Tanggal: 17 Januari 2026
Perayaan: Perayaan Wajib St. Antonius
Warna Liturgi: Putih
📖 Bacaan Pertama
1Sam 9:14.17-19
Ada seorang dari daerah Benyamin, namanya Kish bin Abiel, bin Zeror, bin Bekhorat, bin Afiah, seorang suku Benyamin, seorang yang berada.
Orang ini ada anaknya laki-laki, namanya Saul, seorang muda yang elok rupanya; tidak ada seorang pun dari antara orang Israel yang lebih elok dari padanya: dari bahu ke atas ia lebih tinggi dari pada setiap orang sebangsanya.
Kish, ayah Saul itu, kehilangan keledai-keledai betinanya. Sebab itu berkatalah Kish kepada Saul, anaknya: “Ambillah salah seorang bujang, bersiaplah dan pergilah mencari keledai-keledai itu.”
Lalu mereka berjalan melalui pegunungan Efraim; juga mereka berjalan melalui tanah Salisa, tetapi tidak menemuinya. Kemudian mereka berjalan melalui tanah Sahalim, tetapi keledai-keledai itu tidak ada; kemudian mereka berjalan melalui tanah Benyamin, tetapi tidak menemuinya.
Ketika Samuel melihat Saul, maka berfirmanlah TUHAN kepadanya: “Inilah orang yang Kusebutkan kepadamu itu; orang ini akan memegang tampuk pemerintahan atas umat-Ku.”
Dalam pada itu Saul, datang mendekati Samuel di tengah pintu gerbang dan berkata: “Maaf, di mana rumah pelihat itu?”
Jawab Samuel kepada Saul, katanya: “Akulah pelihat itu. Naiklah mendahului aku ke bukit. Hari ini kamu makan bersama-sama dengan daku; besok pagi aku membiarkan engkau pergi dan aku akan memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang ada dalam hatimu.
Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata: “Bukankah TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas umat-Nya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat TUHAN, dan engkau akan menyelamatkannya dari tangan musuh-musuh di sekitarnya. Inilah tandanya bagimu, bahwa TUHAN telah mengurapi engkau menjadi raja atas milik-Nya sendiri.
🎵 Mazmur Tanggapan
TUHAN, karena kuasa-Mulah raja bersukacita; betapa besar kegirangannya karena kemenangan yang dari pada-Mu!
Apa yang menjadi keinginan hatinya telah Kaukaruniakan kepadanya, dan permintaan bibirnya tidak Kautolak. S e l a
Sebab Engkau menyambut dia dengan berkat melimpah; Engkau menaruh mahkota dari emas tua di atas kepalanya.
Hidup dimintanya dari pada-Mu; Engkau memberikannya kepadanya, dan umur panjang untuk seterusnya dan selama-lamanya.
Besar kemuliaannya karena kemenangan yang dari pada-Mu; keagungan dan semarak telah Kaukaruniakan kepadanya.
Ya, Engkau membuat dia menjadi berkat untuk seterusnya; Engkau memenuhi dia dengan sukacita di hadapan-Mu.
✝️ Bacaan Injil
Markus 2:13-17
Sesudah itu Yesus pergi lagi ke pantai danau, dan seluruh orang banyak datang kepada-Nya, lalu Ia mengajar mereka.
Kemudian ketika Ia berjalan lewat di situ, Ia melihat Lewi anak Alfeus duduk di rumah cukai lalu Ia berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Maka berdirilah Lewi lalu mengikuti Dia.
Kemudian ketika Yesus makan di rumah orang itu, banyak pemungut cukai dan orang berdosa makan bersama-sama dengan Dia dan murid-murid-Nya, sebab banyak orang yang mengikuti Dia.
Pada waktu ahli-ahli Taurat dari golongan Farisi melihat, bahwa Ia makan dengan pemungut cukai dan orang berdosa itu, berkatalah mereka kepada murid-murid-Nya: “Mengapa Ia makan bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”
💭 Renungan
Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia
Yesus mengajak Lewi anak Alfeus untuk mengikut-Nya. Dia makan di rumah Lewi bersama banyak pemungut cukai dan orang berdosa. Aksi Yesus ini mempertegas ciri pewartaan-Nya yang mau menyelamatkan, terutama orang-orang yang dianggap berdosa dan disingkirkan dalam masyarakat.
Yesus tidak menghakimi mereka sebagaimana yang ditunjukkan oleh orang Farisi dan ahli Taurat. Karena misi luhur-Nya ini, seorang Lewi pun dengan yakin mengikuti Yesus. Panggilan Yesus itu mentransformasi hidupnya.
Perjumpaan dengan Yesus merupakan momen rahmat yang transformatif. Kita pasti mempunyai pengalamanan disapa dan dipanggil oleh-Nya dalam setiap pergumulan hidup kita masing-masing.
Santo Antonius yang kita peringati hari ini merupakan seorang yang sudah mengalami transformasi radikal dalam hidupnya setelah mengalami dan menanggapi panggilan Allah. Ia lahir dalam keluarga kaya di Mesir dan kehilangan kedua orang tuanya ketika ia baru berusia sekitar dua puluh tahun.
Dan Ia kemudian memilih untuk meninggalkan kemuliaan duniawi, hidup di padang gurun dan mengabdikan hidupnya dalam pengasingan untuk berdoa dan berkontemplasi. Ia makin dekat dengan Allah dalam doa dan kontemplasinya. Semoga kita pun makin tanggap terhadap peristiwa-peristiwa iman serta momen-momen rahmat dalam keseharian kita.
🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)
Dalam bacaan pertama dari 1 Samuel, kita melihat bagaimana Tuhan memilih Saul menjadi raja Israel, menunjukkan bahwa panggilan dan pemilihan Allah seringkali datang dari situasi yang tampaknya biasa. Sama seperti Saul yang dipanggil meski dalam pencarian yang sederhana, kita juga diundang untuk menyambut panggilan Tuhan dalam hidup kita, terlepas dari latar belakang atau keadaan kita. Bacaan ini mengingatkan kita bahwa setiap orang memiliki potensi untuk memenuhi rencana Allah, bahkan dalam situasi yang sulit.
Mazmur yang mengikuti menegaskan sukacita dan berkat yang didapat dari Tuhan, menggambarkan bagaimana pemerintahan yang baik berasal dari hubungan yang erat dengan Allah. Ketika kita berjalan dalam kehendak-Nya, kita menerima berkat yang melimpah, bukan hanya untuk diri kita sendiri tetapi juga untuk orang-orang di sekitar kita. Ini menjadi pengingat bahwa ketika kita membuka diri untuk panggilan-Nya, kita tidak hanya mengalami perubahan pribadi, tetapi juga menjadi saluran berkat bagi orang lain.
Dalam Injil Markus, Yesus dengan berani mengajak Lewi, seorang pemungut cukai, untuk mengikuti-Nya, menunjukkan bahwa tidak ada yang terlampau berdosa untuk menerima kasih dan pengampunan Allah. Perjumpaan ini merupakan momen transformasi yang mendalam, di mana Lewi meninggalkan kehidupannya yang lama dan memilih untuk mengikuti Yesus. Ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita merespons panggilan-Nya dalam hidup kita. Seperti Santo Antonius yang kita peringati hari ini, kita diajak untuk menjauh dari hal-hal duniawi dan lebih dekat kepada Allah melalui doa dan kontemplasi. Dengan demikian, kita dapat menemukan makna sejati dalam hidup kita dan menjadikan pengalaman iman kita sebagai perjalanan yang transformatif.
🙏 Doa
Bapak, Ibu, dan saudara-saudari terkasih, marilah kita menutup permenungan hari ini dengan hati yang tenang dan terbuka. Kita diajak menengok kembali pengalaman-pengalaman ketika disapa dan diterima apa adanya. Biarlah kisah panggilan Lewi dan teladan Santo Antonius kita simpan dalam keheningan, agar sabda ini berbuah dalam cara hidup sehari-hari.
Ya Yesus, panggilan-Mu yang penuh belas kasih menyentuh hidup Lewi dan mengubah arah jalannya. Ajarlah kami mengenali suara panggilan yang sering hadir dalam peristiwa sederhana. Semoga hati kami cukup berani untuk bangkit, meninggalkan kebiasaan lama, dan melangkah mengikuti jalan keselamatan yang Kau tawarkan.
Sering kali kami merasa tidak layak dan terlalu berdosa untuk didekati. Namun melalui perjamuan bersama para pendosa, tampak bahwa kasih Allah tidak mengenal batas. Kuatkanlah kami agar tidak mudah menghakimi, melainkan belajar menerima dan merangkul sesama sebagai saudara yang sedang bertumbuh.
Teladan Santo Antonius mengingatkan bahwa rahmat mampu mentransformasi hidup secara radikal. Semoga kami pun semakin peka terhadap sentuhan rahmat dalam doa, keheningan, dan pergulatan harian. Bimbinglah langkah kami agar setia menanggapi panggilan kasih dan hidup semakin dekat dengan sumber kehidupan sejati. Amin.
Tuhan, datanglah selalu ke tengah-tengah kami dan buatlah kami peka untuk menjawab panggilan suci-Mu. Amin.
Artikel Lainnya
-
9 menit bacaan
-
Renungan 15 Januari 2026, Hati Berbelas Kasih dalam Tindakan
8 menit bacaan -
Renungan 14 Januari 2026, Kunjungan Kasih dalam Kesembuhan
7 menit bacaan -
Renungan 10 Januari 2026, Kerendahan Hati dalam Pelayanan
7 menit bacaan -
Renungan 9 Januari 2026, Kuasa Iman dalam Kesembuhan Sejati
6 menit bacaan -
Renungan 8 Januari 2026, Mewartakan Kasih dalam Tindakan
6 menit bacaan -
Renungan 7 Januari 2026, Kehadiran Tuhan di Tengah Ketakutan
6 menit bacaan