Tanggal: 3 Maret 2026

Perayaan: Hari Biasa Pekan II Prapaskah

Warna Liturgi: Ungu

📖 Bacaan Pertama

Yes. 1:10.16-20

Dengarlah firman TUHAN, hai pemimpin-pemimpin, manusia Sodom! Perhatikanlah pengajaran Allah kita, hai rakyat, manusia Gomora!

Basuhlah, bersihkanlah dirimu, jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mata-Ku. Berhentilah berbuat jahat,

belajarlah berbuat baik; usahakanlah keadilan, kendalikanlah orang kejam; belalah hak anak-anak yatim, perjuangkanlah perkara janda-janda!

Marilah, baiklah kita beperkara! — firman TUHAN — Sekalipun dosamu merah seperti kirmizi, akan menjadi putih seperti salju; sekalipun berwarna merah seperti kain kesumba, akan menjadi putih seperti bulu domba.

Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu.

Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang.” Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya.


🎵 Mazmur Tanggapan

Bukan karena korban sembelihanmu Aku menghukum engkau; bukankah korban bakaranmu tetap ada di hadapan-Ku?

Tidak usah Aku mengambil lembu dari rumahmu atau kambing jantan dari kandangmu,

Tetapi kepada orang fasik Allah berfirman: “Apakah urusanmu menyelidiki ketetapan-Ku, dan menyebut-nyebut perjanjian-Ku dengan mulutmu,

padahal engkaulah yang membenci teguran, dan mengesampingkan firman-Ku?

Itulah yang engkau lakukan, tetapi Aku berdiam diri; engkau menyangka, bahwa Aku ini sederajat dengan engkau. Aku akan menghukum engkau dan membawa perkara ini ke hadapanmu.

Siapa yang mempersembahkan syukur sebagai korban, ia memuliakan Aku; siapa yang jujur jalannya, keselamatan yang dari Allah akan Kuperlihatkan kepadanya.”


✝️ Bacaan Injil

Matius 23:1-12

Maka berkatalah Yesus kepada orang banyak dan kepada murid-murid-Nya, kata-Nya:

“Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa.

Sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya.

Mereka mengikat beban-beban berat, lalu meletakkannya di atas bahu orang, tetapi mereka sendiri tidak mau menyentuhnya.

Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orang; mereka memakai tali sembahyang yang lebar dan jumbai yang panjang;

mereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat;

mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi.

Tetapi kamu, janganlah kamu disebut Rabi; karena hanya satu Rabimu dan kamu semua adalah saudara.

Dan janganlah kamu menyebut siapa pun bapa di bumi ini, karena hanya satu Bapamu, yaitu Dia yang di sorga.

Janganlah pula kamu disebut pemimpin, karena hanya satu Pemimpinmu, yaitu Mesias.

Barangsiapa terbesar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu.

Dan barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Di tengah dunia dewasa ini yang sering kali menilai seseorang dari penampilannya, pencitraan menjadi sangat penting. Dalam situasi seperti itu, tantangan terbesar dalam kehidupan beragama adalah menjadi asli, autentik, bukan hanya kelihatan saleh, melainkan sungguh-sungguh hidup dalam kasih dan kebenaran.

Yesus sangat keras terhadap orang-orang munafik yang beribadah dengan tampilan dan kata-kata indah, namun hati mereka jauh dari Tuhan.

Iman sejati bukan soal seberapa rajin kita hadir di tempat ibadah, melainkan seberapa dalam kasih itu mengubah cara kita memperlakukan orang lain, terutama mereka yang kecil, lemah, miskin, dan terpinggirkan.

Sikap pura-pura mungkin bisa menipu sesama, tetapi tidak bisa menyentuh hati Allah. Yang Dia cari adalah ketulusan yang lahir dari kerendahan hati, bukan dari keinginan untuk dipuji. Orang yang rendah hati menyadari bahwa semua kebaikan berasal dari Tuhan. Karena itu, ia tidak mencari sorotan, tetapi melayani dengan tulus.

Marilah kita belajar menghayati iman bukan sebagai pencitraan kosong, melainkan sebagai suatu relasi yang hidup dengan Allah. Relasi yang mendorong kita untuk bertumbuh dalam cinta kasih dan kebaikan yang nyata. Sebab hanya iman yang disertai kasih, kerendahan hati, dan pelayanan tuluslah yang menjadi terang sejati bagi dunia.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Dalam bacaan pertama dari Yesaya, kita diingatkan akan panggilan untuk membersihkan diri dari perbuatan jahat dan berjuang untuk keadilan. Tuhan menginginkan lebih dari sekadar ritual ibadah; Dia menginginkan hati yang bersih yang berkomitmen untuk mencintai dan melayani sesama. Bacaan ini mengajak kita untuk melakukan refleksi mendalam tentang bagaimana kita menjalani iman kita di tengah masyarakat yang sering kali terjebak dalam pencitraan semu.

Mazmur menggarisbawahi pentingnya syukur dan kejujuran dalam hubungan kita dengan Allah. Ia menegaskan bahwa bukan sekadar pengorbanan lahiriah yang diinginkan-Nya, melainkan ketulusan hati yang terwujud dalam tindakan nyata. Ketika kita belajar untuk bersyukur dan hidup dalam kebenaran, kita akan melihat bagaimana keselamatan Allah dinyatakan dalam hidup kita dan orang-orang di sekitar kita.

Dalam Injil Matius, Yesus menegur para ahli Taurat dan Farisi yang munafik, yang hanya mengajarkan hukum tanpa menghidupinya. Ia mengingatkan kita untuk tidak terjebak dalam pencarian penghormatan dan pengakuan, melainkan untuk rendah hati dalam melayani. Iman sejati ditandai oleh kerendahan hati dan tindakan kasih yang nyata, di mana yang terbesar di antara kita adalah pelayan bagi yang lain. Dengan demikian, kita dipanggil untuk menjadi cahaya di dunia, membagikan kasih Kristus melalui tindakan kita yang tulus dan penuh kasih.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram