Tanggal: 1 Januari 2026

Perayaan: HARI RAYA SP MARIA BUNDA ALLAH

Warna Liturgi: Putih

📖 Bacaan Pertama

Bil. 6:22-27

TUHAN berfirman kepada Musa:

“Berbicaralah kepada Harun dan anak-anaknya: Beginilah harus kamu memberkati orang Israel, katakanlah kepada mereka:

TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau;

dan TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya serta memberi engkau kasih karunia;

TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera.

Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel, maka Aku akan memberkati mereka.”


🎵 Mazmur Tanggapan

Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya, S e l a

supaya jalan-Mu dikenal di bumi, dan keselamatan-Mu di antara segala bangsa.

Kiranya suku-suku bangsa bersukacita dan bersorak-sorai, sebab Engkau memerintah bangsa-bangsa dengan adil, dan menuntun suku-suku bangsa di atas bumi. S e l a

Kiranya bangsa-bangsa bersyukur kepada-Mu, ya Allah, kiranya bangsa-bangsa semuanya bersyukur kepada-Mu.

Allah memberkati kita; kiranya segala ujung bumi takut akan Dia!


📖 Bacaan Kedua

Gal. 4:4-7

Tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.

Ia diutus untuk menebus mereka, yang takluk kepada hukum Taurat, supaya kita diterima menjadi anak.

Dan karena kamu adalah anak, maka Allah telah menyuruh Roh Anak-Nya ke dalam hati kita, yang berseru: “ya Abba, ya Bapa!”

Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.


✝️ Bacaan Injil

Lukas 2:16-21

Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan.

Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu.

Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka.

Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.

Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Dan ketika genap delapan hari dan Ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus, yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya.


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Tetapi Dia, yang untuk waktu yang singkat dibuat sedikit lebih rendah dari pada malaikat-malaikat, yaitu Yesus, kita lihat, yang oleh karena penderitaan maut, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, supaya oleh kasih karunia Allah Ia mengalami maut bagi semua manusia.

Sebab memang sesuai dengan keadaan Allah — yang bagi-Nya dan oleh-Nya segala sesuatu dijadikan –, yaitu Allah yang membawa banyak orang kepada kemuliaan, juga menyempurnakan Yesus, yang memimpin mereka kepada keselamatan, dengan penderitaan.

Sebab Ia yang menguduskan dan mereka yang dikuduskan, mereka semua berasal dari Satu; itulah sebabnya Ia tidak malu menyebut mereka saudara,

kata-Nya: “Aku akan memberitakan nama-Mu kepada saudara-saudara-Ku, dan memuji-muji Engkau di tengah-tengah jemaat,”

dan lagi: “Aku akan menaruh kepercayaan kepada-Nya,” dan lagi: “Sesungguhnya, inilah Aku dan anak-anak yang telah diberikan Allah kepada-Ku.”

Karena anak-anak itu adalah anak-anak dari darah dan daging, maka Ia juga menjadi sama dengan mereka dan mendapat bagian dalam keadaan mereka, supaya oleh kematian-Nya Ia memusnahkan dia, yaitu Iblis, yang berkuasa atas maut;

dan supaya dengan jalan demikian Ia membebaskan mereka yang seumur hidupnya berada dalam perhambaan oleh karena takutnya kepada maut.

Sebab sesungguhnya, bukan malaikat-malaikat yang Ia kasihani, tetapi keturunan Abraham yang Ia kasihani.

Itulah sebabnya, maka dalam segala hal Ia harus disamakan dengan saudara-saudara-Nya, supaya Ia menjadi Imam Besar yang menaruh belas kasihan dan yang setia kepada Allah untuk mendamaikan dosa seluruh bangsa.

Renungan Harian Hari Ini dan Injil 1 Januari 2026

Selamat memasuki tahun 2026. Kita mengawali tahun baru ini dengan merayakan Santa Perawan Maria sebagai bunda Allah. Oleh Paus Pius XI, penetapan perayaan ini merupakan penegasan terhadap martabat Maria sebagai bunda Tuhan Yesus.

Merayakan Hari Raya Maria Bunda Allah juga berarti bahwa kita mengakui Yesus sebagai “sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia”. Maria dipilih Allah sebagai bunda Penebus.

Keterpilihan Maria sebagai bunda Sang Penebus merupakan sukacita luar biasa. Injil hari ini juga memperlihatkan sukacita Maria tatkala menyaksikan antusiasme para gembala yang datang menjumpai dia, Yusuf, dan Yesus.

Dalam suasana perjumpaan itu, Maria menyimpan perkara dalam hatinya karena ia tahu bahwa lewat Putra yang dikandungnya, keselamatan menjadi nyata bagi segala bangsa. Kesediaan Maria menjalankan kehendak Allah merupakan bentuk ketaatannya dan sekaligus bukti bahwa ia menerima dirinya sebagai bunda Sang Penebus.

Sukacita kelahiran Penebus kini merupakan milik semua orang karena yang hadir di tengah mereka adalah Yesus Kristus, Putra Allah yang menyelamatkan. Sukacita karena kehadiran Yesus hendaknya menumbuhkan antusiasme kita dalam berbagi sukacita melalui cara-cara terbaik, sebagaimana teladan Maria dan para gembala.

Menerima Yesus dalam diri selalu berarti bahwa kita bertanggung jawab untuk selalu berinisiatif menyebarkan nilai-nilai luhur iman kita, bahkan ketika kita harus menanggung konsekuensinya.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Bacaan pertama dari Bilangan menggambarkan berkat Tuhan yang mengalir kepada umat-Nya, dimulai dengan pengakuan akan perlindungan dan kasih karunia-Nya. Ini menjadi pengingat bagi kita bahwa dalam setiap langkah hidup, kita selalu berada di bawah naungan berkat Tuhan. Dalam konteks ini, kita diajak untuk meresapi betapa pentingnya berbagi berkat tersebut dengan sesama, sama seperti yang dilakukan oleh para gembala yang datang melihat Yesus dan mengalami sukacita yang luar biasa.

Injil Lukas menegaskan kehadiran Yesus sebagai pusat sukacita dan harapan bagi umat manusia. Melalui Maria dan Yusuf, kita melihat bagaimana sukacita kelahiran Sang Penebus bukan hanya milik mereka, tetapi juga untuk seluruh bangsa. Maria, yang menyimpan segala perkara dalam hatinya, mengajarkan kita untuk merenungkan setiap anugerah yang kita terima dan membagikannya kepada orang lain. Ini menjadi panggilan bagi kita untuk tidak hanya menerima kasih Allah, tetapi juga untuk menyebarkannya dalam tindakan nyata sehari-hari.

Dalam refleksi kita, kita diingatkan bahwa menjadi pengikut Kristus berarti bertanggung jawab untuk menyebarkan nilai-nilai iman dan hidup dalam terang kasih. Seperti Maria dan para gembala, kita diundang untuk berbagi sukacita dan harapan, serta menjadi pembawa damai di tengah dunia yang sering kali dilanda ketidakpastian. Mari kita menjadikan tahun baru ini sebagai kesempatan untuk lebih dekat dengan Tuhan dan berbagi sukacita-Nya kepada semua orang di sekitar kita.


🙏 Doa

Ibu, Bapak, dan Saudara-saudari terkasih, marilah kita menutup permenungan ini dengan hati yang teduh di awal tahun yang baru. Bersama Bunda Maria, kita diajak melangkah perlahan, menyimpan setiap peristiwa dalam hati, dan menyerahkan tahun 2026 ini dengan penuh kepercayaan, sambil membuka diri bagi karya keselamatan yang terus bertumbuh dalam hidup kita.

Ya Bapa, dalam suasana syukur ini, terimalah persembahan awal tahun kami yang penuh harapan. Seperti Maria yang menerima panggilan dengan iman dan ketaatan, semoga hidup kami pun siap menjadi ruang bagi kasih dan keselamatan untuk hadir, bertumbuh, dan dinyatakan bagi banyak orang.

Kiranya sukacita para gembala yang sederhana menular dalam keseharian kami. Ajarlah hati kami untuk peka, berani melangkah, dan rela berbagi kabar baik melalui tindakan kasih, kepedulian, dan pelayanan, sehingga kehadiran Penebus sungguh dirasakan oleh mereka yang kami jumpai.

Di sepanjang tahun yang baru ini, mampukan kami memikul tanggung jawab sebagai pembawa nilai-nilai iman. Teguhkan langkah ketika konsekuensi harus dihadapi, dan kuatkan semangat agar kesaksian hidup kami, sekecil apa pun, menjadi tanda nyata kasih-Mu bagi dunia. Amin.

Tuhan, semoga kami selalu antusias dalam membagikan sukacita kehadiran Putra-Mu kepada sesama kami. Amin.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram

Artikel Lainnya