Tanggal: 2 Maret 2026

Perayaan: Hari Biasa Pekan II Prapaskah

Warna Liturgi: Ungu

📖 Bacaan Pertama

Dan. 9:4b-10

Maka aku memohon kepada TUHAN, Allahku, dan mengaku dosaku, demikian: “Ah Tuhan, Allah yang maha besar dan dahsyat, yang memegang Perjanjian dan kasih setia terhadap mereka yang mengasihi Engkau serta berpegang pada perintah-Mu!

Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu,

dan kami tidak taat kepada hamba-hamba-Mu, para nabi, yang telah berbicara atas nama-Mu kepada raja-raja kami, kepada pemimpin-pemimpin kami, kepada bapa-bapa kami dan kepada segenap rakyat negeri.

Ya Tuhan, Engkaulah yang benar, tetapi patutlah kami malu seperti pada hari ini, kami orang-orang Yehuda, penduduk kota Yerusalem dan segenap orang Israel, mereka yang dekat dan mereka yang jauh, di segala negeri kemana Engkau telah membuang mereka oleh karena mereka berlaku murtad terhadap Engkau.

Ya TUHAN, kami, raja-raja kami, pemimpin-pemimpin kami dan bapa-bapa kami patutlah malu, sebab kami telah berbuat dosa terhadap Engkau.

Pada Tuhan, Allah kami, ada kesayangan dan keampunan, walaupun kami telah memberontak terhadap Dia,

dan tidak mendengarkan suara TUHAN, Allah kami, yang menyuruh kami hidup menurut hukum yang telah diberikan-Nya kepada kami dengan perantaraan para nabi, hamba-hamba-Nya.


🎵 Mazmur Tanggapan

Mazmur 79:8.9.11.13

Janganlah perhitungkan kepada kami kesalahan nenek moyang kami; kiranya rahmat-Mu segera menyongsong kami, sebab sudah sangat lemah kami.

Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!

Biarlah sampai ke hadapan-Mu keluhan orang tahanan; sesuai dengan kebesaran lengan-Mu, biarkanlah hidup orang-orang yang ditentukan untuk mati dibunuh!

Maka kami ini, umat-Mu, dan kawanan domba gembalaan-Mu, akan bersyukur kepada-Mu untuk selama-lamanya, dan akan memberitakan puji-pujian untuk-Mu turun-temurun.


✝️ Bacaan Injil

Lukas 6:36-38

Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”

“Janganlah kamu menghakimi, maka kamu pun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamu pun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni.

Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu.”


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Setiap tahun, hampir semua majalah dan koran terkenal dengan reputasi tinggi memilih seorang tokoh menjadi “man/woman of the year”. Yang dipilih biasanya tokoh terkenal dan memiliki keunggulan luar biasa dalam bidang tertentu.

Dia layak untuk menjadi tokoh dan layak menjadi teladan. Dalam konteks pemilihan tahunan seperti ini, sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah, seorang tokoh terpilih dua kali, apalagi sampai berkali-kali. Seseorang hanya terpilih satu kali untuk satu tahun tertentu. Dari tahun ke tahun selalu muncul tokoh baru.

Injil hari ini berbicara tentang Allah yang menjadi model kemurahan hati. “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.” Allah adalah wajah belas kasih, wajah murah hati yang paling sempurna.

Menjadi murah hati seperti Bapa adalah panggilan luhur yang melampaui sekadar berbuat baik. Ini adalah cara hidup yang mencerminkan hati Allah sendiri, yaitu penuh kasih, tidak cepat menghakimi, dan selalu terbuka untuk mengampuni.

Murah hati seperti Bapa bukan ajakan yang ringan. Lebih mudah bagi kita untuk menilai dan memberi label pada sesama daripada memahami dan mengampuni.

Dalam relasi dengan sesama, kemurahan hati adalah benang emas yang menjahit luka, mempererat persaudaraan, dan membangun jembatan penghubung. Murah hati seperti Bapa berarti menerima orang lain apa adanya,

sabar dalam menghadapi kekurangan mereka, dan memberi bukan karena pantas, melainkan karena kita sendiri telah menerima anugerah yang tidak ternilai. Allah, Bapa kita adalah model, teladan abadi kemurahan hati.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Bacaan pertama dari Kitab Daniel mengajak kita untuk merenungkan sikap pertobatan dan pengakuan dosa. Dalam konteks kita saat ini, kita sering kali terjebak dalam kesibukan hidup sehingga sulit untuk mengakui kesalahan dan dosa kita. Daniel menunjukkan bagaimana pentingnya untuk menundukkan hati, mengakui kelemahan, dan memohon ampun kepada Tuhan, yang penuh kasih dan pengertian. Hal ini menjadi panggilan bagi kita untuk menyadari bahwa kita tidak sempurna, dan memerlukan belas kasih Allah dalam setiap langkah hidup kita.

Mazmur yang kita baca melengkapi tema ini dengan seruan untuk tidak menghitung kesalahan nenek moyang kita, melainkan berharap pada rahmat Tuhan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali dibebani dengan masa lalu dan kesalahan yang kita anggap sebagai beban. Namun, melalui pengharapan akan rahmat yang baru, kita diajak untuk melepaskan beban ini dan bersyukur kepada Allah yang setia. Kesadaran akan kasih yang tak terhingga ini mendorong kita untuk tidak hanya menerima pengampunan, tetapi juga untuk memperlakukan orang lain dengan sama.

Injil Lukas menegaskan panggilan kita untuk menjadi murah hati, mencerminkan sifat Allah yang penuh kasih. Ketika kita berlatih untuk tidak menghakimi, kita mulai memahami dan mengampuni sesama kita. Ini bukan sekadar ajakan untuk berbuat baik, tetapi sebuah gaya hidup yang mencerminkan hati Allah. Dalam relasi kita, kemurahan hati menjadi jembatan yang menghubungkan kita dengan orang lain, memperkuat ikatan persaudaraan dan memelihara komunitas yang saling mendukung. Dengan demikian, kita diajak untuk hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi untuk orang lain, menciptakan dunia yang lebih penuh kasih dan pengertian.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram