Tanggal: 1 Maret 2026
Perayaan: HARI MINGGU PRAPASKAH II
Warna Liturgi: Ungu
📖 Bacaan Pertama
Kej. 12:1-4a
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu;
Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat.
Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”
Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lot pun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran.
🎵 Mazmur Tanggapan
Sebab firman TUHAN itu benar, segala sesuatu dikerjakan-Nya dengan kesetiaan.
Ia senang kepada keadilan dan hukum; bumi penuh dengan kasih setia TUHAN.
Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya,
untuk melepaskan jiwa mereka dari pada maut dan memelihara hidup mereka pada masa kelaparan.
Jiwa kita menanti-nantikan TUHAN. Dialah penolong kita dan perisai kita!
Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.
📖 Bacaan Kedua
2Tim. 1:8b-10
Jadi janganlah malu bersaksi tentang Tuhan kita dan janganlah malu karena aku, seorang hukuman karena Dia, melainkan ikutlah menderita bagi Injil-Nya oleh kekuatan Allah.
Dialah yang menyelamatkan kita dan memanggil kita dengan panggilan kudus, bukan berdasarkan perbuatan kita, melainkan berdasarkan maksud dan kasih karunia-Nya sendiri, yang telah dikaruniakan kepada kita dalam Kristus Yesus sebelum permulaan zaman
dan yang sekarang dinyatakan oleh kedatangan Juruselamat kita Yesus Kristus, yang oleh Injil telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.
✝️ Bacaan Injil
Matius 17:1-9
Enam hari kemudian Yesus membawa Petrus, Yakobus dan Yohanes saudaranya, dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi. Di situ mereka sendiri saja.
Lalu Yesus berubah rupa di depan mata mereka; wajah-Nya bercahaya seperti matahari dan pakaian-Nya menjadi putih bersinar seperti terang.
Maka nampak kepada mereka Musa dan Elia sedang berbicara dengan Dia.
Kata Petrus kepada Yesus: “Tuhan, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Jika Engkau mau, biarlah kudirikan di sini tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.”
Dan tiba-tiba sedang ia berkata-kata turunlah awan yang terang menaungi mereka dan dari dalam awan itu terdengar suara yang berkata: “Inilah Anak yang Kukasihi, kepada-Nyalah Aku berkenan, dengarkanlah Dia.”
Mendengar itu tersungkurlah murid-murid-Nya dan mereka sangat ketakutan.
Lalu Yesus datang kepada mereka dan menyentuh mereka sambil berkata: “Berdirilah, jangan takut!”
Dan ketika mereka mengangkat kepala, mereka tidak melihat seorang pun kecuali Yesus seorang diri.
Pada waktu mereka turun dari gunung itu, Yesus berpesan kepada mereka: “Jangan kamu ceriterakan penglihatan itu kepada seorang pun sebelum Anak Manusia dibangkitkan dari antara orang mati.”
💭 Renungan
Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia
Maka Firaun akan berkata tentang orang Israel: Mereka telah sesat di negeri ini, padang gurun telah mengurung mereka.
Aku akan mengeraskan hati Firaun, sehingga ia mengejar mereka. Dan terhadap Firaun dan seluruh pasukannya Aku akan menyatakan kemuliaan-Ku, sehingga orang Mesir mengetahui, bahwa Akulah TUHAN.” Lalu mereka berbuat demikian.
Ketika diberitahukan kepada raja Mesir, bahwa bangsa itu telah lari, maka berubahlah hati Firaun dan pegawai-pegawainya terhadap bangsa itu, dan berkatalah mereka: “Apakah yang telah kita perbuat ini, bahwa kita membiarkan orang Israel pergi dari perbudakan kita?”
Kemudian ia memasang keretanya dan membawa rakyatnya serta.
Ia membawa enam ratus kereta yang terpilih, ya, segala kereta Mesir, masing-masing lengkap dengan perwiranya.
Demikianlah TUHAN mengeraskan hati Firaun, raja Mesir itu, sehingga ia mengejar orang Israel. Tetapi orang Israel berjalan terus dipimpin oleh tangan yang dinaikkan.
Adapun orang Mesir, segala kuda dan kereta Firaun, orang-orang berkuda dan pasukannya, mengejar mereka dan mencapai mereka pada waktu mereka berkemah di tepi laut, dekat Pi-Hahirot di depan Baal-Zefon.
Renungan Harian Hari Ini dan Injil 1 Maret 2026
Dalam bisnis, iklan sangat penting. Begitu pentingnya, belanja iklan mendapat porsi yang besar. Iklan penting karena dengannya sebuah produk diperkenalkan.
Iklan selalu menampilkan hal yang menarik perhatian, menggugah minat orang, memengaruhinya sedemikian rupa sehingga tertarik dengan apa yang diiklankan. Sebuah produk kecantikan diklankan dengan maksud memengaruhi sebanyak mungkin orang untuk membeli dan memakai produk tersebut.
Untuk itu, produsen akan melakukan studi pasar dengan survei atau metode lainnya. Hasil survei dan studi itu berguna untuk menentukan siapa bintang iklan yang memerankan,
apa pesan yang disampaikan, dan apa sarana/medium yang digunakan untuk menyampaikan pesan tersebut. Pilihan dan cara iklan yang tepat akan menentukan keberhasilan sebuah produk di pasar.
Hari ini kita merenungkan “Peristiwa Transfigurasi Yesus”, kemuliaan-Nya dinyatakan secara nyata kepada tiga murid terdekat-Nya, yaitu Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Peristiwa istimewa di atas gunung adalah momen yang memperlihatkan kemuliaan Tuhan.
Wajah Yesus bercahaya seperti matahari dan jubah-Nya menjadi putih berkilauan. Ini nmenegaskan bahwa di balik rupa manusia yang menderita tersembunyi kemuliaan Ilahi.
Penampakan kemuliaan ini terjadi di tengah perjalanan menuju Yerusalem, jalan menuju penderitaan dan salib. Transfigurasi menjadi pengingat bahwa kemuliaan Tuhan tidak meniadakan penderitaan, tetapi justru menyertainya. Kemuliaan didapat setelah kesetiaan memikul salib.
Sayangnya, jalan salib menuju kemuliaan sulit dipahami oleh para rasul. Karena itu, mereka mengusulkan untuk mendirikan kemah di atas gunung. Usulan yang lahir dari ketidaktahuan.
Mereka tidak tahu bahwa kemuliaan yang mereka saksikan di atas gunung akan dicapai dengan jalan salib dan penderitaan. Para murid yang menyaksikan peristiwa itu diberi kesempatan untuk menikmati lebih awal –’cicipan pertama’- dari kemuliaan Paskah.
Transfigurasi mengarahkan kita pada Paskah: dari puncak gunung, Yesus turun kembali ke dunia, ke jalan salib, menuju kebangkitan. la tidak tinggal dalam kemuliaan sesaat, tetapi memilih menggenapi misi-Nya melalui pengorbanan.
Yesus tidak hanya mengiklankan yang indah-indah untuk mengelabui dan memengaruhi para murid dan pengikut-Nya. la mengingatkan konsekuensi dari ketaatan dan kesetiaan pada kehendak Bapa. Sikap dan pilihan yang juga harus dimiliki para pengikut-Nya, yaitu mengambil bagian dalam kemuliaan kebangkitan dan setia di jalan salib.
Kita juga mengalami momen transfigurasi, sejenak merasa terpukau dan merasa dekat dengan Tuhan. Namun, kita dipanggil bukan hanya untuk menikmati kemuliaan itu, melainkan juga membawanya ke dalam perjuangan hidup kita sehari-hari.
Kita mesti berani turun, menghadapi realitas kehidupan yang tidak selamanya indah. Itulah jalan salib. Jalan menuju Paskah. Penderitaan dipeluk dalam terang kemuliaan-Nya. Menerima Yesus sebagai penyelamat berarti setia kepada-Nya sebagai jalan, kebenaran, dan hidup.
🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)
Dalam bacaan pertama dari Kejadian, kita melihat panggilan Tuhan kepada Abram untuk meninggalkan segala sesuatu yang dikenal dan memasuki suatu perjalanan iman yang tidak pasti. Janji Tuhan untuk memberkati dan menjadikan Abram sebagai berkat bagi semua bangsa menggambarkan bagaimana kesetiaan dan ketaatan kepada Tuhan membawa kepada kemuliaan. Pesan ini diulang dalam Mazmur, yang menekankan bahwa Tuhan adalah penolong dan perisai bagi mereka yang berharap kepada-Nya, terutama di masa-masa sulit. Hal ini mengingatkan kita bahwa Tuhan selalu hadir dalam setiap langkah perjalanan hidup kita, bahkan ketika kita menghadapi tantangan dan penderitaan.
Dalam Injil Matius, peristiwa Transfigurasi Yesus menunjukkan kemuliaan Ilahi yang tersembunyi di balik rupa manusia-Nya. Ketika Yesus membawa Petrus, Yakobus, dan Yohanes ke gunung tinggi, mereka mengalami suatu momen kemuliaan yang luar biasa. Namun, Yesus segera mengarahkan mereka kembali ke realitas dunia, ke jalan salib yang harus dilalui-Nya. Ini menunjukkan bahwa kemuliaan Tuhan tidak terlepas dari penderitaan; justru melalui penderitaan dan pengorbanan yang setia, kita akan menemukan kemuliaan sejati.
Kehidupan kita juga seringkali dipenuhi dengan momen-momen transfigurasi, di mana kita merasa dekat dengan Tuhan dan mengalami kehadiran-Nya. Namun, panggilan kita adalah untuk membawa pengalaman kemuliaan itu ke dalam perjuangan sehari-hari. Kita tidak hanya dipanggil untuk menikmati momen-momen indah tersebut, tetapi juga untuk memperjuangkan iman kita di tengah kesulitan. Dengan mengikuti teladan Yesus, kita dapat menemukan makna dalam penderitaan, melihatnya sebagai bagian dari jalan menuju kebangkitan dan kehidupan yang lebih penuh. Dalam menjalani iman kita, kita diingatkan untuk tetap setia, bahkan ketika jalan yang kita tempuh tampak berat, karena di balik setiap salib terdapat harapan akan kebangkitan.
🙏 Doa
Ibu, Bapak, dan Saudara-saudari terkasih, marilah kita mengakhiri permenungan ini dengan hati yang diterangi harapan. Kemuliaan Kristus yang dinyatakan di atas gunung menguatkan kita untuk tetap setia ketika harus turun kembali ke lembah kehidupan. Semoga terang yang kita alami hari ini memberi keberanian untuk memikul salib dengan iman.
Ya Yesus, dalam kemuliaan-Mu para murid melihat secercah harapan di tengah jalan penderitaan. Kuatkanlah hati kami ketika harus menghadapi kenyataan hidup yang tidak selalu mudah. Bantulah kami tetap percaya bahwa kesetiaan dalam hal kecil sekalipun menuntun pada sukacita kebangkitan yang Kau janjikan.
Ajarlah kami tidak hanya mencari pengalaman rohani yang menghibur, tetapi juga setia menjalani panggilan sehari-hari. Bentuklah hati yang teguh saat menghadapi kesulitan, agar setiap perjuangan hidup menjadi persembahan kasih yang memuliakan nama-Mu dan membawa berkat bagi sesama.
Dampingilah langkah kami ketika harus turun dari “gunung” penghiburan menuju tugas dan tanggung jawab hidup. Semoga terang wajah-Mu tetap tinggal dalam hati kami, sehingga di tengah penderitaan sekalipun kami mampu menjadi pembawa harapan, kasih, dan damai bagi dunia. Amin.
Ya Tuhan, semoga kami dapat nelihat kemuliaan-Mu dan setia mengikuti jalan salib-Mu. Amin.