Latria dan Proskuneo dalam Altar, Imam dan Kurban
ANATOMI PENYEMBAHAN BERHALA
By Damai Kasih Channel
Analisis Leksikal Proskuneo & Latria dalam Ritual Pagan
Pendahuluan
Mengapa Terminologi Penting?
Perdebatan antara Katolik dan Protestan tentang penghormatan kepada orang kudus sering kali terjebak dalam kebingungan terminologi. Tuduhan “penyembahan berhala” muncul karena ketidakpahaman tentang perbedaan fundamental antara dua kata Yunani kunci:
- Proskuneo → gestur penghormatan (sujud, berlutut, membungkuk)
- Latria → ibadah kurban (persembahan liturgis tertinggi)
Dengan menelusuri penggunaan kedua istilah ini dalam Septuaginta (LXX) dan Perjanjian Baru, kita menemukan bahwa Alkitab sendiri membedakan dengan jelas antara menghormati dan menyembah. Pemahaman ini menjadi kunci untuk membongkar tuduhan yang sering dilontarkan kepada praktik Katolik.
Pertanyaan Kunci
- Apakah semua bentuk sujud adalah penyembahan berhala?
- Bagaimana Alkitab membedakan antara penghormatan dan penyembahan?
- Apa elemen yang membuat suatu tindakan menjadi idolatria?
BAB 1 – Arsitektur Penyembahan Berhala: Kasus Anak Lembu Emas
Keluaran 32 memberikan kita archetype atau cetak biru penyembahan berhala yang lengkap. Peristiwa ini bukan sekadar membuat patung, melainkan penciptaan sistem liturgis tandingan yang merupakan pengkhianatan terhadap YHWH.
Keluaran 32: Teks dan Konteks (LXX)
“Keesokan harinya pagi-pagi mereka mempersembahkan korban bakaran (holokautomata) dan menyediakan korban keselamatan (thusias) … mereka telah membuat anak lembu tuangan dan sujud menyembah (prosekunēsan) kepadanya dan mempersembahkan kurban (ethusan) kepadanya…”
— Keluaran 32:6,8 (LXX)
Tiga Elemen Penyembahan Berhala
-
Infrastruktur
Altar sebagai pusat ritual (thusiasterion) -
Latria
Kurban dan persembahan ritual (thusias,holokautomata,ethusan) -
Proskuneo
Sujud fisik menyatakan penghormatan (prosekunēsan)
Elemen 1: Infrastruktur – Thusiasterion (Altar)
“Harun mendirikan mezbah (thusiasterion) di depan patung itu.”
— Keluaran 32:5
Altar bukan sekadar meja, melainkan struktur liturgis yang dikonsekrasikan untuk kurban. Keberadaan altar menandakan niat memberikan kurban — tindakan ibadah tertinggi.
Implikasi: Jika seseorang hanya berlutut di depan patung tanpa altar dan tanpa kurban, itu tidak memenuhi pola penyembahan berhala menurut Alkitab.
Elemen 2: Proskuneo – Tindakan Sujud Fisik
- Asal kata: pros (ke arah) + kuneo (mencium)
- Arti harfiah: “mencium tangan ke arah” atau bersujud dengan wajah ke tanah
- Dalam konteks Keluaran 32: gestur ini menjadi bagian ibadah karena disertai altar + kurban
Kesimpulan: Gestur fisik yang sama bisa bermakna berbeda tergantung konteksnya.
Elemen 3: Latria – Persembahan Kurban
Ini elemen paling krusial. Mereka tidak hanya bernyanyi atau berdoa — mereka menyembelih hewan sebagai persembahan kurban (thyo → menyembelih untuk kurban).
Formula kunci:
Proskuneo tanpa Latria = Penghormatan (mungkin keliru, tapi bukan berhala)
Proskuneo + Latria = Penyembahan Berhala
Aplikasi Katolik: Katolik melakukan proskuneo (berlutut) kepada Maria/orang kudus, tetapi tidak pernah memberikan latria (Misa/kurban hanya untuk Allah Tritunggal).
BAB 2 – Baal-Peor: Perzinahan Liturgis
Bilangan 25:2 (LXX)
“Mereka mengajak bangsa itu kepada kurban sembelihan (thusias) bagi allah mereka, lalu bangsa itu turut makan dan sujud menyembah (prosekunēsan) kepada allah-allah mereka.”
Urutan penting:
Makan kurban → menciptakan disposisi → sujud menyembah
Prinsip Paulus (1 Korintus 10:20-21):
Partisipasi dalam altar yang salah = persekutuan dengan roh-roh jahat, meskipun tidak “menyembah di hati”.
Kesimpulan: Di mana Anda makan (dari altar), di situ Anda menyembah.
BAB 3 – Ulangan: Dualitas Ibadah dalam Hukum Musa
Ulangan 8:19 (LXX)
“…dan beribadah (latreusēs) kepadanya serta sujud menyembah (proskunēses) kepadanya…”
Musa menggunakan dua kata berbeda + konjungsi “dan” → menunjukkan dua tindakan religius yang berbeda.
- Latreuō → pelayanan kurban / imamat / liturgi
- Proskuneō → gestur penghormatan fisik
Implikasi: Alkitab mengakui spektrum tindakan religius, bukan hanya “menyembah vs tidak menyembah”.
Tiga Kategori Ibadah Menurut Pola Alkitab
| Tingkat | Objek | Gestur | Kurban (Latria) | Status Teologis |
|---|---|---|---|---|
| Latria | Allah saja | Proskuneo | Ya (Ekaristi) | Penyembahan sejati |
| Hyperdulia | Maria | Proskuneo | Tidak | Penghormatan khusus |
| Dulia | Orang kudus | Proskuneo | Tidak | Penghormatan biasa |
| Idolatria | Berhala | Proskuneo | Ya | Penyembahan berhala |
BAB 4 – Molokh dan Bala Tentara Langit: Puncak Idolatria
Kisah Para Rasul 7:41-42
“…mempersembahkan kurban (anēgagon thusian) kepada berhala itu… Allah membiarkan mereka beribadah (latreuein) kepada bala tentara langit.”
Ciri utama:
- Patung
- Kurban terorganisir
- Ibadah berkelanjutan (present tense latreuein)
- Infrastruktur tandingan (Kemah Molokh, altar, imam)
Ringkasan – Tabel Perbandingan
| Elemen | Penyembahan Berhala (Baal/Molokh) | Penghormatan Katolik (Maria/Santo) | Latria kepada Allah (Ekaristi) |
|---|---|---|---|
| Proskuneo | Sujud di depan patung Baal/Molokh | Berlutut di depan patung Maria/Santo | Sujud di depan Sakramen Mahakudus |
| Latria | Menyembelih hewan/anak di altar | Tidak ada | Mempersembahkan Tubuh & Darah Kristus |
| Pelaku utama | Imam berhala & umat | Umat beriman | Imam tertahbis (in persona Christi) |
| Status teologis | Idolatria (Latria + Proskuneo ke objek salah) | Dulia / Hyperdulia | Latria sejati |
Kesimpulan Akhir
Penyembahan berhala dalam Alkitab selalu melibatkan Altar + Kurban (Latria) kepada objek yang salah. Gereja Katolik hanya memiliki satu Kurban, satu Altar, dan satu Imam Agung — yaitu Yesus Kristus dalam Ekaristi.
Kami memberikan proskuneo (penghormatan) kepada orang kudus, tetapi tidak pernah latria. Tuduhan berhala gagal memahami pembedaan bahasa Alkitab sendiri.
“…supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu (latreian) yang sejati.”
— Roma 12:1
See you in our apologetics chapter
May God bless your journey of faith!