Tanggal: 3 Januari 2026
Perayaan: Nama Yesus Yang Tersuci Sabtu Imam
Warna Liturgi: Putih
📖 Bacaan Pertama
1Yoh. 2:29-3:6
Jikalau kamu tahu, bahwa Ia adalah benar, kamu harus tahu juga, bahwa setiap orang, yang berbuat kebenaran, lahir dari pada-Nya.
Lihatlah, betapa besarnya kasih yang dikaruniakan Bapa kepada kita, sehingga kita disebut anak-anak Allah, dan memang kita adalah anak-anak Allah. Karena itu dunia tidak mengenal kita, sebab dunia tidak mengenal Dia.
Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak; akan tetapi kita tahu, bahwa apabila Kristus menyatakan diri-Nya, kita akan menjadi sama seperti Dia, sebab kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya.
Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepada-Nya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.
Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah.
Dan kamu tahu, bahwa Ia telah menyatakan diri-Nya, supaya Ia menghapus segala dosa, dan di dalam Dia tidak ada dosa.
Karena itu setiap orang yang tetap berada di dalam Dia, tidak berbuat dosa lagi; setiap orang yang tetap berbuat dosa, tidak melihat dan tidak mengenal Dia.
🎵 Mazmur Tanggapan
Mazmur. Nyanyikanlah nyanyian baru bagi TUHAN, sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus.
Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita.
Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!
Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring,
dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN!
✝️ Bacaan Injil
Yohanes 1:29-34
Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia.
Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: Kemudian dari padaku akan datang seorang, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku.
Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang dan membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel.”
Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya.
Aku pun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.
Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”
💭 Renungan
Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia
Iman Yohanes Pembaptis benar-benar mentransformasi dirinya menjadi seorang yang tulus, rendah hati, dan jujur. Ketika melihat Yesus datang kepadanya, ia tidak ragu-ragu mengungkapkan, “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia.”
Ungkapan tegas Yohanes ini kemudian menjadi doa liturgis Gereja dalam perayaan Ekaristi. Dengan berlandaskan imannya, Yohanes mau memberi kesaksian tentang Yesus sebagai sungguh-sungguh Anak Allah.
Karena itu, ia dan kita pun ikut merasakan bahwa kita juga diundang oleh-Nya untuk berpartisipasi dalam karya luhur Allah bersama Putra-Nya.
Kita mendapat teladan yang baik dari Yohanes dalam hal praksis beriman yang transformatif. Dalam beriman, sikap pasif dan sekadar menikmati “keselamatan pribadi” saja tidak cukup. Kita mesti memberi kesaksian yang tegas kepada sesama kita tentang siapa Yesus dan bagaimana Dia menyelamatkan manusia.
Sikap kita yang berlandaskan iman pada-Nya itu yang bisa meyakinkan orang lain bahwa beriman pada-Nya tidak sia-sia. Apa yang kita imani, itulah yang kita doakan dan itu pulalah yang kita hayati dalam keseharian (lex credendi, lex orandi, lex vivendi).
🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)
Bacaan dari 1 Yohanes dan Injil Yohanes mengajak kita untuk merenungkan identitas kita sebagai anak-anak Allah. Dalam 1 Yohanes 2:29-3:6, kita diingatkan bahwa setiap orang yang berbuat kebenaran adalah lahir dari Allah. Ini bukan hanya sekadar pernyataan teologis, tetapi panggilan untuk hidup dalam kebenaran dan kesucian yang berasal dari relasi kita dengan Kristus. Ketika kita memahami bahwa kita adalah anak-anak Allah, kita dipanggil untuk hidup sesuai dengan identitas itu, menjadi saksi kebenaran di dunia yang sering kali tidak mengenal-Nya.
Sementara itu, dalam Injil Yohanes 1:29-34, kita melihat Yohanes Pembaptis yang dengan rendah hati mengakui Yesus sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia. Kesaksian Yohanes adalah teladan bagi kita, mengingatkan kita bahwa iman kita seharusnya tidak hanya berfokus pada pengalaman pribadi, tetapi juga pada bagaimana kita berbagi iman tersebut dengan orang lain. Kesaksian yang tegas dan penuh keyakinan seperti yang ditunjukkan Yohanes sangat diperlukan dalam konteks dunia modern yang sering meragukan eksistensi dan karya Yesus.
Pesan inti dari renungan ini adalah bahwa hidup sebagai pengikut Kristus tidak dapat dipisahkan dari kesaksian kita kepada sesama. Kita diajak untuk tidak hanya menikmati keselamatan pribadi, tetapi juga untuk mengajak orang lain mengenal kasih dan kebenaran yang terdapat dalam Kristus. Dengan mengandalkan iman yang kuat dan transformatif, kita dapat menjadi alat Allah untuk menyebarkan keselamatan-Nya kepada dunia, menjadi terang di tengah kegelapan, dan suara yang penuh harapan bagi orang lain.
🙏 Doa
Ibu, Bapak, dan Saudara-saudari terkasih, marilah kita menutup permenungan ini dengan hati yang terbuka dan siap diutus. Teladan Yohanes Pembaptis mengajak kita berhenti sejenak, menata kembali iman yang kita hidupi, dan membiarkan sabda yang kita renungkan turun ke dalam hati, agar perlahan membentuk sikap, pilihan, dan kesaksian hidup kita.
Bapa, dalam doa ini kami menyerahkan iman yang sering kali masih berhenti pada kata dan pikiran. Semoga iman itu semakin hidup, berani bersuara, dan nyata dalam tindakan. Jadikan hati kami jujur seperti Yohanes, yang dengan tulus menunjuk kepada Yesus sebagai pusat hidup dan sumber keselamatan.
Anugerahkanlah kami keberanian untuk memberi kesaksian di tengah dunia yang kerap ragu dan acuh tak acuh. Biarlah apa yang diimani juga dihayati dalam doa dan diwujudkan dalam perbuatan, sehingga hidup kami sehari-hari menjadi pewartaan yang lembut namun meyakinkan tentang kasih yang menyelamatkan.
Bimbinglah langkah kami agar tidak puas hanya dengan keselamatan pribadi. Gerakkan hati untuk terlibat dalam karya kasih, keadilan, dan pengharapan. Semoga seluruh hidup kami selaras antara iman yang diakui, doa yang dipanjatkan, dan tindakan nyata yang memuliakan nama Yesus. Amin.
Tuhan, semoga Engkau selalu hadir dalam usaha kami untuk meyakinkan orang banyak tentang karunia-Mu yang selalu kami terima. Amin.
Artikel Lainnya
-
Renungan 1 Januari 2026, Sukacita dalam Menyambut Penebus
8 menit bacaan -
Renungan 31 Desember 2025, Menyambut Tahun Baru dengan Yesus
8 menit bacaan -
Renungan 29 Desember 2025, Ketaatan yang Menghadirkan Terang
8 menit bacaan -
Renungan 27 Desember 2025, Iman yang Melihat Jejak Kristus
7 menit bacaan -
Renungan 26 Desember 2025, Setia dalam Penganiayaan
7 menit bacaan