Tanggal: 29 Maret 2026

Perayaan: HARI MINGGU PALMA MENGENANGKAN SENGSARA TUHAN

Warna Liturgi: Merah

📖 Bacaan Pertama

Yes. 50:4-7

Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.

Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.


🎵 Mazmur Tanggapan

Mazmur 22:8-9.17-18a.19-20.23-24

“Ia menyerah kepada TUHAN; biarlah Dia yang meluputkannya, biarlah Dia yang melepaskannya! Bukankah Dia berkenan kepadanya?”

Ya, Engkau yang mengeluarkan aku dari kandungan; Engkau yang membuat aku aman pada dada ibuku.

Segala tulangku dapat kuhitung; mereka menonton, mereka memandangi aku.

Mereka membagi-bagi pakaianku di antara mereka, dan mereka membuang undi atas jubahku.

Tetapi Engkau, TUHAN, janganlah jauh; ya kekuatanku, segeralah menolong aku!

Lepaskanlah aku dari pedang, dan nyawaku dari cengkeraman anjing.

kamu yang takut akan TUHAN, pujilah Dia, hai segenap anak cucu Yakub, muliakanlah Dia, dan gentarlah terhadap Dia, hai segenap anak cucu Israel!

Sebab Ia tidak memandang hina ataupun merasa jijik kesengsaraan orang yang tertindas, dan Ia tidak menyembunyikan wajah-Nya kepada orang itu, dan Ia mendengar ketika orang itu berteriak minta tolong kepada-Nya.


📖 Bacaan Kedua

Flp. 2:6-11

yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan,

melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.

Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.

Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,

supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi,

dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!


✝️ Bacaan Injil

Mat. 26:14-27:66

Lalu Yesus dihadapkan kepada wali negeri. Dan wali negeri bertanya kepada-Nya: “Engkaukah raja orang Yahudi?” Jawab Yesus: “Engkau sendiri mengatakannya.”

Tetapi atas tuduhan yang diajukan imam-imam kepala dan tua-tua terhadap Dia, Ia tidak memberi jawab apa pun.

Maka kata Pilatus kepada-Nya: “Tidakkah Engkau dengar betapa banyaknya tuduhan saksi-saksi ini terhadap Engkau?”

Tetapi Ia tidak menjawab suatu kata pun, sehingga wali negeri itu sangat heran.

Telah menjadi kebiasaan bagi wali negeri untuk membebaskan satu orang hukuman pada tiap-tiap hari raya itu atas pilihan orang banyak.

Dan pada waktu itu ada dalam penjara seorang yang terkenal kejahatannya yang bernama Yesus Barabas.

Karena mereka sudah berkumpul di sana, Pilatus berkata kepada mereka: “Siapa yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu, Yesus Barabas atau Yesus, yang disebut Kristus?”

Ia memang mengetahui, bahwa mereka telah menyerahkan Yesus karena dengki.

Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: “Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam.”

Tetapi oleh hasutan imam-imam kepala dan tua-tua, orang banyak bertekad untuk meminta supaya Barabas dibebaskan dan Yesus dihukum mati.

Wali negeri menjawab dan berkata kepada mereka: “Siapa di antara kedua orang itu yang kamu kehendaki kubebaskan bagimu?” Kata mereka: “Barabas.”

Kata Pilatus kepada mereka: “Jika begitu, apakah yang harus kuperbuat dengan Yesus, yang disebut Kristus?” Mereka semua berseru: “Ia harus disalibkan!”

Katanya: “Tetapi kejahatan apakah yang telah dilakukan-Nya?” Namun mereka makin keras berteriak: “Ia harus disalibkan!”

Ketika Pilatus melihat bahwa segala usaha akan sia-sia, malah sudah mulai timbul kekacauan, ia mengambil air dan membasuh tangannya di hadapan orang banyak dan berkata: “Aku tidak bersalah terhadap darah orang ini; itu urusan kamu sendiri!”

Dan seluruh rakyat itu menjawab: “Biarlah darah-Nya ditanggungkan atas kami dan atas anak-anak kami!”

Lalu ia membebaskan Barabas bagi mereka, tetapi Yesus disesahnya lalu diserahkannya untuk disalibkan.

Kemudian serdadu-serdadu wali negeri membawa Yesus ke gedung pengadilan, lalu memanggil seluruh pasukan berkumpul sekeliling Yesus.

Mereka menanggalkan pakaian-Nya dan mengenakan jubah ungu kepada-Nya.

Mereka menganyam sebuah mahkota duri dan menaruhnya di atas kepala-Nya, lalu memberikan Dia sebatang buluh di tangan kanan-Nya. Kemudian mereka berlutut di hadapan-Nya dan mengolok-olokkan Dia, katanya: “Salam, hai raja orang Yahudi!”

Mereka meludahi-Nya dan mengambil buluh itu dan memukulkannya ke kepala-Nya.

Sesudah mengolok-olokkan Dia mereka menanggalkan jubah itu dari pada-Nya dan mengenakan pula pakaian-Nya kepada-Nya. Kemudian mereka membawa Dia ke luar untuk disalibkan.

Ketika mereka berjalan ke luar kota, mereka berjumpa dengan seorang dari Kirene yang bernama Simon. Orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.

Maka sampailah mereka di suatu tempat yang bernama Golgota, artinya: Tempat Tengkorak.

Lalu mereka memberi Dia minum anggur bercampur empedu. Setelah Ia mengecapnya, Ia tidak mau meminumnya.

Sesudah menyalibkan Dia mereka membagi-bagi pakaian-Nya dengan membuang undi.

Lalu mereka duduk di situ menjaga Dia.

Dan di atas kepala-Nya terpasang tulisan yang menyebut alasan mengapa Ia dihukum: “Inilah Yesus Raja orang Yahudi.”

Bersama dengan Dia disalibkan dua orang penyamun, seorang di sebelah kanan dan seorang di sebelah kiri-Nya.

Orang-orang yang lewat di sana menghujat Dia dan sambil menggelengkan kepala,

mereka berkata: “Hai Engkau yang mau merubuhkan Bait Suci dan mau membangunnya kembali dalam tiga hari, selamatkanlah diri-Mu jikalau Engkau Anak Allah, turunlah dari salib itu!”

Demikian juga imam-imam kepala bersama-sama ahli-ahli Taurat dan tua-tua mengolok-olokkan Dia dan mereka berkata:

“Orang lain Ia selamatkan, tetapi diri-Nya sendiri tidak dapat Ia selamatkan! Ia Raja Israel? Baiklah Ia turun dari salib itu dan kami akan percaya kepada-Nya.

Ia menaruh harapan-Nya pada Allah: baiklah Allah menyelamatkan Dia, jikalau Allah berkenan kepada-Nya! Karena Ia telah berkata: Aku adalah Anak Allah.”

Bahkan penyamun-penyamun yang disalibkan bersama-sama dengan Dia mencela-Nya demikian juga.

Mulai dari jam dua belas kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga.

Kira-kira jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Artinya: Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?

Mendengar itu, beberapa orang yang berdiri di situ berkata: “Ia memanggil Elia.”

Dan segeralah datang seorang dari mereka; ia mengambil bunga karang, mencelupkannya ke dalam anggur asam, lalu mencucukkannya pada sebatang buluh dan memberi Yesus minum.

Tetapi orang-orang lain berkata: “Jangan, baiklah kita lihat, apakah Elia datang untuk menyelamatkan Dia.”

Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya.

Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,

juga kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.

Dan sesudah kebangkitan Yesus, mereka pun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.

Kepala pasukan dan prajurit-prajuritnya yang menjaga Yesus menjadi sangat takut ketika mereka melihat gempa bumi dan apa yang telah terjadi, lalu berkata: “Sungguh, Ia ini adalah Anak Allah.”


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Dalam kisah sengsara kita menyaksikan Yesus dikhianati, disangkal, dan disalibkan. Namun, dalam situasi seperti itu, Dia tetap mengasihi. la tahu penderitaan yang menanti-Nya, namun tetap memilih jalan salib demi keselamatan kita.

Dari lingkaran terdekat, para murid yang dipanggil untuk menyertai Dia, kita bahkan menyaksikan pengingkaran dan pengkhianatan. Yudas menjual Dia. Petrus menyangkal Dia. Murid-murid lain melarikan diri. Namun, Yesus tetap setia. la tidak melawan, tidak membalas, tetapi menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Bapa.

Di tengah hinaan dan siksaan, Yesus tetap diam. Dari atas salib, la masih memikirkan orang lain: mengampuni para penyalib, menerima pertobatan penjahat di sebelah-Nya, dan menyerahkan roh-Nya dengan penuh kepercayaan.

Kisah sengsara adalah kisah kasih yang tak tergoyahkan. Kasih yang memilih untuk tetap tinggal, pun ketika dikhianati dan ditolak. Kasih yang tidak menuntut balasan, tetapi memberi diri sepenuhnya. Salib bukanlah akhir cerita. Sebaliknya, salib adalah bukti bahwa kasih sejati tidak pernah menyerah.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Dalam bacaan hari ini, kita menyaksikan secara mendalam bagaimana Yesus menghadapi penderitaan-Nya dengan ketenangan dan pengabdian yang luar biasa. Yesus, yang jelas mengetahui bahwa Ia akan dikhianati, disangkal, dan disalibkan, tetap melangkah dengan penuh kasih. Dalam Yesaya, kita melihat gambaran seorang hamba yang tidak melawan meski dipukul dan dihina, menegaskan bahwa kekuatan sejati terletak pada kesetiaan dan pengorbanan diri demi orang lain. Pesan ini mengingatkan kita bahwa dalam hidup sehari-hari, kita juga dihadapkan pada pengkhianatan dan penolakan dari orang-orang terdekat. Namun, kita diajak untuk meneladani sikap Yesus, yang meskipun dikhianati, tetap memilih untuk mengasihi tanpa syarat.

Dalam kisah sengsara, kita menemukan kekuatan kasih yang mampu mengampuni bahkan mereka yang menyakiti. Ketika Yesus berada di atas salib, Ia tidak hanya memikirkan penderitaan-Nya sendiri, tetapi juga mendoakan mereka yang menyalibkan-Nya. Ini adalah panggilan bagi kita untuk tidak hanya memikirkan diri sendiri dalam masa-masa sulit, tetapi juga untuk mengingat dan mendoakan mereka yang mungkin menyakiti kita. Dalam momen-momen penuh kesedihan dan kehilangan, kita sering kali merasa terasing dan sendirian, namun melalui salib, Yesus mengajak kita untuk merasakan kehadiran Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita.

Pesan utama dari renungan ini adalah bahwa salib bukanlah akhir dari segalanya. Sebaliknya, salib menjadi simbol harapan dan kasih yang tidak mengenal batas. Melalui penderitaan dan pengorbanan-Nya, Yesus menunjukkan bahwa kasih sejati tidak pernah menyerah, bahkan dalam keputusasaan. Dalam setiap tantangan yang kita hadapi, kita diajak untuk mengingat bahwa kasih yang tulus akan selalu menemukan jalan untuk bertahan dan memberikan kehidupan. Dengan mengandalkan kasih Allah, kita dapat menghadapi setiap kesulitan dengan iman dan keberanian, meneladani Yesus yang tetap setia hingga akhir.


🙏 Doa

Ibu, Bapak, dan Saudara-saudari terkasih, marilah kita menutup permenungan ini dengan hati yang hening dan penuh syukur. Dalam kisah sengsara, kita melihat kasih yang tidak pernah mundur, bahkan saat menghadapi pengkhianatan dan penderitaan. Semoga hati kita diteguhkan untuk tetap setia mengasihi, meskipun tidak selalu mudah dan penuh tantangan.

Ya Yesus, dalam kelemahan dan kerapuhan kami, ajarlah kami untuk tetap mengasihi seperti yang Kau tunjukkan di kayu salib. Kuatkanlah hati kami ketika menghadapi luka, penolakan, dan pengkhianatan, agar kami tidak membalas dengan kebencian, tetapi dengan kasih yang memulihkan.

Dalam setiap penderitaan hidup yang kami alami, tuntunlah kami untuk tetap percaya pada rencana kasih-Mu. Teguhkanlah iman kami agar tidak goyah dalam menghadapi kesulitan, dan bantulah kami untuk menyerahkan hidup dengan penuh kepercayaan kepada penyelenggaraan-Mu.

Dampingi umat-Mu agar mampu hidup dalam semangat pengampunan dan kerendahan hati. Semoga melalui setiap pengorbanan yang kami jalani, semakin nyata kasih yang membawa keselamatan, sehingga hidup kami menjadi tanda harapan bagi sesama. Amin.

Ya Tuhan, ajarilah kami untuk selalu dan tetap setia di jalan salib kami, dan mampukanlah tetap mencintai Engkau dan sesama, walaupun terkadang berat. Amin.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram