Tanggal: 1 April 2026

Perayaan: HARI RABU DALAM PEKAN SUCI

Warna Liturgi: Ungu

📖 Bacaan Pertama

Yes. 50:4-9a

Tuhan ALLAH telah memberikan kepadaku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid.

Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang.

Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.

Tetapi Tuhan ALLAH menolong aku; sebab itu aku tidak mendapat noda. Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu karena aku tahu, bahwa aku tidak akan mendapat malu.

Dia yang menyatakan aku benar telah dekat. Siapakah yang berani berbantah dengan aku? Marilah kita tampil bersama-sama! Siapakah lawanku beperkara? Biarlah ia mendekat kepadaku!

Sesungguhnya, Tuhan ALLAH menolong aku; siapakah yang berani menyatakan aku bersalah? Sesungguhnya, mereka semua akan memburuk seperti pakaian yang sudah usang; ngengat akan memakan mereka.


🎵 Mazmur Tanggapan

Aku telah menjadi orang luar bagi saudara-saudaraku, orang asing bagi anak-anak ibuku;

sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, dan kata-kata yang mencela Engkau telah menimpa aku.

Aku meremukkan diriku dengan berpuasa, tetapi itu pun menjadi cela bagiku;

Bahkan, mereka memberi aku makan racun, dan pada waktu aku haus, mereka memberi aku minum anggur asam.

Biarlah jamuan yang di depan mereka menjadi jerat, dan selamatan mereka menjadi perangkap.

pada pemandangan Allah itu lebih baik dari pada sapi jantan, dari pada lembu jantan yang bertanduk dan berkuku belah.

Sebab TUHAN mendengarkan orang-orang miskin, dan tidak memandang hina orang-orang-Nya dalam tahanan.

Biarlah langit dan bumi memuji-muji Dia, lautan dan segala yang bergerak di dalamnya.


✝️ Bacaan Injil

Matius 26:14-25

Kemudian pergilah seorang dari kedua belas murid itu, yang bernama Yudas Iskariot, kepada imam-imam kepala.

Ia berkata: “Apa yang hendak kamu berikan kepadaku, supaya aku menyerahkan Dia kepada kamu?” Mereka membayar tiga puluh uang perak kepadanya.

Dan mulai saat itu ia mencari kesempatan yang baik untuk menyerahkan Yesus.

Pada hari pertama dari hari raya Roti Tidak Beragi datanglah murid-murid Yesus kepada-Nya dan berkata: “Di mana Engkau kehendaki kami mempersiapkan perjamuan Paskah bagi-Mu?”

Jawab Yesus: “Pergilah ke kota kepada si Anu dan katakan kepadanya: Pesan Guru: waktu-Ku hampir tiba; di dalam rumahmulah Aku mau merayakan Paskah bersama-sama dengan murid-murid-Ku.”

Lalu murid-murid-Nya melakukan seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka dan mempersiapkan Paskah.

Setelah hari malam, Yesus duduk makan bersama-sama dengan kedua belas murid itu.

Dan ketika mereka sedang makan, Ia berkata: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku.”

Dan dengan hati yang sangat sedih berkatalah mereka seorang demi seorang kepada-Nya: “Bukan aku, ya Tuhan?”

Ia menjawab: “Dia yang bersama-sama dengan Aku mencelupkan tangannya ke dalam pinggan ini, dialah yang akan menyerahkan Aku.

Anak Manusia memang akan pergi sesuai dengan yang ada tertulis tentang Dia, akan tetapi celakalah orang yang olehnya Anak Manusia itu diserahkan. Adalah lebih baik bagi orang itu sekiranya ia tidak dilahirkan.”

Yudas, yang hendak menyerahkan Dia itu menjawab, katanya: “Bukan aku, ya Rabi?” Kata Yesus kepadanya: “Engkau telah mengatakannya.”


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Injil hari ini berbicara tentang pengkhianatan Yudas Iskariot di satu sisi, tetapi kasih Yesus di sisi lain. Orang yang sedemikian dekat dengan Yesus, menjadi murid-Nya, berjalan bersama Dia, mendengar ajaran-Nya,

menyaksikan dan mengalami mukjizat-Nya, justru memilih jalan pengkhianatan. Namun, meskipun disakiti dan dikhianati oleh orang dekat-Nya, Yesus tetap menunjukkan kasih-Nya. Yesus menunjukkan bahwa bahkan, ketika kita tidak setia, la tetap setia.

Godaan untuk memenuhi kesenangan pribadi kerap kali menjadi tantangan orang beriman saat ini. Rajin melayani, tetapi sebenarnya karena keinginan dipuji. Siap dipilih dalam kepanitiaan, atau pengurus Gereja, tetapi memandangnya sebagai karier.

“Dekat” dengan-Nya secara fisik ternyata tidak menjamin kebijaksanaan hati. Motivasi tak lagi murni demi kemuliaan nama-Nya, tetapi demi kemuliaan nama pribadi.

Dengan belas kasih-Nya, Yesus ingin agar kita kembali kepada-Nya. Ketika pilihan-pilihan kembali datang, ingatlah bahwa yang datang dari Roh baik akan mendekatkan kita kepada-Nya, sedangkan yang datang dari roh jahat menjauhkan kita dari-Nya, membuat kita terpuruk dan jatuh dalam dosa.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Bacaan pertama dari Yesaya menggambarkan seorang hamba yang menderita tetapi tetap setia kepada panggilannya. Ia tidak melawan ketika disakiti, melainkan mengandalkan Tuhan sebagai penolong. Ini mencerminkan bagaimana Yesus, sebagai hamba yang sempurna, menghadapi pengkhianatan dari Yudas Iskariot. Meskipun dikhianati oleh orang terdekat-Nya, Yesus tetap menunjukkan kasih dan pengampunan, mengingatkan kita akan pentingnya tetap setia dalam menghadapi sakit hati.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali menghadapi godaan untuk mengejar kepentingan pribadi, bahkan dalam pelayanan kita. Seperti Yudas, kita dapat terjebak dalam ambisi yang salah, memandang pelayanan sebagai sarana untuk mendapatkan pujian atau status sosial. Namun, Yesus mengajak kita untuk memurnikan niat kita, bertanya pada diri sendiri: apakah motivasi kita benar-benar demi kemuliaan nama-Nya atau hanya untuk kepentingan pribadi?

Renungan ini mengajak kita untuk menyadari kehadiran Yesus yang selalu setia, bahkan ketika kita jatuh dalam dosa. Dengan belas kasih-Nya, Dia mengundang kita untuk kembali kepada-Nya. Ketika pilihan-pilihan sulit datang, mari kita berusaha untuk membedakan antara dorongan dari Roh Kudus yang mendekatkan kita pada-Nya dan godaan dari roh jahat yang menjauhkan kita dari-Nya. Dengan demikian, kita dapat menjalani hidup yang berfokus pada kasih dan pengabdian, bukannya pada kepentingan diri.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram