Tanggal: 4 April 2026

Perayaan: HARI SABTU SUCI

Warna Liturgi: Ungu pagi Putih Vigili

📖 Bacaan Pertama

Kej. 1:1-2:2

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.

Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air.

Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.

Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap.

Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

Berfirmanlah Allah: “Jadilah cakrawala di tengah segala air untuk memisahkan air dari air.”

Maka Allah menjadikan cakrawala dan Ia memisahkan air yang ada di bawah cakrawala itu dari air yang ada di atasnya. Dan jadilah demikian.

Lalu Allah menamai cakrawala itu langit. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kedua.

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah segala air yang di bawah langit berkumpul pada satu tempat, sehingga kelihatan yang kering.” Dan jadilah demikian.

Lalu Allah menamai yang kering itu darat, dan kumpulan air itu dinamai-Nya laut. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah tanah menumbuhkan tunas-tunas muda, tumbuh-tumbuhan yang berbiji, segala jenis pohon buah-buahan yang menghasilkan buah yang berbiji, supaya ada tumbuh-tumbuhan di bumi.” Dan jadilah demikian.

Tanah itu menumbuhkan tunas-tunas muda, segala jenis tumbuh-tumbuhan yang berbiji dan segala jenis pohon-pohonan yang menghasilkan buah yang berbiji. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari ketiga.

Berfirmanlah Allah: “Jadilah benda-benda penerang pada cakrawala untuk memisahkan siang dari malam. Biarlah benda-benda penerang itu menjadi tanda yang menunjukkan masa-masa yang tetap dan hari-hari dan tahun-tahun,

dan sebagai penerang pada cakrawala biarlah benda-benda itu menerangi bumi.” Dan jadilah demikian.

Maka Allah menjadikan kedua benda penerang yang besar itu, yakni yang lebih besar untuk menguasai siang dan yang lebih kecil untuk menguasai malam, dan menjadikan juga bintang-bintang.

Allah menaruh semuanya itu di cakrawala untuk menerangi bumi,

dan untuk menguasai siang dan malam, dan untuk memisahkan terang dari gelap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keempat.

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah dalam air berkeriapan makhluk yang hidup, dan hendaklah burung beterbangan di atas bumi melintasi cakrawala.”

Maka Allah menciptakan binatang-binatang laut yang besar dan segala jenis makhluk hidup yang bergerak, yang berkeriapan dalam air, dan segala jenis burung yang bersayap. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Lalu Allah memberkati semuanya itu, firman-Nya: “Berkembangbiaklah dan bertambah banyaklah serta penuhilah air dalam laut, dan hendaklah burung-burung di bumi bertambah banyak.”

Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari kelima.

Berfirmanlah Allah: “Hendaklah bumi mengeluarkan segala jenis makhluk yang hidup, ternak dan binatang melata dan segala jenis binatang liar.” Dan jadilah demikian.

Allah menjadikan segala jenis binatang liar dan segala jenis ternak dan segala jenis binatang melata di muka bumi. Allah melihat bahwa semuanya itu baik.

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka.

Allah memberkati mereka, lalu Allah berfirman kepada mereka: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.”

Berfirmanlah Allah: “Lihatlah, Aku memberikan kepadamu segala tumbuh-tumbuhan yang berbiji di seluruh bumi dan segala pohon-pohonan yang buahnya berbiji; itulah akan menjadi makananmu.

Tetapi kepada segala binatang di bumi dan segala burung di udara dan segala yang merayap di bumi, yang bernyawa, Kuberikan segala tumbuh-tumbuhan hijau menjadi makanannya.” Dan jadilah demikian.

Maka Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik. Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari keenam.

Demikianlah diselesaikan langit dan bumi dan segala isinya.

Ketika Allah pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu.


🎵 Mazmur Tanggapan

Mazmur 118:1-2.16ab-17.22-23

Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.

Biarlah Israel berkata: “Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya!”

tangan kanan TUHAN berkuasa meninggikan, tangan kanan TUHAN melakukan keperkasaan!”

