SATU ALLAH DALAM DUA PERJANJIAN
Menyingkap Misteri YHWH dan Allah Tritunggal dalam Kacamata Gereja Katolik
I. PENDAHULUAN: KESINAMBUNGAN WAHYU DAN PEDAGOGI ILAHI
Dalam sejarah keselamatan, pernyataan diri Allah merupakan perjalanan penyingkapan yang bersifat bertahap (gradual), sistematis, dan organik. Gereja Katolik, melalui otoritas Kitab Suci, Tradisi Suci, dan Magisterium (kuasa mengajar resmi Gereja yang dipandu Roh Kudus), menegaskan bahwa Allah yang menyatakan diri sebagai YHWH kepada bangsa Israel dalam Perjanjian Lama adalah Subjek tunggal yang sama dengan Allah Tritunggal yang diwartakan oleh Yesus Kristus.
Sebagaimana digariskan dalam Konstitusi Dogmatis Dei Verbum (Sabda Allah) Artikel 16 dari Konsili Vatikan II, Allah adalah pengarang dan pengilham Kitab-kitab dari kedua Perjanjian tersebut. Oleh karena itu, Perjanjian Baru tersirat dalam Perjanjian Lama, dan Perjanjian Lama tersingkap secara definitif dalam Perjanjian Baru. Tidak ada dikotomi (pertentangan radikal) antara Tuhan yang keras di masa lampau dengan Tuhan yang kasih di masa baru; yang ada adalah Pedagogi Ilahi-sebuah metode pengajaran Tuhan yang secara perlahan membimbing umat manusia dari monoteisme yang ketat menuju pemahaman tentang kedalaman kasih internal-Nya yang bersifat Tritunggal.
II. ANALISIS LINGUISTIK DAN ONTOLOGI NAMA ILAHI
1. YHWH sebagai Proper Name dan Rigid Designator
Allah menyingkapkan Diri-Nya melalui Nama suci YHWH (Tetragrammaton: Yod-He-Waw-He). Dalam filsafat bahasa dan logika, YHWH bukan sekadar gelar fungsional, melainkan sebuah Proper Name (Nama Diri) yang berfungsi sebagai Rigid Designator (Penunjuk Kaku). Artinya, Nama ini merujuk secara eksklusif dan tak berubah pada satu Subjek personal yang sama di seluruh sejarah. Berbeda dengan gelar Elohim (Allah) yang merujuk pada kodrat keilahian secara umum, YHWH merujuk pada Identitas Pribadi Sang Pencipta yang mengikat Diri-Nya dalam perjanjian dengan manusia.
Secara metafisis, Nama ini berakar pada kata Hawah (Ada/Menjadi). Dalam peristiwa semak duri (Keluaran 3:14), pernyataan Ehyeh asher Ehyeh (“Aku adalah Aku”) menyingkapkan Allah sebagai Actus Purus (Murni Tindakan). Ini berarti Allah adalah keberadaan yang tanpa batas, tanpa potensi untuk berubah menjadi sesuatu yang lain, karena Ia adalah sumber dari segala yang ada. Sebagaimana dijelaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 213, Nama ini menyatakan bahwa Allah adalah kebenaran dan kasih yang setia.
2. Teknis Pengucapan dan Reverentia (Penghormatan) Liturgis
Sejarah teknis pengucapan Nama ini melibatkan praktik Qere-Ketiv (apa yang tertulis berbeda dengan yang dibaca). Demi menjaga kekudusan, umat Yahudi membaca YHWH sebagai Adonai (Tuhanku). Gereja Katolik mempertahankan tradisi ini melalui instruksi Liturgiam Authenticam (2001) dan surat edaran Takhta Suci tahun 2008. Secara normatif, nama YHWH tidak boleh diucapkan secara fonetik (sebagai “Yahweh”) dalam doa, nyanyian, atau liturgi. Penggunaan kata “Tuhan” atau “Dominus” bukan bertujuan untuk menyembunyikan Nama Allah, melainkan untuk menyatakan Reverentia (penghormatan mendalam) terhadap keagungan Tuhan yang melampaui segala definisi manusia.
3. Arkitektur Keesaan: Distinksi Echad atas Yachid
Pernyataan iman paling fundamental Israel, Shema Israel (Ulangan 6:4), menggunakan kata Echad.
- Echad (אֶחָד): Secara teknis merujuk pada kesatuan majemuk (composite unity). Ini adalah jenis “satu” yang memungkinkan adanya keragaman di dalamnya, seperti setandan anggur atau suami-istri yang menjadi “satu daging”. Penggunaan kata ini menjadi “pintu teologis” yang memungkinkan pewahyuan Tritunggal: Allah itu satu dalam hakekat, namun memiliki persekutuan Pribadi.
- Yachid (יָחִיד): Merujuk pada kesendirian soliter, tunggal secara matematis, atau keunikan yang tertutup. Kitab Suci, menurut analisis Brown-Driver-Briggs Lexicon, tidak pernah menggunakan Yachid untuk hakekat Allah. Hal ini secara tajam menunjukkan bahwa keesaan YHWH adalah Keesaan Relasional-sebuah keesaan yang hidup dalam gerak kasih, bukan kesendirian yang statis dan hampa.
III. DIMENSI KRISTOFANI: KEHADIRAN LOGOS PRA-INKARNASI
Gereja Katolik, menyambung tradisi para Bapa Gereja awal seperti Santo Yustinus Martir, mengajarkan adanya Kristofani. Ini adalah penampakan-penampakan Putera Allah (Logos) dalam Perjanjian Lama sebelum Ia secara resmi berinkarnasi (menjadi manusia) melalui perahiman Perawan Maria.
- Malakh YHWH (Malaikat TUHAN): Dalam berbagai peristiwa (seperti Abraham di Mamre atau Musa di semak duri), sosok “Malaikat TUHAN” muncul namun berbicara dengan otoritas diri sebagai YHWH. Ini bukan sekadar malaikat ciptaan, melainkan kehadiran Sang Sabda yang sedang melakukan Pedagogi Transenden. Allah sedang melatih indera manusia untuk bisa mengenali kehadiran Ilahi dalam rupa yang dapat diindera.
- Identitas Teo-Linguistik: Nama Yesus (Yehoshua) secara teknis berarti “YHWH adalah Keselamatan”. Secara batiniah, ini membuktikan bahwa tidak ada keterpisahan antara identitas Yesus dengan YHWH; Yesus adalah penyingkapan wajah personal YHWH yang selama ini tersembunyi di balik awan gelap Perjanjian Lama.
IV. PENJELASAN TEOLOGIS: STRUKTUR INTERNAL ALLAH
1. Ajaran Magisterium: Consubstantialis (Sehakikat)
Berdasarkan ajaran Konsili Nicea dan KGK No. 253, Gereja menegaskan bahwa Allah Tritunggal adalah satu hakekat yang bersifat Consubstantialis. Istilah ini berarti bahwa ketiga Pribadi (Bapa, Putera, dan Roh Kudus) tidak membagi-bagi keilahian menjadi tiga bagian, melainkan masing-masing adalah Allah seluruhnya dan sepenuhnya. Mereka berbeda hanya dalam Relasi Asal (Paternitas, Filiasi, Spirasi), namun satu dalam substansi, kuasa, dan keabadian.
2. Metafisika Thomistik: Prosesi Intelektual dan Volisional
Santo Thomas Aquinas dalam Summa Theologiae memberikan penjelasan paling tajam mengenai misteri ini:
- Processio Per Intellectum (Putera): Sebagaimana pikiran menghasilkan ide, Bapa mengenal Diri-Nya secara sempurna. Pengetahuan diri Allah ini adalah “Sabda” (Verbum/Logos) yang begitu sempurna sehingga Ia adalah Pribadi yang sehakikat dengan Bapa. Ia disebut Putera karena Ia “dilahirkan” dari intelek Bapa sejak kekekalan.
- Processio Per Voluntatem (Roh Kudus): Kasih timbal balik antara Bapa dan Putera menghasilkan sebuah “penghembusan” atau spirasi. Kasih ini begitu nyata dan substansial sehingga Ia adalah Pribadi ketiga, Roh Kudus, yang merupakan Donum (Anugerah) kasih abadi.
- Relasi Subsisten: Dalam Allah, “Pribadi” berarti “Relasi”. Bapa adalah relasi “Ayah” terhadap Anak. Putera adalah relasi “Anak” terhadap Ayah. Roh Kudus adalah relasi “Kasih” antara keduanya. Karena hakekat mereka identik, maka mereka bukan tiga Allah, melainkan satu YHWH dalam tiga jalinan relasi abadi.
