SENIN PEKAN BIASA VIII
Peringatan wajib Santa Perawan Maria Bunda Gereja
Santo Beda Venerabilis

Santo Gregorius VII
Warna Liturgi: Putih

Bacaan I – Kejadian 3:9-15.20

Aku akan mengadakan permusuhan antara keturunanmu dan keturunan wanita itu.

Bacaan dari Kitab Kejadian:

Pada suatu hari, di Taman Eden, setelah Adam makan buah pohon terlarang, Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya, “Di manakah engkau?” Ia menjawab, “Ketika aku mendengar bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.” Lalu Tuhan berfirman, “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?” Manusia itu menjawab, “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” Kemudian berfirmanlah Tuhan Allah kepada perempuan itu, “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu, “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”

Lalu berfirmanlah Tuhan Allah kepada ular itu, “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan! Dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu! Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Manusia itu memberi nama Hawa kepada istrinya, sebab dialah yang menjadi ibu semua yang hidup.

Demikianlah Sabda Tuhan.

Mazmur Tanggapan – Mazmur 87:1-2.3.5.6-7

Pujilah Tuhan, hai segala bangsa!

  • Di gunung-gunung yang kudus ada kota yang dibangunkan-Nya; Tuhan lebih mencintai pintu-pintu gerbang Sion dari pada segala tempat kediaman Yakub. Hal-hal yang mulia dikatakan tentang engkau, ya kota Allah.
  • Tetapi tentang Sion dikatakan: “Tiap-tiap orang dilahirkan di dalamnya,” dan Dia, Yang Mahatinggi, menegakkannya.
  • Pada waktu mencatat bangsa-bangsa Tuhan menghitung: “Ini dilahirkan di sana.” Dan orang menyanyi-nyanyi sambil menari beramai-ramai, “Semua mendapatkan rumah di dalammu.”

Bacaan Injil – Yohanes 19:25-34

Inilah ibumu.

Inilah Injil Suci menurut Yohanes:

Waktu Yesus bergantung di salib, dekat salib itu berdiri ibu Yesus, dan saudara ibu Yesus, Maria, isteri Klopas dan Maria Magdalena. Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu!” Kemudian kata Nya kepada murid-Nya, “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima ibu Yesus di dalam rumahnya.

Sesudah itu, karena tahu bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Yesus, – supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci – “Aku haus!”

Di situ ada suatu wadah penuh anggur asam. Maka mereka mencelupkan bunga karang dalam anggur asam itu, mencucukkannya pada sebatang hisop, lalu mengunjukkannya ke mulut Yesus. Sesudah meminum anggur asam itu, berkatalah Yesus, “Sudah selesai!” Lalu Yesus menundukkan kepala dan menyerahkan nyawa-Nya.

Karena hari itu hari persiapan, dan supaya pada hari Sabat mayat-mayat itu tidak tinggal tergantung pada kayu salib – sebab Sabat itu adalah hari yang besar – maka datanglah para pemuka Yahudi kepada Pilatus dan meminta kepadanya supaya kaki orang-orang itu dipatahkan, dan jenazah-jenazahnya diturunkan. Lalu datanglah prajurit-prajurit dan mematahkan kaki orang yang pertama dan kaki orang yang lain yang disalibkan bersama-sama dengan Yesus. Tetapi ketika mereka sampai kepada Yesus dan melihat bahwa Ia telah mati,
mereka tidak mematahkan kaki-Nya, tetapi seorang dari antara prajurit itu menikam lambung-Nya dengan tombak, dan segera mengalir keluar darah dan air.

Demikianlah sabda Tuhan.

Renungan

Hari ini, bersama seluruh Gereja, kita merayakan Santa Perawan Maria sebagai Bunda Gereja. Ia adalah ibu Yesus, dan karena Yesus adalah Kepala Gereja maka ia pun menjadi ibu dari seluruh tubuh-Nya, yakni kita semua, umat beriman.

Dalam Kisah Para Rasul diceritakan bahwa setelah Yesus naik ke surga, para murid berkumpul dalam doa, menantikan penggenapan janji-Nya, yakni kedatangan Roh Kudus. Di tengah komunitas yang berdoa itu, Bunda Maria hadir. Ia tidak tampil sebagai pemimpin atau pembicara, tetapi sebagai seorang ibu yang menopang dengan keheningan dan doa. Ia hadir dengan kesetiaan, menemani Gereja yang sedang bertumbuh dalam pengharapan.

Dalam Injil Yohanes, kita melihat Bunda Maria berdiri di bawah salib. Di tengah penderitaan Nya, Yesus masih memberikan hadiah besar kepada kita, yaitu Bunda Maria sebagai ibu kita. Ia berkata kepada Maria, “Ibu, inilah anakmu,” dan kepada murid-Nya, “Inilah ibumu.” Dalam kata-kata ini, Gereja lahir tidak hanya dari darah Kristus, tetapi juga dalam kasih dan keibuan Bunda Maria. Maka dari itu, Bunda Maria bukan hanya simbol kesucian, melainkan juga pelindung dan perantara dalam ziarah iman kita. Dan Yohanes ‘menerima Bunda Maria di dalam rumahnya’ bukan hanya secara fisik, melainkan juga secara rohani. Kita pun diundang untuk melakukan hal yang sama, yaitu menerima Bunda Maria dalam hidup iman kita, menjadikannya penolong dan pendamping dalam ziarah menuju Yesus Kristus.

Ya Tuhan, dampingilah kami dalam perjalanan iman ini, dan ajarilah kami agar menjadi seperti Bunda Maria, yaitu selalu setia, berani, dan terbuka untuk rencana-Mu, amin.

Sumber: Ziarah Batin 2026 Penerbit Obor

Komsos KWI

Komsos KWI

Membantu para Waligereja mewujudkan masyarakat Indonesia yang beriman, menghayati nilai-nilai universal, serta mampu menggunakan media komunikasi secara bertanggung jawab demi terciptanya persaudaraan sejati dan kemajuan bersama.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram