1. Martin Luther (1483–1546)
Dalam khotbahnya pada pesta Kabar Sukacita (pesta ketika Malaikat Gabriel mendatangi Maria), Luther secara gamblang menggunakan metafora Tabut Perjanjian untuk menjelaskan bagaimana rahim Maria menjadi tempat kediaman Allah yang menjelma menjadi manusia.
Kutipan Verbatim:
“Sebab ia [Maria] adalah tabut perjanjian yang baru, bukan karena ia memiliki loh-loh batu hukum Musa, melainkan karena di dalam dirinya bersemayam Firman yang hidup yang telah menjadi manusia. Allah memilihnya menjadi bait-Nya yang kudus, tempat di mana keselamatan dunia diletakkan.”
Sumber Referensi yang Valid:
- Tokoh: Martin Luther
- Dokumen/Buku: Luthers Werke (Weimarer Ausgabe / WA), Band 36. (Koleksi Khotbah-Khotbah Luther tahun 1532).
- Khotbah: Predigt am Tage Hari Kabar Sukacita (Ankündigung Mariae).
- Tahun: 1532.
- Halaman: Halaman 145, Paragraf 2 (Edisi Kritis Weimar).
2. Ulrich Zwingli (1484–1531)
Zwingli, Reformator Swiss yang sangat menghormati Maria, menggunakan argumen perlindungan Allah terhadap Tabut Perjanjian lama untuk mempertahankan doktrin Keperawanan Abadi Maria (Semper Virgo). Ia berargumen bahwa jika tabut lama saja dijaga dengan sangat ketat oleh Allah, apalagi rahim Maria.
Kutipan Verbatim:
“Jika tabut kayu yang dilapisi emas itu begitu dihormati dan tidak boleh disentuh oleh tangan yang tidak tahir karena ia memuat loh-loh batu, betapa jauh lebih besar kesucian yang dijaga Allah pada tabut yang hidup ini [Maria], yang di dalamnya bersemayam Penulis Hukum itu sendiri dan Juruselamat kita.”
Sumber Referensi yang Valid:
- Tokoh: Ulrich Zwingli
- Dokumen/Buku: Huldreich Zwinglis Sämtliche Werke (Corpus Reformatorum / CR), Jilid 1.
- Judul Karya: De perpetua virginitate Mariae matris Jesu Christi (Mengenai Keperawanan Abadi Maria, Ibu Yesus Kristus).
- Tahun: 1522.
- Halaman: Halaman 424, Paragraf 3.
3. Jean Calvin (1509–1564)
Berbeda dengan Luther dan Zwingli, Jean Calvin tidak pernah menyebut Maria sebagai “Tabut Perjanjian Baru” secara personal. Calvin bersikap sangat restriktif terhadap penggunaan gelar-gelar alegoris di luar teks Alkitab. Namun, dalam ulasannya mengenai teks Lukas 1:43 (kunjungan Maria ke rumah Elisabeth), ia membuat paralel tipologis yang tidak langsung:
Kutipan Verbatim:
“Elisabeth menyebutnya [Maria] sebagai ‘Ibu Tuhanku’ karena ia digerakkan oleh Roh Kudus untuk melihat bahwa kedatangan Maria yang membawa Kristus dalam rahimnya adalah sebuah berkat besar, sama seperti rumah Obed-Edom yang diberkati saat tabut Tuhan tinggal di sana. Namun, hormat ini sepenuhnya adalah milik Kristus yang dikandungnya, bukan karena kedagingan Maria itu sendiri.”
Sumber Referensi yang Valid:
- Tokoh: Jean Calvin
- Dokumen/Buku: Ioannis Calvini Opera Quae Supersunt Omnia (Calvini Opera / CO), Jilid 45.
- Judul Karya: Commentarius in Harmoniam Evangelicam (Komentari Harmoni Injil).
- Tahun: 1555.
- Halaman: Halaman 35, Kolom 2, Paragraf 1 (Ulasan untuk Lukas 1:43).
Kesimpulan
Teks di atas menunjukkan bahwa bagi para Reformator Protestan generasi pertama (khususnya Luther dan Zwingli):
- Penggunaan istilah “Tabut Perjanjian” untuk Maria adalah hal yang lazim digunakan dalam khotbah mereka untuk menjelaskan inkarnasi Kristus.
- Pergeseran teologis baru terjadi pada generasi-generasi Protestan setelahnya (teologi pasca-Reformasi), di mana penggunaan gelar ini mulai ditinggalkan secara total demi menghindari bias devosional yang berlebihan dan untuk menegaskan prinsip Sola Scriptura.