Aku tidak akan mati, tetapi hidup, dan aku akan menceritakan perbuatan-perbuatan TUHAN.

Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.

Hal itu terjadi dari pihak TUHAN, suatu perbuatan ajaib di mata kita.


📖 Bacaan Kedua

Rm. 6:3-11

Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya?

Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.

Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya.

Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa.

Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa.

Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia.

Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia.

Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah.

Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.


✝️ Bacaan Injil

Matius 28:1-10

Setelah hari Sabat lewat, menjelang menyingsingnya fajar pada hari pertama minggu itu, pergilah Maria Magdalena dan Maria yang lain, menengok kubur itu.

Maka terjadilah gempa bumi yang hebat sebab seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan datang ke batu itu dan menggulingkannya lalu duduk di atasnya.

Wajahnya bagaikan kilat dan pakaiannya putih bagaikan salju.

Dan penjaga-penjaga itu gentar ketakutan dan menjadi seperti orang-orang mati.

Akan tetapi malaikat itu berkata kepada perempuan-perempuan itu: “Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu.

Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakan-Nya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring.

Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-murid-Nya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu.”

Mereka segera pergi dari kubur itu, dengan takut dan dengan sukacita yang besar dan berlari cepat-cepat untuk memberitahukannya kepada murid-murid Yesus.

Tiba-tiba Yesus berjumpa dengan mereka dan berkata: “Salam bagimu.” Mereka mendekati-Nya dan memeluk kaki-Nya serta menyembah-Nya.

Maka kata Yesus kepada mereka: “Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku, supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”


💭 Renungan

Sumber: Ziarah Batin 2025, OBOR Indonesia

Jadi masih tersedia suatu hari perhentian, hari ketujuh, bagi umat Allah.

Sebab barangsiapa telah masuk ke tempat perhentian-Nya, ia sendiri telah berhenti dari segala pekerjaannya, sama seperti Allah berhenti dari pekerjaan-Nya.

Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.

Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita.

Dan tidak ada suatu makhluk pun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.

Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.

Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.

Renungan Harian Hari Ini dan Injil 4 April 2026

Kebangkitan bisa dimaknai pertama-tama sebagai gerakan atau tindakan. Misalnya, saat seseorang sudah nyaman duduk, tiba-tiba ia diminta untuk berdiri; sudah enak selonjor nonton televisi, membuka handphone, tiba-tiba diminta ikut latihan kor untuk perayaan Malam Paskah;

sedang nyaman dan santai di rumah sambil menikmati kopi kesukaan, tiba-tiba diminta kerja bakti; sudah senang melayani di suatu paroki, tiba-tiba diminta pindah tugas ke seminari. Demikian beberapa contoh sederhana bangkit yang bermakna gerakan atau tindakan.

Akan tetapi, apabila kita merenungkan secara lebih mendalam, kita dapat menemukan, “Bukankah dosa kerap kali menimbulkan rasa nyaman, dan pertobatan adalah bangkit meninggalkan kenyamanan dosa menuju hidup sebagai saksi-saksi Kristus? “

Maria Magdalena dan Maria yang lain “pergi” menengok kubur Yesus. Kata “pergi” juga adalah sebuah gerakan, tindakan. Apa yang dilakukan dua perempuan ini menunjukkan adanya kebangkitan dari rasa takut, didorong oleh cinta yang mendalam pada Guru mereka.

Sebaliknya, para penjaga sangat ketakutan saat kebangkitan Yesus dikabarkan. Batu ketakutan makin terguling karena Yesus yang bangkit menyapa dua perempuan ini, “Salam bagimu. Jangan takut. Pergi dan katakanlah kepada saudara-saudara-Ku supaya mereka pergi ke Galilea, dan di sanalah mereka akan melihat Aku.”

Pengalaman Paskah hendaknya menggulingkan rasa takut yang kerap kali membuat kita nyaman dalam sedih dan keterpurukan, menggulingkan rasa takut karena kegelapan dosa, menggulingkan rasa takut karena merasa tidak pantas.

Pengalaman Paskah memberikan kepada kita harapan, seperti halnya lilin Paskah yang menyala dalam kegelapan. Semoga kita dibangkitkan kembali untuk menjadi saksi kasih dan sukacita di “Galilea” hidup kita sehari-hari.


🤖 Ringkasan & Refleksi (AI)

Bacaan pertama dari Kitab Kejadian mengisahkan tentang penciptaan dunia oleh Allah, yang menciptakan segala sesuatu dengan baik dan berakhir pada hari ketujuh, hari perhentian. Ini menggambarkan pentingnya istirahat dan refleksi dalam kehidupan kita, yang sering kali terjebak dalam rutinitas sehari-hari. Mazmur yang diambil dari Mazmur 118 menekankan kasih setia Tuhan yang abadi, mengingatkan kita untuk bersyukur atas segala perbuatan-Nya yang ajaib. Dalam konteks kebangkitan Yesus, kita diajak untuk merenungkan bagaimana kasih dan kuasa Tuhan memberikan kehidupan baru bagi kita yang sering kali terjebak dalam kegelapan dan ketakutan.

Bacaan Injil dari Matius menggambarkan momen kebangkitan Yesus yang mengguncang dunia. Maria Magdalena dan Maria lainnya berani pergi ke kubur, menunjukkan cinta dan kesetiaan mereka meskipun diliputi ketakutan. Kebangkitan Yesus bukan hanya sekedar peristiwa historis, tetapi juga sebuah panggilan untuk setiap kita agar ‘bangkit’ dari ketakutan dan rasa nyaman dalam dosa. Seperti yang dinyatakan dalam renungan, kebangkitan adalah gerakan menuju tindakan, meninggalkan kenyamanan sementara dan mengambil langkah berani untuk hidup sebagai saksi-saksi Kristus.

Pengalaman Paskah seharusnya menggulingkan rasa takut yang membuat kita terjebak dalam kesedihan dan keterpurukan. Kita dipanggil untuk membawa terang kebangkitan Kristus ke dalam hidup sehari-hari kita, menjadi agen harapan di tengah kegelapan yang sering kali menyelimuti dunia. Dengan iman kepada Yesus yang bangkit, kita tidak hanya menemukan kekuatan untuk menghadapi tantangan, tetapi juga untuk menyebarkan kasih dan sukacita-Nya kepada orang lain, menjadi terang bagi mereka yang hidup dalam bayang-bayang kematian dan ketidakpastian.


🙏 Doa

Ibu, Bapak, dan Saudara-saudari terkasih, saat kita menutup permenungan ini, marilah kita menyadari panggilan untuk bangkit dari kenyamanan yang menahan langkah kita. Kebangkitan bukan sekadar peristiwa, melainkan gerakan hati untuk meninggalkan kegelapan menuju terang. Semoga kita berani melangkah, seperti para murid, menjadi saksi kasih di kehidupan sehari-hari.

Ya Yesus, bangkitkanlah hati kami dari rasa takut dan keterikatan yang membuat kami enggan melangkah. Gerakkanlah kami untuk keluar dari zona nyaman, agar kami berani menjadi saksi kasih dan kebenaran di tengah dunia yang sering kali membutuhkan harapan.

Dalam setiap pergulatan melawan dosa dan kelemahan, kuatkanlah kami untuk memilih jalan pertobatan. Mampukan kami meninggalkan kebiasaan lama yang menjauhkan dari kehidupan yang penuh terang, dan tuntunlah kami untuk hidup sebagai anak-anak terang.

Sertailah langkah umat-Mu agar berani pergi dan mewartakan kabar sukacita dalam kehidupan sehari-hari. Jadikanlah kami pembawa terang yang mengusir kegelapan, sehingga banyak orang merasakan harapan dan sukacita kebangkitan dalam hidup mereka. Amin.

Ya Tuhan, bantulah kami untuk tidak terjebak dalam kegelapan dan ketakutan, tetapi selalu mengingat Engkau, Sang Sumber Pengharapan. Mampukanlah kami untuk berani menjadi saksi sukacita kebangkitan-Mu bagi sesama. Amin.

Tags: Renungan
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram