Tanggal: 1 Februari 2026
Perayaan: Hari Minggu Biasa IV
Warna Liturgi: Hijau
📖 Bacaan Pertama
Zef. 2:3
Carilah TUHAN, hai semua orang yang rendah hati di negeri, yang melakukan hukum-Nya; carilah keadilan, carilah kerendahan hati; mungkin kamu akan terlindung pada hari kemurkaan TUHAN.
Di antaramu akan Kubiarkan hidup suatu umat yang rendah hati dan lemah, dan mereka akan mencari perlindungan pada nama TUHAN,
yakni sisa Israel itu. Mereka tidak akan melakukan kelaliman atau berbicara bohong; dalam mulut mereka tidak akan terdapat lidah penipu; ya, mereka akan seperti domba yang makan rumput dan berbaring dengan tidak ada yang mengganggunya.”
🎵 Mazmur Tanggapan
Haleluya! Pujilah TUHAN, hai jiwaku!
yang menegakkan keadilan untuk orang-orang yang diperas, yang memberi roti kepada orang-orang yang lapar. TUHAN membebaskan orang-orang yang terkurung,
Dan TUHAN membuka mata orang-orang buta, TUHAN menegakkan orang yang tertunduk, TUHAN mengasihi orang-orang benar.
TUHAN menjaga orang-orang asing, anak yatim dan janda ditegakkan-Nya kembali, tetapi jalan orang fasik dibengkokkan-Nya.
TUHAN itu Raja untuk selama-lamanya, Allahmu, ya Sion, turun-temurun! Haleluya!
📖 Bacaan Kedua
1Kor. 1:26-31
Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang.
Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat,
dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti,
supaya jangan ada seorang manusia pun yang memegahkan diri di hadapan Allah.
Tetapi oleh Dia kamu berada dalam Kristus Yesus, yang oleh Allah telah menjadi hikmat bagi kita. Ia membenarkan dan menguduskan dan menebus kita.
Karena itu seperti ada tertulis: “Barangsiapa yang bermegah, hendaklah ia bermegah di dalam Tuhan.”
✝️ Bacaan Injil
Matius 5:1-12a
Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya.
Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka, kata-Nya:
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Dan berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Juga berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Dan berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Juga berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.
Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”
💭 Renungan
Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia
Lalu kata Ishak kepada Yakub: “Datanglah mendekat, anakku, supaya aku meraba engkau, apakah engkau ini anakku Esau atau bukan.”
Maka Yakub mendekati Ishak, ayahnya, dan ayahnya itu merabanya serta berkata: “Kalau suara, suara Yakub; kalau tangan, tangan Esau.”
Jadi Ishak tidak mengenal dia, karena tangannya berbulu seperti tangan Esau, kakaknya. Ishak hendak memberkati dia,
tetapi ia masih bertanya: “Benarkah engkau ini anakku Esau?” Jawabnya: “Ya!”
Lalu berkatalah Ishak: “Dekatkanlah makanan itu kepadaku, supaya kumakan daging buruan masakan anakku, agar aku memberkati engkau.” Jadi didekatkannyalah makanan itu kepada ayahnya, lalu ia makan, dibawanya juga anggur kepadanya, lalu ia minum.
Berkatalah Ishak, ayahnya, kepadanya: “Datanglah dekat-dekat dan ciumlah aku, anakku.”
Lalu datanglah Yakub dekat-dekat dan diciumnyalah ayahnya. Ketika Ishak mencium bau pakaian Yakub, diberkatinyalah dia, katanya: “Sesungguhnya bau anakku adalah sebagai bau padang yang diberkati TUHAN.
Allah akan memberikan kepadamu embun yang dari langit dan tanah-tanah gemuk di bumi dan gandum serta anggur berlimpah-limpah.
Bangsa-bangsa akan takluk kepadamu, dan suku-suku bangsa akan sujud kepadamu; jadilah tuan atas saudara-saudaramu, dan anak-anak ibumu akan sujud kepadamu. Siapa yang mengutuk engkau, terkutuklah ia, dan siapa yang memberkati engkau, diberkatilah ia.”
Renungan Harian Hari Ini dan Injil 1 Februari 2026
Dalam dunia yang sering memuja kekuatan, kekayaan, dan pencitraan diri, sabda bahagia Yesus terasa begitu radikal. “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah … berbahagialah orang yang lemah lembut …” (Mat. 5:3-5).
Yesus mengundang kita untuk menempuh jalan yang berlawanan dari logika dunia. la tidak menawarkan popularitas atau kekuasaan, tetapi hati yang bersih, sikap damai, dan keberanian untuk tetap hidup benar di tengah ketidakadilan.
Nabi Zefanya menegaskan bahwa Tuhan menyisakan suatu umat yang rendah hati dan lemah (bdk. Zef. 3:12-13). Bukan mereka yang berteriak paling lantang atau punya posisi tinggi, melainkan yang hatinya terbuka dan setia mencari Tuhan.
Paulus pun mengingatkan jemaat di Korintus bahwa Allah memilih yang lemah untuk mempermalukan yang kuat, yang hina untuk meniadakan yang dianggap berarti (bdk. 1Kor. 1:27-28). Kita diajak untuk tidak membanggakan diri, tetapi membangun hidup yang berakar pada kasih dan kebenaran Allah.
