Tanggal: 21 Mei 2026

Perayaan: St. Kristoforus dr Magallan

Warna Liturgi: Putih

📖 Bacaan Pertama

Kis. 22:30

Namun kepala pasukan itu ingin mengetahui dengan teliti apa yang dituduhkan orang-orang Yahudi kepada Paulus. Karena itu pada keesokan harinya ia menyuruh mengambil Paulus dari penjara dan memerintahkan, supaya imam-imam kepala dan seluruh Mahkamah Agama berkumpul. Lalu ia membawa Paulus dari markas dan menghadapkannya kepada mereka.

Dan karena ia tahu, bahwa sebagian dari mereka itu termasuk golongan orang Saduki dan sebagian termasuk golongan orang Farisi, ia berseru dalam Mahkamah Agama itu, katanya: “Hai saudara-saudaraku, aku adalah orang Farisi, keturunan orang Farisi; aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap akan kebangkitan orang mati.”

Ketika ia berkata demikian, timbullah perpecahan antara orang-orang Farisi dan orang-orang Saduki dan terbagi-bagilah orang banyak itu.

Sebab orang-orang Saduki mengatakan, bahwa tidak ada kebangkitan dan tidak ada malaikat atau roh, tetapi orang-orang Farisi mengakui kedua-duanya.

Maka terjadilah keributan besar. Beberapa ahli Taurat dari golongan Farisi tampil ke depan dan membantah dengan keras, katanya: “Kami sama sekali tidak menemukan sesuatu yang salah pada orang ini! Barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadanya.”

Maka terjadilah perpecahan besar, sehingga kepala pasukan takut, kalau-kalau mereka akan mengoyak-ngoyak Paulus. Karena itu ia memerintahkan pasukan untuk turun ke bawah dan mengambil Paulus dari tengah-tengah mereka dan membawanya ke markas.

Pada malam berikutnya Tuhan datang berdiri di sisinya dan berkata kepadanya: “Kuatkanlah hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.”


🎵 Mazmur Tanggapan

Miktam. Dari Daud. Jagalah aku, ya Allah, sebab pada-Mu aku berlindung.

Aku berkata kepada TUHAN: “Engkaulah Tuhanku, tidak ada yang baik bagiku selain Engkau!”

Ya TUHAN, Engkaulah bagian warisanku dan pialaku, Engkau sendirilah yang meneguhkan bagian yang diundikan kepadaku.

Aku memuji TUHAN, yang telah memberi nasihat kepadaku, ya, pada waktu malam hati nuraniku mengajari aku.

Aku senantiasa memandang kepada TUHAN; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah.

Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak, bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram;

sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.

Engkau memberitahukan kepadaku jalan kehidupan; di hadapan-Mu ada sukacita berlimpah-limpah, di tangan kanan-Mu ada nikmat senantiasa.


✝️ Bacaan Injil

Yohanes 17:20-26

Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka;

supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.

Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu:

Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.

Ya Bapa, Aku mau supaya, di mana pun Aku berada, mereka juga berada bersama-sama dengan Aku, mereka yang telah Engkau berikan kepada-Ku, agar mereka memandang kemuliaan-Ku yang telah Engkau berikan kepada-Ku, sebab Engkau telah mengasihi Aku sebelum dunia dijadikan.

Ya Bapa yang adil, memang dunia tidak mengenal Engkau, tetapi Aku mengenal Engkau, dan mereka ini tahu, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku;

dan Aku telah memberitahukan nama-Mu kepada mereka dan Aku akan memberitahukannya, supaya kasih yang Engkau berikan kepada-Ku ada di dalam mereka dan Aku di dalam mereka.”


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Dunia kita mudah terpecah oleh perbedaan, entah itu opini, politik, budaya, suku, bahkan hal-hal yang sebenarnya sepele. Kita hidup di tengah masyarakat yang cepat menghakimi dan lambat memahami.

Padahal, bangsa kita dibangun di atas semangat Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda tetapi tetap satu. Sayangnya, semboyan ini sering menjadi slogan belaka, tanpa perwujudan nyata. Dalam konteks ini, Injil hari ini menjadi sangat relevan.

Yesus berdoa kepada Bapa, dan yang paling menyentuh adalah bahwa la berdoa bukan hanya untuk para murid-Nya saat itu, melainkan juga untuk mereka yang percaya kepada Dia melalui pemberitaan para murid-Nya. Itu berarti, Yesus berdoa untuk kita.

Lalu, apa yang Dia doakan? Bukan kesuksesan, bukan kenyamanan, melainkan kesatuan. “Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau.” Kesatuan bukan berarti keseragaman.

Yesus tidak meminta agar semua murid berpikir dan bertindak sama, tetapi agar mereka satu dalam kasih, dalam pengakuan akan kebenaran, dan dalam misi untuk menghadirkan Kerajaan Alah di dunia.

Ini adalah panggilan bagi Gereja saat ini: panggilan untuk menjadi saksi kesatuan di tengah dunia yang terpecah, untuk menjadi tanda kasih Allah yang menyatukan.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Dalam bacaan pertama, kita menyaksikan bagaimana Paulus, meski berada dalam situasi yang sulit, tetap berpegang pada harapan akan kebangkitan. Ini mencerminkan keyakinan yang mendalam akan kekuatan Tuhan yang selalu menyertai kita, terlepas dari tantangan yang dihadapi. Dalam hidup sehari-hari, kita sering kali terjebak dalam perdebatan dan perpecahan, baik di lingkungan sosial maupun di dalam komunitas iman. Bacaan ini mengingatkan kita bahwa harapan dan keyakinan akan kebangkitan harus menjadi pendorong untuk bersatu, menggandeng tangan dalam perbedaan, bukan terpecah belah oleh pendapat yang beragam.

Di dalam Injil, Yesus berdoa untuk kesatuan para pengikut-Nya, mengingatkan kita bahwa kesatuan bukanlah tentang keseragaman, melainkan tentang kasih yang mengikat. Dalam dunia yang penuh dengan perpecahan, Yesus mengajak kita untuk membangun jembatan, bukan tembok. Kesatuan ini harus tercermin dalam tindakan kita sehari-hari, dalam cara kita menghargai perbedaan, dan dalam usaha kita untuk memahami satu sama lain. Kesatuan dalam kasih dan misi adalah panggilan kita sebagai Gereja untuk menjadi saksi nyata bagi dunia.

Sebagai umat beriman, kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang dunia, menunjukkan bahwa meskipun kita berbeda, kita memiliki tujuan yang sama: menghadirkan Kerajaan Allah di bumi. Kita harus berusaha untuk menciptakan ruang di mana setiap orang merasa diterima dan dihargai. Dengan demikian, kita tidak hanya melaksanakan ajaran Yesus, tetapi juga menjadi alat-Nya untuk menyebarkan kasih dan persatuan. Mari kita berkomitmen untuk menjadikan kesatuan sebagai prioritas, agar iman kita dapat menjadi inspirasi bagi orang lain dan menjadi tanda kasih Allah yang nyata di tengah dunia yang terpecah.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram