Tanggal: 6 Januari 2026
Perayaan: Hari Biasa sesudah penampakan Tuhan
Warna Liturgi: Putih
📖 Bacaan Pertama
1Yoh. 4:7-10
Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah.
Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.
Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya.
Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.
🎵 Mazmur Tanggapan
Kiranya ia mengadili umat-Mu dengan keadilan dan orang-orang-Mu yang tertindas dengan hukum!
Kiranya gunung-gunung membawa damai sejahtera bagi bangsa, dan bukit-bukit membawa kebenaran!
Dan kiranya ia memberi keadilan kepada orang-orang yang tertindas dari bangsa itu, menolong orang-orang miskin, tetapi meremukkan pemeras-pemeras!
Kiranya keadilan berkembang dalam zamannya dan damai sejahtera berlimpah, sampai tidak ada lagi bulan!
Kiranya ia memerintah dari laut ke laut, dari sungai Efrat sampai ke ujung bumi!
✝️ Bacaan Injil
Markus 6:34-44
Ketika Yesus mendarat, Ia melihat sejumlah besar orang banyak, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Lalu mulailah Ia mengajarkan banyak hal kepada mereka.
Pada waktu hari sudah mulai malam, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya dan berkata: “Tempat ini sunyi dan hari sudah mulai malam.
Suruhlah mereka pergi, supaya mereka dapat membeli makanan di desa-desa dan di kampung-kampung di sekitar ini.”
Tetapi jawab-Nya: “Kamu harus memberi mereka makan!” Kata mereka kepada-Nya: “Jadi haruskah kami membeli roti seharga dua ratus dinar untuk memberi mereka makan?”
Tetapi Ia berkata kepada mereka: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Sesudah memeriksanya mereka berkata: “Lima roti dan dua ikan.”
Lalu Ia menyuruh orang-orang itu, supaya semua duduk berkelompok-kelompok di atas rumput hijau.
Maka duduklah mereka berkelompok-kelompok, ada yang seratus, ada yang lima puluh orang.
Dan setelah Ia mengambil lima roti dan dua ikan itu, Ia menengadah ke langit dan mengucap berkat, lalu memecah-mecahkan roti itu dan memberikannya kepada murid-murid-Nya, supaya dibagi-bagikan kepada orang-orang itu; begitu juga kedua ikan itu dibagi-bagikan-Nya kepada semua mereka.
Dan mereka semuanya makan sampai kenyang.
Kemudian orang mengumpulkan potongan-potongan roti dua belas bakul penuh, selain dari pada sisa-sisa ikan.
Yang ikut makan roti itu ada lima ribu orang laki-laki.
💭 Renungan
Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia
Belas kasihan (compassion) merupakan panggilan nurani dari seorang yang hidupnya selalu terarah dan menyatu dengan Allah Yang Maha Kasih. Yesus memberi kesaksian luhur itu tatkala mendapati banyak orang sedang dalam kesulitan.
Ketika menjumpai banyak orang yang berkerumun seperti “domba yang tidak mempunyai gembala”, Ia segera beraksi menyelamatkan mereka dengan mengarahkan para murid-Nya untuk segera memberi makan kepada orang banyak itu.
Sesaat setelah makanan berupa lima roti dan dua ikan itu telah disiapkan, Yesus tidak lupa mengucap syukur kepada Bapa-Nya, lalu memperbanyak makanan itu dan membagikannya kepada orang banyak.
Mukjizat Yesus ini bermula dari hati-Nya yang tergerak oleh belas kasihan. Kasih-Nya tampak nyata bagi setiap orang yang mengikuti-Nya. Solidaritas yang diteladankan Yesus ini merupakan wujud kesaksian penting dan mendesak bagi kita hari ini.
Aneka bentuk keprihatinan terhadap orang lain hendaknya dilakukan dengan ketulusan, kesigapan dan mesti bisa menjangkau kebutuhan konkret orang-orang yang sedang dalam kesulitan.
🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)
Dalam bacaan pertama, kita diingatkan bahwa kasih adalah esensi dari Allah, dan oleh karena itu, kita dipanggil untuk saling mengasihi. Dalam surat 1 Yohanes, kasih Allah dinyatakan melalui pengutusan Anak-Nya, yang menjadi pendamaian bagi kita. Hal ini mengajak kita untuk menyadari bahwa kasih yang tulus bukan hanya tentang perasaan, tetapi juga tindakan nyata yang berakar dari pengenalan kita akan Allah. Melalui kasih, kita tidak hanya mengenal Allah, tetapi juga berpartisipasi dalam karya-Nya di dunia ini.
Bacaan Injil dari Markus mengilustrasikan bagaimana Yesus, ketika melihat kerumunan yang kelaparan, tergerak oleh belas kasihan. Ia tidak hanya merasakan empati, tetapi langsung mengambil tindakan untuk memenuhi kebutuhan mereka. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, tindakan Yesus ini mengajarkan kita bahwa kasih yang sejati tidak hanya berdiam dalam hati, tetapi harus diwujudkan dalam aksi nyata, terutama kepada mereka yang berada dalam kesulitan. Ketika murid-murid-Nya ragu akan kemampuan mereka untuk memberi makan orang banyak, Yesus menunjukkan bahwa dengan iman dan penyerahan kepada Allah, hal-hal yang tampaknya mustahil bisa menjadi nyata.
Mujizat penggandaan roti dan ikan menjadi pengingat bagi kita bahwa dengan sedikit yang kita miliki, jika diserahkan kepada Tuhan, dapat menjadi berkat bagi banyak orang. Dalam dunia yang sering kali diliputi oleh ketidakadilan dan ketidakpastian, kita dipanggil untuk menjadi alat kasih dan keadilan Allah. Setiap bentuk kepedulian kepada sesama, terutama bagi yang tertindas dan membutuhkan, adalah manifestasi dari kasih Allah yang kita terima. Dengan demikian, kita diajak untuk tidak hanya mengandalkan usaha kita sendiri, tetapi juga untuk percaya dan berharap kepada Allah yang mampu melipatgandakan usaha kecil kita menjadi berkat yang besar.
Artikel Lainnya
-
6 menit bacaan
-
Renungan 5 Januari 2026, Menjadi Terang di Tengah Kegelapan
6 menit bacaan -
Renungan 4 Januari 2026, Mencari Terang dalam Kegelapan
10 menit bacaan -
Renungan 1 Januari 2026, Sukacita dalam Menyambut Penebus
8 menit bacaan -
Renungan 31 Desember 2025, Menyambut Tahun Baru dengan Yesus
8 menit bacaan -
Renungan 29 Desember 2025, Ketaatan yang Menghadirkan Terang
8 menit bacaan