Tanggal: 20 April 2026

Perayaan: Hari biasa Pekan III Paskah

Warna Liturgi: Putih

📖 Bacaan Pertama

Kis. 46:8-15

Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.

Tetapi tampillah beberapa orang dari jemaat Yahudi yang disebut jemaat orang Libertini — anggota-anggota jemaat itu adalah orang-orang dari Kirene dan dari Aleksandria — bersama dengan beberapa orang Yahudi dari Kilikia dan dari Asia. Orang-orang itu bersoal jawab dengan Stefanus,

tetapi mereka tidak sanggup melawan hikmatnya dan Roh yang mendorong dia berbicara.

Lalu mereka menghasut beberapa orang untuk mengatakan: “Kami telah mendengar dia mengucapkan kata-kata hujat terhadap Musa dan Allah.”

Dengan jalan demikian mereka mengadakan suatu gerakan di antara orang banyak serta tua-tua dan ahli-ahli Taurat; mereka menyergap Stefanus, menyeretnya dan membawanya ke hadapan Mahkamah Agama.

Lalu mereka memajukan saksi-saksi palsu yang berkata: “Orang ini terus-menerus mengucapkan perkataan yang menghina tempat kudus ini dan hukum Taurat,

sebab kami telah mendengar dia mengatakan, bahwa Yesus, orang Nazaret itu, akan merubuhkan tempat ini dan mengubah adat istiadat yang diwariskan oleh Musa kepada kita.”

Semua orang yang duduk dalam sidang Mahkamah Agama itu menatap Stefanus, lalu mereka melihat muka Stefanus sama seperti muka seorang malaikat.


🎵 Mazmur Tanggapan

Mazmur 119:23-24.26-27.29-30

Sekalipun pemuka-pemuka duduk bersepakat melawan aku, hamba-Mu ini merenungkan ketetapan-ketetapan-Mu.

Ya, peringatan-peringatan-Mu menjadi kegemaranku, menjadi penasihat-penasihatku.

Jalan-jalan hidupku telah aku ceritakan dan Engkau menjawab aku — ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

Buatlah aku mengerti petunjuk titah-titah-Mu, supaya aku merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu yang ajaib.

Jauhkanlah jalan dusta dari padaku, dan karuniakanlah aku Taurat-Mu.

Aku telah memilih jalan kebenaran, telah menempatkan hukum-hukum-Mu di hadapanku.


✝️ Bacaan Injil

Yohanes 6:22-29

Pada keesokan harinya orang banyak, yang masih tinggal di seberang, melihat bahwa di situ tidak ada perahu selain dari pada yang satu tadi dan bahwa Yesus tidak turut naik ke perahu itu bersama-sama dengan murid-murid-Nya, dan bahwa murid-murid-Nya saja yang berangkat.

Tetapi sementara itu beberapa perahu lain datang dari Tiberias dekat ke tempat mereka makan roti, sesudah Tuhan mengucapkan syukur atasnya.

Ketika orang banyak melihat, bahwa Yesus tidak ada di situ dan murid-murid-Nya juga tidak, mereka naik ke perahu-perahu itu lalu berangkat ke Kapernaum untuk mencari Yesus.

Ketika orang banyak menemukan Yesus di seberang laut itu, mereka berkata kepada-Nya: “Rabi, bilamana Engkau tiba di sini?”

Yesus menjawab mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.

Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya.”

Lalu kata mereka kepada-Nya: “Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?”

Jawab Yesus kepada mereka: “Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah.”


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Ada banyak motivasi seseorang mengikuti suatu kegiatan. Misalnya, seseorang mengikuti pendalaman iman demi mendapatkan makanan. Tentu motivasi ini tidak salah.

Namun, selain makanan jasmani yang mengenyangkan, Sabda Tuhan dan dialog tentang iman yang menguatkan harapan, akan lebih menghidupkan, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga dapat berbuah bagi sesama.

Injil yang kita dengarkan pada hari ini berpusat pada tema mencari “makanan sejati”. Bisa dipahami bahwa orang banyak mencari Yesus karena melihat tanda tentang penggandaan roti. Mereka kenyang.

Namun, mencari Yesus seharusnya tidak berhenti pada kebutuhan duniawi. Lebih daripada itu, seharusnya kita mencari Yesus karena kerinduan kita akan kebenaran sejati dan kehidupan kekal.

Sabda Yesus hari ini menguatkan motivasi kita dalam hidup beriman, yaitu menjawab panggilan Tuhan menuju kekudusan. Dengan itu, pekerjaan-pekerjaan baik yang kita lakukan berbuah bagi sesama, bukan hanya berbuah untuk diri kita sendiri.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Bacaan pertama dari Kisah Para Rasul mengisahkan tentang Stefanus, seorang yang penuh dengan roh dan kuasa, yang menghadapi tantangan dari orang-orang yang tidak dapat mengalahkan hikmatnya. Dalam konteks ini, kita dapat melihat bahwa setiap orang yang berusaha untuk hidup dalam kebenaran dan keadilan pasti akan menghadapi tantangan dan penolakan. Namun, seperti Stefanus, kita diingatkan untuk tetap teguh dalam iman, meskipun dalam situasi yang sulit. Mazmur yang diangkat menekankan pentingnya merenungkan ketetapan Tuhan sebagai sumber kekuatan dalam menghadapi berbagai penolakan dan tantangan kehidupan.

Bacaan Injil dari Yohanes menggambarkan kerinduan orang banyak untuk mencari Yesus, tetapi motivasi mereka seringkali terjebak dalam kebutuhan jasmani. Yesus menegaskan bahwa kita harus mencari makanan yang tidak akan binasa, melainkan makanan yang membawa kepada hidup yang kekal. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, banyak dari kita sering kali terjebak dalam pencarian hal-hal yang bersifat sementara dan material. Kita perlu mengingat bahwa pencarian sejati kita harus berfokus pada hubungan yang mendalam dengan Tuhan, yang memberi hidup dan arti sejati.

Renungan ini mengajak kita untuk merefleksikan motivasi kita dalam kehidupan beriman. Apakah kita hanya mencari Tuhan untuk memenuhi kebutuhan jasmani kita, ataukah kita juga merindukan kehadiran-Nya yang membawa kedamaian dan pengharapan? Dengan mengutamakan pencarian akan kebenaran sejati dan kehidupan kekal, kita tidak hanya memperkuat iman kita sendiri, tetapi juga dapat menjadi berkat bagi orang lain. Sebagai umat beriman, kita dipanggil untuk berkontribusi dalam mewujudkan kasih dan kebaikan Tuhan di dunia ini, sehingga setiap tindakan kita berbuah bagi sesama dan memuliakan nama-Nya.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram