Takhta Petrus: Mengapa Fondasi Roma
Tidak Akan Pernah Runtuh
Bagi sebagian orang, klaim Gereja Katolik tentang otoritas Paus dianggap sebagai ambisi politik abad pertengahan yang dipaksakan ke dalam Alkitab. Namun, jika kita mau menanggalkan kacamata skeptis sejenak dan membaca naskah suci serta sejarah tanpa prasangka, kita akan menemukan bahwa kepemimpinan Petrus bukanlah sebuah “kecelakaan sejarah,” melainkan desain arsitektural yang disusun langsung oleh Sang Guru dari Nazaret. Berikut adalah poin-poin yang membongkar mengapa Petrus bukan sekadar “salah satu dari dua belas,” melainkan jangkar bagi seluruh bahtera Gereja.
1. Diplomasi Nama: Bukan Sekadar Panggilan Baru Dalam tradisi Semit, ketika Tuhan mengubah nama seseorang, Ia sedang merombak total misi hidup dan hakikat orang tersebut. Abraham dan Yakub adalah contoh klasiknya. Di Kaisarea Filipi ( Matius 16:18 ), Yesus melakukan hal yang sama: “Engkau adalah Petrus (Kepha) dan di atas batu karang (Kepha) ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku.” Sangat naif—bahkan cenderung memaksakan diri—jika ada yang mencoba memisahkan “Petrus” dan “Batu Karang” sebagai dua entitas berbeda; dalam bahasa Aram, keduanya adalah kata yang identik. Yesus tidak sedang bermain teka-teki kata yang ambigu; Ia sedang memancangkan batu pertama dari gedung yang didesain untuk berdiri melintasi ribuan tahun sejarah. 2. Pemegang Kunci: Perdana Menteri yang Tak Tergantikan Yesus melanjutkan mandatnya dalam Matius 16:19 : “Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga.” Ini bukan sekadar simbolisme murah. Yesus sedang mengutip jabatan dari Yesaya 22:22 , di mana seorang raja menyerahkan kunci istana kepada perdana menteri atau pengurus rumahnya. Kuasa “mengikat dan melepaskan” adalah istilah hukum yang sangat otoritatif. Dengan memberikan kunci ini, Yesus menetapkan sebuah jabatan fungsional yang harus terus ada
selama kerajaan itu berdiri. Kunci ini bukan properti pribadi Petrus untuk dikubur bersamanya; itu adalah kunci jabatan yang menuntut adanya ahli waris yang sah.
3. Jaminan Iman: Doa Kristus yang Mustahil Gagal Saat perjamuan terakhir ( Lukas 22:31-32 ), Yesus berdoa secara khusus hanya untuk satu individu: “Tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau… kuatkanlah saudara-saudaramu.” Jika doa Yesus memiliki kuasa Ilahi, maka iman Petrus memiliki proteksi khusus yang tidak dimiliki rasul lain. Petrus memang manusia yang bisa terjatuh dalam dosa pribadi, namun dalam hal menjaga kemurnian iman bagi seluruh jemaat, ia memiliki jaminan Ilahi agar tidak pernah menyesatkan kawanan domba Kristus. 4. Mandat Penggembalaan Universal yang Mutlak Setelah kebangkitan ( Yohanes 21:15-17 ), Yesus memulihkan Petrus dengan tugas yang sangat spesifik: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Perhatikan bahwa Yesus tidak membagi-bagi tugas ini secara merata. Tidak ada rasul lain yang menerima mandat universal untuk menjadi gembala pengganti di dunia bagi seluruh kawanan Kristus tanpa terkecuali. Menolak kepemimpinan ini sama saja dengan domba yang mengaku memiliki gembala, namun menolak tangan yang ditunjuk oleh Sang Pemilik domba. 5. Bukti Kepemimpinan Praktis: Juru Bicara Utama Alkitab mencatat dengan tinta yang sangat tebal bahwa otoritas ini langsung dipraktikkan, bukan sekadar teori. Nama Petrus selalu memuncaki setiap daftar Rasul. Ia adalah sosok yang memimpin pemilihan pengganti Yudas ( Kis 1:15 ), menjadi corong tunggal saat Pentakosta ( Kis 2:14 ), melakukan mukjizat penyembuhan perdana ( Kis 3:6 ), dan yang paling krusial, memberikan vonis doktrinal yang menyumbat perdebatan teologis dalam Konsili Yerusalem ( Kis 15:7-12 ). Tanpa Petrus, Gereja perdana hanyalah sekumpulan faksi yang bertikai tanpa arah. 6. Suksesi Apostolik: Estafet dari Yerusalem ke Roma Otoritas Petrus tidak berakhir di Yerusalem atau terkubur di pasir Palestina. Alkitab
memberikan kode keras dalam 1 Petrus 5:13 tentang salam dari “Babilon”—sebuah sandi yang secara universal dipahami oleh umat Kristen perdana sebagai kota Roma. Prinsip jabatan yang berkelanjutan memastikan bahwa “Kunci” tersebut dialirkan melalui penumpangan tangan sakramental. Sejarah mencatat tanpa celah bahwa setelah kemartirannya di Roma, jabatan Petrus diteruskan secara sah kepada Linus , kemudian Anakletus , dan Klemens I.
7. Kesaksian Surat Klemens I: Dominasi Roma yang Dini Pada tahun 96 M, terjadi pemberontakan di Korintus. Sebuah fakta yang sangat memalukan bagi para penolak kepausan adalah: saat Rasul Yohanes diyakini masih hidup di Efesus (yang secara geografis jauh lebih dekat), justru Uskup Romalah yang melakukan intervensi keras. Klemens menulis dengan otoritas yang mengikat: “Jika ada orang yang tidak menaati apa yang telah dikatakan-Nya melalui kami, biarlah mereka tahu bahwa mereka akan melibatkan diri dalam pelanggaran.” Ini adalah tamparan bagi mereka yang mengira keutamaan Roma adalah ciptaan politik abad pertengahan. 8. St. Ignatius dari Antiokhia: Roma sebagai Pusat Kasih Sekitar tahun 107 M, St. Ignatius dari Antiokhia , seorang martir yang merupakan murid langsung Rasul Yohanes, menyapa Gereja Roma dengan rasa hormat yang tidak ia berikan kepada gereja mana pun. Ia menyebut Roma sebagai yang “mengetuai dalam kasih” (Yunani: prokathemene tes agapes ). Dalam bahasa Gereja purba, “kasih” adalah istilah teknis untuk persekutuan Gereja universal. Ignatius menegaskan bahwa Roma memiliki otoritas pengajaran yang tak terbantahkan dengan berkata: “Engkau tidak pernah mendustai siapa pun; engkau telah mengajar orang lain.” 9. Daftar Resmi St. Irenaeus: Garis Darah Teologis Sekitar tahun 180 M, St. Irenaeus dari Lyon dalam Adversus Haereses memberikan pukulan telak kepada para bidat. Ia menegaskan bahwa setiap Gereja di seluruh jagat raya harus setuju dengan Gereja Roma karena “asal-usulnya yang lebih unggul”. Ia menyusun daftar kronologis para Paus tanpa terputus untuk membuktikan bahwa ajaran yang diterima umat adalah ajaran asli. Bagi Irenaeus,
siapa pun yang berada di luar garis suksesi ini hanyalah penipu yang membawa ajaran palsu.
10. Infallibilitas: Perisai Terakhir Melawan Kesesatan Konsekuensi logis dari janji Yesus bahwa “alam maut tidak akan menguasainya” adalah doktrin Infallibilitas. Roh Kudus secara aktif melindungi Paus dari kesalahan hanya ketika ia berbicara Ex Cathedra mengenai iman atau moral. Ini bukan soal Paus itu suci secara pribadi—sejarah mencatat ada Paus yang buruk—tetapi ini soal kesetiaan Allah pada janji-Nya. Jika Paus bisa menyesatkan seluruh jemaat dalam ajaran resmi, maka janji Yesus dalam Matius 16 telah gagal total. Dan Yesus tidak pernah gagal. 11. Otoritas Ex Cathedra dalam Praktik Nyata Dalam sejarah modern, dua contoh penggunaan otoritas tertinggi ini adalah penetapan Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda (1854) dan Dogma Maria Diangkat ke Surga (1950). Keduanya ditetapkan secara definitif bukan sebagai “temuan baru”, melainkan untuk memancangkan bendera kebenaran yang telah dihidupi umat sejak zaman para Rasul, menutup celah bagi segala bentuk skeptisisme yang mencoba menggerogoti iman apostolik. 12. St. Siprianus: Roma sebagai Standar Mutlak Orthodoksi Pada abad ke-3, St. Siprianus dari Kartago memberikan penegasan yang sangat tajam: Takhta Roma adalah “Gereja Utama, tempat kesatuan imamat berasal.” Baginya, persekutuan dengan Uskup Roma adalah syarat mati untuk berada di dalam Gereja yang satu. Siprianus menegaskan bahwa mustahil seseorang mengklaim memiliki iman yang benar jika ia meninggalkan Takhta Petrus. Ini membuktikan bahwa jauh sebelum kaisar mana pun campur tangan, Roma sudah menjadi kompas absolut bagi seluruh dunia Kristen. Kesimpulan Sungguh sebuah ironi yang menggelitik—jika tidak ingin disebut sebagai kebutaan sejarah—ketika ada orang yang begitu gigih memeluk Alkitab sebagai satu-satunya
otoritas, namun pada saat yang sama dengan penuh kebencian menolak institusi yang secara historis menetapkan kanon Alkitab tersebut. Menolak keutamaan Petrus adalah upaya konyol untuk membangun sebuah rumah sambil membuang cetak biru yang dibuat oleh Sang Arsitek sendiri. Kerajaan-kerajaan dunia yang perkasa telah runtuh menjadi debu, ideologi-ideologi besar datang dan pergi seiring musim, namun tahta nelayan dari Galilea ini tetap berdiri tegak menantang badai dua milenium. Jika fenomena ini bukan karena jaminan Ilahi bahwa “alam maut tidak akan menguasainya,” maka mungkin dunia memang butuh definisi baru tentang apa itu mukjizat. Petrus memang bisa jatuh sebagai Simon yang lemah, tetapi sebagai Kepha , ia adalah batu karang di mana Kristus memilih untuk memancangkan bendera kerajaan-Nya—terlepas dari apakah dunia merasa nyaman atau justru terganggu oleh keberadaannya.