V. PERIKORESIS DAN KESATUAN TINDAKAN (OPERATIO AD EXTRA)
Untuk memahami bagaimana YHWH bekerja tanpa terpecah, Gereja menggunakan doktrin Perikoresis (Yunani) atau Circumincessio (Latin).
- Saling Mendiami: Istilah ini merujuk pada “tarian bersama” di mana ketiga Pribadi Ilahi saling mendiami satu sama lain secara total. Di mana ada Bapa, di situ ada Putera dan Roh Kudus. Mereka tidak pernah bekerja sendiri-sendiri.
- Operatio Ad Extra: Sesuai ketetapan Konsili Florens, Gereja menegaskan bahwa seluruh karya Allah di luar diri-Nya (penciptaan, penebusan, pengudusan) adalah satu tindakan bersama dari ketiga Pribadi. Meskipun kita menghubungkan penciptaan kepada Bapa atau penebusan kepada Putera, secara teknis teologis, itu adalah karya tunggal YHWH Tritunggal. Kesatuan kehendak ini menjamin bahwa tidak ada kontradiksi antara kehendak Bapa dengan pengorbanan Putera.
VI. MISI ILAHI: MANIFESTASI YHWH DALAM SEJARAH
Missio (Misi) adalah cara Allah Tritunggal “keluar” dari keabadian dan memasuki ruang waktu demi keselamatan manusia.
- Misi Terlihat (Visible Mission): Putera diutus menjadi wajah YHWH yang dapat disentuh melalui Inkarnasi. Yesus Kristus adalah satu-satunya jalan di mana manusia dapat melihat “isi hati” YHWH secara definitif.
- Misi Tak Terlihat (Invisible Mission): Roh Kudus diutus ke dalam batin manusia untuk memberikan rahmat pembantu dan rahmat pengudus.
- Lex Orandi, Lex Credendi: Hukum doa adalah hukum iman. Setiap Tanda Salib yang kita buat adalah proklamasi teknis bahwa kita hidup di bawah kedaulatan satu Nama (Bapa, Putera, Roh Kudus) yang adalah YHWH yang esa.
VII. DIMENSI ESKATOLOGIS: PUNCAK PERSATUAN DAN THEOSIS
Tujuan akhir dari seluruh penyingkapan YHWH adalah membawa manusia kembali ke dalam persekutuan batiniah Allah yang disebut Visiun Beatifika (Pandangan Mulia).
- Theosis (Partisipasi Ilahi): Berdasarkan janji dalam 2 Petrus 1:4, manusia dipanggil untuk mengambil bagian dalam kodrat Ilahi. Ini bukan berarti manusia menjadi Tuhan, melainkan manusia “diilahikan” oleh rahmat sehingga mampu mengasihi Allah dengan kasih Allah sendiri.
- Persatuan Paripurna: Di surga, misteri YHWH dan Tritunggal tidak lagi dipahami melalui argumen linguistik atau teologis, melainkan melalui pengalaman langsung di dalam arus kasih Perikoresis. Inilah puncak dari janji YHWH dalam Perjanjian Lama: “Aku akan menjadi Allahmu, dan kamu akan menjadi umat-Ku,” yang kini digenapi secara sempurna dalam persatuan mistik tak terputus.
KESIMPULAN
Allah (YHWH) dalam Perjanjian Lama dan Allah Tritunggal dalam Perjanjian Baru adalah Subjek yang Satu, Tuhan yang Satu, dan Hakikat yang Tunggal. Keesaan Allah bukanlah kesendirian yang hampa (Yachid), melainkan keesaan relasional yang majemuk (Echad) yang saling mendiami secara sempurna (Perikoresis). Seluruh bangunan teologi Katolik, mulai dari analisis linguistik hingga metafisika Thomistik, membuktikan bahwa YHWH adalah Kasih yang sejak kekekalan rindu membagikan hidup-Nya kepada ciptaan. Memahami Tritunggal adalah memahami “detak jantung” dari YHWH yang sejak awal mula menyapa kita sebagai Sang Aku yang setia.
Daftar Referensi
- Alkitab TB 2 (LAI, 2023).
- Katekismus Gereja Katolik (KGK).
- St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae (Terutama bagian De Deo Trino).
- Dokumen Konsili Vatikan II, Dei Verbum.
- Liturgiam Authenticam (2001) & Instruksi Takhta Suci (2008) tentang Nama Ilahi.
- Denzinger (Enchiridion Symbolorum) - Kumpulan definisi iman dan ajaran Gereja sejak masa awal.