Protestanisme Nebeng Iman Katolik??

Topik Protestanisme “nebeng” iman Gereja Katolik mengena banget saat kita lihat mereka mengambil Kitab Suci, kalender liturgi, hari raya, simbol salib, upacara liturgi, serta perayaan Natal dan Paskah—semuanya warisan Katolik—lalu memodifikasi seenaknya. Dalam tulisan ini, kita sajikan bukti bahwa Protestanisme memang meminjam fondasi Gereja Katolik, tapi seperti “meminjam mobil tetangga, mengganti catnya, dan bilang itu kendaraan baru.” Dengan bahasa jelas, sedikit nyinyir, dan berpijak pada sumber kredibel, kita akan tunjukkan ketergantungan Protestanisme pada Katolik.

1. Kitab Suci: “Pinjam Buku, Buang Catatan Kakinya” Protestanisme mengagungkan Alkitab sebagai otoritas tertinggi ( sola scriptura ), tapi lupa menyebut siapa yang susah payah menyusunnya. Gereja Katolik, melalui konsili Roma (382 M), Hippo (393 M), dan Kartago (397 M), menetapkan kanon Perjanjian Baru (27 kitab) dan memasukkan kitab Deuterokanonika seperti Tobit dan Makabe. Biara-biara Katolik menyalin manuskrip selama berabad-abad, memastikan Alkitab tetap utuh. Martin Luther, dengan gaya sok berani, mengambil kanon ini, tapi—oops—membuang Deuterokanonika karena dianggap “kurang cocok” dengan teologinya, bahkan sempat meragukan Yakobus karena menekankan perbuatan baik ( Luther’s Works, Vol. 35, hlm. 395 ). Tanpa kerja keras Gereja Katolik, Protestan tidak akan punya Alkitab untuk diagungkan. Ini seperti mengambil resep kue dari ibunya, tapi membuang cokelat karena “terlalu manis.” Sumber:Henry G. Graham , Where We Got the Bible: Our Debt to the Catholic Church (1911, reprint 1997), Catholic Answers, hlm. 45–60. ● F.F. Bruce , The Canon of Scripture (1988), InterVarsity Press, hlm. 97–112. 2. Kalender Liturgi: “Jadwal Dicuri, Tapi Dirombak” Kalender liturgi, yang mengatur siklus ibadah seperti Adven, Natal, Prapaskah, dan Paskah, adalah ciptaan Gereja Katolik sejak Kekristenan

awal. Denominasi Protestan seperti Lutheran dan Anglikan mengadopsi kerangka ini, meski dengan perubahan. Mereka ikut merayakan Natal pada 25 Desember dan Paskah sesuai kalender Gregorian, yang diperkenalkan Paus Gregorius XIII pada 1582. Bahkan gereja Protestan yang lebih santai, seperti Baptis, tetap mengikuti siklus ini, tapi mengabaikan hari raya seperti Hari Semua Orang Kudus (1 November), yang ada sejak abad ke- ( The Oxford Dictionary of the Christian Church, hlm. 1443 ). Jadi, mereka mengambil jadwal Katolik, tapi memotong bagian yang dianggap “terlalu kuno.” Ini seperti mencuri agenda orang, tapi cuma mencatat acara yang mereka anggap keren. Sumber:F.L. Cross & E.A. Livingstone , The Oxford Dictionary of the Christian Church (2005), Oxford University Press, hlm. 1442–1444. ● Adolf Adam , The Liturgical Year: Its History and Its Meaning After the Reform of the Liturgy (1981), Pueblo Publishing, hlm. 20–35.

3. Hari Raya, Natal, dan Paskah: “Pesta Ikut, Menu Dipilih” Hari raya seperti Natal dan Paskah adalah warisan Katolik yang diadopsi Protestan tanpa malu-malu. Natal ditetapkan pada 25 Desember sejak abad ke-4 oleh Gereja Katolik untuk menggantikan perayaan pagan seperti Saturnalia ( The Catholic Encyclopedia, Vol. 3, hlm. 724 ). Paskah, yang memperingati kebangkitan Kristus, diatur tanggalnya melalui Konsili Nicea (325 M) berdasarkan kalender lunar. Protestan merayakan keduanya dengan semangat, tapi mengabaikan hari raya lain seperti Pesta Corpus Christi atau Hari Asumsi Maria. Mereka bahkan memakai simbolisme Katolik, seperti lilin Adven untuk Natal, tapi sering menolak makna teologis yang lebih dalam, seperti peran Maria dalam kelahiran Yesus. Ini seperti datang ke pesta Katolik, menikmati kue dan dekorasi, tapi mengeluh karena terlalu banyak lilin di meja. Sumber:The Catholic Encyclopedia (1913), Robert Appleton Company, Vol. 3, hlm. 724–727 (artikel tentang Natal). ● Paul F. Bradshaw , Early Christian Worship: A Basic Introduction to Ideas and Practice (2010), Liturgical Press, hlm. 80–85. 4. Simbol Salib: “Ambil Simbol, Buang Krusifiksinya” Salib adalah simbol utama Kekristenan, dan Gereja Katolik telah menggunakannya sejak awal, baik dalam bentuk salib kosong maupun

krusifiks (salib dengan patung Yesus). Simbol ini muncul dalam seni Kristen sejak abad ke-2, seperti pada sarkofagus Romawi ( The Oxford Dictionary of Christian Art and Architecture, hlm. 147 ). Protestan, terutama Lutheran dan Anglikan, mengadopsi salib sebagai lambang iman, tapi banyak yang menolak krusifiks karena dianggap “terlalu Katolik” atau mendekati penyembahan berhala. Gereja-gereja Protestan modern lebih suka salib kosong, melambangkan kebangkitan, tapi lupa bahwa simbol salib itu sendiri adalah warisan Katolik. Ini seperti mengambil logo tetangga, mengganti warnanya, dan bilang itu desain orisinal. Sumber:F.L. Cross & E.A. Livingstone , The Oxford Dictionary of Christian Art and Architecture (2013), Oxford University Press, hlm. 147–149. ● Robin M. Jensen , The Cross: History, Art, and Controversy (2017), Harvard University Press, hlm. 20–30.

5. Upacara Liturgi: “Tata Ibadah Dipinjam, Tapi Direnovasi” Upacara liturgi Katolik, seperti Misa dengan pembacaan Kitab Suci, doa syukur agung (Ekaristi), dan pengakuan iman, sudah ada sejak abad ke-2, sebagaimana digambarkan Yustinus Martir ( Apologi Pertama, ca. 150 M, bab 65–67 ). Denominasi Protestan seperti Lutheran dan Anglikan mengambil struktur ini, tapi mengubahnya. Misalnya, Buku Doa Umum ( Book of Common Prayer ) Anglikan tahun 1549 jelas terinspirasi dari ritus Katolik, tapi menghapus doa untuk orang kudus dan transubstansiasi. Bahkan gereja Protestan yang lebih sederhana, seperti Baptis, tetap memasukkan elemen liturgi Katolik seperti khotbah dan doa bersama, meski dengan gaya lebih kasual. Mereka seperti mengambil resep masakan klasik Katolik, lalu menambahkan bumbu modern sambil bilang, “Ini ciptaan kami!” Sumber:Yustinus Martir , Apologi Pertama , dalam Ante-Nicene Fathers, Vol. 1 (1885), hlm. 185–186. ● Frank C. Senn , Christian Liturgy: Catholic and Evangelical (1997), Fortress Press, hlm. 250–270. 6. Doktrin dan Praktik Lain: “Ambil Intinya, Buang Sisanya” Protestanisme mengadopsi doktrin inti seperti Trinitas dan Inkarnasi, yang dirumuskan melalui konsili Katolik seperti Nicea (325 M) dan Kalsedon (451 M). Pengakuan Iman Rasuli, yang digunakan hampir semua Protestan,

berasal dari tradisi Katolik awal ( Katekismus Gereja Katolik, no. 185–197 ). Namun, mereka menolak doktrin seperti transubstansiasi dalam Ekaristi ( Yohanes 6:53–56 ), penghormatan kepada Maria, dan tujuh sakramen. Katolik memandang Ekaristi sebagai tubuh dan darah Kristus secara harfiah, sementara Protestan seperti Zwingli bilang itu cuma simbol. Mereka mengambil praktik dari Katolik, tapi mengubah maknanya seolah menemukan resep baru. Sumber:Katekismus Gereja Katolik (1994), Komisi Kateketik KWI, no. 185–197. ● Jaroslav Pelikan , The Christian Tradition: A History of the Development of Doctrine, Vol. 1 (1971), University of Chicago Press, hlm. 117–130.

7. Struktur Gereja: “Pinjam Fondasi, Bangun Rumah Lain” Struktur gereja Katolik, dengan uskup, imam, dan diakon, sudah ada sejak abad ke-1, sebagaimana ditulis Ignatius dari Antiokhia ( Surat kepada Jemaat di Magnesia, 6:1 ). Beberapa Protestan, seperti Anglikan, mempertahankan struktur episkopal, sementara Lutheran dan Calvinis beralih ke model presbiterian atau kongregasional. Tapi, konsep gereja sebagai komunitas berpimpinan rohani jelas berasal dari Katolik. Protestan seperti mengambil cetak biru rumah dari Katolik, lalu membangun dengan desain sendiri sambil bilang, “Kami tak butuh arsitek aslinya!” Sumber:Ignatius dari Antiokhia , Early Christian Writings (1987), Penguin Classics, hlm. 75–76. ● Alister E. McGrath , Christianity: An Introduction (2015), Wiley-Blackwell, hlm. 200–210. Kesimpulan: Nebeng dengan Gaya Protestanisme jelas “nebeng” iman Gereja Katolik, mengambil Kitab Suci, kalender liturgi, hari raya seperti Natal dan Paskah, simbol salib, upacara liturgi, doktrin inti, dan struktur gereja yang sudah disusun rapi oleh Katolik selama berabad-abad. Tapi, seperti tamu yang terlalu pede, mereka memilih-milih apa yang disukai, membuang sisanya, dan mengklaim itu karya orisinal. Alkitab? Terima kasih konsili Katolik. Natal dan Paskah? Warisan Katolik. Salib di gereja? Pinjaman dari Katolik. Liturgi? Diambil, tapi dirombak. Protestanisme mungkin menambahkan bumbu sola

scriptura atau khotbah berapi-api, tapi fondasinya tetap milik Katolik. Jadi, ya, mereka nebeng—dan melakukannya dengan gaya maksimal. Daftar Sumber Kredibel:

  1. Henry G. Graham , Where We Got the Bible: Our Debt to the Catholic Church (1911, reprint 1997), Catholic Answers.
  2. F.F. Bruce , The Canon of Scripture (1988), InterVarsity Press.
  3. F.L. Cross & E.A. Livingstone , The Oxford Dictionary of the Christian Church (2005), Oxford University Press.
  4. Adolf Adam , The Liturgical Year: Its History and Its Meaning After the Reform of the Liturgy (1981), Pueblo Publishing.
  5. The Catholic Encyclopedia (1913), Robert Appleton Company.
  6. Paul F. Bradshaw , Early Christian Worship: A Basic Introduction to Ideas and Practice (2010), Liturgical Press.
  7. Yustinus Martir , Apologi Pertama , dalam Ante-Nicene Fathers, Vol. 1 (1885).
  8. Frank C. Senn , Christian Liturgy: Catholic and Evangelical (1997), Fortress Press.
  9. Katekismus Gereja Katolik (1994), Komisi Kateketik KWI, no. 185–197.
  10. Jaroslav Pelikan , The Christian Tradition: A History of the Development of Doctrine, Vol. 1 (1971), University of Chicago Press.
  11. Ignatius dari Antiokhia , Early Christian Writings (1987), Penguin Classics.
  12. Alister E. McGrath , Christianity: An Introduction (2015), Wiley-Blackwell.
  13. F.L. Cross & E.A. Livingstone , The Oxford Dictionary of Christian Art and Architecture (2013), Oxford University Press.
  14. Robin M. Jensen , The Cross: History, Art, and Controversy (2017), Harvard University Press.
Share: X (Twitter) Facebook LinkedIn Whatsapp Telegram