Tanggal: 2 Februari 2026

Perayaan: Pesta Yesus Dipersembahkan di Kanisah

Warna Liturgi: Putih

📖 Bacaan Pertama

Mal. 3:1-4

Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam.

Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya? Dan siapakah yang dapat tetap berdiri, apabila Ia menampakkan diri? Sebab Ia seperti api tukang pemurni logam dan seperti sabun tukang penatu.

Ia akan duduk seperti orang yang memurnikan dan mentahirkan perak; dan Ia mentahirkan orang Lewi, menyucikan mereka seperti emas dan seperti perak, supaya mereka menjadi orang-orang yang mempersembahkan korban yang benar kepada TUHAN.

Maka persembahan Yehuda dan Yerusalem akan menyenangkan hati TUHAN seperti pada hari-hari dahulu kala dan seperti tahun-tahun yang sudah-sudah.


🎵 Mazmur Tanggapan

Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!

“Siapakah itu Raja Kemuliaan?” “TUHAN, jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan!”

Angkatlah kepalamu, hai pintu-pintu gerbang, dan terangkatlah kamu, hai pintu-pintu yang berabad-abad, supaya masuk Raja Kemuliaan!

“Siapakah Dia itu Raja Kemuliaan?” “TUHAN semesta alam, Dialah Raja Kemuliaan!”


✝️ Bacaan Injil

Lukas 2:22-40

Dan ketika genap waktu pentahiran, menurut hukum Taurat Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan,

seperti ada tertulis dalam hukum Tuhan: “Semua anak laki-laki sulung harus dikuduskan bagi Allah”,

dan untuk mempersembahkan korban menurut apa yang difirmankan dalam hukum Tuhan, yaitu sepasang burung tekukur atau dua ekor anak burung merpati.

Adalah di Yerusalem seorang bernama Simeon. Ia seorang yang benar dan saleh yang menantikan penghiburan bagi Israel. Roh Kudus ada di atasnya,

dan kepadanya telah dinyatakan oleh Roh Kudus, bahwa ia tidak akan mati sebelum ia melihat Mesias, yaitu Dia yang diurapi Tuhan.

Ia datang ke Bait Allah oleh Roh Kudus. Ketika Yesus, Anak itu, dibawa masuk oleh orang tua-Nya untuk melakukan kepada-Nya apa yang ditentukan hukum Taurat,

ia menyambut Anak itu dan menatang-Nya sambil memuji Allah, katanya:

“Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu,

sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu,

yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa,

yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Dan bapa serta ibu-Nya amat heran akan segala apa yang dikatakan tentang Dia.

Lalu Simeon memberkati mereka dan berkata kepada Maria, ibu Anak itu: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan

— dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri –, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Lagipula di situ ada Hana, seorang nabi perempuan, anak Fanuel dari suku Asyer. Ia sudah sangat lanjut umurnya. Sesudah kawin ia hidup tujuh tahun lamanya bersama suaminya,

dan sekarang ia janda dan berumur delapan puluh empat tahun. Ia tidak pernah meninggalkan Bait Allah dan siang malam beribadah dengan berpuasa dan berdoa.

Dan pada ketika itu juga datanglah ia ke situ dan mengucap syukur kepada Allah dan berbicara tentang Anak itu kepada semua orang yang menantikan kelepasan untuk Yerusalem.

Dan setelah selesai semua yang harus dilakukan menurut hukum Tuhan, kembalilah mereka ke kota kediamannya, yaitu kota Nazaret di Galilea.

Anak itu bertambah besar dan menjadi kuat, penuh hikmat, dan kasih karunia Allah ada pada-Nya.


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Dalam Injil hari ini, Simeon menyambut bayi Yesus dengan hati yang penuh syukur dan berkata, “Sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu pergi dalam damai (Luk. 2:29). Ia tidak melihat seorang raja dengan jubah kebesaran,

tetapi seorang bayi sederhana orang tua-Nya untuk dipersembahkan. Simeon mampu mengenali kehadiran Allah karena hatinya yang dibawa terbuka dan penuh harapan.

Kita diajak meneladan Simeon, yaitu menanti Tuhan dengan sabar dan mengenali-Nya dalam kesederhanaan. Dalam dunia yang serba cepat dan penuh pencitraan, mari kita hadirkan terang Kristus lewat sikap sabar, penuh syukur, dan kasih yang nyata kepada sesama.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Bacaan pertama dari Kitab Maleakhi mengingatkan kita akan kedatangan Tuhan yang dijanjikan, yang akan memurnikan dan menyucikan umat-Nya. Dalam konteks ini, kita diajak untuk mempersiapkan hati kita menyambut-Nya dengan cara yang benar. Persembahan yang menyenangkan hati Tuhan adalah hasil dari proses pemurnian yang mendalam, di mana kita dilatih untuk mengenali kehadiran-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam dunia yang seringkali berisik dan penuh kebisingan, kita perlu membangun kepekaan spiritual untuk melihat dan mengalami Tuhan dalam kesederhanaan hidup kita.

Injil Lukas mengisahkan Simeon, seorang yang menanti-nanti penghiburan bagi Israel. Ketika dia melihat bayi Yesus, ia merasakan kedamaian yang mendalam. Simeon tidak terjebak dalam harapan akan sebuah penampakan megah, melainkan mampu mengenali Tuhan dalam sosok bayi yang sederhana. Ini adalah panggilan bagi kita untuk tidak hanya menunggu kehadiran Tuhan, tetapi juga untuk mengenal dan merayakan-Nya dalam berbagai keadaan hidup, baik yang sederhana maupun yang rumit. Kesabaran dan pengharapan Simeon menjadi teladan bagi kita dalam menanti dan mengakui kehadiran Allah di tengah kehidupan sehari-hari kita.

Renungan ini mengajak kita untuk merenungkan bagaimana kita menunggu dan mengenali Tuhan. Dalam kesibukan dan ketergesaan hidup modern, seringkali kita kehilangan kemampuan untuk melihat kehadiran Tuhan dalam kesederhanaan dan dalam momen-momen kecil. Dengan mengadopsi sikap sabar, bersyukur, dan penuh kasih kepada sesama, kita dapat menjadi terang Kristus bagi dunia. Ini adalah tantangan untuk tidak hanya menunggu tetapi juga aktif mencari dan mengakui kehadiran Allah dalam setiap aspek kehidupan kita.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram

Artikel Lainnya