Sabda Bahagia tidak hanya panggilan untuk hidup saleh secara pribadi, tetapi juga dorongan untuk membangun masyarakat yang adil, damai, dan manusiawi. Dunia kita hari ini dibanjiri oleh berita palsu, ujaran kebencian, dan budaya membuang mereka yang lemah.
Kita dipanggil menjadi “orang-orang yang membawa damai”, bukan sekadar dengan kata-kata, melainkan juga lewat tindakan konkret: menolak korupsi, menghindari diskriminasi, merawat ciptaan, serta memperjuangkan yang tertindas.
Hidup bahagia menurut Injil berarti hidup yang memberi diri bagi sesama. Ketika kita berdiri bersama yang kecil dan tersingkir, ketika kita memaafkan alih-alih membalas dendam, ketika kita memilih kebenaran meskipun itu tidak populer – di sanalah Kerajaan Allah hadir.
Semoga kita menjadi bagian dari umat yang rendah hati dan tulus, yang membawa terang Kristus dalam dunia yang gelap.
🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)
Bacaan dari Zefanya, Mazmur, dan Injil Matius mengajak kita untuk memahami bahwa kebahagiaan sejati terletak dalam kerendahan hati dan keinginan untuk mencari Tuhan. Dalam dunia yang sering memuja kekuasaan dan kekayaan, Yesus memberikan pengajaran yang radikal dengan menyatakan bahwa mereka yang miskin di hadapan Allah, yang berdukacita, dan yang lemah lembut adalah yang berbahagia. Ini menegaskan bahwa nilai-nilai Kerajaan Allah berlawanan dengan nilai-nilai duniawi yang sering kali mengejar popularitas dan kekuasaan.
Zefanya menekankan pentingnya memiliki hati yang rendah dan lemah, yang bersedia mencari keadilan dan kerendahan hati di hadapan Tuhan. Sisa umat yang setia ini adalah mereka yang tidak terjerumus dalam kelaliman atau kebohongan, melainkan yang siap untuk hidup dalam kebenaran dan keadilan. Hal ini senada dengan ajaran Paulus yang mengingatkan bahwa Allah memilih yang lemah untuk mempermalukan yang kuat, suatu panggilan bagi kita untuk tidak mengandalkan kekuatan diri, tetapi bersandar pada kasih dan kebenaran Allah.
Sabda Bahagia bukan hanya panggilan pribadi untuk hidup saleh, tetapi juga dorongan untuk berpartisipasi aktif dalam membangun masyarakat yang adil dan damai. Ini berarti kita harus menjadi agen perubahan, menolak korupsi, dan memperjuangkan hak-hak mereka yang tertindas. Ketika kita berdiri bersama mereka yang lemah dan tersingkir, serta memilih kebenaran meski tak populer, kita membawa terang Kristus ke dalam dunia yang gelap. Kebahagiaan sejati terletak dalam memberi diri bagi sesama, menghidupi nilai-nilai Kerajaan Allah, dan menebar damai di tengah ketidakadilan.
🙏 Doa
Ibu, Bapak, dan Saudara-saudari terkasih, marilah kita menutup permenungan ini dengan menenangkan hati dan membuka diri di hadapan Tuhan. Dalam keheningan batin, kita membawa seluruh pergulatan hidup, harapan, dan komitmen yang lahir dari sabda hari ini, agar apa yang kita dengar tidak berhenti sebagai kata, melainkan menjadi sikap hidup yang nyata.
Ya Bapa, di tengah dunia yang sering mengagungkan kekuatan dan pencitraan, kami bersyukur atas sabda yang mengarahkan langkah pada kerendahan hati dan kelemahlembutan. Ajarlah hati ini untuk tidak mencari kemuliaan diri, melainkan setia berjalan dalam kebenaran, kasih, dan kepercayaan penuh pada penyelenggaraan-Mu.
Engkau menunjukkan jalan bahagia yang berbeda dari logika dunia. Kuatkan kami agar berani memilih damai daripada dendam, kejujuran daripada kepentingan diri, serta kesetiaan pada Injil meski harus melawan arus. Semoga hidup kami menjadi tanda hadirnya Kerajaan Allah di tengah sesama.
Sertailah Gereja dan masyarakat kami agar semakin berpihak pada yang kecil, lemah, dan tersingkir. Tumbuhkan keberanian untuk menolak ketidakadilan, merawat ciptaan, dan membangun persaudaraan sejati. Jadikan kami pembawa terang dan harapan di dunia yang terluka ini. Amin.
Ya Tuhan, ajarilah kami untuk hidup sederhana dan setia dalam kasih-Mu agar kami layak disebut anak-anak-Mu. Amin.
Artikel Lainnya
-
7 menit bacaan
-
Renungan 3 Februari 2026, Belas Kasih yang Mengubah Hidup
9 menit bacaan -
Renungan 31 Januari 2026, Iman yang Tenang di Tengah Badai
7 menit bacaan -
Renungan 30 Januari 2026, Benih Kerajaan dalam Kesederhanaan
8 menit bacaan -
Renungan 29 Januari 2026, Menjadi Cahaya dalam Kegelapan
6 menit bacaan -
Renungan 28 Januari 2026, Menanggapi Rahmat dengan Tulus
10 menit bacaan -
Renungan 25 Januari 2026, Terang di Tengah Kegelapan
9 menit bacaan