Tanggal: 5 Maret 2026

Perayaan: Hari Biasa Pekan II Prapaskah

Warna Liturgi: Ungu

📖 Bacaan Pertama

Yer. 17:5-10

Beginilah firman TUHAN: “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!

Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk.

Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!

Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.

Betapa liciknya hati, lebih licik dari pada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?

Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya.”


🎵 Mazmur Tanggapan

Mazmur 1:1-2.3.4.6

Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,

tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.

Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil.

Bukan demikian orang fasik: mereka seperti sekam yang ditiupkan angin.

sebab TUHAN mengenal jalan orang benar, tetapi jalan orang fasik menuju kebinasaan.


✝️ Bacaan Injil

Lukas 16:19-31

“Ada seorang kaya yang selalu berpakaian jubah ungu dan kain halus, dan setiap hari ia bersukaria dalam kemewahan.

Dan ada seorang pengemis bernama Lazarus, badannya penuh dengan borok, berbaring dekat pintu rumah orang kaya itu,

dan ingin menghilangkan laparnya dengan apa yang jatuh dari meja orang kaya itu. Malahan anjing-anjing datang dan menjilat boroknya.

Kemudian matilah orang miskin itu, lalu dibawa oleh malaikat-malaikat ke pangkuan Abraham.

Orang kaya itu juga mati, lalu dikubur. Dan sementara ia menderita sengsara di alam maut ia memandang ke atas, dan dari jauh dilihatnya Abraham, dan Lazarus duduk di pangkuannya.

Lalu ia berseru, katanya: Bapa Abraham, kasihanilah aku. Suruhlah Lazarus, supaya ia mencelupkan ujung jarinya ke dalam air dan menyejukkan lidahku, sebab aku sangat kesakitan dalam nyala api ini.

Tetapi Abraham berkata: Anak, ingatlah, bahwa engkau telah menerima segala yang baik sewaktu hidupmu, sedangkan Lazarus segala yang buruk. Sekarang ia mendapat hiburan dan engkau sangat menderita.

Selain dari pada itu di antara kami dan engkau terbentang jurang yang tak terseberangi, supaya mereka yang mau pergi dari sini kepadamu ataupun mereka yang mau datang dari situ kepada kami tidak dapat menyeberang.

Kata orang itu: Kalau demikian, aku minta kepadamu, bapa, supaya engkau menyuruh dia ke rumah ayahku,

sebab masih ada lima orang saudaraku, supaya ia memperingati mereka dengan sungguh-sungguh, agar mereka jangan masuk kelak ke dalam tempat penderitaan ini.

Tetapi kata Abraham: Ada pada mereka kesaksian Musa dan para nabi; baiklah mereka mendengarkan kesaksian itu.

Jawab orang itu: Tidak, Bapa Abraham, tetapi jika ada seorang yang datang dari antara orang mati kepada mereka, mereka akan bertobat.

Kata Abraham kepadanya: Jika mereka tidak mendengarkan kesaksian Musa dan para nabi, mereka tidak juga akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati.”


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus memperlihatkan kontras nasib dua manusia. Kisah ini juga teguran keras sekaligus ajakan mendalam untuk hidup dalam tanggung jawab dan solidaritas.

Orang kaya itu hidup mewah setiap hari, tetapi hatinya tertutup pada Lazarus vang terbaring dalam kondisi luka dan lapar di gerbang rumahnya. la bukan berdosa karena kaya, melainkan karena gagal melihat dalam kekayaannya ada panggilan untuk berbagi.

Di sisi lain, rahmat Allah tercurah pada Lazarus bukan karena ia miskin, melainkan karena dalam ketidakberdayaannya ia mengandalkan Tuhan sepenuhnya. la mungkin hina di mata manusia, tetapi berharga di mata Allah.

Kisah ini mengajarkan bahwa kekayaan tidak otomatis membawa kita lebih dekat kepada Tuhan jika tidak disertai hati yang terbuka dan peduli. Perumpamaan ini juga adalah peringatan bagi kita. Jika mau berubah, berubahlah sekarang. Penyesalan selalu datang terlambat.

“Mereka sudah punya Musa dan para nabi,” kata Abraham. Artinya, kita sudah punya firman Tuhan sebagai kompas hidup. Tinggal kita yang memilih: memeluk egoisme atau membuka tangan dan hati bagi sesama. Semoga kekayaan menjadi sarana kasih dan tidak menjauhkan kita dari orang lain.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Bacaan dari Yeremia, Mazmur, dan Injil Lukas mengajak kita merenungkan perbedaan antara mereka yang mengandalkan Tuhan dan yang hanya mengandalkan kekuatan serta kekayaan manusia. Dalam Yeremia, kita diingatkan tentang kutukan bagi mereka yang menjauh dari Tuhan dan berpegang pada kekuatan manusia, sementara berkat diberikan kepada mereka yang menaruh harapan pada Tuhan. Hal ini sejalan dengan Mazmur yang menggambarkan orang yang merenungkan hukum Tuhan seperti pohon yang ditanam di tepi air, selalu berbuah dan tidak layu. Ini menggambarkan keteguhan iman yang berakar pada relasi yang dalam dengan Tuhan.

Perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus dalam Injil Lukas memberikan gambaran nyata tentang bagaimana kekayaan dapat menjadi penghalang dalam berhubungan dengan Tuhan dan sesama. Orang kaya hidup dalam kemewahan, namun hatinya tertutup untuk melihat penderitaan Lazarus yang terbaring di depan pintunya. Ia tidak berdosa karena kekayaannya, melainkan karena ketidakpeduliannya terhadap orang yang membutuhkan. Hal ini mengingatkan kita bahwa kekayaan bukanlah tujuan, melainkan alat untuk menunjukkan kasih dan kepedulian kepada sesama.

Kisah ini juga menyampaikan pesan penting tentang tanggung jawab kita sebagai umat beriman. Kita dipanggil untuk membuka hati dan tangan kita, menjadi saluran berkat bagi orang lain, terutama mereka yang berada dalam kesulitan. Seperti yang dinyatakan oleh Abraham, kita sudah memiliki firman Tuhan sebagai panduan hidup kita. Pilihan ada di tangan kita: apakah kita akan terus terjebak dalam egoisme ataukah kita akan menjadikan kekayaan dan berkat yang kita miliki sebagai sarana untuk melayani dan mencintai sesama. Penyesalan tidak akan mengubah masa lalu, tetapi keputusan untuk bertindak sekarang dapat mengubah masa depan kita dan orang-orang di sekitar kita.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram