegangan konseptual antara slogan iman gratis, tuntutan perbuatan baik, dan doktrin takdir buta predestinasi telah menjelma menjadi sebuah mesin penghasil kecemasan massal yang sangat efektif sepanjang sejarah Kekristenan Barat. Sistem ini sukses memproduksi apa yang disebut William James sebagai sick souls (jiwa-jiwa yang sakit secara mental), memicu gangguan kecemasan OCD bertema agama (skrupulositas), serta menciptakan depresi spiritual akut seperti yang dialami dengan sangat menderita oleh John Bunyan—sebuah warisan trauma psikologis yang hingga detik ini masih sering ditemukan memenuhi ruang-ruang konseling psikologi dan klinik psikiatri. Bahkan jika kita mempercayai hasil diagnosis sosiologi Max Weber, R.H. Tawney, dan Ernst Troeltsch, seluruh sistem ekonomi kapitalisme modern yang hari ini menguasai dunia—dengan segala kegilaannya yang memaksa manusia bekerja seperti robot tanpa henti demi status sosial—sebenarnya adalah anak kandung sah yang lahir dari rahim kegelisahan kosmis kaum Protestan abad kuno: sebuah dunia modern yang sakit, di mana manusia dipaksa terus-menerus bekerja keras bukan untuk menikmati hidup, melainkan demi berburu angka-angka materi sebagai obat penenang instan untuk membuktikan bahwa diri mereka layak untuk hidup di dunia ini.

Seorang filsuf eksistensialist Kristen yang sangat tajam asal Denmark, Søren Kierkegaard, yang menghabiskan sisa hidupnya untuk mengamati kemunafikan masyarakat gereja yang sudah kehilangan gairah spiritual sejati, pernah menulis kalimat kritik yang sangat getir dan menohok dalam bukunya Fear and Trembling yang terbit tahun 1843 (diterjemahkan oleh Alastair Hannay, Penguin, London, 1985, hlm. 41):

“Konsep ‘iman’ telah menjadi begitu murah di dunia sehingga yang diperlukan hanyalah sedikit bersikap sopan untuk dianggap beriman.”

Jika kita bawa kalimat kritik Kierkegaard ini ke dalam konteks pembahasan kita, ironi yang kita temukan justru bergerak ke arah sebaliknya dan terasa jauh lebih menyakitkan: tiket iman yang dalam khotbah di brosur gereja selalu dipromosikan sebagai barang yang sangat murah dan gratis, pada kenyataannya di dunia nyata sama sekali tidak murah! Tiket itu terbukti sangat mahal dan harus dibayar dengan harga yang sangat menguras dompet psikologis, menghancurkan struktur sosial, dan menyiksa kesadaran eksistensial manusia. Setiap orang yang mendatangi altar gereja karena tergiur dengan tawaran keselamatan cuma-cuma (sola fide), mendadak harus menerima kenyataan pahit di belakang panggung bahwa untuk memverifikasi apakah tiket gratis yang ia pegang itu asli atau palsu, ia wajib membayar harganya menggunakan ketenangan batin dan kedamaian jiwanya sendiri sepanjang sisa hidupnya di bumi. Iman tidak lagi menjadi tempat tidur yang empuk untuk beristirahat bagi jiwa yang lelah; ia telah bertransformasi menjadi sebuah proyek kerja paksa seumur hidup yang tidak pernah ada kata selesai, di mana kepastian jawabannya sengaja ditahan oleh sistem teologi dan baru boleh diintip ketika tubuh si umat sudah terbujur kaku di dalam liang kubur—itu pun dengan catatan kecil yang sangat spekulatif: jika seluruh teori teologi yang ditulis para Reformator itu kebetulan memang benar.

Apakah kesimpulan analisis ini mengartikan bahwa seluruh gerakan Protestantisme sama sekali tidak memiliki nilai kebaikan atau kegunaan dalam sejarah manusia? Tentu saja bukan itu poin objektif yang ingin disampaikan di sini. Poin kritis yang ingin ditunjukkan secara telanjang adalah bahwa proyek ambisius Reformasi Protestan, yang pada awal sejarahnya berteriak lantang ingin menyusun sebuah sistem teologi yang “murni”, “bersih”, dan “lurus” yang hanya bersandarkan pada teks Alkitab (sola scriptura), pada kenyataannya di lapangan justru memproduksi sebuah jaringan konsep doktrin yang sangat rumit, saling menjegal, dan sering kali saling mengunci mati satu sama lain dari dalam. Klaim muluk-muluk tentang adanya kejelasan logika, konsistensi berpikir, dan kepastian iman yang selalu dijanjikan oleh para pendeta di atas mimbar, ternyata setelah dibongkar menggunakan pisau analisis yang jujur, terbukti tidak pernah benar-benar terwujud di dunia nyata. Di bawah lapisan permukaan slogan-slogan lima Sola yang terdengar sangat gagah berani dan heroik itu, sebenarnya tersimpan rimbunan semak belukar kebingungan teologis dan kontradiksi logika yang tingkat kerumitannya sama sekali tidak berbeda—dan bahkan bisa jauh lebih kusut—dibandingkan dengan segala sistem tradisi Gereja Katolik Roma abad pertengahan yang dulu mereka maki-maki dan mereka hancurkan. Dan yang paling menyedihkan dari seluruh drama kosmis ini: kekusutan logika ini tidak hanya berhenti sebagai bahan perdebatan membosankan di atas kertas para pemikir; ia telah terbukti berhasil melukai hati nurani jutaan manusia, menyiksa kesehatan mental umat yang jujur, dan ikut membentuk wajah peradaban dunia modern menjadi sebuah tempat yang kadang-kadang terasa sangat asing, dingin, dan mengerikan untuk ditinggali. Di dalam sebuah labirin teologi megah yang awalnya sengaja dibangun oleh para arsitek agama untuk menuntun manusia keluar menuju terang cahaya Tuhan, pada faktanya jutaan manusia justru berakhir tersesat di tengah kegelapan koridor dinding-dinding doktrin, berputar-putar tanpa pernah bisa menemukan jalan untuk pulang ke rumah.

Akhir kata, perjalanan panjang kita menyusuri lorong-lorong gelap di dalam labirin teologi ini mungkin terasa sangat mirip seperti sedang duduk di bangku penonton menyaksikan sebuah pertandingan catur yang sangat aneh di sebuah rumah sakit jiwa: di mana kedua pemain caturnya terus-menerus mengubah aturan langkah setiap kali ada bidak pion yang bergerak maju di atas papan. Bidak-bidak pion catur yang malang itu diberi nama sola fide, solus Christus, predestinasi ganda, dan final sanctification. Dan di atas papan catur yang penuh tipu muslihat itu, tidak akan pernah ada satu pun bidak yang diizinkan untuk benar-benar keluar sebagai pemenang yang sah—yang ada hanyalah sebuah permainan putar-putar kata yang sengaja dibuat agar terus berlangsung tanpa akhir, sementara para penonton yang waras di luar pagar mulai memegangi kepala mereka sambil bertanya-tanya dengan penuh kebingungan: siapa sebenarnya dalang utama yang sedang menggerakkan permainan gila ini, dan untuk tujuan apa permainan ini diciptakan? Dan kita semua, yang saat ini sedang duduk manis di bangku penonton, mungkin tidak akan bisa menghindari munculnya segaris senyuman getir di sudut bibir kita, sembari menyadari sebuah realitas sejarah yang sangat ironis: bahwa sebuah labirin doktrin yang awalnya dibangun setengah mati oleh tangan manusia dengan klaim untuk membantu sesamanya menemukan sosok Tuhan, pada kenyataannya justru sering kali berhasil menyembunyikan wajah Tuhan itu rapat-rapat di balik tembok-tembok dogma tebal yang didirikan sendiri oleh tangan-tangan manusia yang merasa dirinya paling yakin, paling suci, dan paling tahu segalanya tentang isi pikiran Tuhan.


Daftar Referensi

Abramowitz, Jonathan S., dkk. “Religious Scrupulosity: A Cognitive-Behavioral Analysis.” Clinical Psychology Review, Vol. 22, No. 4, 2002, hlm. 429–448.

Berger, Peter L. The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion. New York: Anchor Books, 1967.

Bunyan, John. Grace Abounding to the Chief of Sinners (1666). Dalam The Works of John Bunyan, Vol. 1. Edinburgh: Banner of Truth Trust, 1991.

Calvin, Yohanes. Institutes of the Christian Religion. 2 volume. Diedit oleh John T. McNeill. Diterjemahkan oleh Ford Lewis Battles. Philadelphia: Westminster Press, 1960.

Canons of the Synod of Dort. Dalam Philip Schaff, The Creeds of Christendom, Vol. 3. Grand Rapids: Baker Books, 1998.

Edwards, Jonathan. Freedom of the Will (1754). Diedit oleh Paul Ramsey. New Haven: Yale University Press, 1957.

Festinger, Leon. A Theory of Cognitive Dissonance. Stanford: Stanford University Press, 1957.

Flew, Antony. “Theology and Falsification.” Dalam Antony Flew dan Alasdair MacIntyre, ed., New Essays in Philosophical Theology. London: SCM Press, 1955.

Grayson, Jonathan. Freedom from Obsessive Compulsive Disorder. New York: Berkley Books, 2003.

Hill, Christopher. Society and Puritanism in Pre-Revolutionary England. London: Secker & Warburg, 1964.

James, William. The Varieties of Religious Experience (1902). Ed. Martin E. Marty. New York: Penguin Classics, 1985.

Kierkegaard, Søren. Fear and Trembling (1843). Diterjemahkan oleh Alastair Hannay. London: Penguin, 1985.

Luther, Martin. “Preface to the Epistle of St. Paul to the Romans” (1522). Dalam Luther’s Works, Vol. 35, diedit oleh Jaroslav Pelikan. St. Louis: Concordia Publishing House,

1960.

Luther, Martin. De Servo Arbitrio (1525). Dalam Luther’s Works, Vol. 33, diedit dan diterjemahkan oleh Philip S. Watson. Philadelphia: Fortress Press, 1972.

Morgan, Edmund S. Visible Saints: The History of a Puritan Idea. Ithaca: Cornell University Press, 1963.

Murray, John. Redemption: Accomplished and Applied. Grand Rapids: Eerdmans, 1955.

Owen, John. The Doctrine of Justification by Faith (1677). Dalam The Works of John Owen, Vol. 5. Edinburgh: Banner of Truth Trust, 1965.

Stanley, Brian. The Bible and the Flag: Protestant Missions and British Imperialism in the Nineteenth and Twentieth Centuries. Leicester: Apollos, 1990.

Tawney, R.H. Religion and the Rise of Capitalism. New York: Harcourt, Brace and Company, 1926.

Troeltsch, Ernst. The Social Teaching of the Christian Churches (1911). Diterjemahkan oleh Olive Wyon. 2 volume. Louisville: Westminster John Knox Press, 1992.

Weber, Max. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1905). Diterjemahkan oleh Talcott Parsons. London: Routledge Classics, 2001.

Westminster Confession of Faith (1646). Dalam The Westminster Standards. Glasgow: Free Presbyterian Publications, 2003.

Winell, Marlene. “Religious Trauma Syndrome.” Cognitive Behaviour Therapy Today, Vol. 3, 2011, hlm. 1–7.

Artikel Terkait