Tanggal: 21 Maret 2026

Perayaan: Hari Biasa Pekan IV Prapaskah

Warna Liturgi: Ungu

📖 Bacaan Pertama

Yer. 11:18-20

TUHAN memberitahukan hal itu kepadaku, maka aku mengetahuinya; pada waktu itu Engkau, TUHAN, memperlihatkan perbuatan mereka kepadaku.

Tetapi aku dulu seperti anak domba jinak yang dibawa untuk disembelih, aku tidak tahu bahwa mereka mengadakan persepakatan jahat terhadap aku: “Marilah kita binasakan pohon ini dengan buah-buahnya! Marilah kita melenyapkannya dari negeri orang-orang yang hidup, sehingga namanya tidak diingat orang lagi!”

Tetapi, TUHAN semesta alam, yang menghakimi dengan adil, yang menguji batin dan hati, biarlah aku melihat pembalasan-Mu terhadap mereka, sebab kepada-Mulah kuserahkan perkaraku.


🎵 Mazmur Tanggapan

supaya jangan mereka seperti singa menerkam aku dan menyeret aku, dengan tidak ada yang melepaskan.

Ya TUHAN, Allahku, jika aku berbuat ini: jika ada kecurangan di tanganku,

Biarlah berakhir kejahatan orang fasik, tetapi teguhkanlah orang yang benar, Engkau, yang menguji hati dan batin orang, ya Allah yang adil.

Perisai bagiku adalah Allah, yang menyelamatkan orang-orang yang tulus hati;

Allah adalah Hakim yang adil dan Allah yang murka setiap saat.

Sungguh, kembali ia mengasah pedangnya, melentur busurnya dan membidik.


✝️ Bacaan Injil

Yohanes 7:40-53

Beberapa orang di antara orang banyak, yang mendengarkan perkataan-perkataan itu, berkata: “Dia ini benar-benar nabi yang akan datang.”

Yang lain berkata: “Ia ini Mesias.” Tetapi yang lain lagi berkata: “Bukan, Mesias tidak datang dari Galilea!

Karena Kitab Suci mengatakan, bahwa Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari kampung Betlehem, tempat Daud dahulu tinggal.”

Maka timbullah pertentangan di antara orang banyak karena Dia.

Beberapa orang di antara mereka mau menangkap Dia, tetapi tidak ada seorang pun yang berani menyentuh-Nya.

Maka penjaga-penjaga itu pergi kepada imam-imam kepala dan orang-orang Farisi, yang berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak membawa-Nya?”

Jawab penjaga-penjaga itu: “Belum pernah seorang manusia berkata seperti orang itu!”

Jawab orang-orang Farisi itu kepada mereka: “Adakah kamu juga disesatkan?

Adakah seorang di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya, atau seorang di antara orang-orang Farisi?

Tetapi orang banyak ini yang tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!”

Nikodemus, seorang dari mereka, yang dahulu telah datang kepada-Nya, berkata kepada mereka:

“Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dibuat-Nya?”

Jawab mereka: “Apakah engkau juga orang Galilea? Selidikilah Kitab Suci dan engkau akan tahu bahwa tidak ada nabi yang datang dari Galilea.”

Lalu mereka pulang, masing-masing ke rumahnya,


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Banyak orang mulai bertanya-tanya, “la ini Mesias?” karena ajaran dan mukjizat Yesus begitu luar biasa. Namun, sebagian lagi meragukan-Nya karena mereka tahu asal-usul-Nya secara manusiawi, mereka tahu Yesus anak tukang kayu dari Nazaret.

Mereka beranggapan bahwa Mesias seharusnya datang secara istimewa atau dari tempat yang lebih terhormat. Salah satu argumen utama penolakan terhadap Yesus adalah dari mana Ia berasal. Orang-orang Yahudi berkata, “Apakah mungkin Mesias datang dari Galilea?” (Yoh. 7:41).

Mereka tahu bahwa nubuat menyebutkan Mesias berasal dari keturunan Daud dan dari Betlehem. Mereka tidak menyadari bahwa Yesus memang lahir di Betlehem, meskipun dibesarkan di Galilea.

Reaksi terhadap Yesus terbelah. Ada yang percaya, ada yang ragu, dan ada pula yang ingin menangkap-Nya. Para pemimpin agama merasa terancam oleh pengaruh-Nya dan menuduh Dia melanggar hukum Taurat, terutama karena la menyembuhkan pada hari Sabat dan menyatakan diri-Nya satu dengan Bapa.

Nikodemus, seorang Farisi yang sebelumnya datang kepada Yesus pada malam hari (Yoh. 3), mencoba membela Dia. la berkata, “Apakah hukum Taurat kita menghukum seseorang, sebelum ia didengar dan sebelum orang mengetahui apa yang telah dilakukannya?” (Yoh. 7:51).

Namun, ia segera ditolak oleh rekan-rekannya yang sinis, yang berkata, “Apakah engkau juga orang Galilea?” Ketika kekuasaan dan otoritas terancam, orang bisa menjadi sewenang-wenang.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Bacaan pertama dari Yeremia menggambarkan seorang nabi yang menghadapi pengkhianatan dan penolakan, mencerminkan kesulitan yang dihadapi oleh Yesus dalam pelayanan-Nya. Dalam bacaan Injil, kita melihat bagaimana reaksi orang-orang terhadap Yesus terbelah, antara keyakinan dan keraguan. Mereka terjerat dalam prasangka yang berkaitan dengan asal-usul-Nya, tidak menyadari bahwa Mesias yang mereka nantikan telah berada di tengah mereka, meskipun lahir di Betlehem dan dibesarkan di Galilea. Hal ini mengingatkan kita akan pentingnya memahami kebenaran dengan lebih dalam, bukan hanya berdasarkan penilaian superficial atau tradisi yang telah ada.

Di tengah keraguan dan pertentangan itu, muncul sosok Nikodemus, seorang Farisi yang berani mempertanyakan hukum dan mendukung keadilan. Ia mewakili suara hati nurani yang berusaha mencari kebenaran di tengah ketidakpastian. Sikapnya seharusnya menjadi contoh bagi kita untuk tidak segera menilai atau menolak sesuatu hanya karena perbedaan atau prasangka. Dalam hidup sehari-hari, kita sering kali dihadapkan pada situasi di mana kita harus memilih antara mengikuti arus atau berpegang pada kebenaran yang lebih dalam.

Pesan ini mengajak kita untuk membangun keyakinan yang kokoh berdasarkan iman dan pengenalan yang benar akan Yesus. Kita diajak untuk tidak terjebak dalam penilaian dangkal yang dapat menghalangi kita untuk mengenali kehadiran dan karya Tuhan dalam hidup kita. Melalui pengalaman Nikodemus dan reaksi orang banyak, kita diingatkan untuk selalu mencari kebenaran dengan hati yang terbuka, mengedepankan keadilan, serta mengenali bahwa Tuhan sering kali hadir dalam bentuk yang tidak terduga.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram