Tanggal: 21 Februari 2026
Perayaan: St. Petrus Damianus
Warna Liturgi: Ungu
📖 Bacaan Pertama
Yes. 58:9b-14
Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,
apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.
TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.
Dan engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan “yang memperbaiki tembok yang tembus”, “yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni”.
Apabila engkau tidak menginjak-injak hukum Sabat dan tidak melakukan urusanmu pada hari kudus-Ku; dan apabila engkau menyebutkan hari Sabat “hari kenikmatan”, dan hari kudus TUHAN “hari yang mulia”; apabila engkau menghormatinya dengan tidak menjalankan segala acaramu dan dengan tidak mengurus urusanmu atau berkata omong kosong,
maka engkau akan bersenang-senang karena TUHAN, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi dengan kendaraan kemenangan; Aku akan memberi makan engkau dari milik pusaka Yakub, bapa leluhurmu, sebab mulut TUHANlah yang mengatakannya.
🎵 Mazmur Tanggapan
Mazmur 86:1-2.3-4.5-6
Doa Daud. Sendengkanlah telinga-Mu, ya TUHAN, jawablah aku, sebab sengsara dan miskin aku.
Peliharalah nyawaku, sebab aku orang yang Kaukasihi, selamatkanlah hamba-Mu yang percaya kepada-Mu.
Engkau adalah Allahku, kasihanilah aku, ya Tuhan, sebab kepada-Mulah aku berseru sepanjang hari.
Buatlah jiwa hamba-Mu bersukacita, sebab kepada-Mulah, ya Tuhan, kuangkat jiwaku.
Sebab Engkau, ya Tuhan, baik dan suka mengampuni dan berlimpah kasih setia bagi semua orang yang berseru kepada-Mu.
Pasanglah telinga kepada doaku, ya TUHAN, dan perhatikanlah suara permohonanku.
✝️ Bacaan Injil
Lukas 5:27-32
Kemudian, ketika Yesus pergi ke luar, Ia melihat seorang pemungut cukai, yang bernama Lewi, sedang duduk di rumah cukai. Yesus berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!”
Maka berdirilah Lewi dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Dia.
Dan Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya dan sejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama-sama dengan Dia.
Orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat bersungut-sungut kepada murid-murid Yesus, katanya: “Mengapa kamu makan dan minum bersama-sama dengan pemungut cukai dan orang berdosa?”
Lalu jawab Yesus kepada mereka, kata-Nya: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit;
Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, tetapi orang berdosa, supaya mereka bertobat.”
💭 Renungan
Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia
Nabi Yesaya menyampaikan janji Tuhan yang indah: jika kita berhenti menindas sesama, tidak lagi menyalahkan orang lain atau berkata jahat, maka terang Tuhan akan menerangi hidup kita (bdk. Yes. 58:9b-14).
Pertobatan sejati tidak hanya soal hubungan pribadi dengan Tuhan, tetapi juga nyata dalam sikap terhadap orang lain. Kita dipanggil untuk menjadi pribadi yang membangun, bukan meruntuhkan; menyembuhkan, bukan melukai.
Injil hari ini menampilkan Yesus yang menanggil Lewi, seorang pemungut cukai, untuk menjadi murid-Nya (Luk. 5:27-32). Yesus melihat lebih dalam daripada sekadar reputasi atau masa lalu seseorang. la melihat hati yang mau berubah.
Tanggapan Lewi luar biasa: la meninggalkan segalanya dan mengikuti Yesus. Ini menjadi undangan bagi kita juga – untuk bangkit dari kebiasaan lama, meninggalkan sikap egois, dan membuka hati pada kehidupan yang baru bersama Kristus.
Pertobatan yang sejati bukan hanya menjauh dari dosa, melainkan juga bergerak menuju kasih, kebaikan, dan keadilan. Dunia butuh lebih banyak “Lewi” baru, yaitu orang-orang yang bersedia diubah Tuhan dan turut membangun masyarakat yang lebih jujur, adil, dan peduli.
Saat kita membuka hati, Tuhan tak hanya memulihkan kita, tetapi juga mengutus kita menjadi terang bagi sesama.
🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)
Bacaan pertama dari Yesaya 58:9b-14 mengajak kita untuk menyadari bahwa pertobatan sejati tidak hanya berfokus pada hubungan kita dengan Tuhan, melainkan juga pada sikap dan tindakan kita terhadap sesama. Tuhan menjanjikan terang bagi mereka yang berhenti menindas dan mulai berbagi dengan mereka yang membutuhkan. Hal ini mengingatkan kita bahwa iman yang otentik terwujud dalam kepedulian nyata terhadap orang lain, terutama mereka yang terpinggirkan dalam masyarakat.
Dalam Injil Lukas 5:27-32, kita melihat panggilan Yesus kepada Lewi, seorang pemungut cukai yang dianggap berdosa oleh masyarakat. Lewi merespon dengan meninggalkan segalanya untuk mengikuti Yesus, menunjukkan bahwa pertobatan sejati memerlukan tindakan yang nyata dan berani. Ini adalah pengingat bagi kita untuk tidak terjebak dalam identitas lama kita, tetapi untuk terbuka terhadap transformasi yang Tuhan tawarkan. Seperti Lewi, kita dipanggil untuk meninggalkan egoisme dan beralih kepada kehidupan yang baru dalam Kristus.
Kehidupan kita sehari-hari dipenuhi dengan kesempatan untuk menanggapi panggilan ini. Setiap tindakan kasih, keadilan, dan kebaikan yang kita lakukan adalah langkah menuju pertobatan sejati yang akan menerangi jalur kita dan memberi dampak positif bagi orang lain. Dengan membangun relasi yang sehat dan saling mendukung, kita tidak hanya mengalami pemulihan dalam hidup kita, tetapi juga menjadi saluran berkat bagi banyak orang, menciptakan masyarakat yang lebih adil dan penuh kasih.