Tanggal: 1 Desember 2025
Perayaan: Peringatan Wajib Dionisius dan Redemptus
Warna Liturgi: Merah
📖 Bacaan Pertama
Yes. 4:2-6
Pada waktu itu tunas yang ditumbuhkan TUHAN akan menjadi kepermaian dan kemuliaan, dan hasil tanah menjadi kebanggaan dan kehormatan bagi orang-orang Israel yang terluput.
Dan orang yang tertinggal di Sion dan yang tersisa di Yerusalem akan disebut kudus, yakni setiap orang di Yerusalem yang tercatat untuk beroleh hidup,
apabila TUHAN telah membersihkan kekotoran puteri Sion dan menghapuskan segala noda darah Yerusalem dari tengah-tengahnya dengan roh yang mengadili dan yang membakar.
Maka TUHAN akan menjadikan di atas seluruh wilayah gunung Sion dan di atas setiap pertemuan yang diadakan di situ segumpal awan pada waktu siang dan segumpal asap serta sinar api yang menyala-nyala pada waktu malam, sebab di atas semuanya itu akan ada kemuliaan TUHAN sebagai tudung
dan sebagai pondok tempat bernaung pada waktu siang terhadap panas terik dan sebagai perlindungan dan persembunyian terhadap angin ribut dan hujan.
🎵 Mazmur Tanggapan
Mazmur 122:1-4a.4b-7.8-9
Nyanyian ziarah Daud.
Aku bersukacita, ketika dikatakan orang kepadaku: “Mari kita pergi ke rumah TUHAN.”
Sekarang kaki kami berdiri di pintu gerbangmu, hai Yerusalem.
Hai Yerusalem, yang telah didirikan sebagai kota yang bersambung rapat,
ke mana suku-suku berziarah, yakni suku-suku TUHAN, untuk bersyukur kepada nama TUHAN sesuai dengan peraturan bagi Israel.
Sebab di sanalah ditaruh kursi-kursi pengadilan, kursi-kursi milik keluarga raja Daud.
Berdoalah untuk kesejahteraan Yerusalem: “Biarlah orang-orang yang mencintaimu mendapat sentosa.
Biarlah kesejahteraan ada di lingkungan tembokmu, dan sentosa di dalam purimu!”
Oleh karena saudara-saudaraku dan teman-temanku aku hendak mengucapkan: “Semoga kesejahteraan ada di dalammu!”
Oleh karena rumah TUHAN, Allah kita, aku hendak mencari kebaikan bagimu.
BAIT PENGANTAR INJIL – Renungan Harian 1 Desember 2025
Reff. : Alleluya.
Ayat : (Luk 21 : 36) Berjaga-jagalah dan berdoalah selalu, agar kalian layak berdiri di hadapan Anak Manusia.
✝️ Bacaan Injil
Matius 8:5-11
Ketika Yesus masuk ke Kapernaum, datanglah seorang perwira mendapatkan Dia dan memohon kepada-Nya:
“Tuan, hambaku terbaring di rumah karena sakit lumpuh dan ia sangat menderita.”
Yesus berkata kepadanya: “Aku akan datang menyembuhkannya.”
Tetapi jawab perwira itu kepada-Nya: “Tuan, aku tidak layak menerima Tuan di dalam rumahku, katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh.
Sebab aku sendiri seorang bawahan, dan di bawahku ada pula prajurit. Jika aku berkata kepada salah seorang prajurit itu: Pergi!, maka ia pergi, dan kepada seorang lagi: Datang!, dan maka ia datang, ataupun kepada hambaku: Kerjakanlah ini!, maka ia mengerjakannya.”
Setelah Yesus mendengar hal itu, heranlah Ia dan berkata kepada mereka yang mengikuti-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya iman sebesar ini tidak pernah Aku jumpai pada seorang pun di antara orang Israel.
Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan datang dari Timur dan Barat dan duduk makan bersama-sama dengan Abraham, Ishak dan Yakub di dalam Kerajaan Sorga,
💭 Renungan
Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia
Kisah Injil hari ini menantang kita untuk merenungkan soal iman dan kerendahan hati. Seorang perwira Romawi mendekati Yesus dan meminta Dia menyembuhkan hambanya yang lumpuh dan sangat menderita.
Sebagai perwira, ia adalah seorang yang berkuasa dan berpengaruh. Namun, ia mengakui otoritas dan kekuasaan Yesus. Dia yakin bahwa Yesus mampu menyembuhkan hambanya hanya dengan berkata-kata.
Pengakuan akan kekuatan ilahi Yesus ini adalah bukti dari imannya. Meskipun berada dalam posisi berkuasa, ia dengan rendah hati mengakui otoritas khusus yang dimiliki Yesus.
Kerendahan hati adalah unsur amat penting dalam iman, yakni mengakui ketergantungan kita pada belas kasih Allah. Seperti sang perwira, kita dipanggil untuk percaya pada kekuatan-Nya yang bisa menyembuhkan dan mengubah hidup kita.
Kita dianggil untuk menyerahkan hasrat mengontrol dan berkuasa, dan menyerahkan diri kepada otoritas Yesus, kepada kehendak dan tuntunan-Nya.
Setiap kali kita merayakan Ekaristi dan menyambut tubuh Tuhan, kita berdoa, “Tuhan, saya tidak pantas Engkau datang pada saya, tetapi bersabdalah saja, maka saya akan sembuh.”
Semoga ungkapan iman dan kerendahan hati yang tampak dalam doa ini menjadi pedoman dalam hidup harian kita agar kita selalu percaya akan kuasa Allah dan bergantung pada belas kasih-Nya.
🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)
Bacaan pertama dari Yesaya menggambarkan harapan bagi orang-orang yang tertinggal di Sion, di mana Tuhan akan membersihkan kekotoran dan memberikan perlindungan. Ini menggambarkan kasih dan belas kasih Allah yang tidak mengenal batas, bahkan kepada mereka yang merasa terpinggirkan. Dalam konteks ini, kita diingatkan akan pentingnya iman yang tulus dan kerendahan hati dalam mendekati Tuhan.
Renungan dari Injil Matius menyoroti kisah seorang perwira Romawi yang, meskipun memiliki kekuasaan, datang kepada Yesus dengan pengakuan penuh akan otoritas-Nya. Dia tidak hanya meminta kesembuhan bagi hambanya, tetapi juga menunjukkan iman yang luar biasa bahwa Yesus cukup dengan berkata-kata. Sikap rendah hati ini menjadi contoh bagi kita, mengajarkan bahwa dalam ketergantungan kita kepada Tuhan, kita harus mampu melepaskan rasa kontrol dan menyerahkan hidup kita dalam tangan-Nya.
Melalui perayaan Ekaristi, kita mengulangi ungkapan iman sang perwira, mengakui ketidaklayakan kita untuk menerima Tuhan, namun percaya pada kuasa-Nya untuk menyembuhkan. Dalam setiap tantangan hidup yang kita hadapi, kita dipanggil untuk memiliki iman yang sama, percaya bahwa Tuhan dapat mengubah keadaan kita hanya dengan kekuatan sabda-Nya. Mari kita terus mencari kebaikan dan kesejahteraan dalam hidup kita, dengan mengandalkan belas kasih dan otoritas-Nya di atas segala-galanya.